
Kenapa jadi begini? Ampun... Sekarang jadi dua pria pada menuntut kepastian darinya! Sungguh, ini membuatnya jadi makin pusing!
Nina terpaku di meja rias. Sepulang dari pantai, dia berdiam diri disitu.
Tak beda jauh dengan wanita itu, pria yang sehabis menyatakan cinta pun sepulang dari sana, duduk terpaku di depan peternakan.
Dean nggak meminta jawaban saat ini. Dia memberi waktu. Yah... Memang waktu yang nggak bisa lama juga, sebab dia pun tinggal beberapa hari lagi meninggalkan tempat ini.
Terus terang mengungkapkan hal itu membuatnya jadi lega. Memang ini saat yang tepat setelah semalam mereka bercumbu mesra. Usai terjadi hal itu, tentu seharusnya ada momen pembicaraan cinta diantara mereka. Karena Nina dalam kondisi sadar. Suka rela menerima gelora asmara darinya.
*********
Senja telah berlalu, malam telah datang. Di kamar, Nina sedang bersiap-siap untuk kepergiannya. Gaun panjang berbahan sutra dengan belahan dada yang dapat menarik perhatian mata para pejantan sudah melekat di tubuhnya. Gaun warna merah menyala sangat kontras untuk kulit putih dan mulusnya. High heels berwarna senada bertumit tinggi juga sudah menghiasi kedua kaki jenjangnya. Berikut perhiasan bertahta berlian sudah bersinar berkilauan di kuping, di leher, dan di jari manisnya. Steve sangat pintar memilih apa yang cocok untuk dikenakan wanitanya.
Rambut panjangnya sekarang lagi di blow. Nanti urusannya hanya tinggal di make up.
30 menit telah berlalu.
Disebuah kapal mewah. Seorang pria sudah siap dengan acaranya. Sebuah pintu besi terbuka dari depan kapal. Mobil sport berwarna hitam metalik keluar dari dalam sana.
Steve tidak mau ambil resiko pujaannya kesusahan ke sini lewat menaiki Rocky. Tentu pijakan kuda bisa membuat gaun menyangkut dan mencederai Nina.
Suara dengungan mobil bertenaga turbo membuat penghuni pelabuhan pada terkesiap. Mereka pada melongo. Ada yang berdecak-decak takjub, ada pula yang kehabisan kata-kata. Memang hal lumrah kalau yang memakai itu untuk seorang Steve. Hanya saja seumur hidup mereka baru kali ini lihat bentuk kendaraan mewah itu. Selama ini hanya tahu lewat TV, koran, atau media lain.
(Gambar hanya ilustrasi)
Steve keluar dari pelabuhan. Jalanan terjal tidak mengurungkan niatnya. Dia tidak peduli mobil mewahnya rusak. Yang dipentingkannya adalah kenyamanan wanitanya.
Kembali ke Nina.
Urusan untuk penampilan wajahnya sudah selesai. Kini dia hanya menunggu.
Gak lama suara keberisikan terdengar di luar. Nina bangkit, mengintip di jendela. Rupanya sumber tersebut dari mobil super canggih parkir di depan rumahnya.
"Kenapa dia pakai mobil?" gumamnya.
Karena sudah siap, dia keluar kamar, dan membuka pintu rumah. Steve yang sedang membuka pintu pagar, terpana.
“Kamu luar biasa cantik sekali sayangku, Nina Arnante.”
Menjawab datar. "Terima kasih."
Berjalan mendekat, lalu mengulurkan tangan. "Apa kamu sudah siap?”
Merespon lain. "Kenapa kamu tidak membawa Rocky?”
“Aku tidak mau kamu tidak nyaman, Sayangku... Karena aku...”
__ADS_1
Memotong. "Apa kamu sedang pamer?"
“Kenapa kamu bicara begitu? Kenapa kamu selalu berpikir negatif padaku, Sayang? Kan sudah kubilang...”
Memotong lagi, sekaligus menggapai tangan. "Sudahlah. Ayo, kita jalan."
Mendesah. “Ya, baiklah.”
Setelah membuka pintu samping pengemudi, Steve menyusul masuk. Nggak lama supercar yang atapnya terbuka berjalan.
Jalanan tidak rata, pastinya juga penuh kerikil, jadi bahan ketidaknyamanan Steve mengendarai. Sebenarnya yang digelisahkannya ke Nina. Karena tadi dia sudah melalui jalan itu.
“Kamu tidak apa-apa, Sayang?”
“Tidak apa-apa."
Angin nakal bermain-main bebas menyibak rambut indah di sampingnya. Steve mengambil sejumput dan menciumnya lembut.
“Kamu!” protes Nina.
“Aroma bunga selalu menyelimuti tubuhmu. Biarkanlah aku hanya mencium rambutmu ini."
Nina cemberut.
Sama seperti tadi siang, kedatangan mereka jadi bahan tontonan warga di pelabuhan. Tidak ada satu pun mata yang tidak menyaksikan. Pasangan sejoli yang telah kembali bersatu menurut versi mereka. Sekarang bagaikan, 'Tuan Muda dan Nona Besar'. Dengan keglamoran saat ini yang disandang mereka. Tentu bukan hanya Nina, Steve pun sudah pasti nggak kalah menterengnya. Dengan mengenakan setelan jas serba abu-abu pekat, dan kemeja putih, serta dasi warna abu muda. Juga, sepatu dan jam tangan mahal. Makin terlihat kenecisannya.
Pintu terbuka, mobil melaju masuk ke dalam. Meski mereka telah hilang dari radar, namun penghuni pelabuhan masih menyaksikan bayangan mereka. Diantara orang-orang itu ada Clara. Apa yang dirasakan warga pelabuhan tentu beda dengan wanita mungil itu.
Ada rasa iba menjalar di lubuk hatinya. Haruskah dia membantu, Dean? Dia memegang kunci kelemahan Steve yang bisa menghancurkan hubungan Steve dengan Nina. Tapi nanti bagaimana nasib dia dan ayahnya? Duh! Pusing!
“Clara...,” seru ayahnya.
Yang dipanggil menoleh. Ayahnya lekas berjalan cepat-cepat mendekati. Setibanya, langsung bicara dengan nada emosi.
“Kemana saja kamu? Sudah malam begini bukannya pulang!”
Dari keributannya dengan ibunya, wanita itu memang belum pulang. Sepertinya bapak tua itu dapat laporan dari istrinya.
Clara tidak menjawab malah mengamati raut wajah keriput orang tuanya. Ayahnya tidak segar seperti dulu. Tampak makin tua. Rambutnya pun penuh uban. Hatinya jadi makin teriris.
Kenapa Ayah begini terhadapku? Kenapa membuatku diposisi tidak enak? Dan apa sebenarnya yang dipikirkan, Ayah? Kenapa Ayah memusuhi, Nina? Bukankah dari kepergian Kak Brian, kita telah melupakan kepahitan itu? Apakah tak terpikirkan oleh Ayah, Kak Brian pasti akan sedih di atas sana atas perbuatan tak terpuji Ayah ini? Dan alasan tersendiri apa yang membuat Ayah mau bersekongkol dengan, Tuan Steve?
“Clara!” tegur ayahnya, kali ini lebih keras.
Terkesiap. “Ah! Iya. Baiklah, aku pulang."
Ayahnya melongo anaknya kembali berjalan begitu saja meninggalkannya.
**********
__ADS_1
Steak yang telah dibumbui dengan saus thousand island terpanggang merata. Di samping piring, ada butiran jagung dan asparagus sebagai garnish-nya. Salad smoke beef dengan irisan roti caesar berada di samping menu utama. Potongan chesse cake dengan toping strawberry tidak luput disajikan sebagai hidangan penutup. Champagne terguyur di gelas kosong, begitu pula untuk cocktail di sebelahnya sebagai teman pembuka sebelum menuju dinner bersama. Sang koki menunduk pamit. Setelah selesai menunaikan tugasnya.
Steve mengangkat gelas cocktail di udara.
“Ayo, kita bersulang, Sayang.”
Mengernyitkan alis. “Untuk?”
“Untuk makan malam kita.”
Nina meraih gelasnya, mengarahkan tangannya ke depan, mengikuti apa saja yang dipinta Steve. Karena di otaknya biar cepat selesai makan malam mereka berdua. Makanya tadi dia tidak menyela, saat Steve mau menjelaskan lebih lanjut masalah mobil.
Cling!
Musik syahdu terus mengiring kebersamaan mereka. Dari sebelum tiba, musik telah berjalan demi memberi suasana nan romantis.
“Apa kamu menyukainya, Sayang?” tanya Steve, untuk makanannya.
“Hanya orang bodoh yang tidak suka masakan koki.”
Steve tersenyum getir, Nina tidak berhenti-henti ketus padanya. Ya, memang salahnya.
“Kupikir-pikir, kamu kalau marah jadi imut, Sayang.”
"Nggak usah menggombal.”
Tersenyum. “Apakah aku terlihat seperti itu?”
Mencibir. "Cih!"
Tersenyum geli. “Ya, baiklah.”
Makan malam telah usai. Steve berdiri, berlutut di hadapan Nina dengan satu tangan menjulur ke depan.
“Nona Cantik, bersediakah Nona berdansa denganku?”
Nina meraih, Steve kembali berdiri. Mereka melantai di samping meja makan. Makan malam berada di outdoor. Pilihan yang tepat! Lewat suasana laut lepas, ditemani gemerlap bintang dan bulan, juga remangnya malam, tentu makin menambah keromantisan.
“Melekat berdua denganmu seperti ini, membuatku jadi serasa terhibur,” ujar Steve.
Mendelik. "Maksudmu?"
“Aku nggak punya siapa-siapa lagi, Sayang... Yang aku punya hanya kamu. Apalah artinya harta yang aku punya ini jika kamu tidak berada di sisiku. Sejak aku meninggalkanmu, aku menemui keluargaku, dan memutuskan berpisah dengan mereka. Namaku telah dicoret dari daftar keluarga. Aku tinggal di tempat kumuh dengan uang beberapa lembar di tangan. Karena semua rekening, kartu kreditku, telah diblokir mereka. Berikut fasiltas mobil dan rumah tempat tinggalku ditarik. Cintaku kepadamu lah yang membuatku tidak menyerah terus bertekad untuk maju. Dengan bermodal otak, dan teman-teman kayaku, aku melobi mereka, lalu perlahan-lahan membangun kerajaan bisnisku.”
Nina seketika berhenti melangkah. Hatinya dilanda terenyuh hebat. Sebegitu menderitanya kah Steve demi menikah dengannya?
“Karena itu, Sayang... Bisakah kita kembali bersama?” Steve memberi tatapan penuh harap.
Bingung. "Aku, aku..."
__ADS_1
Steve menarik pinggul. Membelai lembut wajah Nina.
“Aku tidak meminta jawaban sekarang. Tapi tolong pertimbangkan lah usaha orang tersayangmu dulu ini, dan jangan buat aku lama menunggu." Steve memberi kecupan lembut ke kening.