Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 30 Masa Lalu Nina


__ADS_3

Nafas di dada, irama detak jantung, aroma tubuh, terus menemani pikiran kalutnya sepanjang jalan. Tubuh mereka terus menempel lekat. Membuat Nina harus berkali-kali menelan saliva-nya.


Ini sudah lama, terlalu lama! Sungguh dia kesulitan. Detak jantungnya sedemikian rupa harus dibuatnya normal jangan sampai terdengar di depannya.


Tidak lama mereka tiba di samping pagar, Dean merenggangkan pelukan. Nina segera buang muka agar jangan sampai terlihat rona merah yang tiba-tiba muncul di pipinya.


“Sudah sampai."


Usai turun, Dean mengulurkan tangan. Namun sayang, tidak disambut. Nina turun di sisi lain, dan langsung ngeloyor begitu saja hingga masuk rumah. Yang dicuekin terkesima.


"Wanita ini bila marah memang susah!"


Lekas dia melepas gerobak, menaruh ke dalam. Kemudian membawa Rocky ke peternakan.


Setelah merasakan langkah kaki hewannya menjauh, di balik pintu, Nina menyandarkan tubuhnya lunglai ke belakang. Ditekannya dadanya pelan. Ini gila! Bagaimana bisa Dean seenaknya memeluknya sepanjang jalan? Dasar pria kurang ajar!


Pagi telah berlalu. Terik telah datang. Karena sudah masuk siang, pria itu berjalan ke kediaman wanita itu. Biasa, meminta instruksi tugas selanjutnya. Sesampainya di sana, diketuknya pintu tidak ada sahutan. Lalu dia menarik gagang pintu dan masuk ke dalam. Pantas, nggak ada yang menyahut rupanya yang dicarinya sedang tergolek di sofa.


Sepertinya Nina kelelahan. Lekas Dean memperbaiki orang yang tidur serampangan itu. Namun pada saat dia mau menyelipkan bantal ke belakang kepala, yang lagi tidur itu terbangun. Secara spontan mendorong tubuhnya secara kasar. Dean hampir terjungkal. Untunglah, dia memiliki daya reflek cepat.


“Apa yang kau lakukan?!” umpat Nina.


Bagaimana wanita itu tidak marah, dia tidur supaya melupakan yang tadi. Tahunya, yang distressnya di depan mukanya.


“Aku hanya ingin memberi kau bantal.”


“Tidak usah! Aku tidak suka! Tidak sukaaaaa...!!!" Nina melengking tinggi.


Dean terkejut.


“Hei, ingat! Kita ini hanya sebatas atasan dan karyawan. Hutang budi, dan balas budi. Itu artinya, diantara kita ini ada sekat. Jangan coba-coba kau melewati batasan kau! Aku tidak sudi diperhatikan kau! Tidak sudi! Bagiku, kau tetaplah hanyalah orang asing!”


Nina bangkit, berjalan ke kamar, membanting pintu keras. Sontak yang mendadak dimaki itu, kembali terperanjat. Namun sebelum pergi, dia berjalan ke daun pintu.


“Aku tahu, aku hanyalah orang asing. Aku sadar itu. Tetapi bisakah kau memperlakukanku yang sepantasnya? Aku nggak mengerti, kenapa kau selalu menjaga jarak padaku? Apa salahku? Dan memang, apa batasan yang telah kulewati? Apa aku ada perbuat senon*h?”


Akibat suntuk, Dean mengeluarkan Rocky selepas dari sana. Dia memacu kuda itu kencang.


Gedebung... Gedebug... Gedebug...


Ada apa dengan wanita satu itu? Kenapa selalu tidak ingin dekat padanya? Kalau begini, bagaimana mereka cepat dekat? Tiap ditolong pun, selalu tidak suka. Menyebalkan!


Melewati pemukiman, dia terus memacu Rocky hingga memasuki hutan. Kendati pikirannya lagi pusing, tapi kedua matanya berkelana.


Setiba di hutan, dia menunggang pelan. Sengaja, agar pengintai yang mau ditangkapnya tidak sigap akibat jadi santai memperhatikannya.


Ya! Pria itu merasakan kehadiran sosok itu lagi.


Benar saja! Lekas Dean menarik Rocky kencang. Saat orang yang lagi asyik mengamatinya itu lagi nggak waspada.

__ADS_1


Sontak orang itu terbelalak, lekas lari. Owh, tentu saja kali ini gak mungkin bisa berhasil lolos. Saat mendekat, Dean langsung lompat menerjang. Mereka berdua jatuh ke tanah. Otomatis posisi orang itu telungkup di tiban olehnya.


“Lepaskan saya! Lepaskan saya...!!!"


“Kenapa kau mengawasi saya?”


“Saya tidak mengawasi. Saya lagi berteduh. Tiba-tiba kau mengejar, tentu saja saya kaget,” kilah wanita itu.


“Dengar! Selama kau nggak berterus terang, saya nggak akan melepaskan kau! Jadi percuma kau berbohong.”


Melirik. “Memang, apa yang mau kau lakukan. Saya kan wanita."


“Kau pikir, karena kau wanita, saya akan segan perbuat kasar pada kau?”


Ya, tentu. Pasti pikiran pria ini nggak-nggak padanya. Jadi nggak peduli gender-nya. Aduh, gimana ini... Oh, iya!


“Baiklah, baiklah. Saya bicara." Wanita itu pura-pura pasrah.


Dean membangunkan tubuh di depannya. Di ikatnya ke tali pacuan kuda. Lalu dia berdiri di depan targetnya.


“Kau, kenapa tidak lepaskan saya?" keluh wanita itu.


"Semua tergantung pada kau."


Geram. "Kau....!"


Wanita itu menelan air ludahnya yang serasa getir. Dia memang diposisi terjepit. Tapi, kenapa ya... Jujur, selama dia memperhatikan Nina dengan pria ini. Dia merasa, pria ini akan jadi pembuka jalan masalah Nina di sini.


Yang tadinya wanita itu ingin menipu pura-pura mengalah, akhirnya jadi bicara.


“Ya, baiklah, baiklah, saya bicara. Tapi sebelum saya bicara, bisakah kau berjanji dulu kepada saya?”


Mendelik. "Maksudnya?”


“Usai saya bicara, saya harap, kau tidak bilang ke siapapun kalau kau tahu hal ini dari saya."


Kenapa ini jadi terdengar rahasia? Bukankah wanita ini seharusnya memberi tahu tujuannya kenapa suka mengawasinya?


Tapi karena timbul rasa penasaran, Dean menganggukkan kepala.


“Baiklah, saya berjanji.”


“Sumpah?”


“Iya. Sudah, cepat bicara." Dean jadi mendesak, karena sudah nggak sabaran.


Wanita itu menarik nafas sebentar sekedar untuk memberinya kekuatan. Sebenarnya dia cerita begini layaknya berjudi, belum tentu instingnya tepat tentang pria ini. Tapi, ya sudahlah...


“Dengarlah baik-baik. Dulu saya dan kakak saya sangat dekat sekali dengan Nina. Nina dulu tinggal di pelabuhan. Dari kecil, kakak saya dan Nina sudah dijodohkan oleh kedua orang tua kami. Sebenarnya tanpa dijodohkan mereka sudah saling mengasihi. Tentu saya saksinya, betapa mereka dari kecil saling mengasihi. Menginjak remaja pun perasaan cinta terus melekat diantara mereka. Namun pada suatu hari tragedi datang silih berganti. Kakak saya ikut berlayar dengan orang-orang sini. Diantara semua yang ikut, hanya satu yang kembali. Yang lainnya, termasuk kakak saya tidak selamat mati tergulung badai. Lalu 3 hari kemudian, musibah datang di keluarga Nina. Rumahnya hangus terbakar. Hanya Nina yang selamat, dan satu koper pakaian milik ayahnya. Lalu Nina pindah ke rumah yang sekarang ditempatinya itu. Dulunya, rumah itu hanya untuk tamu. Karena Nina anak tunggal. Maka apa yang dialaminya membuatnya jadi hidup seorang diri. Seiring berjalannya waktu semua kesedihan, baik itu dari keluarga kami, dan Nina itu sendiri, telah berlalu. Saya masih main dengan Nina. Namun beberapa tahun kemudian sebuah kapal mewah karam disekitaran pulau kami. Penduduk sini menolong dan meminta Nina untuk mengobati mereka. Semua Abk kapal termasuk pemilik kapal tersebut sembuh. Namun pada masa pengobatan, terjadi cinta lokasi antara Nina dan si pemilik kapal. Hubungan mereka terus berlanjut hingga kapal penjemput si Tuan itu datang. Selanjutnya yang terjadi tuan itu tidak kembali. Akhirnya terjadi isu nggak menyenangkan. Nina dikait-kaitkan atas kematian kakak saya. Penduduk sini masih percaya takhayul. Mereka menganggap Nina wanita sial! Wanita terkutuk! Mereka meyakini tuan itu pasti bernasib sial sama seperti kakak saya. Oleh karena itu mereka menganggap siapapun pria yang terlibat asmara dengan Nina, pasti akan mengalami nasib yang sama tenggelam ditengah laut. Saya pribadi, nggak mempercayai hal itu. Saya nggak pernah menyalahkan Nina. Saya ikhlas dengan kepergian kakak saya. Saya selalu beranggapan itu takdir. Sama halnya saya beranggapan atas takdir tuan itu. Namun sebenarnya isu itu semakin kuat karena maklumat yang ayah saya kumandangkan. Maklumat larangan untuk dekat dengan Nina. Terus terang, ayah saya orang terpandang di sini. Jadi apa yang dikatakan ayah saya adalah mutlak harus dituruti warga sini. Maka sejak itu, saya tidak bisa lagi bermain dengan Nina. Sumpah saya sedih sekali namun sekaligus heran. Kenapa ayah saya tiba-tiba punya pemikiran tidak rasional. Karena sebelumnya kami sekeluarga telah mengikhlaskan kepergian kakak saya. Apa karena terbawa arus. Entahlah... Jadi di sini, kenapa saya mengikuti Nina, karena saya rindu. Namun semenjak ada kau, ditambah jadi ingin tahu. Penasaran saja, apa hubungan kau dengan Nina. Jujur juga, saya menceritakan ini rada-rada takut. Takut insting saya salah kepada kau. Sekarang saya tanya, apa kau kekasih, Nina?”

__ADS_1


Dean tidak lekas menjawab. Karena semua ucapan yang keluar dari mulut di depannya bikin dadanya sesak.


Pantas, Nina selalu menjaga jarak padanya rupanya karena ini. Pantas, penduduk sini memandang Nina seperti makhluk menjijikkan. Dia pun jadi terkena imbasnya. Oh, berarti koper yang di gudang itu, satu milik ayah Nina. Satu lagi, milik tuan kaya itu Pantaslah, tidak diberikan padanya. Semua memiliki kenangan.


“Apa kau dengar barusan yang saya katakan?” tegur wanita itu.


"Ya, saya dengar."


“Bila kau mencintai Nina, saya harap kau bisa membantu memperbaiki situasi di sini. Kau mengerti kan maksud saya?”


"Saya bukan kekasih, Nina. Tapi memang saya mencintai, Nina. Saya juga bingung kenapa mengatakan ini pada kau."


Dean menjawab untuk yang tertunda tadi. Anehnya, entah kenapa ditengah bicara dia jujur. Apa akibat salah mengira, ternyata pengintainya orang baik. Jadi membuatnya menaruh rasa percaya juga. Berkat wanita ini, dia jadi tahu segala tentang Nina, bukan?


“Oh! Kau bukan kekasih, Nina. Tapi karena kau mencintainya. Saya harap ketika kau nanti jadian, kau dapat merubah cara pandang orang sini. Biar ayah saya juga jadi tergerak hatinya untuk mencabut maklumat itu. Kau nggak ingin Nina hatinya terus tersakiti, bukan? Sekarang, bisakah kau lepaskan saya? Karena saya sudah bicara jujur."


Melepaskan. “Iya.”


Wanita itu langsung pergi. Dean memandangi dengan hati kelu. Sungguh, diluar ekspektasinya. Dia pikir Nina dalam marabahaya rupanya tidak.


Sementara itu yang tadi dibicarakan mereka. Duduk melamun di meja rias. Sejak Dean pergi, Nina terpaku di sana. Dia memang sudah luar biasa kasar sekali dengan Dean. Bukan hanya bicara, tapi juga perilaku. Tidak selayaknya Dean dapat cacian dan siksaan darinya. Hanya karena semata-mata polemik di dirinya. Bukankah ini terlihat dia seperti seorang pengecut? Kalau perasaan itu ada, kenapa Dean yang harus disalahkan? Bukankah seharusnya dia bisa mengontrol dirinya sendiri?


Nina bangkit dari kursi berjalan keluar kamar. Di luar rumah, dia jalan ke peternakan. Sesampainya di sana, yang ingin ditemuinya nggak ada bahkan hilang bersama Rocky. Sepertinya Dean jalan-jalan akibat suntuk atas ulahnya. Lalu dia balik ke rumah.


Detik ke detik, menit ke menit, waktu terus bergulir, yang ditunggunya tidak kunjung kelihatan. Nina bangkit dari sofa berjalan ke jendela. Di luar, cuaca tampak mendung. Terus dipandanginya suasana yang nggak bersahabat itu hingga rintik-rintik air hujan terjun dari langit. Dia mulai resah. Sudah begini, dimanakah Dean berada?


Semenit kemudian dia ke gudang mengambil 2 jas hujan. Yang satu dipakainya, yang satu lagi disimpannya. Lalu dia keluar dari rumah.


"Aduh... Pria itu tak henti-henti buatku cemas!"


Melewati jalan pemukiman wanita itu terus berjalan. Jalanan becek nggak menghambat langkahnya.


"Nggak mungkin Dean dapat tempat berteduh dari penduduk sini. Warga sini pasti nggak ramah padanya. Lagi pula, dia pasti ke hutan, atau ke pantai. Ya! Dia suka main ke sana. Kalau begitu, dia paling berteduh kalau nggak di goa, ya di bawah pohon."


Sementara yang dicari wanita itu masih mematung hingga tak mempedulikan keadaan sekitar. Bahkan kuda itu jadi kena imbasnya tubuhnya basah kuyup.


Dean masih terlalu shock atas apa yang didengarnya. Bagaimana tidak? Wanita secantik Nina mengalami nasib yang malang. Atas ini, dia pun jadi ragu untuk mendekati. Karena bila mereka jadian. Anggaplah nanti dia balik tugas ke pulau Tartan tidak mati, tapi tugas-tugas berikutnya? Maka Nina makin dapat kebencian dari warga sini. Memang dia bukan mati seperti kekasih-kekasih Nina terdahulu. Namun orang kalau sudah benci, suka menilai jelek saja ke orang yang dibencinya. Iya, kalau warga sini tahu dia seorang tentara. Pasti dapat memaklumi. Ini, menoleh saja nggak. Namun semua ini juga salahnya, harusnya dari awal dia tidak mengejar Nina. Sudah tahu profesinya apa.


"Dean..."


Terdengar sayup-sayup namanya dipanggil diantara derasnya air hujan. Dia menoleh, seketika terkejut wanita yang diresahkan nya datang mencarinya.


“Kenapa kau hujan-hujanan?” omel Nina, setibanya.


Wanita kalau sudah begini berarti ada rasa, bukan? Karena untuk apa Nina sedemikian khawatir mencarinya, bila bukan karena sayang, bukan? Dean tidak lekas merespon, masih terpaku.


“Hei, aku bertanya, kenapa kau diam saja?” tegur Nina lagi.


"Kau mencariku?”

__ADS_1


__ADS_2