Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 25 Menjaga Nina


__ADS_3

Dean terus memegangi perutnya, rupanya meski tangan Nina kecil dan ramping, tapi mampu menyakitinya. Sudah capek-capek tadi dia mereda, tahunya ngamuk lagi. Entahlah, kali ini karena apa.


"Ntar baikan, ntar berantem. Begitu terus saja mereka ini," gelengnya.


Sembari meringis kesakitan, dia memberi makan bebek dengan mata merem melek.


Selanjutnya, dia menggiring semua bebek masuk kandang. Kemudian dia ke kandang tempat tinggalnya.


“Nona besarmu, aneh! Tiba-tiba ngamuk nggak jelas,” adunya.


“Hiiik...”


"Duh, sakit juga tangan kecilnya," adunya lagi, kembali mengelus-elus perut.


Matahari sudah sejajar tepat di atas kepala. Siang terik telah datang. Setelah berleha-leha meredakan rasa ngilunya, Dean keluar menuju rumah pujaannya.


Sesampainya di sana rupanya dicuekin. Tiap dia bicara, tidak digubris. Nina sibuk dengan aktifitasnya. Wanita itu lagi di dapur sepertinya mau buat kue.


“Kalau kau diam saja. Aku tidak tahu apa salahku. Ayolah, jawab. Kalau kita nggak ada komunikasi, bagaimana juga aku tahu apa tugasku berikutnya.”


Bagaimana bisa Dean tidak tahu? Jelas-jelas sudah membuat jantung wanita mau meledak.


Sebenarnya kalau wanita itu menyadari. Itulah yang dirasakan pria itu ketika wanita itu pakai handuk.


Sebagai pelampiasan rasa jengkelnya, Nina mengaduk-aduk adonan kasar. Dean mendelik lekas memundurkan sedikit kepalanya. Karena wadah itu dibuat oleh Nina hingga mengeluarkan bunyi. Sambil garuk-garuk kepala, dia jadi bicara terbata-bata.


“Y-ya,... K-alau kau tidak mau bicara. K-alau begitu, aku balik ke peternakan."


Sesampai di sana, karena Nina tak memberi tugas, Dean jadi mengajak Rocky jalan-jalan. Ditaruhnya pelana dan segala atribut yang menunjangnya menunggangi kuda.


“Sebenarnya sore nanti aku akan mengajakmu keluar. Ya sudah, sebaiknya sekarang saja. Baiklah, Tuan Rocky. Ayo, kita keluar.”


Menyeringai kesenangan. "Hiiik..."


Nina memalingkan kepalanya saat dengar suara hewan peliharaannya melintas. Sebenarnya pandangannya lebih fokus ke orang yang berada di atas pelana.


"Dasar, pria murahan!"


Dean di luar, menunggangi kuda hingga terus memasuki pemukiman. Sepanjang jalan kedua matanya mengawasi. Maklum, dia masih penasaran atas apa yang tadi dilihatnya. Saat ini dia sendiri, dia pun mau tahu, apa sosok itu mengikuti?


Pepohonan tinggi dan rindang menyambut kehadiran mereka. Kedua matanya tetap seperti elang saat mereka telah memasuki hutan. Pria itu terus menunggang setapak demi setapak ditengah rimbunnya hutan. Menaiki jalan berdaki, dia mengarahkan kuda itu berbelok, lalu tak lama meminta berhenti.


“Nah, Rocky, kita istirahat dulu di sini."


“Hiiik...”


Dean mengikat hewan itu di pohon, lalu dia duduk di bawahnya. Rocky memakan daun-daun disekitaran. Dean bersiul-siul sembari melihat-lihat sekitaran.


“Piwit... Wit... Wit..."


Merasa istirahat mereka cukup, Dean naik lagi ke atas pelana. Tempat dimana dia terdampar jadi arah jalan-jalan mereka berikutnya.


"Oo... Jadi ini pantainya."


Seharusnya dari kemarin lelaki itu mencari. Entah kenapa, baru sekarang.

__ADS_1


"Terlalu jauh sekali nona besarmu menarikku, Rocky."


"Hiiik..."


"Ah, aku beruntung sekali. Tuhan mengirimnya untuk menolongku. Majikanmu wanita luar biasa sekali, Rocky."


"Hiiik..."


Saat mata pria itu mengindai sekitaran. Dia melihat sekelebat orang diantara pepohonan kelapa. Lekas dia berteriak.


“Rocky! Kejar orang itu!”


Gedebug... Gedebug... Gedebug...


Sosok berambut panjang yang sepertinya wanita, terus berlari usai tahu sosoknya diketahui. Untunglah, dia warga sini. Jadi tahu tempat-tempat mana saja untuknya bersembunyi.


Dean berhenti, dia kehilangan jejak. Padahal memakai kuda, tapi langkahnya bisa kalah oleh orang tersebut.


“Kemana dia."


Kedua matanya terus menyapu sekitaran. Merasa tidak ada tanda-tanda manusia, terpaksa dia pergi dari sana.


Setelah pria itu menghilang, orang itu keluar dari dalam goa. Pantas, Dean tidak dapat mengetahui. Goa itu tertutup pohon besar.


“Fiuh...,” lega orang itu, sambil memandangi sisa jejak orang yang mengejarnya.


**********


Melintasi samping rumah, Dean melihat si Judes lagi mengambil jemuran. Dia sengaja menepuk punggung Rocky agar kuda itu bersuara, dan orang itu menoleh.


"Hiiik..."


“Nina, aku tadi sudah lihat pantainya," seru Dean.


Kenapa dia memberi tahu? Aku harus bilang wow, begitu? Atau tepuk tangan, begitu?


Nina buang muka. Dean geleng-geleng kepala. Dasar wanita ini... Masih nggak enak dipandang saja. Pasalnya marah kenapa, coba? Buat orang bingung saja. Ah, bodo amat lah! Tetap saja nanti dihampirinya.


Setiba di peternakan, Dean lekas memasuki Rocky, menuruni segala atributnya.


“Rocky, kamu lihat kan tadi. Nona besarmu dalam bahaya."


“Hiiik...”


"Ya udah, aku ke sana dulu."


"Hiiik..."


Nggak peduli yang ditemuinya masih cemberut, karena dia tetap ingin tahu apa pekerjaan selanjutnya, sekaligus agar Nina mudah diawasinya usai dua kali dilihatnya hal gak menyenangkan, dia keluar dari kandang berjalan ke rumah pujaannya.


Sebenarnya pria itu sama keras kepalanya dengan wanita itu. Nggak heran, suka acuh begitu.


Sesampainya di sana, dia mendapati Nina berada di gudang sedang mengepak-ngepak kardus. Lekas dia membantu.


“Jangan pegang!” Nina menghempas kasar tangan pria di sebelahnya.

__ADS_1


“Sini, biar aku bantu."


“Sudah kukatakan, kalau aku tidak butuh bantuan. Kau jangan berinisiatif sendiri."


“Aku tidak mau menuruti. Aku ini kan pegawai kau. Masa, aku diam saja lihat kau sibuk."


Seperti biasa terjadi perebutan. Satu pun tidak ada yang mau mengalah. Karena tubuh wanita itu ringan, tentu saja saat menahan tarikan jadi mau terpelanting ke belakang. Untung, pria itu sigap menangkap. Mereka jadi beradu pandang.


“Kau tidak apa-apa?”


Ini kedua kalinya mereka terlalu dekat. Oh Tuhan... Getaran apa ini. Kenapa ini datang lagi...


Karena dihatinya dapat serangan itu lagi, Nina jadi tak lekas merespon.


Momen ini pun membuat Dean jadi terlena. Kedua bola mata hazel-nya berangsur-angsur turun memandangi di bawah hidung bangir Nina. Bibir merah delima itu menggiurkan, berbentuk sangat sempurna. Dan rasanya seperti memanggilnya, memintanya untuk dikecup. Tanpa sadar dia bergerak, bersama hasratnya yang menggebu-gebu.


“Apa kau sudah puas memandangiku?” Nina menegur, pergerakan di depannya membuatnya tersadar.


Lelaki itu tertegun, segera mengembalikan tubuh wanita itu seperti semula.


“Makanya, kau jangan bersikeras,” alih Dean, diiringi dalam hati membuang nafas Fiuh!


"Aku..."


"Ayolah, Nina. Biarkan aku membantu. Yang ada nanti kita berantem. Karena aku tidak akan mau menuruti peraturan kau. Bukan hanya kau, aku ini juga pria keras kepala. Kau tahu itu kan." Dean memotong, agar mereka tetap ke topik awal. Demi sikap nakalnya nggak dikoreksi. Tahu sendiri, wanita ini suka blak-blakan.


Mendengus. "Ugh!"


Ya! Sebaiknya dia mengalah saja. Karena pikirannya lagi nggak konsen. Ah, tidak, tidak. Malah makin kacau kalau Dean tetap di sini.


"Aku mencabut aturanku. Tapi untuk saat ini, aku tidak ingin dibantu. Pergilah... Masalah kerjaan, hari ini cukup."


Dean mendelik. Apa Nina shock? Ya! Tingkahnya tadi terlalu mencolok. Ya sudahlah, sebaiknya dia pergi dulu agar keadaan diantara mereka tenang. Sejujurnya, dia pun nggak enak. Lekas dia berjalan.


Usai terdengar suara pintu ditutup, Nina membuang nafas panjang. Dipegangnya dadanya kemudian. Gejolak itu terus bergemuruh keras. 


Entah getaran apa ini. Apa mungkin karena sudah lama dia tidak dekat dengan pria? Atau hal yang tidak diinginkannya rasa itu muncul?


Dean, di peternakan, merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Menatap langit-langit ruangan kemudian. Salah Nina, kenapa punya bibir seindah itu. Wajar sejenak dia jadi terhipnotis. 


*********


Angin sepoi-sepoi berhembus diantara malam nan pekat. Suara kayu yang ringan berbunyi mengisi kebisuan malam. Tak luput lolongan serigala dan burung-burung malam saling bertautan menambah suasana semakin nggak bersahabat. Dean turun dari ranjang, mengambil tongkatnya. Jelas, bukan di pakai untuk kakinya. Melainkan sebagai pegangannya untuk berjaga-jaga.


“Rocky, mulai malam ini kamu tidur sendiri dulu. Hingga aku dapat menangkap sosok itu.”


“Hiiik...”


Dean keluar dari kandang. Ditengah keremangan malam dia berjalan ke sana. Sesampainya, dia memutar rumah pujaannya untuk melihat apa semua jendela telah ditutup. Namun saat dia melintasi kamar depan, dia berhenti sejenak, meletakkan daun telinganya ke jendela.


Lagi apa dia? Apa sudah tidur?


Nggak lama pria itu merebahkan tubuhnya di bale. Tongkat kayunya diletakkannya di samping tubuh. Biar kedua matanya terpejam, namun kedua gendang telinganya selalu waspada. Dia telah terlatih tidur selalu sigap atas segala sesuatu. Didalam tidurnya, setiap dengar sesuatu dia terbangun, lekas memeriksa keadaan sekitar.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


Kasih rating bintang 5, like & komen. Tinggalkan jejakmu...


__ADS_2