
Clara jalan tergesa-gesa. Dean mengerutkan kening. Tumben, wanita ini cuek nggak menegur. Tapi karena ada hal lebih diprioritaskannya, dia berjalan lebih cepat hingga melampaui orang yang berjalan di depannya. Sontak Clara berhenti, memandangi orang-orang itu yang pada terlibat cinta segitiga.
Memijak pelabuhan, semua mata tertuju ketika Steve dan Nina melangkah setapak demi setapak dengan keempat kaki Rocky. Mereka berdua jadi bahan tontonan. Tentu saja pemandangan yang sudah lama nggak dilihat mereka. Sepasang sejoli yang dulu menghebohkan sejagad Elvaros.
Dulu mereka tidak menyangka pemuda kaya itu bakal jatuh cinta dengan si Kembang Pulau. Ini, kalau bicara latar belakang tuan itu. Tapi memang, kecantikan Nina sulit diabaikan. Jika saja tidak memandang Brian anak si penguasa wilayah alias kakak Clara. Para pemuda sini pasti sudah berlomba-lomba mengejar Nina.
Dean melipirkan kakinya sebelum tiba di pelabuhan. Dari pada sosoknya jadi menambah tontonan aneh warga sini. Lebih baik dia menjaga jarak sebaik mungkin. Dia mengikuti karena ingin melihat rumah mewah berjalan Steve. Dipandanginya dari kejauhan.
Ya! Kapal itu sangat mewah. Dipastikan Steve kaya raya, juga dipastikan untuk bekal meluluhkan hati Nina. Dulu mereka pacaran pasti tidak dengan kemewahan. Ya! Karena saat itu kapal Steve karam. Semoga Nina tidak terbuai.
Dua sejoli yang lagi jadi bahan sorotan, nggak lama tiba di ujung jembatan. Jembatan penghubung antar dermaga ke pintu masuk kapal.
“Tuan,” sapa 2 oang anak buah Steve, alias penjaga kapal dengan menundukkan badan.
Steve terus memacu hingga berhenti di lambung kapal. Dia turun, mengulurkan tangan.
“Kita sudah sampai, Sayang..."
Nina menyambut, lalu Steve mengajak ke dalam. Melewati pintu, Nina sudah disambut oleh interior lux. Porselen, lampu gantung, macam-macam hiasan berbahan emas, lukisan yang nggak ternilai harganya, dan lain sebagainya. Dia terus melangkah mengikuti kemana saja orang yang membawanya pergi. Sepanjang jalan tangannya pun terus di gandeng. Dia malas komplain, toh bakal dipegang lagi. Yang penting tidak melewati batas.
Saat ini mereka berada di lantai 2. Tepatnya, di belakang ruang kemudi. Tempat untuk santai namun romantis. Selain view-nya bisa melihat pemandangan laut lepas, di sana juga ada dining room yang dilengkapi 2 set meja di indoor dan outdoor, serta tersedia kitchen yang tentunya yang memakai koki terkenal.
“Apakah kamu menyukainya, Sayang?” Steve berhenti melangkah.
Mendelik. "Maksudmu?”
Steve menarik tubuh Nina masuk ke dalam dekapannya. Memeluk erat, dan menjatuhkan kepalanya mesra ke pundak.
“Ini, semua milikmu.”
Meronta. "Lepas!"
“Diamlah, Sayang... Kenapa kamu dari tadi tidak suka dipelukku. Biarkanlah aku melepas rinduku sejenak." Steve memberi kecupan ke pipi.
Melotot. “Kamu...!”
“Bagaimana, Sayang? Apa kamu menyukainya?”
“Apa hubunganku?!" hardik Nina.
“Tentu ada, karena kamu nanti akan jadi Nyonya Steve Bernandez.” Nama panjang Steve.
Sewot. "Kamu terlalu percaya diri! Apa aku sudah ada kasih keputusan?”
“Aku yakin, kamu akan jadi istriku."
Steve mendekatkan bibirnya ke daun telinga Nina. Memberi hembusan nafas gelora rindunya. Nina jengah, memiringkan kepalanya.
“Hei! Bisakah kamu diam? Aku memberimu kesempatan, bukan berarti kamu langsung dapat sinyal dariku."
“Ya, aku tahu. Aku hanya nggak tahan saja."
Bukannya berhenti, pria itu sayup-sayup mencumbui belakang telinga, memberi kegelian di sana.
“Kamu pasti tahu, apa rasanya sekian lama menahan rindu kemudian bertemu."
“Hei, berhenti!” maki lagi Nina.
__ADS_1
Steve tersenyum ironi, wanitanya belum bisa dikuasai. Dia menjauhkan bibirnya, melepas pelukannya. Biar begitu, kembali memegang tangan.
“Ya, baiklah. Ayo, kita ke kamar?”
Melotot. "Ke kamar?"
“Tenanglah... Aku hanya ingin memperlihatkan hadiahku. Hadiahku ada di kamar.”
Sewot lagi. “Kenapa kamu taruh di sana?"
“Buang jauh-jauh pikiranmu, Sayang... Aku takkan merebahkanmu. Itu nggak mungkin, Sayang... Masa, aku mau mempertaruhkan sikap manismu yang sekarang ini?”
Ya! Pasti Steve lagi mengambil hati padanya. Mana mungkin berani bertindak sembrono. Paling hanya berani cium dan peluk saja. Makanya, walau dia jengah nggak berontak keras.
"Ya sudah." Akhirnya Nina menurut, tapi diliputi jengkel.
Kamar tidur dengan bed besar. Kamar mandi dengan kaca tembus pandang. Dengan konsep orang yang di luar tidak dapat melihat yang di dalam. Ruang khusus pakaian, juga diliputi ada ruang perhiasan dan bersolek. 1 set meja makan, 1 set sofa santai, dan tempat berjemur yang dilengkapi kaca biar sinar Matahari bisa masuk. Itulah isi kamar Steve.
Nina menahan kakinya di pintu. Biar bagaimanapun dia canggung. Apa lagi lihat tempat tidur. Jadi teringatnya bagaimana dulu percintaan mereka yang panas di ranjang.
“Ayo, Sayang,” pinta Steve.
“Cukup! Aku di sini saja."
“Kamu masih khawatir aku melemparmu ke ranjang? Mm?”
“Apa aku harus percaya padamu?”
“Dengan kamu mau menginjak kakimu kemari, bukankah kamu sudah percaya?”
“Ayolah, Sayang. Percayalah... Lagi pula, sudah kukatakan itu tidak mungkin.”
“Tidak!”
“Ya, baiklah, baiklah. Kamu tunggu sini.”
Steve melepaskan pegangannya, berjalan ke ruang pakaian. Nggak lama kembali membawa kotak besar yang berbentuk segi empat. Ditaruhnya di atas ranjang, dia menyusul duduk di sebelahnya.
“Sayang... Kemarilah...”
"Apa-apaan kamu, kenapa kamu menaruhnya di situ?” protes Nina.
Menepuk-nepuk kasur. “Kemarilah..."
Steve tahu caranya pasti membuat Nina marah, tapi dia harus menumbuhkan kembali rasa kepercayaan wanitanya.
"Aku tidak mau!"
Menjulurkan tangan. "Ayolah, kemarilah..."
“Aku tidak mau! Kalau kamu terus memaksa, aku pulang saja!” Nina balik badan.
“Kamu tidak akan bisa keluar, Sayang. Pintu kapal tidak akan terbuka jika tidak ada instruksi dariku.”
Memalingkan badan, memasang muka cemberut. "Kamu...!"
“Sudah kukatakan, percayalah padaku. Karena kalau aku mau, dari saat kita masuk, sudah aku terkam kamu, Sayang."
__ADS_1
Nina terdiam.
“Ayo, kemarilah..." Steve memain-mainkan tangannya.
Nina mendesah, mau nggak mau menghampiri. Sebelum tiba, pinggangnya di tarik oleh Steve.
“Bukalah, Sayang...”
“Apa ini?”
“Bukalah...”
Nina membuka tutup kotak. Kedua matanya langsung terbelalak.
Gaun, sepasang sepatu, sudah pasti buatan designer ternama kalau yang memberi untuk seorang Steve. Ditambah lagi, satu set perhiasan bertahtakan berlian. Itulah barang-barang yang berada di dalam.
“Makan malam lah denganku.”
“Ini, ini, ini, aku tidak bisa menerimanya.”
"Ayolah, Sayang... Terimalah."
"Tidak!" tegas Nina.
Inilah salah satu yang disukainya dari wanita ini. Bukan hanya cantik, baik hati, mandiri, dan punya pendirian. Namun walau gadis desa, bukan wanita materialistis.
Dulu Nina pernah memintanya untuk tinggal di sini. Masalahnya, dia nggak biasa dengan kehidupan sederhana. Lagi pula, kalau dia di sini nanti Nina terkena masalah. Makanya dia pergi membereskan dulu keluarganya. Sekaligus menyiapkan hubungan mereka nantinya biar mereka nggak hidup sengsara.
Steve menutup kotak, menggapai kedua tangan wanitanya menggenggamnya hangat.
“Kapal ini, rumah-rumahku di kota, perusahaan-perusahaan ku, dan aset-aset berhargaku lainnya, semua adalah hasil kerja kerasku. Namun aku hanya memberimu ini. Ini, hanya secuil dari semua hasil jerih payahku, apa aku salah?”
“Kalau kamu ingin makan malam denganku, baiklah, aku turuti. Tapi aku tidak mau menerima semua ini."
Mendesah. "Kamu jangan merasa terbebani, Sayang. Seperti kubilang, ini tidak seberapa. Kumohon, terimalah... Biarkan aku melihatmu memakai hasil kerja kerasku yang kuberikan nggak seberapa ini." Menggoyang-goyangkan tangan, memberi tatapan permohonan. “Aku ingin melihatnya malam ini, Sayang.”
Nina menghela nafas. Dia ini bimbang. Nggak diterima kasihan, diterima takutnya nanti jadi masalah. Mungkin bagi Steve tidak seberapa, baginya? Karena jika keputusannya kelak tidak sesuai yang diharapkan Steve, apa yang terjadi nanti? Ya, kalau Steve mau saat dikembalikannya, jika tidak?
Namun akibat di depannya terus memberi tatapan permohonan. Wanita itu jadi menyerah.
“Ya sudah."
Mengecup punggung tangan lembut. "Terima kasih, Sayang.”
Beberapa saat kemudian, mereka sudah di depan rumah Nina. Steve turun, mengulurkan tangan. Nina menggapai, menyusul turun. Steve mengambil kotak pemberiannya yang menyantol di tubuh Rocky.
“Kamu bisa membawanya?”
“Bisa.”
“Sampai ketemu nanti malam, Sayang.”
Mengangguk. “Mm.”
Sepeninggal Steve, Nina membuka pintu pagar. Saat dia berjalan ke teras, dia melihat Dean diantara kaca jendela sedang duduk di bale. Perasaannya langsung nggak enak.
Apa dia menungguku?
__ADS_1