Matahari Terbit

Matahari Terbit
Episode 34 Cemburu Tak Bicara


__ADS_3

Hembusan angin menerpa pohon-pohon kelapa di pinggir pantai. Gerombolan burung gereja terbang tinggi diantara awan sembari berkicau-kicau syahdu. Cakrawala biru tampak cerah. Desiran ombak menggulung-gulung di laut lalu melandai-landai di daratan.


Nina menarik kedua kakinya. Kali ini ombak datang mengenai tubuhnya. Sudah 1 jam dia berada di sana buat menenangkan diri. Demi mendapatkan kedamaian alam untuk merelaksasi hati dan otaknya. Dia butuh hal itu, kendati nanti kembali ke realita akan bergelut hal yang memusingkannya lagi. Setidaknya, dia dapat sejenak menjernihkan pikirannya.


Kedua bola matanya terus memandang ke depan. Beberapa ikan lumba-lumba melompat-lompat riang. Kapal-kapal penduduk juga tampak di kejauhan. Sebenarnya bila begini, dia jadi teringat orang tuanya. Betapa menyedihkannya hidup sebatang kara, tidak ada tempat mengadu, berkeluh kesah, berbagi, dan juga bersenda gurau. Bersyukurlah bagi orang yang masih mempunyai keluarga utuh. Sungguh, dia iri sekali...


Bicara ini, kenapa dia jadi teringat Dean? Apa karena mereka senasib? Namun... Kenapa juga dia jadi teringat Steve? Pantaskah Steve mengorbankan keluarganya demi hidup bersamanya?


**********



(Gambar hanya ilustrasi)


Kapal yacht super mewah jadi bahan tontonan warga di pelabuhan. Tentu mereka tidak mau melewatkan untuk kedua kalinya melihat hal ini. Pertama saat kapal penjemput tuan itu datang, lalu ini. Pulau ini, pulau kecil, tak pernah ada Saudagar kaya memampirkan kapal mewahnya di sini.


Desain kapal yang super berkelas berbeda sekali dengan kapal-kapal milik mereka tentunya berbentuk tradisional. Yah... Tentunya, fungsinya juga beda. Ini kapal pribadi, sedangkan milik mereka selain untuk transportasi umum, juga untuk menangkap ikan.


Dari depan orang sudah dimanjakan kemewahan kapal tersebut. Lantas, bagaimana di dalam? Sudah pasti nggak kalah lux-nya. Di depan, terpampang fasilitas helipad beserta helikopternya. Ada pun kolam renang di atap, serta lapangan golf mini, juga air mancur buatan. Air mancur berteknologi canggih dengan menyedot air dari laut kemudian dikeluarkan ke pancuran. Sedangkan di dalam, selain kamar-kamar yang sudah pasti berisi kemewahan, ada bar, gym, bioskop mini, dan masih banyak lagi, dan bahkan ada juga night club.


Diantara orang-orang berkerumunan di sana, ada Clara. Dia sudah tahu siapa pemilik yacht tersebut. Sejak dia balik ketemu Dean, orang-orang sini pada ngegosip. Selain itu juga, mereka pada membicarakan kutukan Nina. Jelas, kehadiran tuan itu jadi mematahkan hal tersebut.


Steve terus memandangi Rocky yang sedang dimandikan oleh anak buahnya. Dia sangat tidak suka sekali hewan peliharaannya ditunggangi oleh pemuda itu.


“Gosok semua badannya sampai bersih!” serunya lantang.


“Baik, Tuan."


“Dan buat dia harum!”


“Baik, Tuan.”


Seorang anak buah lainnya datang menghampirinya, berbisik di telinganya. Dia mengangguk, bergegas pergi.


Setiba di living room, Steve duduk dengan gaya elegan menyilangkan kakinya dan memeluk tangannya di dada di depan tamunya.


“Bagaimana kabar, Tuan?” tanya jongosnya.


“Baik. Ada apa? Apa kau ingin melapor perkembangan baru?”


“Tidak ada, Tuan. Saya hanya ingin silahturahmi saja. Tapi, yah... Jika Tuan ada mau kasih saya pekerjaan baru, tentunya dengan senang hati saya siap melaksanakannya.”


Steve penasaran sekali dengan pria itu. Bagaimana bisa bertemu dengan Nina? Dari mana asal muasal si Sialan itu?


“Ya! Ada. Sebaiknya kau pergi ke rumah wanitaku. Photo wajah pria itu, dan cari tahu siapa namanya. Saya tunggu kabarnya hari ini juga.”


“Baik, Tuan. Bila itu mau Anda, saya segera berangkat.”


Sementara itu Clara di rumah, sesudah puas menonton yacht tersebut, terlibat percakapan dengan orang tuanya. Dia mengungkit hal Nina. Kini sudah ada pencerahan, dia jadi berani bicara lagi. Tentu saja bukan hanya ke ibunya, juga ke ayahnya.


“Ayah lihat, 'kan?”


“Iya, Ayahmu sudah lihat. Sudahlah... Kamu jangan terus memaksa Ayahmu. Berhentilah membicarakan hal ini." Ibunya terus mengambil alih jawaban, karena suaminya dari tadi diam saja.


Clara menuntut meminta ayahnya segera mencabut maklumat tersebut. Karena selama ayahnya nggak memperbaiki himbauan menjauhi Nina, meski warga sini sudah melihat. Realitanya, tetap saja harus mengikuti yang ada.


“Aku hanya ingin keadilan Ibu. Ibu tahu sendiri kan aku ingin sekali kembali bermain dengan Nina.”

__ADS_1


“Iya, iya. Kasihlah waktu Ayahmu berpikir.”


Clara keluar dari rumah, dia kesal sekali lihat sikap pasif ayahnya. Harusnya sudah jelas begini, untuk apa juga harus berpikir? Eh, tunggu dulu, kenapa dia jadi teringat Dean. Apakah Dean sudah tahu kabar ini?


**********


Dean bolak-balik jalan ditempat di depan pagar rumah. Resah segunung terus-menerus menghantuinya.


"Kemana Nina dengan pria itu?"


Disaat Dean terus dirudung gundah gulana, seseorang memotretnya dari kejauhan. Dengan kamera yang dapat diatur lensanya untuk bidikan jauh menjadi dekat. Sesuai permintaan tuannya yaitu wajah. Biar begitu, dia ada mengambil sisi lain buat jaga-jaga. Takutnya tuannya meminta. Ya, kalau nggak, dikasih saja.


Orang itu akan terus berada di sekitar sana, sebelum mendapatkan hasil tugas yang berikutnya.


Nina melangkah gontai menuju rumah. Kedatangan tiba-tiba Steve sebenarnya pun jadi momok lain di hatinya. Setelah dia bersusah payah memulihkan diri dari kesedihan musibah yang menimpa hidupnya bertubi-tubi, serta hujatan-hujatan warga sini, dan juga kesendiriannya. Mengapa dia harus mengalami hal ini? Ini seperti mengorek luka lama yang sudah berhasil dikuburnya.


Sebelum tiba, dia mendelik. Saat melihat karyawannya mondar-mandir di depan rumahnya.


Ngapain dia?


“Hei, Dean! Sedang apa kamu?” serunya.


Gara-gara wanita itu menyebut nama, orang suruhan Steve jadi mengantongi tugas terakhirnya, lalu pergi.


“Aku...”


“Mencariku?” potong Nina, setibanya.


“Iya. Aku khawatir, karena kamu bersama seorang pria, dan aku tidak tahu siapa pria itu. Juga, hubunganmu dengan pria itu, apa baik atau tidak. Jadi aku menantimu. Kalau 30 menit lagi kamu tak datang, aku akan mencarimu,” balas Dean beserta alibinya.


Mantan? Oo... Mantan. Eh, tunggu. Maksudnya?


Disaat Dean sedang berpikir, Nina berjalan melintasinya.


“Aku mau istirahat. Tolong jangan ganggu aku."


Dean memandangi dengan muka masih heran.


Jadi setelah dengan kakak Clara, Nina punya pacar? Apa sehabis Tuan kaya itu? Atau bagaimana? Terus juga, apa kedatangan orang itu mau mengajak Nina balikan, begitu?


Dean berjalan lemas ke peternakan masih diselimuti raut wajah tanda tanya. Namun ditengah jalan, ada seseorang memanggilnya.


"Hei, Dean!"


Menoleh, terkejut. “Kamu?’


“Iya, ini aku."


Gawat ini!


Sontak Dean panik segera menoleh ke arah belakang. Lalu bergegas mengajak Clara pergi dari sana. Terang, dia sudah janji tidak akan berteman dengan teman kecil Nina itu. Kemudian di belakang peternakan, dia bertanya.


“Ada apa mencariku?"


“Kamu tahu, pria itu ternyata masih hidup."


Mengerutkan kening. "Masih hidup? Siapa?"

__ADS_1


"Kekasih Nina si tuan kaya itu."


Melotot. "Apa?"


Jadi yang bersama Nina, pria kaya itu? Pantas, penampilannya bonafit.


“Lantas, sudah begini. Apa rencanamu?" tanya Clara.


".........." Tidak ada jawaban.


Menegur. "Dean!"


Tersadar. "Ah!" Kembali fokus. "Aku akan tetap mengejar Nina.”


“Aku akan mendukungmu.”


Entah kenapa, Clara merasa Nina lebih cocok dengan pria ini. Karena pria kaya itu menurutnya egois. Harusnya kan kalau masih hidup kasih kabar.


Tersenyum. “Terima kasih."


“Berarti dengan ini kamu pun tahu kan, kutukan Nina jadi lenyap?”


Mengangguk. "Iya.”


"Tapi ayahku belum mencabut maklumat itu. Mungkin ayahku masih shock, butuh waktu sejenak menjernihkan pikiran."


"Ya, mungkin begitu."


“Oh ya, aku beri tahu kamu ya. Pria itu datang membawa kapal yacht super mewah parkir di pelabuhan. Rocky itu hewan peliharaannya. Dia membeli hewan itu dari tangan penduduk sini. Dan nama pria itu adalah Steve.”


Selama ini Dean nggak pernah berpikir Rocky milik pria itu. Tadi saat Rocky menghampiri pun dia pikir, Rocky kenal saja. Tentu karena dia beranggapan Nina dan pria itu saling kenal.


Kemudian selagi Dean dan Clara berbincang. Sementara itu Nina di rumah, sehabis terduduk di ruang tamu. Karena tadi sesampainya di rumah dia lanjut melamun di situ. Dia berdiri berjalan ke kamar mandi berniat mau membasuh wajah. Namun ketika melintasi meja makan, dia tertegun. Lekas di bukanya tutup saji. Ada hidangan lezat dan ada secarik kertas di sana. Diraihnya, dibacanya.


“Aku menepati janjiku. Ini, makan siang kita berdua."


Segera dia melihat jam dinding. Waktu menunjukkan sudah jam 3 sore. Astaga... Jangan-jangan, tadi Dean menunggunya selain mencemaskannya, namun juga menantinya untuk makan bersama.


Kembali ke Dean dan Clara.


“Pokoknya, aku selalu berada di sisimu." Clara kembali meyakini, dengan menepuk-nepuk ringan orang di depannya.


“Terima kasih.”


Pada saat pembicaraan itulah, Dean merasa ada sosok di belakang Clara. Pelan-pelan dia memiringkan kepalanya untuk melihat.


Nina!


Dia pikir Nina takkan ke sini. Karena tadi bilang, nggak mau diganggu. Ah, dia terlalu teledor harusnya membawa Clara pergi jauh dari sini.


Clara mengikuti arah pandang lawan bicaranya. Sontak dia terkejut segera kabur. Wanita yang lagi luar biasa marah pun melakukan hal sama, melengos pergi. Dean panik, lekas mengejar.


"Nina!"


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Kasih rating bintang 5, like & komen. Tinggalkan jejakmu...

__ADS_1


__ADS_2