
Bunyi petir menggelegar membelah langit gelap. Diliputi hujan deras yang terus membasahi Bumi. Para tentara dan kelompok separatis itu terus melakukan gencatan senjata. Tembakan demi tembakan terus terjadi dua arah secara sporadis sana-sini. Bukan hanya dari pihak tentara, anggota kelompok itu pun banyak yang tumbang.
Perang berlangsung lama. Sudah berlangsung 2 jam. Saat ini kelompok tersebut ada di hulu sungai mau melarikan diri. Untung, para tentara memergoki mereka pada saat mau angkat kaki. Hanya sayang, 1 boat berhasil berlayar. Sisanya hanya 2 boat yang lagi melakukan perlawanan.
Tangki bensin hancur dari hantaman peluru yang datang bertubi-tubi. Begitu pula kapal yang satunya lagi. Otomatis bensin jadi keluar deras. Mau nggak mau niat mereka jadi terhenti akibat ulah tentara. Kelompok tersebut kembali memasuki hutan meninggalkan boat-boat mereka begitu saja.
“KEJAR MEREKA!!!" teriak Komandan Peleton lantang, alias Komandan Peleton 2.
Tentu saat ini tentara yang bertugas bukan dari rombongan Dean.
Pasukan menyusupi hutan diantara tanah yang becek, hujan guntur, dan tubuh yang basah kuyup, sembari menembaki target. Seperti yang sudah kita ketahui bersama, mereka sangat lihai jika yang namanya berbau hutan. Jejak mereka cepat sekali lenyap. Entah menghilang kemana.
Biar begitu para tentara nggak boleh lengah. Bisa saja kelompok tersebut bersembunyi buat menembaki mereka. Tentara-tentara itu juga turut sembunyi, dengan dibarengi mengendap-endap untuk mencari tempat perlindungan.
Setelah benar-benar nggak ada tanda-tanda letusan senjata, dan satu pun sosok dari pihak musuh, Komandan Peleton 2 menyudahi pertempuran. Lalu melakukan panggilan ke markas memberi laporan terkini.
**********
Mata Steve menjelajah selagi wanitanya memasak. Dia mengamati secara seksama terutama aura keberadaan orang yang tidak disukanya di rumah itu.
Dimana Dean tidur? Tidak mungin di kamar Nina, 'kan? Ah, nggak mungkin! Ini, tadi ditengoknya gudang berantakan. Dulu saat mereka pacaran, meski suka tidur bersama, Nina tetap menyiapkan kamar pribadi untuknya. Gudang itu dirapihkan dijadikan tempat istirahatnya. Meski ada tempat peristirahatan di tenda, dia lebih memilih tidur di sini.
Apa jangan-jangan Dean tidur di peternakan? Untuk ukuran tentara tentunya hal itu tidak jadi masalah. Sepertinya begitu, karena tadi dilihatnya Dean berjalan ke arah peternakan dengan membawa peralatan kebersihan. Oh! Tunggu. Apa Dean dipekerjakan Nina? Kemarin pun Dean pulang dari perkebunan seorang diri. Bisa saja itu cara Dean dengan alibi balas budi demi tinggal di sini. Licik juga Bajingan itu.
Ah, tapi kalau benar, cukup lega juga dia. Karena kalau begitu, berarti mereka tidak memiliki hubungan.
“Sedang apa kamu lihat-lihat?” tegur Nina.
Terkesiap. “Ah, tidak." Memberi alibi. "Aku hanya sedang bernostalgia saja. Sudah lama aku tidak melihat rumah ini.”
Nina meletakkan 2 piring omelet. Satu untuknya, satu lagi ke depan Steve. Lalu dia balik lagi ke meja kabinet untuk mengambil sisanya. 2 gelas susu, dan sepiring besar berisi keju dan ham.
“Silahkan, makan.”
Tersenyum. “Terima kasih."
Ditengah makan, Steve memandangi di depannya yang masih bersikap acuh saja. Dia berdehem kecil sebelum memulai niatnya.
“Ehem!”
Nina menoleh.
“Apa nanti siang kamu ada waktu?”
“Kamu meminta waktu padaku?”
“Ya, aku tahu, kamu lagi marah. Tapi pasalnya, aku ada menyiapkan sesuatu.”
“Maksudmu, kamu menyiapkan hadiah untukku?” tebak Nina, diliputi aura tidak suka
Mengangguk. “Iya. Dan aku ingin...”
Memotong. "Aku nggak butuh hadiahmu. Aku mempersilahkanmu masuk sarapan karena ada hal juga yang mau aku bicarakan. Ah, tidak! Tepatnya, yang mau aku tegaskan. Kumohon, ini terakhir kita bertemu. Sehabis ini, kamu sekalian bawa kopermu pergi dari sini, dan juga bawa Rocky bersamamu. Koper itu milikmu, hewan itu juga milikmu. Aku tidak mau semua itu berada di tanganku."
Jadi pada saat kejadian, barang-barang di kapal pria itu banyak yang terapung. Salah satunya kopernya yang selamat. Sejak mereka pacaran, karena pria itu tinggal di sini, koper itu di taruh di sini.
Mendesah. “Kenapa begini, Nina...”
__ADS_1
“Apanya?”
“Kenapa sulit bagimu untuk mengerti. Kamu pun tahu, aku pun tersiksa atas keputusan itu.”
“Kamu mengambil keputusan tanpa kompromi. Lagi pula, apakah kamu juga memikirkan apa yang kualami selama kamu pergi?”
“Yah... Aku tahu, kamu kecewa karena tidak ada kabar dariku."
Berdecih. "Cih! Bukan itu saja."
"Maksudmu?"
Pria ini pintar sekali bermain sandiwara, pura-pura tidak mengerti lagi.
Nina malas menjawab. Dia lebih memilih kembali mengusir.
“Sebaiknya kamu lekas makan. Biar cepat selesai urusan kita.”
“Ayolah, Sayang... Beri aku waktu. Kalau dirasa, aku nggak pantas atas apa yang telah kupertaruhkan selama ini demi masa depan kita. Kamu bisa meninggalkanku.”
“Aku tidak mau! Aku..."
Memotong. "Setidaknya, kita sama-sama menderita atas hal ini. Karena itu, bukankah sangat relevan kalau kamu memberi kesempatan pada hatimu untuk melihat itikat baikku, baru kamu menentukan?”
Nina mendelik. Apakah dia terlalu terburu-buru menyikapi ini? Sedangkan dia tahu Steve melakukan itu untuk kebaikan mereka nanti ke depannya. Nina tidak merespon. Atas itu, Steve menyimpulkan wanitanya setuju.
Sehabis makan, Steve ijin ke peternakan dengan alasan tidak ada makanan Rocky. Nina tidak membalas.
Tap! Tap! Tap! Langkah kaki Rocky memasuki peternakan.
“Apa kabar, Bung?”
“Tidak perlu basa-basi, Bung!"
Kedua bola mata Steve mengindai sekitaran untuk bernostalgia sebentar pada tempat itu, sebelum dia fokus bicara ke orang di depannya.
“Dean Wilsh. Anak tunggal, kedua orang tua telah tiada mati karena kecelakaan. Tinggal di apartemen di pinggiran kota. Seorang tentara Angkatan Darat berpangkat Sersan yang sedang ditugaskan di pulau Tartan.”
Dean terkesiap Steve tahu data dirinya. Namun ternyata masih ada lagi.
“Apa kesatuan Anda tahu, Anda masih hidup?”
Dean makin terkesiap.
“Saya, atau Anda yang memberi tahu mereka?”
Melotot. “Anda mengancam saya, Bung?”
“Yah... Terserah menurut Anda. Ah, tidak. Ya! Tepatnya seperti itu. Saya kasih waktu 1x24 jam Anda pergi dari sini."
Mengejek “Owh, jadi ini pria masa lalu, Nina? Tuan muda kaya raya, yang aslinya seorang pengecut hanya berani bermodalkan uang dan kekuasaan untuk menjerat lawan?”
“Yah... Memang seperti itu. Untuk orang-orang berkelas seperti kami, itu hal lumrah." Steve tersenyum elegan, aslinya balas mengejek.
“Saya tekankan. Saya tidak akan pergi dari sini, dan tidak takut ancaman Anda!”
“Begitu ya? Coba Anda pikirkan. Apa yang bisa Anda berikan ke Nina jika Anda dipecat dari kesatuan?”
__ADS_1
Dean menggemeratakan giginya. Tentu dia gak mungkin memberi hanya modal cinta. Memang dia bisa dipecat dari kesatuan karena dianggap tidak setia dengan negara. Karena tidak memberi kabar masih hidup.
“Sebaiknya Anda urus diri Anda sendiri." Mendengus. "Humph! Masih hidup? Rupanya nggak seberuntung kisah cinta Anda ya? Datang ditolak Nina? Anda bicara begini karena takut Nina jatuh ke pelukan saya, bukan?" Berdecak-decak. "Ckckck... Kalau Anda pria sejati, mari kita bertarung merebut hati Nina secara jantan!” Dean membalas, dengan menguliti kelaki-lakian di depannya.
“Wow... Rupanya Anda cukup percaya diri.” Mengangguk-angguk kecil. “Ya, ya, baiklah, baiklah, bila itu mau Anda. Tapi saya beri tahu Anda ya sebelumnya, Anda nggak akan mungkin menang, Kawan. Karena saya pastikan Nina kembali jatuh ke pelukan saya."
Mendengus lagi. "Humph! Anda terlalu percaya diri. Anda tahu sendiri keras kepala Nina, bukan? Setelah apa yang Anda perbuat, sebegitu yakinnya Anda bisa menang?"
Kali ini Steve yang menggemeretakan giginya. Tentu dia harus mati-matian mendapatkan maaf dari Nina. Wanita satu itu susah dirayu.
Sebenarnya diantara keributan mereka, ditengah-tengah ada yang linglung. Hewan itu seperti tahu apa yang terjadi antara majikannya dengan Dean.
Sementara itu di lokasi lain, Clara terus mengikuti ayahnya. Sedari pagi dia sudah mengintil untuk mengetahui kegiatan orang tuanya yang satu itu. Dan saat ini, ada hal yang tidak disukainya.
Di belakang rumah orang itu, ayahnya dan Baron yang merupakan nama pria yang suka mengintip Nina, terlibat percakapan.
“Kenapa pagi-pagi memanggil saya?” Ayah Clara bertanya.
“Pak Smith, semalam saya lupa memberi ini." Baron menyerahkan amplop.
Menerima. “Apa ini?”
“Yah... Tentunya Bapak tahu. Tuan Steve sangat berterima kasih sekali selama ini Bapak mau bekerja sama dengan Beliau.”
“Sudah saya katakan, saya tidak mau. Saya melakukan itu karena saya punya alasan tersendiri.”
“Tapi Tuan Steve sangat tidak mau menerima kerja sama ini cuma-cuma. Jadi tolong, kali ini jangan ditolak.”
“Apa perlu saya katakan ulang? Kerja sama ini bukanlah untuk kepentingan Tuan Steve saja, tapi saya juga. Jadi saya tidak mau melihat hal ini lagi.” Ayah Clara mengembalikan amplop.
“Tolonglah Pak Smith, jangan menyulitkan saya. Anggap saja ini oleh-oleh dari Tuan Steve. Kalau saya mengembalikan uang ini, Tuan Steve pasti akan marah besar kepada saya." Baron berusaha kembali menyerahkan.
“Cukup! Saya tetap dengan pendirian saya.” Ayah Clara memajukan satu tangan, kemudian berjalan.
Mengejar. "Tolonglah, Pak Smith.”
Menoleh, mengeluarkan aura tegas. "Cukup!”
"Tapi, Pak Smith..."
Ayah Clara buang muka, kembali berjalan.
Memanggil ditempat. "Pak Smith, Pak Smith...”
Uang?
Clara mengawasi langkah kaki ayahnya yang berjalan kian menjauh. Jadi, benar dugaannya? Astaga... Meski ayahnya menolak, tentunya itu sangat mengecewakannya. Karena ayahnya ternyata komplotan mereka. Sudah begitu, alasan tersendiri apa sampai ayahnya perbuat begitu?
Clara segera keluar dari sana, dengan kepala menunduk diselimuti hati campur aduk. Hingga ada kerikil kecil di depannya, ditendangnya keras sebagai bentuk pelampiasannya.
“ADOWW!!!” Seorang pria mengerang kesakitan.
Dia terkejut menoleh ke depan. Rupanya kerikil itu melayang ke punggung salah satu orang yang dipikirkannya.
Steve dengan raut wajah emosi menoleh ke belakang. Siapa yang telah berani kurang ajar menimpuknya! Dia segera memiringkan kepalanya usai tahu siapa pelakunya. Yang dilihatnya sedang gemetaran.
“Rupanya kau, Gadis Kecil!”
__ADS_1