
Sang Mentari menaikkan sinarnya tepat di atas kepala. Terik semakin pekat, panas semakin menyengat. Udara lembab mulai melingkupi pulau Elvaros. Hirup pikuk penduduk tampak ramai di pelabuhan. Aktifitas pelabuhan hari ini berbeda. Penduduk masih datang berbondong-bondong untuk berbelanja. Baik itu yang baru datang, atau yang sudah beli lalu datang lagi karena masih ada yang kurang. Kapal pemasok kebutuhan bersandar sampai esok pagi. Penduduk bisa datang terus-menerus hingga merasa kebutuhan mereka tercukupi.
Di lalu lalang orang, ada sepasang mata grey yang diam-diam mengamati si Kembang Elvaros. Orang itu memang suka menguntit si Bunga Pulau. Orang itu berhenti ke seorang pedagang yang tidak jauh dari targetnya. Seolah-olah melihat sesuatu sambil curi-curi pandang.
Sistem jualan di kapal transaksinya sama seperti di pasar. Seperti kita ketahui, yang membedakan hanya tempat jualannya. Jadi kapal membawa para pedagang baik itu sandang, pangan, maupun papan. Pintu masuk kapal akan di buka. Para pedagang bisa menggelar dagangannya dari geladak hingga ke bawah. Para pedagang itu merupakan anggota pedagang kapal. Mereka membayar iuran tiap bulan ke management kapal, dan selalu ikut kapal singgah ke pulau mana pun.
(Gambar hanya ilustrasi)
Nina kembali berjalan ke pedagang lain. Tadi dia pergi 15 menit setelah Dean pergi dari rumahnya. Dia masih ada yang kurang mau belanja lagi. Para pedagang di sana maupun crew kapal tidak berhenti-henti menggodanya. Maklum, pesona wanita satu itu sulit sekali ditepis oleh siapa pun pejantan yang melihatnya. Nina sendiri sudah terbiasa dapat godaan itu.
“Hai, Cantik...”
“Apa kabarmu, Nona Cantik?”
“Nona, kemarilah... Kami kangen padamu.”
“Nona, kenapa kecantikan wajahmu tidak pernah luntur.”
“Nona, kenapa tiap kami datang kamu selalu memesona saja.”
Nina berhenti ke pedagang buah. Atas kehadirannya, sang pedagang tersenyum bahagia langsung menyapanya.
“Hallo... Nona Cantik. Apa kabar?”
Nina membungkukkan badan, memeriksa buah di depannya, sembari membalas sapaan pedagang itu.
“Baik. Apa anggur ini manis?”
“Tentu, Nona. Kalau Nona tidak percaya, Nona bisa mencobanya.”
“Boleh, 'kah?”
“Tentu saja boleh. Apa yang tidak boleh untuk wanita secantik, Nona.”
Tentunya gombalan yang sudah biasa didengarnya. Nina tersenyum tipis, mengambil satu butir dan mengunyahnya.
“Mm... Ya, manis. Berapa satu ikat?”
“Untuk Nona murah saja, hanya 10 Prun.”
Prun adalah mata uang negara Andaron.
“Apa tidak bisa kurang?”
“Harga yang saya berikan sudah sangat murah. Biasanya saya jual 13 Prun. Yah... Tapi baiklah, karena yang beli adalah Nona, tentu saya bisa turunkan. Khusus untuk Nona saya kasih 8 Prun. Malah saya akan tambahkan satu ikat untuk Nona. Agar Nona memakan anggur pemberian dari saya dengan selalu mengingat saya.”
“Yah... Baiklah, saya akan selalu mengingat Anda, dan memakan anggur pemberian Anda penuh suka cita. Juga, terima kasih sudah menjual murah kepada saya," respon Nina, untuk pemberian gratis termasuk gombalan orang itu lagi.
Hanya wanita satu itu yang bisa buat para pedagang luluh lantak tidak bisa memberi harga tinggi. Andai saja wanita itu memiliki sifat centil, mungkin dikasih cuma-cuma nggak perlu bayar.
Pedagang itu membungkus 2 ikat anggur dan memberinya.
“Selamat menikmati, Nona...”
“Terima kasih." Nina menerima sekaligus memberi uang pas.
Usai terpuaskan belanja, dia turun dari kapal berjalan pulang. Tak luput sepasang mata grey itu mengekori di belakang.
Sementara Dean di kandang, sedang belajar jalan lagi tanpa tongkat. Dia memutar-mutar langkahnya ditempat. Sudah ingin sekali dia cepat jalan. Kuda itu mengamati teman sekandangnya yang terus mencoba berjalan normal.
“Aku pasti bisa. Benar kan, Rocky?”
“Hiiik...”
“Jika besok aku sudah bisa jalan. Aku akan membawamu keluar. Tentunya, aku juga jadi bisa sigap kalau terjadi apa-apa dengan nonamu. "
“Hiiik...”
“Yah... Kamu harus terus memberi dukungan padaku. Ini semua demi kebaikan kalian berdua."
“Hiiik...”
__ADS_1
Dirasa-rasa cukup latihannya, dia keluar menuju rumah pujaannya. Dia belum mengucapkan terima kasih. Salah satu celana pemberian Nina telah dipakainya.
Sesampainya di sana, diketuk-ketuknya pintu, namun tidak ada sahutan. Telah dilakukannya berkali-kali pun hasilnya sama. Segera dia jalan ke jendela untuk melihat keadaan dalam. Kemudian pandangannya beralih ke pintu pagar depan.
“Kemana lagi dia."
Seketika wajahnya jadi kembali resah. Inilah ketidakberdayaannya atas situasi ini. Andai kakinya hari ini sudah bisa jalan. Diacak-acaknya rambutnya.
"Saat ini dia tidak ketemu pacarnya, 'kan? Argh..."
**********
“Haish... Berat sekali,” keluh Nina.
Dari tadi sudah beberapa kali dia berhenti. Bawaannya nggak semudah yang tadi. 2 kantong besar dan 2 kantong berukuran sedang membuatnya jadi kelelahan. Saat ini dia berhenti lagi. Ditaruhnya semua belanjaannya di bawah. Direnggang-renggangkannya tangannya kemudian.
Fiuh!
Kalau begini dia jadi teringat Dean. Berarti waktu itu dia sangat perkasa sekali bisa menarik tubuh si Brengsek itu dari pantai.
Sepasang mata grey itu pun tak luput berhenti. Mengamati dari kejauhan diantara pepohonan. Entah, siapa sosok itu. Pemuja Nina, 'kah? Musuh Nina, 'kah? Atau hanya orang iseng saja yang senang mengikuti. Masih misteri...
Nina mengamati belanjaannya. Bakal mampukah dia membawa semua ini ke rumah. Salahnya, harusnya tadi dia bawa gerobak.
Setelah bersusah payah, akhirnya dia berhasil juga sampai rumah. Di depan pintu pagar, digeletakannya kembali semua belanjaannya.
“Ampun... Berat sekali...”
Secepat kilat Dean menengok ke arah sumber suara tersebut. Lekas dia bangkit dari bale berjalan ke sana.
Rupanya kekhawatirannya sirna sudah. Saat dia membuka pintu, dilihatnya banyak kantong di bawah. Wajah pujaannya pun penuh keringat, dan sedang mengelap-elap dahi.
“Kenapa kau belanja tidak mengajakku?”
“Sudah, nggak usah nanya. Tolong, bantu aku angkat barang-barang ini.”
“Tentu saja."
Dean menundukkan badan mengambil semuanya. Namun rupanya Nina merampas kantong kresek yang berukuran sedang. Dia lupa, kalau Dean pasti bakal kerepotan.
“Tidak usah... Biar aku saja."
“Tangan kau memegang tongkat, satu lagi memegang 2 kantong kresek besar. Jika ditambah lagi 2 kantong kresek sedang, sudah pasti kau kerepotan. Jadi, biarkan ini aku saja yang bawa.”
“Tidak masalah, aku pincang bukan berarti aku tidak bisa. Sudah... Lepaskan saja, serahkan saja padaku.”
Karena tidak dilepas, Dean jadi merampas. Lalu mengaitkan semua ikatan kantong ke dalam satu tangannya.
"Kau ini...," geleng Nina.
Kemudian mereka berjalan masuk ke dalam.
Sementara itu di kejauhan sepasang mata grey itu menyipitkan mata. Orang itu terkejut melihat ada sosok orang lain di rumah Nina. Siapa pria itu? Kenapa bisa tinggal di sana? Kekasih baru Nina, 'kah?
Setiba di dalam, Nina lekas membuka pintu gudang.
“Kau bisa meletakkan di sini.”
“Oke.”
Dean masuk, diikuti oleh Nina. Lalu Dean meletakkan semua belanjaan di bawah. Nina membungkukkan badan, membongkarnya. Dean memperhatikan sekitaran. Ini baru pertama kalinya dia melihat ruangan ini. Sepertinya kamar ini beralih fungsi menjadi gudang. Pantas, waktu itu nggak dipakai Nina tidur. Lalu dia kembali ke orang yang lagi sibuk di samping kakinya.
“Apa lagi yang bisa aku bantu?”
Nina mengambil kantong anggur dan memberinya.
“Kau bisa bersihkan ini.”
"Baiklah, Nonaku."
Mengerutkan kening. "Kenapa kau memanggilku begitu?"
“Bukankah sekarang aku pegawai kau."
__ADS_1
Lekas Nina buang muka. Sejujurnya dia tidak sepenuh hati menerima kehadiran pria ini di sini.
Karena tidak ada balasan, seraya tersenyum, Dean balik badan membawa buah itu ke dapur. Usai dicucinya, dia berdiri di daun pintu memperhatikan orang yang masih belum selesai beres-beres.
Tak lama Nina keluar, melintasi dirinya menuju wastafel untuk mencuci tangan. Setelahnya, Nina menjinjitkan kedua kakinya untuk mengambil perabotan di dalam kitchen set. Dean lekas datang membantu, berdiri di belakang tubuh.
“Apa yang ingin kau ambil?”
Seketika yang mau dibantu membeku. Tubuh kekar di belakangnya terlalu dekat. Hingga membuatnya jadi gelagapan memberi jawaban.
“I-tu, i-tu, yang dekat mug hijau."
“Ini?” tanya Dean menengok ke bawah.
“I-ya.”
Dean menurunkan barang. Meletakkan ke meja kabinet.
“Ada lagi?”
Nggak beres ini... Dia harus keluar dari perangkap tubuh ini. Nina segera mengeluarkan kepalanya dari lengan kekar itu, dilanjutkan menggeser tubuhnya.
"Tidak ada."
"Oke."
Baru diterima saja sudah begini, bagaimana selanjutnya nanti? Mereka ini harus ada jarak!
"Hei!" kesal Nina.
"Ya?"
"Lain kali kalau aku nggak butuh bantuan. Kau jangan berinisiatif membantu."
Mengerutkan dahi. "Kenapa?"
"Kau ini... Selalu saja melawan. Kalau mau jadi karyawanku patuhi saja aturanku!"
Mengalah. "Ya, baiklah, baiklah."
Kemudian Nina mengambil perabotan yang lain di rak. Dibawanya semua ke tempat yang telah diturunkan Dean.
“Kau mau buat apa?” tanya Dean.
Nina menyerahkan penumbuk kayu, dan wadah berisi anggur yang tadi telah dicuci oleh Dean.
“Aku mau buat wine. Kau tumbuk semua anggur dengan ini.”
Mengangguk. “Oke.”
Selagi Dean mengerjai, Nina mengerjai yang lain. Tentu membuat wine harus menyiapkan campuran lain. Madu, ragi, dan lain sebagainya. Dean menumbuk sembari mengamati orang di sebelahnya.
“Jadi, hari ini kita berdamai?”
“Sebenarnya aku ingin membiarkan kau tidur di luar. Sampai kau kapok lalu mencari cara untuk pulang sendiri."
Tersenyum. "Terima kasih kau menerimaku. Barang-barang yang kau belikan sangat cocok. Aku pun berterima kasih untuk itu.”
“Tentu saja, sudah sepatutnya kau terus berterima kasih padaku."
Tersenyum lagi. "Tentu."
Ditengah mereka mengerjakan, Dean iseng memoles cairan anggur di pipi ranum di sebelahnya. Nina melotot.
“Apa-apaan kau ini!”
Bukannya berhenti, lelaki itu malah makin jahil memoles ke pipi satu lagi.
“Kau...!” geram Nina.
Akhirnya terjadi perang anggur diantara mereka. Mereka saling menyerang ke pipi satu dan lainnya.
Biarkanlah, saat ini kucing dan anjing itu akur. Sekarang lebih baik kita ke orang misterius itu...
__ADS_1
Sementara itu sepasang mata grey terus menyaksikan di luar sana. Orang itu masih kurang puas untuk melihat. Siapa sebenarnya pria itu? Dari mana asalnya? Kenapa tidak pernah dilihatnya wajah itu? Apa orang itu, bukan penduduk sini? Ya, pasti! Tentu karena dia hapal sekali orang-orang sini.
Dia pikir seminggu belakangan ini Nina melakukan aktifitas seperti biasanya. Makanya dia tidak mengawasi. Salahnya, teledor.