
Masih badan tengkurap, Dean menaikkan badannya dengan kedua tangan dan kedua lututnya sebagai penyanggah bebannya. Dia nggak mungkin membalikkan badan. Cat di belakang tubuhnya nanti akan menempel di jerami. Sangat hati-hati dia merayap mengambil tongkatnya. Jangan sampai mengenai luka di kakinya.
Perlahan-lahan dia bangkit usai meraih tongkatnya yang diselipkannya ditempat minum kuda. Biar merata, namun siraman Nina nggak mengenai area penting. Karena tempat makan dan minum kuda sudah ditutupnya terlebih dahulu pakai dedaunan. Begitu pula hal pakaian, telah diamankannya duluan diselipkan di bawah jerami.
Dirogohnya saku celana. Uang receh Nina tersimpan baik di sana. Entah ini cukup, atau tidak. Dia segera jalan ke pelabuhan untuk membeli bensin.
Nina yang lagi sibuk di dapur segera mengintip di jendela, saat melihat orang yang habis diamuknya melintasi samping pagar rumahnya.
“Mau kemana dia?”
Diikutinya terus sampai orang yang diawasinya berhenti di depan rumahnya memandangi jalan.
“Bagus! Sepertinya dia menyerah. Syukurlah, sebentar lagi hidupku kembali sedia kala."
Di jalanan yang becek, Dean terus berjalan. Tanah liat menemani sepanjang langkahnya. Sudah telapak kaki kena cat. Sekarang ini, lengkap sudah.
Tiap tanah semakin tebal, dia berhenti sejenak untuk membersihkan. Bukan hanya urusan kaki, juga tongkat.
Ini pertama kalinya dia keluar jauh dari rumah Nina. Diantara kesulitannya, dia memerhatikan sekitaran.
Ternyata kehidupan di sini masih tertinggal. Negara mereka negara kaya. Entah apa yang dilakukan pemerintah setempat. Seharusnya jalanan di aspal.
Rumah-rumah di sini pun bentuknya sama seperti rumah Nina sederhana. Sudah seperti zaman koboi saja! Tidak ada mesin kendaraan beroda dua, apa lagi beroda empat di pekarangan mereka. Sudah begini, lantas, bagaimana mereka membajak tanah? Jangan-jangan pakai alat tradisional. Terus transportasi darat cuman kuda saja? Berarti bensin hanya di pakai untuk kapal?
Tapi kalau dipikir-pikir, pulau tempat tugasnya juga masih ketinggalan. Sepertinya bangunan megah hanya milik Ibu Kota. Apakah mungkin, ini alasan warga Tartan sebagian pada memberontak? Ya, memang ini pulau Elvaros. Tapi pulau Elvaros berdekatan dengan pulau Tartan, bukan?
Sesuai petunjuk wanita itu, nggak lama pria itu sampai. Semua orang dari kejauhan mengamati sosoknya saat dia menginjakkan kakinya di pelabuhan.
(Gambar hanya ilustrasi)
Maklum, di sana penduduknya sedikit jadi jika ada orang baru langsung tertandai. Pandangan mereka pun sebenarnya bukan hanya melihat sosok baru, tapi juga penampilannya yang penuh cat, dan jalan terpincang-pincang, berikut bawahan yang dipakainya. Penduduk di sana nggak ada satupun warganya memiliki profesi tentara. Meski pria itu memakai baju wol, tapi celananya bisa terdeteksi.
“Permisi... Saya mau tanya, di mana di sini yang jual bensin?” Dean menegur, seorang pria paruh baya yang dicegatnya.
“Siapa Anda?" Orang itu memberi tatapan tak sedap.
“Ah! Saya tamu di sini.”
“Tamu? Tinggal di mana Anda?”
“Saya tinggal di sana.” Membalikkan badan dengan tangan menunjuk arah rumah Nina. “Di rumah seorang wanita cantik.”
Orang itu lekas pergi. Dean terpana, segera mengejar.
“Hei, kenapa Anda pergi? Anda belum menjawab."
Tentu saja langkah kakinya kalah oleh kedua kaki sehat. Dia mendekati pria lain. Seorang anak muda yang sedang berjalan membawa box es ke arah kapal.
__ADS_1
“Hei, anak muda,” serunya.
Menoleh. “Ya?”
“Boleh saya tahu, di mana saya bisa beli bensin?”
Orang itu menelusuri seluruh badan di depannya. Pria itu baru lihat. Tadi dia lagi di dalam lumbung. Gudang penyimpanan hasil Bumi penduduk.
“Anda siapa?’
“Ah, saya orang baru di sini. Saya tinggal di sana.” Menunjuk arah belakang. “Di rumah seorang wanita cantik.”
Kata ‘wanita cantik’ sepertinya momok yang menakutkan bagi warga sana. Lagi-lagi mendengar kata itu, pria itu pergi. Dean kembali terperanjat, dan lekas mengejar.
“Hei, hei, berhenti. Tolong, kasih tahu saya.”
Sekali lagi, langkah kakinya kalah. Meski orang itu membawa beban, tetap saja jalannya lebih cepat karena dia hanya mengandalkan satu kaki.
Ada apa dengan warga sini? Kenapa tak ramah padanya? Apa begini cara mereka berhadapan dengan orang asing? Tapi kenapa bertolak belakang sekali dengan Nina?
Dean pantang menyerah sekaligus ingin memastikan untuk apa yang dirasanya. Dia berjalan mendekati kapal yang didatangi anak muda tadi. Sayang, belum sempat dia mengutarakan niatnya, sudah dapat pengusiran. Gara-gara orang yang mau ditanyanya, dapat bisikan dari anak muda tersebut.
“Hei, pergi kau sana!”
“Tolong, kasih tahu saya di mana saya mendapatkan bensin."
“Pergi!!!” lantang orang itu.
“Saya bilang pergi!!!”
Apa daya Dean pergi, karena pria itu mau mendorongnya ke laut. Lekas dia berjalan keluar dari dermaga.
"Parah banget warga sini. Benar-benar nggak ramah padanya." Dean geleng-geleng kepala.
Rupanya Nina menunggu. Duduk di ruang tamu dengan bangku menghadap jendela depan, sembari membuat topi kupluk dari bahan wol. Lekas dia berdiri mendekati jendela saat melihat sosok yang ditunggunya tampak. Dia terus berjalan diantara kaca hingga bayangan yang diikutinya menghilang.
“Akhirnya, dia sudah menelpon,” girangnya.
Tiba di peternakan, yang pertama dilakukan Dean memberi makan kuda itu dulu. Dibawanya rumput-rumput yang diambilnya di kandang. Di belai-belainya kuda itu kemudian.
“Sekali lagi, maaf kamu jadi terlibat perseteruan ini. Terus terang, tadi aku tidak dapat bensin. Jadi terpaksa aku tidak bisa membersihkan kandangmu. Maafkan aku ya. Nanti beberapa jam lagi cat di kandangmu kering. Baru, aku masukkan kamu ke dalam."
"Hiiik..."
"Ah, aku nggak menyangka kamu memahamiku. Kamu sangat baik sekali padaku. Sebenarnya majikanmu juga. Tapi sifat judesnya menyebalkan." Mendelik. "Oh! Nggak. Sebenarnya itu menggemaskan." Senyum-senyum sendiri, kemudian mendesah. "Haaa... Kadang melihatmu membuatku berpikir, kapan ya aku bisa bicara tidak formal dengan Nina. Dari awal dia sudah memberiku jarak. Aku-kau denganku. Menjengkelkan!”
Kuda itu sudah kenyang. Kemudian Dean mencari wadah di kandang ayam berupa mangkok takaran makan. Untuk dipakainya sebentar buat memberi minum kuda. Dia sempat mengamati ayam. Sepertinya sebentar lagi mau bertelur.
“Wah, boleh juga. Nanti, untukku makan."
__ADS_1
Setelah selesai, dia pergi ke rumah Nina tepatnya ke kamar mandi untuk membasuh diri. Nina terbangun lagi dari tempat duduknya akibat dengar suara gemericik air di belakang. Lekas dia mengintip dari jendela dapur.
Sehabis mencuci tangan, pria itu mengambil handuk di jemuran. Dililitnya ke pinggang, dilepasnya celananya, begitu pula bajunya, di jemurnya kemudian. Biar cepat kering pada bagian noda cat dihadapkan ke Matahari. Dipecah-pecahnya rambutnya yang pada mengeras akibat cat.
“Kurang ajar dia memakai handukku!”
Nina bergegas keluar rumah, Dean melirik tipis merasakan kehadiran si Judes lewat suara pintu di buka.
“Kenapa kau memakai handukku?!"
Yang ditanyanya tidak menjawab, asik sendiri dengan aktifitasnya.
“Hei, apa kau tuli?”
Tetap tidak bergeming.
“HEI!!!” Nina menghardik lebih keras.
Menoleh. "Apa?”
“Apa? Apa? Kau dengar tadi!”
“Lantas, kau mau lihat aku telanjang?” Dean balik bertanya.
Nina menggemeretakan gigi-gigi putihnya.
“Yah... Kalau kau tidak sudi aku memakai handuk kau. Baiklah, baiklah, aku akan membukanya." Tangan Dean bersiap-siap mau melepas handuk.
Melotot. "Dasar pria gila!!”
Nina lari terbirit-birit masuk ke dalam rumah. Dean tertawa geli, kemudian melanjutkan kerjaannya lagi. Nina kembali mengamati Dean dari jendela dapur. Baiklah, lupakan saja handuknya. Dia pun ada stok. Mungkin Dean sedang mempersiapkan diri. Tidak mungkin pulang dalam keadaan seperti itu. Ah, kalau begitu, sebaiknya dia berbaik hati memberi thinner.
Nina mengambil thinner di gudang. Lalu buka pintu belakang, diletakkannya di depan pintu.
“Hei! Kau bisa bersihkan diri dengan ini."
Dasar, wanita ini... Sebentar galak, sebentar baik. Lekas Dean berjalan mengambilnya.
Selanjutnya setelah pria itu selesai mandi, wanita itu datang menghampiri.
“Jam berapa orang markas kau, jemput?"
Bingung. "Maksudnya?”
“Kau ke pelabuhan sehabis menelpon orang markas kau, 'kan?”
Menggeleng. “Tidak. Aku ke sana untuk mencari bensin.”
Terkesima. “Apa?”
__ADS_1
“Oo... Jadi kau berpikir begitu ya? Pantas, habis marah kau baik sekali." Tersenyum kecil. Aslinya, senyuman mengejek. "Kau jangan berharap, Nina."
“Dasar kau... Argh...!" Nina menghentak-hentakkan kedua kakinya gemas ke Bumi.