
Kletak! Kletak!
Terdengar suara kunci gembong di buka. Tadi Dean sudah lihat dari kejauhan sosok Nina berjalan membawa keranjang melintasi area dimana dia berada. Tapi dia diam ditempat demi menunggu hasil rekayasanya semalam. Takutnya, jika dia menghampiri merusak mood pagi Nina.
Sepertinya Nina mau ambil telur-telur ayamnya. Dia segera menajamkan pendengarannya. Ingin tahu apa saja yang dilakukan pujaannya didalam.
30 menit berlalu, yang dikupinginya berjalan keluar dari peternakan. Yang menarik, tidak terdengarnya sama sekali suara pintu di kunci.
Ah, wanita ini... Memang suka gengsi. Selalu saja punya cara tersendiri untuk baik padanya. Berarti dia bisa masuk.
Dean lekas bangkit, berjalan ke dalam. Sosoknya langsung disambut riang oleh teman barunya.
"Hiiik..."
“Jadi, namamu Rocky?”
Tadi, Dean dengar Nina menyebut nama kuda itu. Biasa, wanita itu suka memarahi hewan satu itu.
“Hiiik..."
Mengelus-elus kepala. "Rocky, mulai saat ini, kuharap kamu jangan berisik." Mengarahkan pandangan ke kandang-kandang lain. "Mereka yang kecil-kecil itu juga teman-temanmu. Jangan membuat mereka stress lagi ya."
Dean juga tadi dengar, Nina meminta kuda itu jangan terus bikin stress hewan yang lain.
"Hik."
Kuda yang pintar, hewan itu merespon dengan bersuara kecil.
“Ah, akhirnya aku tahu namamu. Mari kita berkenalan ulang. Namaku, Dean Wilsh. Aku ditemukan oleh majikanmu. Tubuhku terdampar di pulau ini. Majikanmu malaikat penyelamat hidupku."
Sungguh terbelalak nya Dean, saat mengulurkan tangan, disambut baik oleh hewan itu. Kuda itu menaikkan satu kaki depannya, menaruhnya di atas telapak tangannya.
“Kamu pintar sekali..." Menimang-nimang tangan. "Baiklah, Mister Rocky, senang berkenalan denganmu."
Selanjutnya Dean duduk ditempat tidur ala kadarnya. Menggoyang-goyangkan kakinya. Dari semalam dia sudah merasakan sepertinya kakinya yang terluka sudah mulai kuat memijak Bumi. Untuk membuktikan, dia berdiri dan berjalan pelan-pelan tanpa bantuan tongkat. Belum sepenuhnya normal, masih sedikit terpincang-pincang. Kalau diperkirakan, kemungkinan lusa baru bisa berjalan seperti sedia kala.
“Hei, Rocky lihatlah...,” unjuknya.
“Hiiik...”
“Ah, senangnya. Aku tak lama lagi bisa jalan normal, Rocky.”
“Hiiik...”
Sesuai arahan wanita itu, setelahnya, pria itu melepas perban di dada, dan bebat di kakinya.
Sementara itu, wanita itu di rumah. Setelah menyusun telur-telur di gudang, dia kembali dengan aktifitasnya. Hari ini kapal pemasok kebutuhan pulau datang. Beberapa saat lagi akan tiba. Masih ada waktu sebelum dia pergi ke pelabuhan. Sebaiknya diisinya dengan menyulam lagi.
Sesekali, Nina melihat pintu pagar samping rumah. Tapi pada pandangan terakhir dia menggelengkan kepalanya.
“Astaga... Ngapain aku menengok ke sana melulu. Ish, memang dasar! Pria itu membuat otakku jadi tidak beres. Aku jadi menelan ludahku sendiri."
__ADS_1
Jelas, wanita itu kesal. Keputusannya berdamai bertolak belakang dengan niatnya.
"Sial! Harusnya tadi malam aku tidak menghampiri si Pincang! Ah, tetapi tidak apa-apa. Bukankah dia bilang hanya 3 minggu saja di sini. Ini malah sudah terpotong beberapa hari dari dia mengucapkan itu. Waktu yang tidak lama. Aku pasti bisa mem-block perasaanku sendiri jika rasa itu muncul."
Klak!
Terdengar suara pintu pagar samping di buka. Nina segera menjulurkan kepalanya ke jendela. Lalu merubah pandangannya ke jam dinding. Waktu menunjukkan 20 menit lagi kapal tiba. Ah, tak terasa sudah mau waktunya. Dia segera bersiap-siap.
Nggak lama si Jelita sudah siap bersama topi cantiknya. Saat Nina membuka pintu belakang, Dean yang lagi ambil handuk di jemuran, menoleh. Nina bersikap acuh lekas berjalan ke pintu pagar.
“Hei, kau mau kemana?”
"........."
“Hei, kau mau kemana?” panggil Dean ulang.
Yang dipanggilnya terus berjalan. Dean segera melempar handuk serampangan, mengikuti di belakang.
Merasa diikuti, Nina menoleh dan bergumam kecil. "Astaga... Pria ini." Kemudian berteriak lantang. "Hei, pria gila! Kenapa kau mengikutiku?”
“Kau belum jawab pertanyaanku."
"Untuk apa, penting?"
"Ya! Penting."
“Sudah sana pergi. Bukan urusan kau!"
“Percuma kau jalan cepat, aku tetap bisa mengikuti."
Ini yang buatnya aneh, bagaimana bisa? Seharusnya jarak diantara mereka sangatlah jauh.
Logikanya, mau wanita itu jalan normal harusnya orang yang kesulitan berjalan itu susah mendekati. Ini malah jalan cepat, jarak pria itu sama saja dengannya. Maklum, wanita itu belum tahu kaki pasien sialannya sudah mendingan.
“Keharuman tubuh kau yang menuntunku dapat menemui kau."
Pria itu tidak memberi tahu kenapa. Dia nanti ingin memberi kejutan kalau kakinya sudah berjalan sempurna.
Nina menoleh, menghentak-hentakkan kakinya gemas ke tanah. Tubuhnya memang diselimuti aroma bunga.
“Kurang ajar!” pekiknya.
Kali ini Dean pasti nggak bisa mengikutinya. Biar dituntun keharuman tubuhnya, pastinya kalau dia berlari, tidak dapat menemuinya. Karena sisa keharuman tubuhnya yang tertinggal keburu memudar, jika Dean tidak cepat mengejarnya.
Sontak Dean melotot, melihat di depannya terbirit-birit. Kalau begitu, jelas dia nggak bakal mampu menemui.
“Sialan, wanita ini! Mau kemana dia? Sudah mana cantik sekali."
Terpaksa dia balik ke rumah. Di depan bale, dia bolak-balik jalan ditempat. Resah nggak ketulungan.
“Mau kemana dia?”
__ADS_1
“Ketemu temannya, 'kah? Atau pacarnya, 'kah?”
“Argh... Bikin orang was-was saja!”
“Sial! Kenapa lah kakiku tidak sembuh hari ini."
Diusek-useknya kepalanya yang pusing, sembari terus bolak-balik jalan ditempat.
Beberapa saat kemudian, orang yang diresahkan nya tampak dari kejauhan sedang berjalan membawa tentengan.
"Habis dari mana dia? Apa habis belanja? Tapi benar, 'kah? Atau, jangan-jangan itu habis dibeliin pacarnya?"
Sebelum Nina sampai, Dean sudah memberondong pertanyaan.
“Habis dari mana kau? Kenapa tidak kasih tahuku? Harusnya kau...”
Memotong. "Kau ini siapa?”
Tingkahnya seperti seorang kekasih saja. Dean tersadar. Astaga... Jelas, terdengar aneh bagi Nina. Harusnya pun nada bicaranya jangan tinggi.
Memang pria itu menegur menaikkan nada.
Nina yang sudah mendekat, melintasi di depannya begitu saja.
“Aku hanya khawatir, kalau terjadi apa-apa dengan kau, bagaimana?” Dean menuruni nada, memberi alibi, mengikuti di belakang.
Setiba di bale, Nina meletakkan satu kantong kresek kecil. Sedangkan satu kresek besar yang berisi kebutuhannya tetap dipegangnya.
“Itu, untuk kau. Kau buka saja di peternakan."
Mengerutkan dahi. "Untukku? Maksudnya?"
"Kalau kau ingin tahu, buka saja di sana."
Masih bingung. "Ini, untukku?"
"Ya. Sekarang, pergilah. Bukalah di sana."
Memang apa ini?
“Baiklah."
Terpaksa Dean jadi urung ingin menyelidiki. Karena rasa penasarannya teralihkan ke hal lain.
Sepanjang jalan, direm*s-rem*snya kantong kresek itu. Kalau dilihat dari hasil sentuhannya sepertinya kain. Tapi yang satu lagi susah ditebak nya, karena berbentuk kotak kecil. Entah apa isinya.
Sesampainya di kandang, lekas dia membongkarnya. Alangkah terkejutnya dia, rupanya isinya 3 celana pendek pria, dan satu pack celana dal*m pria. Di gerai-gerainya salah satu celana pendek itu. Lalu diintipnya ukuran yang tertera di dalam.
Bagaimana Nina bisa tahu ukurannya? Apa sehabis membuka celananya, atau saat mencuci, tanpa sengaja Nina melihat ukurannya? Celana ini sangat pas sekali. Tunggu! Kenapa Nina memberikan semua ini untuknya?
Sesaat senyuman senang mengembang di raut wajah rupawan.
__ADS_1
"Berarti rencanaku berhasil. Aku menang, Nina menyerah. Lewat ini juga, berarti Nina murni belanja sendiri."