
Cakrawala tampak berseri-seri. Burung berterbangan saling bertautan membelah angkasa. Pulau Elvaros hari ini tampak cerah. Dari pagi hingga datangnya terik Mentari, dan kini sore, kondisi cuaca tampak semestinya.
Keluar dari peternakan, Nina berjalan cepat-cepat. Dia telah diuber-uber waktu mengerjai sulamannya. Gara-gara Dean, waktunya terbuang. Memang salahnya masih saja memikirkan pria brengsek itu. Melewati jemuran, dia berhenti. Dilihatnya bulu-bulu dombanya telah mengering. Bergegas dia mengangkat, lalu masuk ke dalam rumah untuk melanjutkan sulamannya.
“La la la... La la la...”
Untuk menghilangkan stress lebih baik dia bernyanyi saja. Memikirkan pria satu itu bikin gula darahnya naik. Benar-benar susah diusirnya. Sepertinya dia harus pakai cara sangat ekstrem. Lihat saja nanti....
Cahaya redup memasuki kisi-kisi jendela. Tak terasa sudah mau malam. Sehabis menatap luar kaca, Nina beranjak untuk menyalakan semua lampu.
Klik! Klik! Klik!
Makan malam hari ini praktis. Dia hanya membakar daging ham saja. Karena roti yang dibuatnya kemarin masih tersedia. Dia melahapnya sambil matanya menyapu ruangan.
Sejatinya wanita itu wanita kesepian. Kedua orang tuanya meninggal saat dia berusia 15 tahun. Dengan seusia itu, dia mencari uang untuk menghidupi dirinya sendiri. Meski kedua orang tuanya meninggalkan peternakan, tapi bayangkan saja! Untuk sebelia itu tentulah bukan hal mudah. Makanya jangan heran dia bisa mengerjai pekerjaan kasar. Semua itu terbentuk akibat dari hasil kesendiriannya.
"Dean ada menyalakan lampu, nggak ya?"
Lagi asik menyantap hidangan, tiba-tiba di otak Nina terlintas bagaimana kondisi peternakan. Lekas dia meletakkan makanannya, bergegas ke sana.
Sebelum tiba, dilihatnya peternakannya gelap gulita.
"Sudah kayak tuan besar saja Dean ini, sampai dia harus ke sini. Menyebalkan!"
Klik! Klik! Klik!
Semua lampu dinyalakannya. Saat ingin mendamprat, kedua bola matanya membesar yang ingin ditemuinya tidak ada.
"Kemana dia?” Nina mengindai sekeliling.
“Hei, Rocky! Kemana teman barumu?”
Ternyata nama kuda itu Rocky. Tumben-tumben kuda itu nggak beringas. Biasanya lihat tampang majikannya langsung jingkrak-jingkrak nggak karuan. Biar begitu, kuda itu memalingkan kepalanya, malas menjawab.
“Dasar! Kamu sama seperti tuanmu. Ah, tidak, tidak! Juga, sama seperti teman barumu itu. Ya, ya, ya, kalian semua sama 11-12!”
Wanita itu sering mengatai kuda itu seperti pemilik aslinya. Pria tidak punya otak, dan dia merasa juga sama seperti Dean nggak ada otaknya.
Nina segera mencari di luar peternakan. Diputar-putarnya gedung.
“Si Pincang ini selalu saja buatku susah!" Tiba-tiba berhenti melangkah. "Eh, tunggu! Oo... Ini dia cara sangat ekstremnya... "
Atas ini, dia jadi dapat ide. Senyum jahat mengembang di raut wajah jelitanya.
“He... Rasakan kau kali ini!”
Sementara itu di lokasi lain. Dean di tengah hutan, lagi asik membakar santapan liar hasil tangkapannya. Seekor rusa diguling-gulingnya merata di atas perapian. Dia bersusah payah menangkapnya. Belum lagi, harus membuat kayu runcing untuk menancap badan rusa, dan segala kebutuhan perapian. Maklum, atas apa semua yang dikerjainya terkendala kakinya.
Kondisi hutan di sini nggak semenyeramkan di pulau Tartan, dan hutan-hutan lain dia ditugaskan. Mungkin karena di sini pulau kecil hutannya tidak selebat pada umumnya. Kendati begitu, pastinya, ada binatang buas yang berkeliaran dimana-mana. Tak bisa dipungkiri itu! Dia harus tetap waspada.
Ini adalah makan malam yang besar baginya karena seorang diri. Tentu nggak bakal habis, paling sisanya dibiarkannya begitu saja.
Daging rusa sudah matang. Dia harus lekas memakannya, lalu pergi dari sini.
Suara lolongan serigala dan cuitan burung hantu mewarnai perjalanannya. Dia terus melangkah setapak demi setapak di keremangan malam. Cahaya terang mulai tampak di kejauhan. Menandakan dia akan segera keluar dari hutan memasuki pemukiman penduduk.
Sebenarnya kakinya yang terluka sudah agak mendingan. Paling tinggal hitungan hari lagi dia sudah bisa berjalan normal. Nina memang pintar mengobati seluruh tubuhnya. Sungguh sangat beruntungnya dia.
Akhirnya dia tiba di jalan pemukiman. Rupanya sudah jalanan di sini jelek, lampu penerangan jalan pun ala kadarnya. Sinar lampu yang keluar mati-redup, tinggal tunggu matinya saja. Ya, syukurin sajalah... Setidaknya dia dapat bantuan cahaya.
Tiba di peternakan, seketika dia terkejut tidak dapat masuk ke dalam. Lekas dia berjalan ke belakang untuk membuka pintu sana. Hasilnya pun sama, semua terkunci. Apa Nina yang menguncinya? Segera dia menuju rumah Nina.
“Nina... Nina... Nina...” Dean menggedor-gedor pintu belakang.
__ADS_1
“Apa?!” Nina membalas dari jendela dapur.
Lekas menghampiri. "Kenapa peternakan kau kunci?”
“Ya, suka-suka akulah. Peternakan-peternakanku.”
“Lantas... Aku tidur di mana?”
“Apa urusanku?"
“Ayolah, Nina... Jangan beginilah padaku."
“Apa?”
“Kau ini wanita cantik jelita, tidak sombong, dan baik hati. Ayolah, berikanlah kunci itu padaku.”
Mencibir. "Cih! Jangan menggombal. Tak mempan padaku!"
“Aku yakin, dilubuk hati kau terdalam kau pasti tak tega padaku, bukan? Aku ini belum sembuh total, Nina.”
"Memang aku dokter? Suster? Harus memikirkan kesehatan kau terus-menerus? Makanya, kau kembali ke markas sana."
“Setega inikah kau padaku?”
“Bukannya dari kemarin aku sudah tega? Pertanyaan apa ini, aneh!"
“Hati kecilku mengatakan kau wanita baik. Jika tidak, kau tidak akan menyelamatkanku, bukan?”
“Sudah kukatakan, itu saat kau belum memutuskan tinggal di sini, paham?! Apa perlu kuulang lagi?"
“Baiklah, baiklah, besok aku akan pergi. Sekarang, berikanlah kunci itu."
Mendengus. "Humph! Kau pikir aku ini bodoh? Setelah kau mendapatkan kunci itu, kau akan menyimpannya agar aku nggak bisa mengunci peternakanku lagi, 'kan?”
Melengos pergi. “Kau tidak usah bersandiwara."
“Nina... Nina..." Dean mengetuk-ngetuk kaca.
Yang dipanggilnya tak peduli.
Pria itu mendesah, lalu berjalan ke bale bambu. Terpaksa dia tidur di sini. Sebenarnya nggak masalah, toh hal begini juga dia sudah terbiasa. Dasar, Dean! Minta diperhatiin Nina terus...
“La la la... La la la...” Terdengar suara orang bersenandung.
Dean merebahkan tubuhnya menatap langit. Ah, suara merdu Nina bikin orang jadi melamun.
Sehabis bernyanyi, rupanya perlahan wanita itu menutup mata. Mungkin akibat kecapean. Sulamannya pun tergeletak begitu saja di tangannya.
“Do re mi... Do re mi...”
Nina yang tertidur nyenyak langsung tersadar oleh suara berisik di luar. Lekas dia ke jendela berniat mencaci si pemilik suara sumbang tersebut.
“HEI!!!”
Menoleh. “Apa?”
“Berhenti bernyanyi, suara kau kayak kaleng rombeng!”
“Apa urusan kau? Suara-suaraku, apa masalah kau?” Lanjut menyanyi lagi. "Do re mi... Do re mi...”
“Kau ini benar-benar ya. Tentu saja urusanku! Aku tak ingin lingkungan rumahku tercemar oleh suara jelek kau!”
“Sudahlah, Nina... Kau berisik sekali. Kalau kau tidak suka, tutup saja kedua kuping kau!”
__ADS_1
“Kau...!” Menggemeretakan giginya, lekas menutup hordeng kasar. "Dasar pria sialan!"
Malam semakin larut, semilir angin berhembus diantara kepekatan malam. Pria itu masih terjaga. Sekarang lagi melamun menghadap pagar. Karena otaknya masih diselimuti pikiran. Biasa, tentang wanita itu. Tentang bagaimana caranya menaklukan si Wanita Kepala Batu.
Di belakangnya ada sosok yang tidak diketahuinya. Lagi mengintip di balik hordeng mengamatinya lekat. Sudah sekitaran 20 menit di situ.
Satu hari ini Dean tidak dikasihnya makan. Ah, ini membuatnya jadi dilema. Sejahat-jahatnya, dia pun masih punya hati nurani.
Lelah menghadap sana terus, Dean membalikkan badan. Mata mereka langsung bersirobok. Seketika mereka berdua terkejut.
“Sedang apa kau melihatinku?” tegur Dean.
“S-iapa, s-iapa yang, eh...” Akibat ketangkap basah, Nina jadi gelagapan merespon. Kedua pipinya pun menjambu.
“Sudah berapa lama kau di situ?”
“Ya! Aku memang sedang mengamati kau. Karena aku lagi berpikir bagaimana caranya lagi mengusir kau. Bisa-bisanya kau tidur nyaman di bale bambuku." Nina sudah bisa mengatasi, termasuk memberi alibi.
“Berarti sudah lama kau berdiri di situ?"
“Ya, karena aku lagi berpikir."
"Mikirin aku ya?" goda Dean.
"Kau dengar tadi alasanku."
“Ya, aku dengar. Tapi kenapa juga tadi kau harus gugup?"
“Tentu saja, aku tadi begitu. Karena kau bergerak tiba-tiba mengagetkanku. Membuat otakku per-sekian detik jadi kosong. Kebingungan merespon."
"Tapi, aku tidak begitu. Aku tetap fokus bicara dengan kau."
"Berarti kau bukan manusia. Jika mengalami itu, harusnya begitu."
“Katakan saja, itu akibat kau diam-diam mengintipku. Kau kaget karena malu ketangkap basah olehku, bukan? Jadi gelagapan?"
Melotot. "Apa kau bilang?" Langsung kembali Kikuk. "S-iapa, s-iapa..."
Memotong. "Lihatlah... Kau grogi lagi."
Segera kembali normal. "Nggak!"
"Kenapa kau tidak berpikir di kamar saja. Kenapa harus di sini?"
"Ya, suka-suka aku lah, rumah-rumahku."
“Bilang saja kau ke sini karena ingin lihat keadaanku."
"Sudah kukatakan, memang aku dokter? Suster?"
“Kau tak tega denganku, bukan?"
"Simpan saja pikiran kau itu, untuk diri kau sendiri."
"Kau kalau gengsi terlihat imut, Nina."
“Kau tuli ya dari tadi aku bilang apa? Ugh! Capek aku bicara dengan kau!" Nina segera menutup hordeng kasar, kesal dari tadi Dean berusaha mendombrak pertahanannya.
Di luar, Dean tersenyum geli. Jelas, tadi juga dilihatnya pipi Nina merona.
"Wanita ini..."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=@.@\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1
Jangan lupa kasih rating bintang 5, like, dan komen. Tinggalkan jejakmu...