
Tubuh mereka berputar-putar hingga Nina jadi terdorong ke kandang sebelah. Terjadi getaran menggema. Suara kekagetan ayam-ayam di dalam. Yang tentunya, tak dihiraukan mereka. Mereka tetap terus berciuman diantara keremangan.
Dean menaikan tubuh Nina ke atas pilar. Menyibak rok yang menghalangi tujuannya, membuka kedua paha, lekas memposisikan tubuhnya di sana.
Nina gak kalah sibuk menarik baju Dean ke atas. Dilemparnya serampangan. Pemandangan tampak menggairahkan semakin memacu gairahnya. Susunan otot-otot kekar nan padat sungguh menarik perhatiannya. Ditekannya tiap-tiap gelombang itu. Dijelajahinya dari atas hingga ke bawah. Pastinya, kali ini sensasinya berbeda. Dulu pemilik dada menawan ini disentuhnya dalam kondisi tak berdaya. Saat ini jelas ada reaksi.
Dean jadi menggeliat dapat sentuhan dari pujaannya. Lekas dia membalas dengan meraba-raba belakang mencari pengait di sana. Gak memakan waktu lama, ditariknya resleting itu, dibukanya pelan-pelan hingga tandas. Kemudian diturunkannya gaun itu ke atas dada.
Nina mendesah ketika pria sexy di depannya meliar. Menciumi belakang kupingnya hingga berangsur-angsur turun ke bawah.
Tubuh Nina yang harum, leher Nina yang jenjang putih, halus, dan mulus, tentu membuat Dean semakin menggila. Apa lagi didengarnya ******* kenikmatan dari lawan mainnya.
Saat ini mereka memang sangat bergelora. Bagaimana tidak? Nina sudah lama tubuhnya nggak disentuh pria. Sedangkan Dean, ini adalah tubuh yang sangat diidam-idamkannya. Karena dia suka mengkhayal ingin mencumbui. Selain itu, mereka melakukan dalam kondisi sadar.
Erangan kenikmatan terus mengudara di bibir merah delima. Membuat Dean jadi tak tahan lagi ingin segera menyatukan tubuh mereka. Bibirnya kini sudah mau mendekati area dada sensitif Nina. Tinggal menurunkan lagi gaun itu, maka akan terpampang hal kemarin yang tidak jadi dilihatnya. Lalu selanjutnya mereka menuju puncak.
Namun sebaiknya dia memuaskan diri dulu bagian atas, sebelum mencumbui pemandangan yang menantinya di depan. Sepertinya ulah Dean malah membuat Nina yang jadi nggak sabaran. Dia segera membuka pengait resleting celana di depannya.
Saat itulah kenikmatan yang sedang berjalan ditengah seketika harus pupus. Sayang, hal selanjutnya yang terjadi lampu menyala terang benderang. Sontak Nina tersadar hal bodoh yang sudah dilakukannya. Lekas dia mendorong kasar tubuh Dean, nggak luput memberi tamparan keras.
PLAK!
Yang ditampar terkejut memegang pipinya.
“Kenapa?”
“Apa yang kamu lakukan?!”
Bingung. "Maksudmu?”
Nina lekas membenarkan gaunnya lalu turun dari pilar. Masih dengan raut wajah emosi, dia kembali menghardik.
“Kenapa kamu menggodaku? Apa kamu sedang memanfaatkanku setelah tahu semua tentangku? Kamu sudah tahu diriku. Pasti kamu jadi berpikir aku wanita kesepian, bukan?”
Melotot. “Aku tidak berpikir begitu.”
“Alah, bilang saja!”
“Tidak!”
“Dasar kau!”
Nina menaikkan satu kakinya, dan menghantam keras area terlarang Dean.
BUG!
“Aw!” Dean merintih sembari memegangi area saktinya.
Nina melengos pergi. Dean terus menunduk sambil memandangi orang yang tidak bertanggung jawab. Area sensitifnya yang tadinya menegang, malah kini dibuat memar oleh orang yang membuatnya begitu.
Nina terus berjalan bersama mulut bersungut-sungut.
"Ini gila! Gilaaa....! Hampir saja aku kecolongan. Oh, Tuhan... Ada apa denganku? Kenapa bisa begini? Apakah sebegitu menariknya Dean hingga membuatku jadi gila?! Lupa diri? Atau, atau, aku, aku ada perasaan dengan si Brengsek itu?" Mengucek-ucek rambut. "Argh...!"
__ADS_1
Sementara itu, di rumah bercat kelabu, di kamar berukuran 3x3 meter. Yang kamarnya menghadap depan alias ke arah laut. Yang diselimuti cahaya kurang terang, yang hanya didapat dari lampu nakas. Gadis seumuran Nina tergolek di atas ranjang.
Dia menatap langit-langit ruangan sambil mendekap boneka teddy bear kesayangannya. Dia nggak habis pikir untuk apa yang dilihatnya. Untuk apa ayahnya menemui, Steve? Yah... Memang ayahnya dan Steve saling kenal, tentu karena ayahnya penguasa sini. Steve jadi ada menaruh hormat ke ayahnya. Pasalnya, mereka tak seakrab pada umumnya. Keakraban mereka hanya sekedar basa-basi.
Baiklah, mungkin Steve mengundang ayahnya sebagai tanda atas kehadirannya. Tentu sebagai tamu seyogyanya harus silahturahmi dulu ke penguasa wilayah. Tidak, tidak, sepertinya bukan begitu. Karena tadi ayahnya keluar bersama tetangganya itu. Tetangganya yang sama sepertinya suka mengintip Nina. Ini, sangat janggal!
Dan kenapa tetangganya itu bisa seakrab itu dengan Steve? Menurut orang-orang yang pada ngegosip, hanya tetangganya itu yang menyambut kedatangan Steve. Seperti sudah tahu Steve akan datang.
Apakah tetangganya itu mata-mata Steve? Lalu kematian Steve apa sudah direncanakan? Lantas, ayahnya? Apakah terlibat bersama mereka? Karena logikanya, harusnya ayahnya mencabut maklumat itu, ini malah pikir-pikir dulu. Sepertinya iya, sepertinya mereka tadi sehabis melakukan pertemuan.
Hembusan nafas ketegangan dan kecemasan melingkupi kamar minimalis bernuansa merah muda. Clara takut kalau dugaannya benar. Pastinya, dia sangat kecewa sekali. Ayah yang sangat dibanggakannya. Sebagai figur orang tua yang berwibawa, dan seorang tokoh pulau yang disegani oleh penduduk sini. Rupanya perbuat hal tercela. Dan tentunya juga, dia malu dengan Nina.
Ini memang masih azas praduga. Harus diselidikinya dulu. Dia mempererat pelukannya mencoba menenggelamkan matanya ke alam mimpi. Tenang... Semua masih belum pasti, esok dia akan bergerak mencari tahu. Sekarang tidur saja dulu.
Kembali ke Nina.
Nina bolak-balik menghadap ke kanan dan ke kiri di atas ranjang. Sungguh dia gak tenang sekali atas tadi yang terjadi. Bagaimana bisa dia pun menikmati? Dia ini bukan wanita sembarangan yang mudah tergoda. Apa jangan-jangan tanpa disadarinya dia ada rasa ke Dean? Karena hal itu nggak mungkin terjadi jika dia tidak ada perasaan.
Sentuhan Dean, ciuman Dean, cumbu mesra Dean, ini pun nakal terus bermain-main di otaknya. Haish... Dia stress sekali! Bagaimana besok dia ketemu? Bagaimana dia harus bersikap ke Dean? Oh, Tuhan....
Dean di peternakan, turut melamun. Sedikit lagi, ya sedikit lagi, Nina dalam genggamannya. Instingnya tepat, semua sudah jelas. Dapat dimaklumi tadi Nina begitu, mungkin karena shock akibat nggak menyadari ada hati padanya. Karena waktu itu Nina berkata dalam keadaan tidak sadar. Jadi hanya alam bawah sadarnya yang tahu.
Sehabis ini Nina harus cepat jatuh ke pelukannya. Karena nggak bisa menjamin apa yang diperbuat mereka tadi, bisa membuat Nina tidak goyah ke Steve.
Haa....
Dean mendesah pikirannya kini melambung ke hal lain. Bagaimana tadi Nina aktif dalam romansa mereka. Andai lampu tidak menyala, pasti sudah terjadi hal yang diinginkan mereka. Tubuh Nina sangat harum sekali. Akhirnya dia dapat merasakan aroma bunga yang selama ini hanya ada diangan-angannya. Kulit Nina pun halus, mulus, dan lembut. Nina benar-benar merawat diri. Andai pun tadi lampu tidak menyala. Dia pasti dapat merasakan keelokan seluruh tubuh Nina.
Dia memiringkan tubuhnya memperhatikan area istirahat Rocky. Malam ini Rocky tidak pulang, rupanya ketidakadaan Rocky membuahkan momen manis pada dirinya. Biar begitu dia sedih, akankah Rocky kembali bersamanya? Rocky sudah ketemu majikannya. Pastinya, Rocky akan memilih Steve dari padanya.
“Rocky, kamu pasti sedang bahagia ya."
**********
Suara ayam berkokok yang pastinya terdengar nyaring menggema seantero peternakan. Apa lagi posisinya di sebelah. Membangunkan Dean dari tidurnya. Dia membuka mata, memoletkan tubuhnya sejenak sebelum beranjak bangkit. Di luar kandang, dia jalan ke tempat peralatan kebersihan buat menunaikan tugasnya. Sekitar 30 menit semua usai, dia kembali tidur.
I jam berikutnya, Matahari sudah menyingsing. Pria itu sudah berada di pekarangan rumah pujaannya.
Sementara itu di kamar depan rumah itu Cicitan burung dan bias sinar Matahari dari jendela membangunkan Nina dari tidurnya. Dia bangkit dari kasur, menguap sebentar sebelum mematikan lampu dan membuka jendela. Lalu pada saat dia menarik hordeng, disambut oleh orang yang semalam membuatnya hampir gila.
“Pagi, Nina."
Yang disapa buang muka, lekas buka jendela, dan berjalan ke jendela satu lagi. Rupanya Dean mengikuti.
“Kenapa kamu mengikutiku? Ayo, lekas kerja!” omel Nina.
“Habis, kamu tidak membalas sapaanku.”
“Aku...”
Ucapan Nina menggantung di udara. Karena dia melihat di belakang tubuh Dean, Steve menunggangi Rocky menuju rumahnya. Dean pun jadi turut melihat apa yang dilihat Nina.
“Pagi, Sayang,” sapa Steve setiba di depan pagar.
__ADS_1
Steve turun. Selagi Steve membuka pintu pagar, Dean bicara ke Nina.
“Nanti aku lanjutkan pekerjaanku.”
Nina memperhatikan orang yang bicara begitu berjalan pergi. Lalu dia balik lagi ke Steve yang lagi masuk membawa Rocky.
“Untuk apa kamu kemari?”
“Kemarin kan sudah kubilang, pagi ke sini.” Steve mengingatkan.
“Sudah kukatakan juga, aku nggak mau kamu ke sini." Nina balik mengingatkan.
“Ayolah, Sayang... Sudahlah jangan marah terus. Ayolah, buka pintu rumahmu. Masa, kamu biarkan aku berdiri di sini."
“Aku tidak butuh kehadiranmu.”
“Aku belum sarapan, aku rindu makananmu. Ah! Iya.” Mengambil plastik di tubuh Rocky. “Ini peralatan kebunmu, bukan? Kemarin ada di tubuh Rocky.”
"Lantas, karena itu kamu jadi dapat alasan lain untuk bertemu denganku? Tidak usah dikembalikan. Aku bisa beli lagi."
“Ayolah, bukalah pintunya Sayang. Sudah kukatakan, aku ke sini ingin sarapan. Untuk apa aku mencari alasan lain. Kamu pun tahu, aku suka semua masakanmu."
“Aku tidak mau.”
Ah, wanita keras kepala ini...
“Tahukah kamu, apa yang kurasakan jauh darimu. Setiap detik rasanya aku sulit bernafas, setiap menit rasanya ingin kupercepat, setiap waktu rasanya aku ingin cepat ketemu esok. Menanti keberhasilanku itu seperti membunuhku. Aku harus menahan semua rasaku padamu. Sedangkan nyatanya aku menderita karena itu.”
Nina hening karena hatinya jadi nelangsa. Memang, pasti berat juga untuk Steve. Pantaskah dia berkeras? Meski dia marah apa yang telah dilakukan Steve. Tapi bukankah dia patut memberi apresiasi juga atas perjuangan dan pengorbanan Steve?
“Atau anggap saja aku tamu, hmm?” rayu Steve lagi.
Nina keluar kamar, berjalan ke pintu rumah, membukanya. Steve tersenyum ungkapan hatinya membuat Nina jadi luluh. Lekas dia bergegas masuk.
Di peternakan, Dean terduduk di kasur. Dia merasa tadi lebih baik pergi. Sebab nggak ingin mendengar bujuk rayu musuhnya. Itu bisa membuatnya naik darah. Apa lagi bila dilihatnya Nina menanggapi serius. Menyingkir lebih baik, meski dia ada rasa penasaran. Mulut manis apa yang dikeluarkan Steve, juga reaksi Nina.
Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah kaki kuda memasuki peternakan. Dean memalingkan kepalanya. Rupanya saingannya datang menemuinya. Cukup jantan juga!
“Apa kabar, Bung?” sapa Steve, tersenyum manis, tapi dibalut aura ketidaksukaan.
“Tidak perlu basa-basi, Bung!" Dean menyuruh lawan bicaranya ke inti.
Kedua bola mata Steve mengindai sekitaran untuk bernostalgia sebentar tempat itu, sebelum dia fokus bicara ke orang itu.
“Dean Wilsh. Anak tunggal, kedua orang tua telah tiada mati karena kecelakaan. Tinggal di apartemen di pinggiran kota. Seorang tentara Angkatan Darat. Berpangkat Sersan yang sedang ditugaskan di pulau Tartan.”
Dean terkesiap, Steve tahu data dirinya. Namun rupanya itu masih belum cukup.
“Apa kesatuan Anda tahu, Anda masih hidup?”
Dean seketika membeku.
“Saya, atau Anda yang memberi tahu mereka?”
__ADS_1