
Suara gesekan biola milik seorang gadis cantik itu terdengar jelas di sunyinya malam. Dengan lincahnya ia menggesek bow pada senar biola itu. Wajahnya sangat tenang. Sesekali ia memejamkan matanya untuk meresapi setiap nada yang ia mainkan.
Seorang pemuda, kakak dari gadis itu, tersenyum kecil mendengar suara biola dari kamar sang gadis yang berada tepat di sebelah kamarnya. Ia tahu betul bahwa adiknya itu sangat mencintai biola. Ia pun tak kalah hebat, ia mahir bermain piano dan gitar. Jiwa musik dari kedua orangtua nya ternyata menurun ke kedua anaknya.
Pemuda itu, Musical pradana, mahasiswa baru di salah satu universitas terkenal di kotanya. Putra dari Martin Admajaya dan Eliyana Wiguna. Dan kakak dari seorang gadis cantik yang cuek, Melodya Anatasya.
❣︎❣︎❣︎❣︎
"Melodya! Kok loe baru berangkat sih? Gue dari tadi nungguin loe, dodol!"
Suara teriakan salah satu sahabat melodya yang terdengar sangat nyaring ditelinganya membuat melodya meringis kecil.
"Apan sih loe! Sakit telinga gue, sasya!" Ucap sahabat melodya yang lainnya tak kalah nyaring.
__ADS_1
"Berisik! awas gue mau lewat!" Melodya yang memang cuek ditambah dengan moodnya yang sedang buruk membuat kedua sahabat nya ketakutan.
tanpa basa basi, Ayna yang berdiri disamping meja sasya bergeser posisi supaya melodya bisa lewat. Melodya mendudukan tubuhnya di kursi sebelah Sasya. Yap! Melodya duduk satu meja dengan Sasya. Sedangkan Ayna satu meja dengan Mysa. Seperti biasa, Melodya memasang muka datar, sedatar datarnya muka datar. Jika Sasya bertanya pada Melodya, apa alasan ia memasang muka seperti itu, maka dengan santai nya Ayna akan menjawab 'Melodya itu kekurangan ekspresi, mendingan dia kita ikutin ekskul teater aja'.
Bel masuk berbunyi nyaring setelah kedatangan Melodya 2 menit yang lalu. Siswa siswi segera masuk ke kelas dan duduk di tempat masing-masing. Jam pertama hari ini akan diisi oleh pelajaran fisika. Bu Erin yang akan mengajar pagi ini belum juga menampakan sepatunya yang super mengkilap.
"Woy, Mel! Absen jangan lupa. Gue mau ngabsen depan nih."
Fathan, selaku partner sekretaris Melodya selama tiga bulan ini, menggebrak meja Melodya. Melodya mendengus kesal, melirik Fathan sebentar, lalu bangkit dari kursi nya menuju ke meja guru. Ia mengambil buka absen, sedangkan Fathan sekretaris 2 bertugas untuk mengisi papan absen yang ada di depan kelas mereka tepatnya di samping pintu kelas.
"Plis deh, gue benci pelajaran ini. Lempar Hayati ke rawa-rawa bang." Rengek Sasya dengan gaya alaynya.
"Plis deh,
__ADS_1
gue benci denger loe ngoceh terus. Panas telinga gue, Sasya. Loe gak capek apa dari tadi ngoceh mulu? Capek telinga gue dengarnya, Sasya. Ya ampun." Melodya hanya melirik Sasya sekilas sambil memutar bola matanya.
"Ya ampun, Melodya! loe ngomong berapa kata barusan? omg!!! loe ngomong banyak kata!" Ucap Sasya dengan suara toanya. Seisi kelas sempat menengok sebentar ke arahnya. Ia tak sadar kalau Bu Erin mengamatinya dari tadi.
"Sasya Farasya! jika kamu masih ingin berbicara, silahkan berbicara diluar! Pintu masih terbuka lebar untuk kamu!"
Bu Erin berdiri menatap tajam ke arah Sasya, sedangkan yang disebut namanya hanya menampilkan wajah watadosnya sambil meminta maaf.
✰✰✰
halo semua,,ini karya ketiga aku, semoga kalian suka yah,
jangan lupa tinggalin jejak,, like,koment,and rate⭐
__ADS_1
salam sayang dari
MAHIRA😘