
Sore ini, Melodya duduk di bangku panjang di balkon kamarnya. Kedua tangannya sibuk menyetel senar biolanya. Biola milik Martin yang sudah lama tidak dipakai. Martin dulu adalah pemain biola yang hebat. Ia sudah berkali-kali mendapat penghargaan atas kemahirannya itu. Melodya berniat untuk sesekali memakai biola itu juga. Toh sekarang, Martin jarang, bahkan tidak pernah mamainkannya. Ia selalu sibuk dengan urusan kantor.
Tiba-tiba, sepasang tangan merangkul pundak Melodya dari belakang. Melodya mendongakkan kepalanya, dan melihat Musical tengah tersenyum ke arahnya. Melodya menghentikan aktivitas nya. Kedua tangannya beralih ke tangan kakaknya. Ia menurunkannya dan menuntun kakaknya untuk duduk di sebelahnya.
"Kamu lagi ngapain?" Tanya Musical lembut.
"Nyetel biola papa, kak. Sayang kalau ngga dipake. papa kan udah ngga pernah make sekarang."
Musical menarik kepala Melodya dan meletakannya di pundaknya. "Mau kakak bantu?"
"Ngga usah. Ody bisa sendiri kok. Lagian kan bakat kakak di gitar sama piano, kakak setel aja gitar sama piano kakak. Ody ngga mau ya kalau sampe senar biola Ody harus putus lagi gara gara kakak yang nyetel."
Musical terkekeh geli mendengar jawaban adiknya. Ia jadi ingat kejadian tahun lalu. Waktu itu Melodya terlihat kesulitan saat menyetel biolanya. Musical menghampiri adiknya dan berniat membantunya. Saat Musical sibuk menyetel biola adiknya, tiba-tiba dua dari empat tali senar biola itu putus bersamaan. Melodya merasa kesal dengan ulah kakaknya. Hingga waktu itu Melodya mendiamkan Musical selama dua hari. Melodya baru berhenti mendiamkan Musical saat Musical sudah mengganti kedua senar biolanya yang putus.
"Iya deh iya. Lupain aja lah kejadian itu, kan kakak udah ganti senarnya."
Melodya mengerucutkan bibirnya. Bagaimana bisa ia melupakan kejadian dimana salah satu benda berharganya dirusak oleh orang lain, biarpun itu kakaknya sendiri. Bukan dirusak sebenarnya. Hanya saja Melodya tidak punya kata lain untuk menggambarkannya.
Melodya menegakkan kepalanya yang ada di pundak Musical. Ia mengambil biola milik Papanya. Mungkin itu akan menjadi biola miliknya. Biola keduanya. Ia melanjutkan menyetel biola itu.
"Terus kakak dikacangin nih?" Musical mengambil biola yang ada di tangan Melodya. Kemudian meletakannya di meja. Melodya sempat mendengus kesal sebelum akhirnya ia mendengar perkataan Musical.
__ADS_1
"Kali ini, kakak minta quality time sama adik kesayangan kakak."
Melodya yang mengerti arah pembicaraan Musical, kembali meletakan kepalanya di pundak kakaknya. Melodya dan Musical memang selalu menyempatkan waktu untuk quality time mereka. Entah itu hang out, makan bersama di luar, atau hanya duduk berdua sambil bercerita banyak hal tentang keseharian masing-masing seperti saat ini.
"Ody kangen sama kak Ical. Udah lama kita ngga duduk berdua kayak gini. Quality time kita yang terakhir, Minggu lalu, kita nonton. Minggu yang lalu lagi, kita makan bareng di cafe jepang yang baru buka itu." Melodya mengingat kembali waktunya saat bersama dengan kakaknya. Jujur, Melodya lebih dekat dengan kakanya dibanding dengan kedua orang tuanya. Bukan karena problem, hanya saja Melodya merasa lebih nyaman saat bercerita segala hal kepada Musical.
"Kakak juga kangen sama kamu, my little princess." Tangan kanan Musical terulur mengusap rambut Melodya.
"Gimana hari-hari kamu?"
"Semua baik. Ada Sasya yang suka heboh, ada Ayna yang suka baper, ada Arya sama Dafina yang suka ribut, ada Dika yang suka narikin uang kas, Ada Fathan yang suka ingetin Ody buat ngabsen anak anak kelas, ada Nathan si cowok aneh yang nyebelin, ada---" Melodya kaget mendengar perkataannya sendiri. Dia menyebut siapa tadi? Nathan? Arrgghh apa yang Melodya pikirkan?!
"Nathan? Nyebelin? Nathan siapa? Nyebelin kenapa?" Tanya Musical berturut turut.
Musical tersenyum tipis melihat perubahan sikap adiknya. "Cerita sama kakak."
Oh my god! Melodya selalu tidak pernah bisa berbohong pada kakaknya. Musical seakan selalu bisa membaca pikiran Melodya.
"Nathan itu...Ody ngga kenal, kak. Ngga tau juga gimana ceritanya, Nathan tiba-tiba dateng, terus ngomongin hal secara singkat yang Ody ngga ngerti sama sekali."
Musical mengerti, sekarang adiknya belum ingin bercerita apapun tentang cowok bernama Nathan itu.
__ADS_1
Melodya teringat dengan perkataan Nathan kemarin. 'Gue cuma mau lo ikut kompetisi itu. sampe ketemu di gedung kota besok lusa.' Ia merasa, Nathan tidak main main dengan ucapannya.
"Kak? Pendaftaran kompetisi biola besok lusa masih dibuka ngga?"
Yang ditanya mengerutkan keningnya. "Setau kakak sih udah ditutup. Kan kompetisinya tinggal besok lusa. Kenapa?"
"Ody mau ikut kompetisi itu, kak."
Gadis itu menampilkan wajah memelasnya. Ia sebenarnya tidak ingin menyusahkan Musical. Ia tahu Musical akan berusaha memenuhi keinginannya. Selama ini pun Melodya cukup tau diri jika ingin meminta sesuatu pada kakanya.
"Yaudah, nanti kakak daftarin ke sepupunya temen kakak. Kakak udah kenal sama dia kok."
Nah, baru saja Melodya membantin, kakaknya langsung menenuhi keinginannya.
"Thank you very much, brother." Melodya menarik hidung Musical. Sudah menjadi suatu kebiasaan. Jika Musical lebih sering mencubit pipi Melodya yang bisa dibilang chubby itu, maka Melodya lebih sering menarik hidung Musical yang memang sudah mancung.
"Hidung kakak udah mancung ya." Musical membalas Melodya dengan mencubit pipinya.
Mereka akhirnya tertawa bersama. Melodya mengabaikan sebentar biolanya. Ia ingin menghabiskan sore ini bersama kakaknya. Berdua, menikmati senja di balkon kamar Melodya.
...****************...
__ADS_1
LIKE,KOMENT,AND RATE⭐