MELODYA

MELODYA
Episode 25


__ADS_3

Gadis itu menguap lebar sambil meregangkan tubuhnya yang masih terbalut selimut tebal di atas kasurnya. Ia meraba nakasnya, mencari keberadaan benda pipih kesayangannya. Setelah didapat, ia membukanya dan menemukan beberapa notifikasi.


Ada satu notifikasi WhatsApp yang membuat keningnya berkerut. Sebuah pesan singkat yang dikirim tadi malam oleh sang pengirim yang belum ia buka. Ia membuka room chat pengirim itu.


Nathan


Gue tunggu lo di cafe depan sekolah jam 7 besok pagi.


Sasya mengecek jam dinding yang menempel di tembok kamarnya. Sudah jam 06.30. Beberapa detik Sasya terdiam, di detik ke lima, ia tersadar. Ia segera masuk ke kamar mandi, melakukan istilah 'mandi bebek'. Tak sampai dua menit, ia keluar dari kamar mandi, merapikan baju dan rambutnya. Ia menyambar sling bag miliknya, memasukan ponsel dan beberapa lembar uang. Sasya tidak pernah memakai dompet karena ia memang tidak suka, ribet katanya.


Sasya turun terburu-buru, mengambil roti yang sudah dioles, selai coklat di atas meja makan. Ia segera berpamitan pada Bundanya dan berlari ke garasi mengambil motor scoopy nya. Ia keluar dari pagar rumahnya, mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Sasya cukup tau diri, se-terburu-burunya ia, ia tidak pernah mengendarai motor dengan kecepatan diatas rata rata.


Lima belas menit kemudian, ia sampai di cafe depan sekolah. Ia memarkirkan motornya terlebih dahulu lalu masuk kedalam cafe. Terlihat seorang cowok yang sudah ia kenali di pojok cafe yang fokus dengan ponselnya.


"Hei." Sapa Sasya.


Yang disapa mengangkat kepalanya, tersenyum tipis. Ia meletakan ponselnya di atas meja.


"Sori ya, gue telat. Gue baru bangun, chat lo juga baru gue baca tadi pagi." Jelas Sasya.


"Ngga papa." Jawab Nathan singkat. "Lo pesan dulu gih." Lanjutnya.


Sasya memangil waiters lalu mengatakan pesanannya. "Lo ada apa ngajak gue kesini?"


"Ada yang mau gue bicarain sama lo."


"Iya gue tau. Maksudnya tentang apa. Langsung ke intinya aja deh, gue pusing kalau harus basa basi dulu."


Nathan tersenyum miring, cewek dihadapannya persis sekali dengan sahabatnya, Satria. Bicara ceplas-ceplos tanpa ada rasa malu. Padahal ini pertama kalinya ia akan bicara panjang lebar dengan Sasya.


"Aduh, Nathan. Lo jangan kebanyakan senyum deh. Ntar repot kalo gue baper." Goda Sasya dengan kekehannya.

__ADS_1


"Gue ma---" Perkataan Nathan terpotong oleh seorang waiters yang mengantarkan pesanan Sasya. Waiters itu akhirnya pergi setelah Sasya mengucapkan terimakasih. "Lanjutin Nat."


"Gue mau bicarain tentang Melodya."


Sasya tersenyum kecil, "Udah gue duga,"


"Apa yang mau lo bahas?" lanjutnya.


"Gue mau tanya tentang...masa lalu Melodya." Ucap Nathan ragu. Sasya yang saat itu sedang menyeruput coklat panasnya sedikit terbatuk setelah mendengar perkataan Nathan.


"Lo bicara sama orang yang tepat, Nat. Gue tau sebagian besar masa lalu Melodya. Entah ini cuman firasat gue atau emang bener, gue ngerasa kalo pertanyaan lo bakal menjurus ke biola." Ucap Sasya santai.


"Ya. Firasat lo bener. Pertanyaan gue emang bakal menjurus kesana."


Sasya menggeser cangkir coklat panasnya, lalu melatakan kedua tangannya di atas meja. Matanya fokus menatap Nathan. "Atas dasar apa lo pengen tau tentang hal itu?"


Nathan menceritakan secara rinci semua pertemuannya dengan Melodya, termasuk pertemuan pertamanya, lima tahun yang lalu. Sasya yang memang telmi itu, terdiam sebentar, mencerna semua cerita Nathan. Nathan sendiri sibuk bersumpah kalau ia hanya akan bicara panjang lebar seperti ini hanya untuk Melodya. Ia merasa sedikit aneh dengan dirinya saat bercerita kepada orang lain.


Deg.


Pertanyaan Sasya yang amat sangat tepat sasaran membungkam Nathan. Pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang dilontarkan Kenzo saat latihan basket kemarin.


Diamnya Nathan sudah memberikan jawaban untuk pertanyaan Sasya. "Oke, gue bakal cerita tentang masa lalu Melodya. Gue ngerasa, gue ngga salah kalo gue ngelakuin ini. Penantian lo selama ini udah ngebuktiin kalo lo emang bener bener sayang sama Melodya. Sori ya kalo gue suka telmi, jadi lo harus sabar kalo ngomong sama gue." Sasya terkekeh di akhir kalimatnya.


"No problem. Gue bakal dengerin baik baik."


Sasya menyeruput kembali coklat panasnya, lalu mulai bercerita. "Gue sama Melodya udah sahabatan dari kecil. Entah sejak kapan persahabatan kita dimulai. Dulu gue sempet tetanggaan sama dia, terus gue pindah karena tempat kerja bokap gue pindah. Gue TK, SD, SMP, bahkan SMA bareng terus sama dia. Walaupun waktu itu nyaris gue pindah SMP karena kepindahan rumah gue itu.


Dulu, Melodya gadis yang ceria, periang. Dia selalu punya topik pembicaraan. Waktu kecil, gue anaknya kalem, pendiem, dan sulit bersosialisasi sama lingkungan. Tapi setelah kenal Melodya, gue seakan punya panutan. Sejak itu, gue punya keinginan buat jadi gadis kaya Melodya.


Melodya cinta banget sama alat musik gesek itu. Dia mulai belajar biola sejak kelas dua SD. Kelas dua SD sampe kelas enam SD, om Martin sama tante Eliyana daftarin Melodya ke tempat les biola. Terus waktu masuk SMP, dia mulai les privat biola di rumah. Dulu gue sering sengaja main ke rumah dia kalau dia ada jadwal les, gue bener bener jatuh cinta sama permainan biola Melodya.

__ADS_1


Pelatih privat Melodya namanya Bara. Kak Bara lebih tepatnya. Dia seumuran sama kak Musical..."


"Tunggu. Berarti waktu itu, pelatih privat Melodya masih jadi anak SMA?" Tanya Nathan di sela sela cerita Sasya.


"Iya. Kak Bara anak dari keluarga broken home. Dia ngga pernah betah berdiam diri di rumah, maka dari itu dia memanfaatkan kemahirannya buat buka les privat biola. Kak Bara jadi pelatih privat Melodya selama dua tahun, sampe akhirnya kejadian itu tiba.


Setelah ngelatih selama satu tahun, mencul perasaan lebih dari Kak Bara ke Melodya. Kak Musical juga sadar akan hal itu. Melodya yang masih polos, belum tau arti sebenernya dari cinta, dia jalanin les privatnya biasa aja, tanpa sadar sama perasaan kak Bara.


Sampe suatu hari, kak Bara dateng ke rumah Melodya karena emang ada jadwal les. Gue waktu itu udah niat buat main kesana, tapi gue ada acara keluarga mendadak. Waktu itu, om Martin sama tante Eliyana ada urusan diluar. Jadi dirumah cuma ada Melodya, kak Musical, sama kak Bara tentunya. Perasaan lebih kak Bara udah sampe puncak, dia ngga bisa nahan lagi. Kak Bara mulai modus sama Melodya. Kebetulan kak Musical ada di kamarnya dan Melodya sama kak Bara ada di lantai bawah.


Kak Bara hampir aja meluk Melodya entah karena apa kalo kak Musical ngga dateng. Kak Musical langsung ngasih bogeman ke kak Bara. Melodya yang ngeliat itu bingung harus ngapain. Terus kak Bara tiba tiba ngambil pisau yang entah darimana. Dia nusuk perut kak Musical pake pisau itu..."


Sasya menarik napas panjang. Dadanya terasa sesak. Ia seakan berada di posisi Melodya saat itu. "Melodya nangis histeris. Dia kaget banget. Melodya sempet nampar kak Bara sebelum kak Bara kabur. Melodya ngehubungin om Martin dan akhirnya kak Musical di bawa ke rumah sakit.


Tusukan dari kak Bara membuat luka cukup dalam di perut kak Musical. Kak Musical koma selama satu minggu dan dirawat di rumah sakit selama satu bulan. Melodya selalu jagain kak Musical waktu dia koma. Melodya bahkan bolos sekolah. Setelah kak Musical sadar, Melodya jadi sering ngunci diri di kamar, ngga mau makan, kadang dia juga nangis tiba tiba. Melodya hampir depresi saat itu. Gue udah bolak balik nengokin Melodya, tapi hasilnya sama aja.


Melodya selalu ngerasa kalo apa yang terjadi sama kak Musical adalah kesalah dia. Suatu malem, Melodya ngebanting biolanya. Dia bener bener ngerusak biola itu. Tante Eliyana sempet drop waktu ngeliat keadaan putrinya."


Sasya mengelap air mata yang turun dengan sendirinya dari kelopak matanya. Ia menarik napas panjang lalu melanjutkan ceritanya.


"Gue sendiri juga sedih banget waktu itu. Setiap pulang sekolah, gue selalu nyempetin diri buat ke rumah Melodya. Walaupun Melodya ngga ngerespon kedatangan gue, tapi seenggaknya gue tau keadaan dia.


Sejak kejadian itu, Melodya benci sama biola, alat musik yang udah dia tekuni selama lima tahun lebih itu. Dan sejak itu juga, Melodya berubah. Dia jadi gadis yang cuek, selalu tertutup. Sampe satu tahun setelah itu, kak Musical ngebujuk Melodya buat ngelanjutin bakat biola Melodya. Berhari-hari kak Musical, om Martin, tante Eliyana, ngebujuk Melodya, akhirnya Melodya setuju. Tapi dia ngga mau sampe ada seorang pun yang tau, karena dia ngga mau kejadian itu keulang lagi. Dan ya, sampe sekarang, cuma orang tertentu aja yang tau."


Nathan bungkam. Ia tidak menyangka, gadis seperti Melodya mengalami hal seperti itu. Pantas saja selama ini ia terlihat sangat dekat dengan kakaknya, dibanding dengan kedua orangtuanya. Perasaan bersalah muncul lagi di benak Nathan.


"Terus dimana kak Bara sekarang?"


"Kak Bara udah meninggal. Waktu om Martin ngelaporin hal itu ke polisi, kak Bara jadi buronan. Polisi nyari nyari kak Bara dan yang ditemuin malah jasad kak Bara. Kak Bara bunuh diri. Waktu jasadnya diperiksa, kak Bara ternyata mengalami ganguan psikis. Kemungkinan, itu disebabkan karena masalah kedua orantuanya, ditambah lagi, rasa bersalah karena dia hampir ngebunuh kak Musical."


Beberapa menit, mereka disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Sasya sibuk menyantap makanan yang ia pesan. Nathan sibuk berpikir untuk menghilangkan rasa bersalahnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2