
Pagi ini, Sasya sudah siap dengan seragam sekolahnya. Rambutnya yang bergelombang ia kuncir kuda. Wajahnya ia biarkan natural tanpa riasan apapun. Sasya bahkan jarang sekali menggunakan bedak. Ia menatap dirinya di dalam cermin meja riasnya. Kemudian ia mengambil tas sekolahnya lalu menuju ke ruang makan.
Di ruang makan, terlihat bundanya, Nurisya, sedang menyiapkan makanan untuk sarapan.
"Bundaaaa..." Sasya memeluk Bundanya dari belakang. Nurisya sedikit terkejut dengan perlakuan Sasya yang tidak seperti biasanya.
"Kenapa kamu meluk meluk Bunda? ngga kayak biasanya."
Sasya melepas pelukannya. Ia berjalan ke salah satu kursi lalu duduk. "Ngga papa Bunda, hihii. Ayah mana?"
"Ayah udah berangkat tadi jam setengah enam."
Sasya hanya ber'oh panjang. Ia mulai mengambil makanan dan mulai menyantapnya. Demi apapun, masakan Bundanya sangat lezat. Sasya bahkan rela tidak ikut Melodya atau Ayna yang akan makan diluar. Ia akan lebih memilih makan di rumah saja, menikmati masakan Bundanya. Jika Melodya atau Ayna berkunjung ke rumahnya, mereka berdua dengan senang hati akan menikmati atau bahkan menghabiskan makanan yang di masak oleh Bunda Sasya.
⁂⁂⁂
"Masuk sana. Belajar yang rajin. Nanti pulangnya kakak jemput." Musical mengacak rambut Melodya sambil tersenyum kecil.
"Iyaaa kak iyaa. Kak musical juga, belajar yang betul." Musical hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Ody masuk yah? Sayang kakak." Melodya menarik hidung Musical sebelum ia turun dari mobilnya. Ia berjalan sebentar, kemudian berbalik badan dan melambaikan tangannya pada kakaknya. Setelah itu, Musical melajukan mobilnya menuju kampusnya.
Pagi ini sekolah belum terlalu ramai. Melodya mengangkat tangan kirinya, melihat sebentar ke jam tangannya. Masih pukul 06.15. Pantas saja sekolah belum ramai, alias masih sepi.
Melodya berjalan santai di koridor kelas XII, ia melihat sekilas anak anak basket yang sedang latihan di lapangan.
'Latihan sepagi ini? rajin amat' batin Melodya.
__ADS_1
Melodya menajamkan penglihatannya saat melihat ada seorang cowok yang sedang menatapnya. Hah? Menatapnya? Melodya melihat kesamping kanan kiri depan belakang, tidak ada orang selain dirinya. Berarti... orang yang ditatap adalah dirinya sendiri? Melodya terkejut saat mengetahui seseorang yang tadi menatapnya kini mendekatinya. Semakin dekat, Melodya terkejut melihat orang itu.
'Nathan? Dia mau nyamperin gue? Ck, jangan sampe gue berurusan sama ni cowok' batin Melodya.
Kini, Melodya dan Nathan sudah berhadapan. Jarak mereka sudah kurang dari lima langkah. Melodya menatap datar ke arah Nathan. Dan parahnya lagi, Nathan menatap Melodya tak kalah datar. Melodya menatap tepat ke manik mata Nathan. Ia teringat perkataan Musical 'tatap seseorang tepat ke manik matanya, itu artinya kamu cewek yang berani', Nathan melakukan hal yang sama dengan Melodya. Ia menatap manik mata Melodya yang masih memasang muka datarnya.
Melodya berdehem sebentar untuk mencairkan suasana. Ia benci suasana awkward seperti ini. Apa faedahnya cowok itu datang dan hanya menatapnya? Gadis itu memutuskan untuk pergi menuju kelasnya. Tapi,
"Melodya Anatasya," Nathan memanggil namanya? Ya. Nathan memanggil namanya. Nama lengkapnya.
Melodya berbalik badan. Posisi Nathan masih sama seperti sebelumnya. Raut wajahnya juga masih datar. Melodya hanya diam. Menunggu kelanjutan ucapan Nathan.
"Kenapa kemarin lo buang brosur itu?" Tanya Nathan to the poin. Melodya mengendikkan bahunya.
"Gue tau semua tentang lo, Melodya." Yang disebut namanya sukses membulatkan matanya. Apa maksud perkataan Nathan? Melodya tak peduli lagi dengan cowok itu. Ia berlari kecil menuju kelasnya di lantai dua.
Melodya masuk ke kelas. Ia melihat ketua kelasnya dan wakilnya, sedang berdebat. Lagi.
"Ayolah Daf. Lo yang bilang ke Bu Aisyah ya. Please. Untuk kali ini aja gue mohon sama lo. Ayolah, demi kelas kita." Arya terlihat memohon pada Dafina. Entah untuk apa, Melodya belum mengetahui nya.
"Pokoknya ngga mau. Lagian kan lo ketua kelasnya. Lo juga anak kesayangan Bu Aisyah. Yaudah lo aja yang bilang. Gue gak mau ya, Huh!" Terlihat Dafina mengibaskan rambutnya ke wajah Arya. Melodya terkekeh geli melihatnya. Astaga, ketua dan wakilnya memang suka sekali bertingkah aneh.
Melodya melangkah menuju kursinya. Ia meletakan tasnya di meja, mengambil novel dari dalam tas. Membuka novel itu, dan menghanyutkan dirinya ke dalam cerita yang ada di novel itu.
⁂⁂⁂
Pulang sekolah kali ini, Sasya berjalan sendirian ke tempat parkir. Hari ini ia kebagian jadwal piket, alhasil ia menyuruh Melodya dan Ayna untuk pulang terlebih dahulu. Sasya menuju ke motor scoopy pink nya di bawah pohon mangga yang ada di perkiran sekolahnya. Ia memang selalu meletakan motor nya disana karena tempat itu cukup teduh.
__ADS_1
Fyi, Sasya sebenarnya adalah orang kaya. Ayahnya punya dua mobil. Yang satunya di bawah ayahnya ke kantor, satunya lagi ada di rumah untuk kepentingan Bundanya jika sewaktu waktu ingin bepergian. Tapi Sasya justru lebih suka naik motor. Ayahnya sudah menawarinya untuk diantar jemput oleh supir pribadi, tapi Sasya menolak. Ia bilang ia kurang bebas jika harus diantar jemput oleh supir. Saat lulus SMP, Sasya diberi hadiah motor oleh Ayahnya. Sebenarnya Sasya yang minta karena Ayahnya menawarinya. Sasya diizinkan mengendarai motor meski belum memiliki SIM. Tetapi, kedua orang tuanya tetap selalu mengawasi putri semata wayangnya itu.
Sasya terkejut saat melihat seseorang duduk diatas motor sport nya yang berada di sebelah motor scoopy nya. Orang itu duduk membelakangi Sasya sehingga Sasya tidak bisa melihat wajahnya. Yang Sasya permasalahkan adalah, motor Sasya terhimpit oleh pohon mangga di sebelah kanannya, dan motor sport itu di sebelah kirinya. Ia tidak bisa mengeluarkan motornya.
"Heh! siapa lo?! ngapain lo naro motor lo disini? motor gue ngga bisa keluar elah."
Pemilik motor yang merasa dirinya dipanggil menengok. Terlihat seorang gadis cantik dikuncir kuda yang sedikit berantakan, mungkin karena efek seharian beraktivitas, sedang menatap kesal ke arahnya.
'Oh my god! Satria?! gue ngga mimpi kan? ini Satria? atlet karate itu? sahabatnya Nathan? ya ampun. Stay cool, Sya' batin Sasya
"Lo ngomong sama gue?" Tanya cowok itu.
"Iyalah dodol! disini kan ngga ada cowok selain lo." Cowok itu mengedarkan pandangannya. Parkiran memang sudah sepi siang ini.
"Oh. Yaudah. Gue duluan." Cowok itu menyalakan motornya. Pergi meninggalkan Sasya. Tetapi sebelumnya, ia sempat membisikan sesuatu di telinga Sasya.
"Lo lucu kalau lagi marah."
Sasya membulatkan matanya. Sasya merasa agak baper saat itu. Tetapi, terlihat tampang Satria yang kelihatannya tidak serius, Sasya coba menetralkan jantungnya yang sedari tadi berdegup kencang. Ia membalikan badanya. Ah, cowok itu sudah pergi.
'Gue kan mau jaga image di depan dia. Kenapa gur jadi malah marah-marah ke dia ya? aduh, mana ini jantung deg degan terus' batinnya.
Sasya mendekati motornya kemudian melajukannya ke rumahnya.
✰✰✰✰
LIKE,KOMENT,AND RATE⭐
__ADS_1