
Lagi dan lagi. Satu minggu setelah pertandingan basket, Nathan mulai latihan untuk pensi dua bulan lagi. Ia rajin ke rumah Melodya berlatih disana tiga kali dalam seminggu. Musical yang mengajarinya terkadang masih menampilkan sikap dinginnya. Terkadang saat istirahat atau pulang sekolah, mereka berlatih di ruang musik sekolah. Sekedar untuk memanfaatkan waktu. Nathan sudah beralih ke piano. Ia tidak mau terlalu lama belajar gitar tapi ujung ujungnya ia tampil dengan piano.
Jari-jarinya menari lincah di atas tuts piano ditemani gesekan biola yang menggema di ruang musik. Di tengah lagu, Nathan berhenti, membuat Melodya mau tak mau juga ikut berhenti. Melodya yang hendak mengomel langsung tutup mulut saat sebuah botol minuman dingin terulur untuknya. "Apa?"
"Buat lo."
"Thanks." ia menerima botol itu. Membukanya, lalu meminumnya sedikit. Bel tanda masuk setelah istirahat berbunyi sejak tadi. Tapi mereka sengaja memutuskan berdiam diri di ruang musik setelah meminta izin dengan Pak Andre dan Bu Aisyah dengan alasan ingin belajar untuk pensi. Dan beruntungnya, mereka mendapatkan izin itu sehingga mereka tidak perlu repot-repot mengikuti pelajaran di kelasnya.
"Latihannya di pending dulu napa. Lagian masih lama juga kan." ucap Nathan setelah meneguk minumannya.
"Ngga. Apaan si. Nanti kalo lama ngga latian, lo lupa lagi." tolak Melodya.
Nathan berdecak. "Lo tau? Gue sekarang jarang latian band atau kumpul-kumpul sama curut curut gue tau ngga."
"Sayangnya gue ngga tau dan ngga mau tau," Melodya meletakan botol minumnya di sebelah kotak biolanya. "Udah, ayo latian lagi."
Mau tak mau, Nathan harus melanjutkan latihannya. Ia sangat menyesal karena telah meminta hal aneh pada Melodya. Kalau tau akan seperti ini, ia bisa saja meminta Melodya hal lain untuk memaafkannya.
-
-
-
-
__ADS_1
-
"Allahu Akbar!!!"
Sasya berteriak saat ia akan keluar kelas, tepat di pintu, ia melihat wajah gila Satria yang terpampang jelas tepat di depan wajahnya.
"Hai calon pacar!"
"Astaghfirullah lo lagi! Kenapa sih dunia ini sempit banget?!"
"Ngomongnya santai aja sayang. Dunia ini lebar kok, kecuali dunia kamu yang emang sempit, karena cuma ada kamu dan aku." goda Satria. Kenzo yang ada di belakangnya mengetuk ngetukkan kepalanya ke tembok. "Ngapain lo?" tanya Satria.
"Gue kayaknya nyasar ke dunia lain deh. Di dunia gue kagak ada orang gila kaya lo!" Kenzo meninggalkan Satria menuju kantin, menyusul Nathan yang baru saja WhatsApp kalau ia ada disana.
"Eh! Tungguin gue Abang Kenzo! Calon pacar, gue pergi dulu ya. Jangan kangen. Bye!" Satria berlari menyusul Kenzo yang sudah jauh di depannya.
"Bangsat!" teriak Nathan.
"Your mouth!" Kenzo balas berteriak. Siswa disekeliling mereka sempat menengok sebentar lalu melanjutkan aktivitasnya masing-masing.
"Ngapain sih lo? Ngumpat sembarangan. Kagak tau ini kantin lagi rame ramenya?"
Nathan melirik sebal. "Ya lagian lo. Gue lagi main game, ngagetin aja."
Kenzo melirik ponsel Nathan yang menampilkan game piano tiles. "Anjir selera lo ganti Nat? Udah kagak suka mobilejen lagi terus berpaling ke piano tiles kek gini?" ia tertawa terbahak-bahak saking gelinya.
__ADS_1
"Diem lo!"
Tiba-tiba, Satria muncul dengan napas yang terengah-engah. Ia duduk di depan Nathan lalu menyambar gelas es teh yang ada di atas meja dan meneguknya tanpa ampun. Dalam hitungan detik, gelas itu sudah kosong, hanya tersisa tiga balok kecil es batu yang akhirnya dimakan juga.
"Es gue, Satria!" Nathan menatap nelangsa ke gelas es tehnya. Susah susah ia mendapatkan es teh itu karena harus mengantri pajang di tengah kerumunan siswa.
Satria mengusap keringat di dahinya. "Gila, lo jalannya cepet banget sih Ken. Capek gue."
"Ganti es gue!"
"Apaan sih? Gue kan haus Nat. Lo ngga kasian sama gue? Gimana kalo gue dehidrasi terus mati? Repot kan? Ntar lo nangis darah gara gara ditinggal gue."
"Lanjutin aja drama khayalan lo itu Sat." Kenzo beralih ke Nathan. "Ngapain nyuruh gue kesini?"
"Nemenin gue main game."
Kenzo menoyor kepala Nathan pelan. "Gaya lo main game, main game. Itu mah bukan game peak!"
"Gue juga aslinya ngga mau main ini. Ya kali gue main beginian. Gue cuma belajar ngebiasain ndengerin lagu ini tau." Game piano tiles yang Nathan mainkan tidak pernah ganti lagu. Selalu sama saja. River Flows In You. Melodya yang mendownload game itu di ponsel Nathan. Karena jika disuruh membiasakan mendengar lagu itu, Nathan selalu berkata kalau ia selalu mengantuk saat mendengar lagu itu. Alhasil, Melodya mendowload game itu agar Nathan tidak mengantuk saat mendengarnya. Sekalian untuk melatih kosentrasi. Walaupun sudah ada teksnya, Nathan seringkali salah nada, dengan alasan ia tidak hafal lagunya.
"Paling paling juga Melodya kan yang ngelakuin. Emang hebat tuh cewek. Seorang Nathan bisa berubah cuman gara gara dia."
"Hahaa, iya bener bener Sat. Gue juga heran. Tapi syukurlah kan dampaknya jadi baik gini."
"Bacot lo!" Nathan beranjak pergi. Tak peduli dengan kedua sahabatnya yang memanggil namanya.
__ADS_1
...****************...