MELODYA

MELODYA
Episode 26


__ADS_3

Cowok itu berjalan menyusuri koridor yang sudah sepi karena bel pulang sudah berbunyi sejak tadi. Di sekolah hanya tersisa beberapa siswa yang mengikuti ekskul atau kerja kelompok. Ia melangkahkan kakinya menuju ruang musik, dimana seorang gadis yang ia cari sedang berada disana.


Di depan ruang musik, alunan tuts piano terdengar samar karena ruang musik yang dilapisi karpet kedap suara. Ia membuka pintu, menemukan seorang gadis duduk membelakanginya.


Permainan pianonya tidak seindah pianis terkenal, tetapi masih dapat didengar dengan baik. Gadis itu menghentikan permainannya saat mendengar deheman seseorang. Ia membalikan badannya, terlihat cowok yang sudah ia kenal berdiri di dekat pintu dengan jaket hijau army melekat di tubuhnya.


Cowok itu mendekat. Ia menarik sebuah kursi ke dekat gadis itu lalu mendudukan tubuhnya disana. Gadis itu memalingkan wajahnya, ia sedang tidak ingin melihat cowok di depannya sekarang. "Lo bisa main piano juga?"


"Cuma iseng."


"Kenapa ngga mainin biola?"


"Ngga ada biola disini."


Keheningan menyelimuti diantara mereka. Sampai akhirnya Nathan buka suara. "Gue minta maaf."


Gadis bernama Melodya itu menatap tajam cowok dihadapannya. "Buat?"


"Gue udah bocorin rahasia lo ke Pak Andre. Gue pikir dengan begitu, lo bisa lebih leluasa menampilkan bakat lo. Tapi ternyata gue salah, lo justru ngerasa terganggu."


"Percuma lo minta maaf, Nat. Udah terlambat." Ucapnya lirih.


Nathan masih menatap Melodya, matanya memancarkan rasa bersalah. "Gue tau. Tapi seenggaknya lo mau maafin gue."


Melodya menghembuskan napas panjang. "Gue udah maafin lo."


"Maaf. Gue bakal ngelakuin apapun asalkan lo maafin gue. Gue bener-bener ngga tau kalo pernah terjadi sesuatu sama lo."


"Ngga usah lebay. Gue ngga mau lo ngelakuin apapun." Melodya tau kalau kemarin Nathan menemui Sasya dan bertanya tentangnya, Sasya yang memberitahu. Sebenarnya ia sedikit kesal dengan Sasya yang seenaknya menceritakan masa lalunya pada orang lain. Tapi Sasya berhasil membujuknya. Melodya berdiri, hendak pergi keluar. Atmosfer di ruang musik memanas membuatnya tak betah lama-lama berada disana.


"Kalau lo lupa, gue tau semua tentang lo, Melodya."


Melodya menghentikan langkahnya. Ia menghadapkan tubuhnya ke arah Nathan. Lagi-lagi cowok ini membuatnya bertanya-tanya.


"Gue mau bicara banyak sama lo,"

__ADS_1


Saat Melodya akan membuka mulutnya, Nathan langsung memotongnya. "Dan gue ngga menerima penolakan."


Melodya akhirnya kembali duduk di kursi yang sebelumnya ia duduki. Ia duduk sejajar dengan Nathan, tetapi masih tidak ingin menatap cowok itu.


Nathan mengeluarkan sesuatu dari kantong jaketnya, sesuatu yang membuat Melodya terkejut bukan main. "Punya lo kan?"


Ditariknya tangan Melodya dan diletakan kalung silver di atas telapak tangan gadis itu. Melodya memperhatikan setiap bagian dari kalung itu untuk memastikan kalau itu adalah kalung miliknya yang selama ini hilang. Ia melihat ukiran huruf MA yang merupakan insial namanya dibalik liontin kalung itu. Kalung hadiah dari Musical saat ulang tahunnya yang ke sebelas. "Gimana bisa kalung ini ada di lo?"


"Kita udah pernah ketemu sebelumnya."


Gadis itu mengerutkan keningnya. "Maksud lo?"


"Lima tahun lalu. Lo nolongin gue waktu gue keserempet motor. Apa lo inget?"


"Gue rasa engga." Tambahnya.


Melodya mengerutkan keningnya, mengingat-ingat hal yang dimaksud Nathan. Ada beberapa kepingan memori yang terputar di otaknya, tapi ia belum bisa mencernanya. "Bisa jelasin lebih detail?"


"Lo ngebantuin gue ngebersihin luka gue. Lo juga ngasih gue eskrim sama coklat. Kita makan eskrim bareng waktu itu. Lo cerita banyak hal ke gue. Tentang keluarga lo, sekolah lo, dan kecintaan lo ke biola."


Nathan tersenyum tipis. Gadis dihadapannya ternyata masih mengingatnya, meskipun butuh waktu untuk menjelaskan nya.


"Wait. Lo? Hanar? Nathan? Nathan Ardiansyah?"


"Yes, i am."


"Apa dunia sesempit ini?" Ucap Melodya tak percaya. Cowok seumurannya yang ia tolong di halte lima tahun lalu, kini ada di hadapannya.


"Ini namanya takdir."


"Kalung ini?" Tanyanya sambil mengangkat kalung tadi.


"Gue nemuin itu di halte waktu gue mau pulang ke rumah. Gue rasa itu punya lo yang jatuh."


Melodya tersenyum sampai menampilkan gigi gingsulnya. "Thanks Nat. Kalung ini berharga banget buat gue. Bertahun-tahun gue nyari tapi hasilnya...nope." Nathan ikut tersenyum, rasa bersalahnya perlahan hilang. Ternyata mood Melodya mudah sekali berubah. Tadi ia cuek, sangat cuek. Sekarang, hanya karena kalung itu, ia bisa tersenyum lebar.

__ADS_1


"Apa yang gue lakuin barusan udah ngebuat lo buat maafin gue?"


"Nat, gue udah bilang, gue udah maafin lo."


"Tapi gue masih ngerasa bersalah. Seenggaknya minta sesuatu kek, sama gue." Bujuk Nathan.


Melodya diam sebentar, kemudian senyum smirk nya mengembang. "Oke, gue minta lo tampil sama gue waktu pensi besok." Mata Nathan membulat sempurna lalu menggeleng cepat. "Gue ngga mau."


"Yaudah, lo ngga dapet maaf dari gue." Ucap Melodya santai. Ia masih sibuk memandangi kalungnya.


"Ck, yang lain aja. Gue ngga mau kalo harus berurusan sama alat musik." Elak Nathan


"Why?"


"Gue ngga bisa main alat musik. Pertama, kerena gue cuman suka dengerin musik, bukan mainin alat musik. Kedua, gue ngga tertarik sama sekali sama yang namanya alat musik. Ketiga, gue males kalo harus belajar alat musik, buang waktu aja."


Melodya tertawa mendengar penuturan Nathan. "Alasan lo ngga logis banget."


"Bodoamat."


"Yaudah, gue juga bodoamat. Pokoknya lo harus tampil sama gue waktu pensi."


Nathan masih tetap pada pendiriannya. Ia memang tidak bisa memainkan alat musik. Di grup bandnya, ia menjadi vokalis, untung saja ia mempunyai suara yang bagus. Kenzo pernah mengajari Nathan bermain gitar, tetapi baru satu minggu ia belajar sudah menyerah. Satria juga pernah mengajari Nathan bermain drum, tetapi baru tiga hari latihan, drum Satria jebol karena di pukul terlalu kuat.


"Gue ngga mau. Lagian lusa kan gue mau ada pertandingan, jadi gue ngga punya waktu buat latian pensi." Sangkal Nathan.


"Gini ya, kapten, lo itu tandingnya lusa. Sedangkan pensi dua bulan lagi. Jadi lo masih punya banyak waktu buat latian."


"Gue ngga mau."


"Ck, capek gue ngomong sama lo." Melodya berdiri dan meninggalkan Nathan sendiri di ruang musik.


'Dasar cewek moody. Dikit-dikit cuek, dikit-dikit senyum, eh, balik cuek lagi.' batin Nathan.


...****************...

__ADS_1


jangan lupa tinggalkan jejak, LIKE and KOMENT


__ADS_2