
Anak-anak basket SMA Starlight tengah sibuk berlatih di lapangan, di bawah teriknya matahari. Keringat bercucuran deras dari pelipis mereka. Banyak siswa yang menonton di pinggir lapangan karena hari ini banyak kelas yang jamkos. Sekolah akan menjadi tuan rumah pertandingan basket besok, banyak persiapan yang dilakukan.
Satria berlari mengejar bola oranye sambil sesekali menyisir jambul badainya dan menampilkan senyumnya yang dapat memikat hati para kaum hawa, terutama junior.
Kenzo masih fokus pada bola, tanpa mempedulikan pujian-pujian dari pinggir lapangan. Matanya menjadi segaris kerena sinar matahari yang silau. Kulit putihnya memerah karena kepanasan.
Nathan mengikuti kemana bola dioper. Mata hitam pekatnya bergerak mengikuti arah bola. Tatapannya tajam. Rambutnya yang sedikit kecoklatan sudah basah oleh keringat.
Bunyi peluit milik pak Adit menghentikan latihan mereka. Mereka berkumpul di pinggir lapangan. "Baiklah, latihan hari ini sudah cukup. Tingkatkan terus! Sekarang kalian semua ganti baju lalu yang mau pulang silahkan, yang masih mau disekolah juga silahkan. Saya beri kalian free time. Intinya, jaga kesehatan. Persiapkan mental dan fisik untuk pertandingan besok." Pak Adit mendekat ke arah Nathan, menepuk punggung nya pelan. "Saya percayakan semuanya ke kamu, Nathan. Pimpin teman teman kamu."
__ADS_1
"Siap pak."
Mereka semua bubar sendiri-sendiri. Nathan, Kenzo, dan Satria memutuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu sebelum mengganti pakaiannya. Di kantin mereka melihat Melodya, Ayna, dan Sasya yang asyik makan sambil bercerita bahkan sesekali tertawa.
"Gebetan ngga akan kemana. Kuy lah kita kesana!" Satria dengan semangat 45-nya menyisir jambul badainya dengan jari lalu berjalan menghampiri meja Sasya. "Hai, calon pacar!"
Sasya menghentikan tawanya. "Lo lagi, lo lagi. Dimana mana ada lo. Ngga pagi, siang, juga ada lo. Heran gue." ucapnya ketus. Sifat Melodya mode on.
Satria menarik kursi di sebelah Melodya. Lalu mendekatkan wajahnya. "Mel, lo tau ngga?" Melodya mengangkat sebelah alisnya. "Gue jatuh cinta sama sahabat lo yang galak banget kek singa. You know lah." Melodya bertatapan dengan Ayna, lalu kompak tertawa.
__ADS_1
"Astaga, Sat. Lo kalo mau pedekate sama Sasya ya langsung aja. Ini apaan coba?" Ayna masih saja tertawa. Sampai tawanya berhenti saat Kenzo menghampirinya. Oh, bukan. Menghampiri Satria mungkin? Oh, jangan lupakan ada Nathan juga di sampingnya.
"Ngapain lo nyangkut kesini, hah?" ucap Nathan tenang tetapi penuh sindiran dan tekanan.
"Aduh, bebeb, gue lagi otw pedekate ini sama gebetan. Tega banget lo menghancurkan moment yang sangat indah ini." Satria menampilkan wajahnya yang mendramatisir hingga siswa di sekitar mereka tertarik untuk melihatnya.
Kenzo menarik ujung belakang seragam basket Satria yang sudah basah oleh keringat itu. "Udah ayo balik! Pedekate nya besok aja kapan kapan."
Sebelum pergi, Nathan berucap. "Besok jangan lupa nonton tanding basket. Dukung juga biar menang. Gue bakal nyari kalian bertiga di kursi penonton besok." ia berjalan begitu saja setelah mengucapkan kata-kata yang mampu membuat ketiga cewek itu terkejut. Bukannya geer, hanya saja, seberapa pentingnya mereka menonton sampai sampai ia akan mencari mereka di kursi penonton besok? Memangnya kalau mereka tidak menonton, akan mempengaruhi kemenangan mereka? Sudahlah, pusing jika harus memikirkan itu. Yang penting, mereka akan menonton besok.
__ADS_1
...****************...