MELODYA

MELODYA
Episode 18


__ADS_3

Siang ini, Ayna menunggu supirnya di halte depan sekolahnya. Lima belas menit yang lalu, Melodya juga ada di halte bersamanya, tapi setelah itu kak Musical datang untuk menjemputnya. Ayna menolak ajakan Melodya untuk pulang bersama. Rumah mereka memang searah, tetapi rumah Ayna lebih jauh sehingga Ayna tidak mau merepotkan Melodya dan kakaknya. Sasya juga sudah pulang dengan motor scoopy pink-nya.


Ayna celingukan dengan wajahnya yang sudah kucel. Suara motor terdengar di telinganya. Ia menengok ke sumber suara, menemukan Nathan, Kenzo, dan Satria dengan motor sport nya masing-masing. Tatapan Ayna dan Kenzo sempat bertemu sesaat sebelum Kenzo memutuskan kontak matanya terlebih dahulu. Trio most wanted itu berhenti di depan gerbang, berbicara sebentar, lalu pergi ke arah yang berbeda. Nathan dan Satria ke arah kanan, sedangkan Kenzo ke kiri.


Kenzo menghentikan motornya di depan halte. Ayna menatap sekelilingnya, tidak ada siapapun selain dirinya di halte itu. 'Wait, Kenzo mau ngapain? Cuma ada gue disini.' batinnya


Cowok itu melepas helmnya lalu turun dari motornya. Ia mendekati Ayna sambil tersenyum hingga matanya menyipit. Cowok itu bukan hanya menghampiri Ayna, ia juga ikut duduk di sebelah kanan Ayna. Pandangannya lurus ke depan. "Mau bareng?"


Ayna menoleh ke samping kanannya. Mata Kenzo masih tetap menatap ke depan. Ayna bingung harus menjawab apa. Pertanyaan Kenzo sungguh to the poin tanpa basa basi apapun. "Gue lagi nungguin supir gue kok."

__ADS_1


"Jawaban dari pertanyaan gue cuma ya atau ngga, dan jawaban lo ngga ada hubungannya sama sekali sama pertanyaan gue." Oh, sepertinya kali ini Kenzo sedang mengikuti sifat Nathan. Dingin. Nada bicaranya tak seramah saat pertama kali bertemu Ayna.


Ayna benar benar gugup saat itu. Ia sangat bingung. Sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak padanya. Mobilnya datang menjemputnya. "Supir gue udah jemput. Gue duluan ya. Dan...makasih buat tawaran lo."


Kenzo tersenyum tanpa menjawab apapun. Ayna berdiri menuju mobilnya. Sebelum mobil melaju, ia sempat menurunkan kaca mobil dan menampilkan senyum manisnya ke arah Kenzo.


Kenzo mendekati motor sport nya. Ia memakai helm full face dan menaiki motornya.


......................

__ADS_1


Melodya menghempaskan tubuhnya di kasur empuknya. Kakinya ia biarkan melayang di pinggir kasur. Pikirannya terus tertuju ke satu orang. Orang yang tiba-tiba hadir dalam hidupnya. Dari awal bertemu, ia merasa familiar dengan cowok itu. Mata hitam pekatnya, hidung mancungnya, bibirnya yang tipis, semua terasa familiar. Ia mencoba mengingat kapan ia pernah bertemu dengan cowok itu.


Nathan Ardiansyah


Melodya mengingat pernyataan Nathan di perpustakaan saat itu, 'Gue, Hanar'. Nama Nathan dan Hanar berkeliaran di benak Melodya. Gadis itu mengusap wajahnya kasar. Ia melepas sepatunya, menggantinya dengan sandal jepit. Ia juga mengganti seragam sekolahnya dengan baju santai.


Melodya menuju ke meja riasnya. Ia menggulung rambutnya asal dan menusukkan tusuk kondenya. Ia berjalan ke sudut kamarnya, mengambil kotak biola miliknya. Gadis itu membuka kotak biola itu dan mengambil biolanya.


Gadis itu membuka jendela balkon kamarnya. Membiarkan siluet senja masuk ke kamarnya. Ia berdiri menghadap balkon lalu memposisikan biolanya. Melodya mulai menggesek bownya. Memainkan salah satu lagu kesayangannya, River Flows In You. Ia mencoba melupakan semuanya dan hanya terfokus pada kumpulan nada yang ia mainkan.

__ADS_1


Saat sedang menikmati nada itu, jari telunjuk Melodya terasa perih. Ia menghentikan aktivitasnya. Gadis itu mengumpat kesal saat melihat jarinya lecet. Sepertinya ia menekan senar biola terlalu kuat. Melodya memasukan kembali biolanya ke dalam kotak. Ia menutup kembali jendela balkon kamarnya setelah merasakan angin menerpa sedikit rambutnya yang tidak ikut tergelung.


...****************...


__ADS_2