MELODYA

MELODYA
Episode 2


__ADS_3

Jam ke satu, dua, tiga hanya diisi oleh beraneka ragam rumus yang membut Sasya kelaparan. Melodya nampak santai-santai saja. Ayna pun tak jauh berbeda dari Sasya. Kali ini, mereka bertiga tengah menyantap bakso dan orange juice di kantin sekolah. Mereka lebih sering menghabiskan istirahat pertamanya di kantin yang berada di lantai satu, karena menu makanannya yang lumayan lengkap. Sedangkan istirahat kedua, mereka akan membeli cemilan di lantai dua yang terletak disamping XI IPA 1, hanya selang satu kelas dari kelasnya, atau mereka hanya berdiam diri di kelas sambil membicarakan banyak hal.


"Sumpah kepala gue serasa mau pecah! Huh! Mana ini bakso pedes banget. Ngga tau apa gue lagi puyeng. Astaga air please!!!" Sasya mengibaskan tangannya ke wajahnya yang kini sudah memerah.


"Lebay banget loe! gimana ceritanya tuh kepala mau pecah cuma gara-gara pelajarannya Bu Erin? Ngga logis banget deh. Eh, lagian itu yang nambahin sambal 5 sendok penuh juga siapa hah? loe kan?" Ayna mendengus kesal melihat kelakuan salah satu sahabatnya yang memang kelewat gila.


Melodya memutar bola matanya dan mengambil orange juice milik Sasya dan memberikannya padanya. Ia jengah melihat kelakuan Sasya yang seakan-akan semua yang terjadi selalu serba salah.


"Eh eh, girls, liat deh. Itu tuh. Cowok-cowok yang duduk di pojok kantin cogan cogan anjirr! Apalagi itu tuh yang mirip korea. Aaaa meleleh bang!" Ayna kegirangan melihat gebetannya yang sedang menyeruput lemon tea di pojok kantin bersama teman-temannya.


"Ck apaan sih?" Melodya berbalik karena memang posisi duduknya yang membelakangi kumpulan cowok-cowok yang dimaksud Ayna. Dan.... pandangan Melodya tak senjaga bertemu dengan salah satu dari cowok-cowok itu. Cowok yang Melodya ketahui bernama Nathan. Melodya segera memalingkan wajahnya. Ia selalu benci jika harus berurusan dengan makhluk bernama cowok. Apalagi cowok itu.


"Percuma loe ngomongin cogan sama Melodya. Kagak bakalan ngaruh. Dia kan anti cowok, yekan mel?" Sasya tertawa kecil melihat reaksi Melodya saat membalikan badannya ke posisi semula.


"Gue kenyang." Melodya berdiri dan pergi begitu saja meninggalkan Sasya dan Ayna. Ia pun hanya menghabiskan separuh baksonya. Ayna menjitak kepala Sasya. Ia yakin mood Melodya pasti tambah buruk karna perkataan Sasya barusan.


"Peak loe! udah tau melody lagi bedmood, ini malah di buat tambah bedmood."

__ADS_1


"Paling paling nanti juga baikan lagi. Kaya baru kenal Melodya aja loe." Sasya melanjutkan acara makannya yang sempat tertunda. Ayna melakukan hal yang sama, tapi entah mengapa ia merasa bahwa Melodya tidak dalam kondisi baik-baik saja.


❣︎❣︎❣︎


Melodya melangkah lebar menuju ke kelasnya di lantai dua. Ia tidak merasa tersinggung dengan perkataan Sasya. Ia hanya tidak suka melihat cowok itu, lagi.


*Flashback on*


Melodya pulang lebih sore hari ini karena harus mengerjakan tugas bersama kelompoknya. Kebetulan kali ini ia tidak sekelompok dengan Sasya ataupun Ayna. Mereka bertiga justru berbeda kelompok.


Melodya berjalan santai menyusuri koridor. Ia menghirup napas panjang dan menghembuskan nya perlahan. Hujan baru reda beberapa menit yang lalu. Bau tanah yang basah dan udara yang terasa lebih segar memenuhi indra penciumannya.


"Melodya? Nama lo Melodya kan? Melodya Anatasya? Kelas XI IPA 2?"


Melodya hanya mengangguk sambil menatap keheranan cowok berbadan tinggi besar di hadapannya. Ia merasa pernah melihat cowok ini.


"Ah, akhirnya gue ketemu lo. Ini. Gue mau ngasih ini ke lo." Cowok itu menyerahkan selembar kertas pada Melodya. Melodya mengerutkan keningnya.

__ADS_1


"Gue disuruh Nathan buat ngasih ini ke lo." Melodya yang merasa sering mendengar nama itu sebelumnya memutuskan untuk bertanya pada cowok itu.


"Siapa Nathan?"


"Lah? lo ngga tau? Nathan itu kapten basket. Masa lo ngga tau sih? Lo kemana aja selama ini? Banyak cewek-cewek yang gosipin dia kok. Noh Nathan, yang lagi dribble bola di lapangan." Ucap cowok itu sambil menunjuk dengan dagunya.


"Terus? Gue suruh ngapain?"


"Mendingan lo baca dulu itu kertas. Kasian kan kalo cuma lo pandangin doang" Melodya yang memang daritadi belum membaca kertas itu pun mulai membacanya. Ia membulatkan matanya saat mengerti isi kertas itu.


"Buat apa lo ngasih kertas ini ke gue." tanya Melodya ketus.


"Bukan gue yang ngasih. Kan gue udah bilang, gue disuruh Nathan buat ngasih kertas ini ke lo. Ya gue mana sempat nanyain alasan dia ngasih ini ke lo. Kalo lo mau tau mending lo tanya langsung ke Nathan. Gue mah kagak mau ye ikut campur. Tugas gue udah selesai. Sekarang kertas itu udah ada di tangan lo. Gue udah ngga peduli mau lo apain tu kertas. Udah, gue mau cabut. Oya, nama gue Satria. Tapi kalo lo mau manggil gue Manu Rios juga ngga masalah. Oke deh gue capek ngomong panjang kali lebar kali tinggi sama lo. Gue duluan." jelas cowok itu panjang lebar. Cowok itu segera pergi meninggalkan Melodya yang masih sibuk berkelut dengan pikirannya.


Melodya masih bingung dengan maksud cowok bernama Nathan itu. Kenapa dia memberikan kertas itu padanya? Darimana dia tau kalau Melodya mahir bermain biola? Ya, kertas itu adalah brosur yang berisi tentang kompetisi biola yang akan diadakan Minggu depan di gedung kota. Melodya menatap ke arah cowok bernama Nathan yang masih sibuk mendribble bola. Setelah 2 detik, Nathan balik menatap Melodya. Tatapan mereka bertemu sebentar sebelum akhirnya Melodya membuang muka. Ia meremas brosur itu lalu membuangnya ke tempat sampah. Ia sedikit berlari melanjutkan perjalanannya menuju ke gerbang sekolah karena kakaknya, Musical sudah menjemputnya. Tanpa ia sadari, Nathan masih saja menatapnya sampai raganya hilang di kejauhan.


*Flashback off*

__ADS_1


...✰✰✰✰...


__ADS_2