
"Ay, lo ngerasa aneh ngga sih?" Sasya dan Ayna asyik menyantap makannnya di kantin. Sekarang sudah istirahat kedua. Mereka tidak sempat makan saat istirahat pertama karena harus membantu Melodya.
"Aneh apaan?"
"Ya aneh aja. Maksud gue Melodya. Dia kayak nyembunyiin sesuatu ngga sih dari kita? Gue sih bukannya nethink ya, cuma gue ngerasa gimana gitu."
"Gue emang ngerasa sedikit aneh sih ngeliat Melodya akhir-akhir ini. Dia jarang bareng kita ya ngga sih? Tapi gue ngga mikir terlalu jauh lah, toh kita udah kenal dia. Melodya bakalan cerita kalau ada apa-apa. Kalo emang ada sesuatu, mungkin dia belum mau cerita apapun ke kita. Setiap orang punya privasi kan?" Ayna menjawabnya dengan santai. Ia memang baru mengenal Melodya saat MOS kelas X dibandingkan dengan Sasya yang sudah mengenal Melodya sejak kecil. Tapi karena beberapa kesamaan sifat, Ayna bisa mengerti Melodya.
"Iya sih. BTW, kok gue jadi nethink nya ke Nathan ya? Lo sadar ngga sih, akhir-akhir ini Nathan sering datengin Melodya dan mereka keliatan udah saling kenal gitu, buktinya mereka berdua sering ngobrol. Jangan-jangan mereka berdua backstreet?!" Sahabat Melodya yang satu ini tingkat ke-telmi-an dan kepolosanya sudah akut. Disaat orang lain berbicara serius, ia malah ngawur dan loading beberapa saat. Ia yang sudah mengenal Melodya bertahun-tahun bahkan belum sepenuhnya mengenal Melodya, tidak peka lebih tepatnya.
"Sembarangan! Ngga mungkin lah! Lagian ngga terlalu sering juga kali. Mereka kalo ketemu nih, kalo gue perhatiin, mereka cuma bicara seperlunya aja. Ya, secara kita semua paham gimana Melodya dan gimana Nathan. Gue ngerasa nih, si Nathan punya sesuatu sama Melodya." Ayna mengelap bibirnya denga tisu karena sudah selesai makan. Ia duduk dengan kedua tangan menumpu dagunya.
"Surprise maksud lo? Ya ampun Nathan ternyata so sweet ya." Sasya justru bertepuk tangan kegirangan. Ayna menepuk keningnya singkat.
"Bukan! maksudnya tuh, aduh apa ya? Masalah? Ah bukan. Problem? Ah, sama aja. Urusan? Nah, itu dia. Nathan kayaknya punya urusan sama Melodya."
"Urusan apa?" Tanya Sasya dengan wajah polosnya.
Ayna menoyor kening Sasya singkat, "Ya mana gue tau!"
......................
Pulang sekolah, Nathan menolak ajakan Satria yang ingin pergi ke rumah Kenzo untuk bermain PS. Jangan ditanyakan kenapa mereka memilih rumah Kenzo. Jelas saja karena selain otaknya yang luar biasa cerdas, Kenzo adalah gamers. Ia mengoleksi banyak stick PS di kamarnya.
"Hanar? udah pulang?" Tanya Mama Nathan, Nadia, saat Nathan membuka pintu rumahnya.
"Jangan panggil aku pake nama itu, Ma. Nama aku Nathan. N-A-T-H-A-N." Nathan tidak menunggu jawaban Mamanya. Ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Sampai di kamar, Nathan melempar tasnya ke sembarang arah. Ia merebahkan tubuhnya di kasur. Pikirannya kacau. Belum saatnya Melodya tau kalau dia adalah Hanar. Tetapi, melihat reaksi Melodya yang terlihat biasa saja dan malah terkesan terlihat bingung, membuat Nathan kesal. Masih teringat dengan detail saat gadis itu menolongnya lima tahun lalu.
Nathan bangkit dari kasurnya. Ia mengambil sebuah kotak di laci nakas. Ia membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung silver berliontin salah satu bentuk nada.
Terngiang kejadian itu, pertama kali ia bertemu Melodya.
__ADS_1
*flashback on*
Brakk
Nathan terjatuh dari sepedanya saat sebuah motor tak sengaja menyenggol sepedanya dan menyebabkannya oleng. Nathan terjatuh cukup keras sampai lutut, siku, dan telapak tangannya terluka. Ia bangkit dan menuju ke halte yang kebetulan tidak terlalu jauh dari jarak ia jatuh tadi. Ia menuntun sepedanya.
Pagi ini, Melodya baru saja dari minimarket yang tidak terlalu jauh dari rumahnya, sehingga ia hanya berjalan kaki. Ia melihat seorang cowok terserempet motor. Ia melihat cowok itu berjalan ke halte sambil menuntun sepedanya. Melodya merasa kasihan melihatnya. Ia menghampiri cowok yang ia pikir seumuran dengannya.
"Hai! Kamu kenapa?" Melodya duduk di samping cowok itu dan meletakan plastik berisi coklat dan eskrim yang baru saja ia beli di sampingnya.
Nathan yang sedang membersihkan lukanya dari pasir dan kerikil kecil mendongak. Melihat gadis cantik yang sedang menatapnya.
"*Aku ngga papa." J*awab Nathan. Ia kembali membersihkan lukannya.
"Kamu habis jatuh. Aku liat tadi. Sini, aku bantuin bersihin." Melodya menarik tangan Nathan. Ia mengambil sapu tangan yang selalu ia bawa di tas kecilnya. Perlahan ia membersihkan luka Nathan. Setelah selesai membersihkan sikunya, Melodya menarik kaki kanan Nathan ke atas pahanya. Lutut Nathan lecet. Ia juga membersihkan lututnya.
Nathan menatap Melodya dengan pandangan bingung. Ia sama sekali tidak mengenal Melodya, tapi gadis ini mau membantunya. Nathan sesekali meringis karena merasakan perih saat lukanya disentuh.
"Udah selesai." Melodya menurunkan kaki Nathan yang ada di pahanya.
"Ngga papa kok, makasih ya." Melodya mengangguk sambil tersenyum.
"Nama kamu siapa?" Tanya Nathan.
"Nama aku Melodya Anatasya. Kamu bisa panggil aku Melodya. Kalo kamu?"
"Namaku Nathan Ardiansyah. Kamu bisa panggil aku Hanar."
Melodya mengernyitkan keningnya, "Hanar? Nama kamu ngga ada kata Hanar-nya."
"Ngga tau deh, Mama sama Papa panggil aku gitu. Diambil dari suku kata terakhir sama pertama nama panjang aku. Nat-han Ar-diansyah." Jelas Nathan.
"Oo gitu. Oh iya, barusan aku beli coklat sama eskrim. Kamu mau?" Melodya mengambil sebatang coklat dan se-cup eskrim dari plastik belanjaanya.
"Boleh?" Tanya Nathan ragu.
__ADS_1
"Kenapa engga? Kakak aku bilang, kita harus suka berbagi. Nih ambil." Melodya menyodorkan coklat dan eskrim itu ke tangan Nathan.
"Wah, makasih ya. Aku makan ya?" Melodya mengangguk. Ia memperhatikan Nathan yang sedang makan eskrim.
"Kamu ngga makan juga?"
"Aku makannya nanti dirumah, bareng sama kak Musical."
"Itu nama kakak kamu?" Melodya mengangguk.
Melodya yang sedang asyik menatap Nathan, terkejut saat Nathan menyodorkan sesendok eskrim.
"Ayo, buka mulut kamu." Melodya membuka mulutnya dan akhirnya mereka berdua menghabiskan eskrim itu bersama.
Mereka sempat bercerita banyak hal, terutama tentang Melodya yang gemar bermain biola. Hingga akhirnya Musical datang dan menjemput Melodya. Mau tak mau, Melodya harus pulang saat itu.
"Aku pulang dulu ya." pamit Melodya.
"Iya, hati hati ya."
"Ayo, Melodya." Ajak Musical.
Melodya menatap Nathan sekali lagi yang juga sedang menatapnya. Akhirnya melodya naik ke depan sepeda Musical karena sepeda Musical adalah sepeda cowok ( you know lah😁). Melodya dan Nathan sempat melambaikan tangannya sebelum akhirnya Melodya hilang di kejauhan.
Nathan juga memutuskan untuk pulang. Sebelum ia menaiki sepedanya, ia melihat benda berkilauan tak jauh dari tempat ia duduk tadi. Ia mendekati benda itu dan mengambilnya. Sebuah kalung silver berliontin salah satu bentuk nada. Nathan memasukan kalung yang diyakini milik melodya itu ke kantung celananya. Ia berniat memberikan kalung itu jika bertemu lagi dengan Melodya. Kemudian ia mengayuh sepedanya pulang ke rumah.
*flashback off*
Ingatan itu kembali memenuhi pikiran Nathan. Bagaimana pertemuannya dengan Melodya, cewek yang baru dikenalnya yang sangat peduli dengan orang lain. Sejak saat itu, Nathan rajin mendatangi halte itu setiap sore atau sehabis pulang sekolah. Berharap ia bertemu lagi dengan Melodya. Ada rasa nyaman saat ia bersama Melodya, padahal mereka baru pertama kali bertemu. Nathan ingin mengembalikan kalung itu. Tapi sayangnya, setelah tiga tahun panantiannya, ia sama sekali tidak bertemu dengan Melodya.
Hingga saat Nathan masuk ke SMA Starlight, ia bertemu Melodya. Ia senang bukan main saat itu. Kesenangannya tak berlangsung lama saat ia tau sifat Melodya yang berubah. Ia terkenal sebagai cewek yang dingin, cuek, dan irit bicara. Semua hal itu menimbulkan sebuah tanda tanya besar di kepala Nathan. Melodya yang menolongnya saat itu adalah Melodya yang ceria dan suka tersenyum, berbanding terbalik dengan Melodya yang sekarang. Nathan mengurungkan niatnya untuk menemui Melodya lagi. Ia hanya memandang Melodya dari jauh, memperhatikannya diam-diam, dan juga mencari informasi tentang Melodya. Tak ada seorang pun yang tau, terutama Kenzo dan Satria, kalau ia sering memperhatikan Melodya, semua itu tertutup rapat oleh sifat Nathan yang memang dingin. Dan sejak itu pula, ia mengganti nama panggilannya menjadi Nathan. Bukan lagi Hanar. Ia ingin Melodya tidak mengingat dirinya lagi. Ia ingin menghapus ingatannya tentang pertemuannya dengan Melodya.
Nathan meletakan kembali kalung itu ke dalam kotak dan mengembalikannya ke laci nakas. Nathan beranjak dari kasurnya ke arah balkon kamarnya. Ia menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
"Liat gue yang selalu merhatiin lo disini. Liat gue yang rela bolak balik ke halte itu cuma buat nuggu lo selama tiga tahun. Liat gue sekali aja, Melodya Anatasya." batinnya.
__ADS_1
...****************...