MELODYA

MELODYA
Episode 15


__ADS_3

"Pokoknya hari ini Melodya mau berangkat sekolah."


"Iya, Kamu boleh sekolah, sayang."


"Tapi kamu jaga diri kamu ya, sayang. Nanti biar mama bilang ke Ayna sama Sasya, biar mereka jagain kamu."


"Pa, Ma, Ody masih pucet gitu kok dibolehin sekolah sih? Nanti kalo Ody kenapa-napa gimana coba?!"


Martin dan Eliyana saling pandang, kemudian tertawa. Bagaimana tidak, pagi ini, Melodya ngotot ingin berangkat sekolah, sedangkan Musical juga ngotot untuk melarang Melodya ke sekolah. Astaga, kedua anaknya ini terlihat sangat lucu sekarang. Mereka sama sama menampilkan wajah kesalnya.


Martin berhenti tertawa dan membuka suara, "Musical, adik kamu pasti baik baik aja kok. Kamu ngga perlu khawatir sampe segitunya lah. Papa juga biasa aja tuh."


"Tapi Pa---"


"No tapi tapian. Sini kalian," Martin mengulurkan tangan kanannya. Musical dan Melodya yang mengerti maksudnya langsung menyalami tangan Papanya. Setelah itu, mereka juga menyalami tangan Mamanya.


"Musical berangkat." Musical berpamitan dengan mukanya yang masih ditekuk.


"Melodya berangkat, Pa, Ma." Melodya berpamitan dengan wajah yang sangat ceria.


Martin dan Eliyana tertawa untuk kedua kalinya melihat perbedaan wajah kedua anaknya. Musical dan Melodya keluar rumah bersama. Musical melajukan mobilnya, mengantar Melodya terlebih dahulu.


......................

__ADS_1


Musical berjalan ke kantin kampusnya setelah menerima WhatsApp dari Nizam. Nizam bilang, ia sedang sarapan disana. Sesampainya di kantin, Musical melihat Nizam yang melambaikan tangannya ke arahnya. Musical pun segera menghampirinya.


"Ngapain lo, Zam?"


"Lo ngga liat gue lagi makan?" jawab Nizam sambil terus mengunyah. Nizam terlihat benar benar lapar seakan ia tidak makan selama tiga hari.


"Maksud gue ngapain lo nyuruh gue kesini?"


"Ya nemenin gue lah. Masa iya gue duduk sendiri disini, serasa jones banget gue." Musical tertawa geli mendengar jawaban Nizam yang nyeleneh.


"Ngga usah ketawa berlebihan gitu. Gue pernah baca di internet, tertawa berlebihan bisa mengakibatkan kematian." Nizam tertawa sendiri mendengar kalimatnya yang terdengar sok tau.


"Yee itu lo sendiri yang ketawa berlebihan. Gue belum mau dateng ke rumah lo terus ngucapin belasungkawa ya."


Nizam memberhentikan tawanya, "Iya iya, becanda elah. Lo ngga makan?"


"Ooo. Muka lo napa ditekuk gitu?" tanya Nizam disela sela kegiatan mengunyahnya.


Musical berdehem singkat, "Gue kesel, Melodya maksa berangkat ke sekolah. Padahal dia itu lagi ngga vit. Ck, bandel banget kalo dibilangin."


"Bokap sama nyokap lo ngizinin?"


"Iyalah!" Ketus Musical.

__ADS_1


"Yaudah."


Musical memutar bola matanya kesal, "Kok respon lo gitu amat sih, air zamzam?!"


"Nama gue Nizam, bukan air zamzam." Nizam menyingkirkan mangkuk bubur ayam yang sudah kandas. Ia meletakan kedua tangannya di atas meja dan menatap Musical.


"Jangan natap gue kek gitu, anjir."


Nizam tidak mempedulikan umpatan Musical. Ia sudah bersiap untuk memulai nasihatnya. "Nih ya, Cal, orangtua lo aja ngizinin adek lo sekolah. Kok lo malah ngelarang sih? Lagian nih ya, dia juga pasti bosen lah kalau di rumah terus. Lo aja kalo lagi kagak enak badan tetap maksa ke kampus. Padahal muka udah kaya mayat idup!" Nizam terkekeh di akhir kalimatnya.


"Ya tapi kan beda, Zam. Gue kuat, lah Melodya? Gimana nanti kalo dia sakit lagi? Gue ngga mau dia kenapa napa. Ngertiin dikit dong, Zam."


"Ish, najis, Cal. Ngertiin, ngertiin. Lo pikir kita pacaran apa? Kalo menurut gue sih, lo ngga perlu khawatir berlebihan gitu lah sama Melodya. Dia kan juga udah besar, udah tau mana yang bener mana yang salah."


"Ngga! Melodya itu masih kecil. Dia belum tau apa apa, Zam."


"Yaelah, yang sebenarnya bandel itu lo! Menurut ngana, Melodya itu bayi baru lahir apa yang belum tau apa apa?!"


"Ya bukanlah!"


"Lah yaudah." Nizam beranjak pergi meninggalkan Musical.


"Heh? Kok gue ditinggal sih?! Woy! Air zamzam!"

__ADS_1


"Bodo! Gue ngga denger, Cal!"


...****************...


__ADS_2