
'Lo itu cuma orang baru yang hadir di hidup gue, Nat. Lo ngga tau apa apa tentang gue!'
'Gue hampir kehilangan orang yang gue sayang kerena seseorang memanfaatkan kemahiran gue main biola! Puas lo?!'
Perkataan menusuk yang Melodya lontarkan tadi siang terus berputar di kepala Nathan. Nathan sedikit merasa bersalah karena sudah memberitahukan Pak Andre tentang Melodya. Ia tidak mungkin mencabut perkataannya lantaran video penampilan Melodya saat kompetisi sudah ada di ponsel Pak Andre. Nathan belum mengerti sepenuhnya tentang perkataan Melodya. Entah apa yang telah terjadi pada Melodya. Ia berpikir, kemungkinan hal itu yang menyebabkan Melodya menjadi gadis yang cuek.
Nathan mengambil ponsel di atas nakas, ia membuka WhatsApp lalu mencari nama seseorang. Ia mengetikan pesan singkat. Nathan merasa, ia harus bertemu dengan orang ini untuk mengetahui lebih lanjut tentang Melodya.
^^^NathanArdiansyah^^^
^^^Gue tunggu lo di cafe depan sekolah jam 7 besok pagi.^^^
......................
Musical menyemprotkan parfum kesukaannya ke sekujur tubuhnya. Ia baru saja selesai mandi karena tadi lembur menyelesaikan tugas di kampus hingga Maghrib. Ia mengecek ponselnya, hanya ada notif WhatsApp dari grup teman temannya, Nizam, dan...Salma, mahasiswa jurusan kedokteran di kampus yang sama dengannya, yang akhir akhir ini dekat dengannya karena suatu pertemuan yang tidak disengaja. Musical mengabaikan semua pesan itu, termasuk Salma, toh ia bisa membalasnya nanti saja. Ia keluar dari kamarnya dan nyelonong masuk ke kamar adiknya.
"Ish, hobi banget masuk kamar orang sembarangan." Celetuk Melodya yang sedang sibuk mengerjakan sesuatu di meja belajarnya.
Musical tersenyun lebar lalu duduk di sebelah Melodya, ia menggeser kasar badan Melodya yang kecil sehingga membuat pemiliknya terjatuh.
Gubrak!!!
"Ya ampun kak Ical! Pantat Ody mahal tauk!" Musical tertawa keras tanpa berniat membantu adiknya. Sedangkan Melodya mengerucutkan bibirnya, ia buru buru membereskan kertas kertas yang berserakan di meja belajarnya.
"Santai aja kali beresinnya. Kertas apa itu sih?" Kepo Musical. Ia mengambil selembar kertas yang belum diambil Melodya. "Chord biola?"
Melodya cepat cepat mengambil kertas itu dari tangan Musical. "Apa sih kak, jangan ganggu deh." Ia memasukan semua kertas itu ke sebuah map berwarna peach yang Musical ketahui berisi beraneka chord biola.
__ADS_1
"Ody," Panggil Musical lembut.
"Hm." Melodya masih sibuk membereskan kertas kertas itu dan memasukannya satu persatu ke dalam map.
"Melodya,"
"Hm."
"Dek,"
"Iya." Melodya masih saja menjawab panggilan kakaknya tanpa menoleh.
"Princess,"
"Astaghfirullah, apa sih kak?" Melodya meletakan map miliknya di atas meja belajar, lalu duduk di pinggir kasur menghadap Musical.
Melodya berdecak kesal, "Udah? Gitu doang? Ya udah tinggal beli."
"Temenin ayo." Musical merengek pada adiknya sendiri sambil menarik narik tangan Melodya layaknya seorang anak kecil yang merengek pada ibunya.
Tanpa ba-bi-bu lagi, Melodya meyambar jaket biru dongker di lemarinya dan menarik tangan Musical keluar kamar.
"Eh, bentar, kakak juga mau ambil jaket." Musical ngacir ke kamarnya mangambil jaket sedangkan Melodya turun ke bawah.
Di ruang keluarga, Martin tengah berkutat dengan laptopnya dan beberapa map di atas meja. Sedangkan Eliyana duduk di samping Martin sambil menonton TV setelah meletakan secangkir kopi untuk Martin.
Melodya menghampiri kedua orangtuanya untuk berpamitan. "Pa, Ma." Martin dan Eliyana kompak menoleh ke arah putrinya.
__ADS_1
"Ada apa, sayang?" Tanya Eliyana
"Ody sama Ical mau keluar sebentar, Ma." Jawab Musical yang datang tiba tiba dengan jaket yang sudah melekat di tubuhnya.
"Mau kemana?" Tanya Martin posesif. Ke-posesif-an Musical pada Melodya menular dari Martin. Martin selalu bersikap posesif pada kedua anaknya, dan pastinya, pada istrinya, Eliyana.
"Ke supermarket depan komplek, Pa."
Melodya melirik malas ke arah kakaknya, "Kak Ical tuh, stok keripiknya habis. Terus ngerengek ke Ody."
Martin menggelengkan kepalanya, Eliyana tersenyum geli. Martin mengambil dompet di kantung celananya, mengeluarkan dua lembar uang berwarnah merah.
"Nih, pake buat beli stok keripik kamu. Sekalian beli eskrimnya Ody tuh. Papa liat tadi di kulkas tinggal sedikit." Ucap Martin sambil memberikan uang itu pada Musical yang diterima dengan senyum lebar.
"Makasih, Pa." Ucap Musical dan Melodya kompak.
Saat Musical dan Melodya akan melangkah keluar, Eliyana menghentikan mereka. "Ody, coklat kamu Mama sita. Mama perhatiin kamu tambah gemuk sekarang. Mama ngga suka ya. Jadi kamu beli eskrim aja."
"Iya Ma iya. Ody tau kok." Melodya berjalan malas sambil menggandeng lengan kakaknya.
Martin dan Eliyana memang mengizinkan kedua anaknya untuk mempunyai stok cemilan seperti itu, selagi semuanya masih dibawah pengawasannya. Martin juga tidak selalu memberikan uang untuk itu, ia sengaja melatih anak anaknya untuk belajar manabung untuk membeli cemilan kesukaan mereka masing-masing.
Sedangkan Eliyana, ia selalu mengatur cemilan cemilan yang akan masuk ke dalam pencernaan kedua anaknya. Ia menyediakan lemari khusus di dapur berisi stok cemilan mereka, kecuali eskrim dan sebagian coklat Melodya yang memang harus berada di dalam kulkas. Eliyana mengatur berapa banyak dan kapan waktu yang tepat untuk memakan cemilan itu.
Seperti barusan, ia memperhatikan badan Melodya yang terlihat lebih gemuk, maka ia menyita coklat Melodya. Ia yang akan memakan coklat coklat itu. Setelah badan Melodya kembali normal, ia akan mengembalikan coklatnya.
Eliyana juga sering mengatur keripik kesukaan Musical yang beraneka rasa itu. Mulai dari barbeque, ayam panggang, rumput laut, keju, dan masih banyak lagi. Ia rajin membatasi konsumsi nya karena mengkonsumsi makanan penyedap rasa terlalu banyak tidak baik untuk kesehatan.
__ADS_1
...****************...