MELODYA

MELODYA
Episode 22


__ADS_3

Kenzo dan Satria yang hampir membuka mulutnya langsung dipotong oleh Nathan. "Ssttt, ngomongnya nanti aja. Gue mau ganti baju dulu."


Kedua sahabat Nathan akhirnya memilih untuk melanjutkan latihannya dengan rekan satu timnya yang lain. Ya, sore ini mereka berlatih basket untuk pertandingan beberapa hari lagi. Akhir akhir ini, anak anak basket rajin berlatih di lapangan basket indoor SMA Starlight. Mereka akan tanding di kandang sendiri, maka ada sebuah keharusan untuk menang. Terlebih lagi tim lawan adalah SMA Garuda. Sekolah yang tahun lalu sempat mengalahkan SMA Starlight dengan cara licik. Banyak anggota tim SMA Starlight yang mengalami cidera saat itu. Ditambah lagi kapten basket tahun lalu, Zino, yang juga mengalami cidera sehingga kerjasama dalam tim berkurang, semua egois, semaunya sendiri.


Kenzo mendudukan dirinya di pinggir lapangan. Ia meneguk air mineralnya hingga kandas. Seragam basket nya sudah dibasahi oleh keringat. Tak lama, Nathan yang sudah mengganti seragam sekolahnya dengan seragam basket ikut duduk di samping Kenzo. "Ngagetin aja lo, Nat."


"Lo darimana sih? Katanya izin 30 menit doang tadi, eh, gue tungguin sampe 1 jam lebih bro." Akhirnya kata kata Kenzo yang tadi terpotong oleh Nathan sudah diucapkan. Sebelum pulang sekolah, Nathan izin kepada Kenzo kalau ia ada urusan. Ya, urusan dengan Melodya tadi. Nathan hanya izin selama 30 menit, dan ia baru datang ke lapangan 1 jam setelahnya. Kenzo yang diberi tanggung jawab sebagai kapten sementara geram saat mengetahui Nathan terlambat. Tidak biasanya karena seorang Nathan selalu berusaha on time.


"Sori, tadi ada urusan penting, ngga bisa ditinggal."


"Urusan sama Melodya?" Nathan berdehem singkat untuk menjawab pertanyaan Kenzo.


"Lo suka sama Melodya?"


Deg.


Nathan menolehkan kepalanya ke arah Kenzo. Menatap tajam sahabatnya. Hingga suara Satria menginterupsi, "Woy, kapten! Ayo latihan! Buruan, udah pada nungguin noh."


Nathan mengalihkan pandangannya. Ia meninggalkan Kenzo yang sedikit merasa bersalah. Kenzo terbengong melihat punggung Nathan yang menjauh. Ia mengambil alih bola dan mendribble lalu melemparkannya asal ke ring, dan...masuk. Kenzo beranjak dan ikut bergabung ke lapangan, melanjutkan latihannya.


......................


"Ayah, Bunda!" Sasya berteriak riang menuruni tangga menuju ruang keluarga. Ayah dan Bundanya sedang asyik menonton TV bersama.


"Hei, sini duduk." Ajak Ayahnya, Amar, menepuk sofa disebelahnya. Sasya menggeleng. Ia memilih untuk duduk di tengah tengah Ayah dan Bundanya.


"Sayang, kamu ganggu tau." Ucap Bundanya, Nurisya, kesal.


Sasya menampilkan sederet giginya. Ia memeluk lengan kanan Nurisya dan lengan kiri Amar. Hal itu sontak membuat Amar dan Nurisya kebingungan. Putrinya itu gemar sekali bertingkah aneh, kadang manja, kadang tak peduli.


"Kau kenapa sih?" Tanya Amar.


"Ngga papa, Yah. Sasya bosen dikamar, makanya Sasya kesini. Mau gangguin Ayah sama Bunda." Nurisya tertawa mendengar penuturan putrinya, "Kamu itu, aneh aneh aja."


Suara bel rumah menghentikan tawa Sasya dan kedua orangtunya. Nurisya bangkit namun ditahan oleh Amar, "Biar aku aja." Amar berjalan menuju pintu utama. Ia membuka pintu, menampilkan seorang laki-laki yang dibalut jaket kulit hitam.


"Siapa?"


Laki-laki itu berbalik badan, ia segera tersenyum dan menyalami tangan Amar. "Saya Satria, om."

__ADS_1


Amar membalas senyum Satria untuk bentuk sopan, "Nyari siapa ya?"


"Nyari Sasya, om. Saya ini calon pacarnya Sasya." Jawab Satria dengan percaya diri yang tinggi. Amar mengerutkan keningnya bingung, "Calon pacar?"


"Hehee, iya om. Lagi otw."


Amar yang sudah kebingungan akhirnya mempersilahkan Satria untuk masuk. Satria dengan senang hati melangkah kan kakinya masuk ke rumah Sasya.


"Sasya, ada yang nyariin tuh."


"Siapa, Yah?" Tanya Sasya.


"Ayah ngga kenal. Tapi katanya, dia calon pacar kamu."


"Eh, anak Bunda mau punya pacar?" Goda Nurisnya.


Sasya langsung menuju ke ruang tamu. Disana ia melihat...'astaga, Satria!' batinnya. Satria tersenyum manis saat melihat Sasya datang. Penampilan Sasya di sekolah dan dirumah ternyata berbeda. Di sekolah, Sasya selalu berpakaian rapi dan sedikit terlihat lebih dewasa. Sedangkan Sasya yang dilihatnya sekarang, Sasya yang urakan dan khas anak anak. Ia mengenakan kaos polos berwarna biru laut, celana di atas lulut berwarna putih, sandal tidur berbentuk kepala kelinci yang juga berwarna putih, rambutnya acak-acakan, matanya sedikit berair dan sudah menyipit, sepertinya ia sudah mengantuk.


"Hai!" Sapa Satria.


"Ngapain lo kesini?" Tanya Sasya ketus.


"Silahturahmi."


"Yaudah, jujur nih, gue kesini mau ketemu calon pacar gue." Alis Satria naik turun menggoda Sasya.


"Geli gue, Sat." Sasya memasang tampang jijiknya kemudian duduk di sofa yang berseberangan dengan Satria.


"Lo mau ngapain sih sebenernya? Udah malem tau. Mana lo ngaku ngaku jadi calon pacar gue, geli tau ngga?!"


"Gue tau ini udah malem. Kan emang bener, lo itu calon pacar gue."


'jangan baper, Sya, jangan baper.' batin Sasya.


"Nah loh, blushing kan lo! Cieee lo blushing gara gara gue." Satria tertawa terbahak-bahak melihat pipi Sasya yang sudah memerah. "Ngarep jadi calon pacar gue beneran ya?"


Sasya merubah raut wajahnya menjadi ketus kembali, "Apaan sih lo. Udah sana pulang. Udah malem. Ngga baik bertamu malem malem. Apalagi ke rumah cewek."


"Lo ngusir?"

__ADS_1


"Iya. Puas lo?!"


"Galak banget sih lo."


"Suka suka gue."


"Yaudah nih gue balik." Satria berdiri dari sofa yang ia duduki.


"Eh, udah mau pulang?" Nurisya muncul dari ruang kelurga bersama Amar.


"Iya tante. Tuh, anak tante yang ngusir saya." Tunjuk Satria dengan dagunya.


"Heh! Ngga usah ngadu ngadu ya!" Sasya berkacak pinggang dan menaikan dagunya.


"Ssttt, Sasya, anak cewek harus lembut dong. Ngga usah ngegas gitu." Omel Nurisya.


"Tuh, dengerin nyokap lo. Nyokap lo aja lembut, anggun, cantik...."


Amar berdehem keras, menghentikan ucapan Satria. "Hehee, maaf om, saya ngga ada niat buat nikung om kok." Satria memasang cengiran kuda.


Setelah berbasa-basi sebentar, Satria akhirnya pulang. Sialnya, Sasya disuruh mengantar Satria sampai pintu depan.


"Gue pulang ya."


"Iya, udah tau. Pulang ya pulang aja sih."


"Ketus banget sih lo. Kagak ada yang suka mampus lo, ntar jones seumur hidup." Satria memasang helmnya dan mengait kan talinya.


"Lo nyumpahin gue hah?!"


"Ih apaan, pede banget sih lo. Tapi ya, gue heran, kenapa ada satu diantara sekian banyak manusia di dunia ini yang suka sama lo."


"Siapa?"


"Gue."


Jantung Sasya serasa mau copot saat itu juga. Satria mengatakan nya dengan fasih seolah tidak ada beban sama sekali. Sasya mengedepankan beberapa rambutnya, takut kalau ia blushing dan Satria mengetahuinya.


"Gue duluan."

__ADS_1


Sasya tersenyum tipis. Motor Satria keluar dari gerbang rumah Sasya. Sasya masuk kembali ke dalam rumahnya. Ia tidak mendengarkan Bundanya yang memanggil namanya. Ia langsung naik ke kamarnya. Melampiaskan perasaannya saat ini.


...****************...


__ADS_2