MELODYA

MELODYA
Episode 17


__ADS_3

Setelah bertemu dengan Melodya dan menanyakan keberadaan Sasya, Satria menuju ke kantin. Bola matanya bergerak memindai seisi kantin. Setelah menangkap objek yang ia cari, ia menghampirinya.


"Sasya!"


Pemilik nama menoleh, mencari orang yang memanggilnya. Ia terkejut setelah melihat seseorang memakai seragam basket melambaikan tangan ke arahnya. Orang itu berjalan santai mendekati Sasya.


"Hai. Masih inget sama gue?" Tanya cowok itu dengan nada menggoda.


Sasya sedikit gugup saat menjawabnya, "Hah? Emm..i-iya gu-gue ingat. Satria kan?"


Satria terkekeh geli melihat tingkah Sasya. "Seratus buat lo! Santai aja. Gue ngga gigit."


Ayna yang merasa menjadi obat nyamuk, memutuskan untuk pergi tanpa berpamitan pada Sasya ataupun Satria.


"Lo ngapain disini?"


"Gue...itu...anu, habis beli minuman." Sasya celingukan mencari Ayna yang tadi ada disebelahnya.


"Temen lo udah pergi." Ucap Satria santai.


"Hah? Kemana? Kok ngga bilang gue?!" Tanpa sadar, Sasya mengeluarkan suara toanya.


'Mampus gue! Nih mulut enak banget ngomongnya sih. Ngga tau kalo gue lagi ada di depan salah satu most wanted apa?!' teriak Sasya dalam hatinya.


"Ngga tau tuh. Udalah biarin aja. Temenin gue makan ya, gue laper banget nih, capek lagi. Ayo, ayo!"


Satria menarik tangan Sasya, membawanya ke salah satu meja kosong (bukan bangku kosong ya😂🤭). Cowok itu mendudukan Sasya di kursi lalu ia pergi memesan makanan. Setelah itu, Satria membawakan nampan yang berisi satu mangkok bakso dan sebotol air mineral dingin ke mejanya. Ia duduk dan mulai menyantap baksonya dengan lahap. Terlihat sekali jika ia memang lapar.


Sasya kebingungan melihat Satria yang makan dengan lahap. Ia jadi ikutan lapar. Tanpa sadar, ia menatap intens cowok dihadapannya sekarang. Satria yang merasa sedang ditatap pun mendongakkan kepalanya. Ia kebingungan melihat cewek didepannya yang sedang menampilkan wajah polosnya.


"Hei!" Sasya terlonjak kaget saat Satria mengagetkan nya sambil menggebrak meja yang ia tempati. Botol air mineralnya pun hampir terjatuh ke lantai. Seisi kantin menatap mereka berdua dengan tatapan yang berbeda. Ada yang menatap bingung, kaget, iri, jijik, dan lain-lain.


"Ngeliatin apa sih lo?"


Sasya memutar bola matanya, "Ngeliatin lo makan lah!"


"Weh, santai dong. Jangan ngegas. Tapi ngga papa sih, gue seneng kalo lo mau nunjukin sifat asli lo di depan gue." Satria tersenyum singkat lalu melanjutkan kegiatan makannya.

__ADS_1


"Lo ngga mau nawarin gue makan, Sat?" Tanya Sasya refleks. Ia bener bener lapar, ditambah melihat Satria yang sangat lahap menyantap baksonya.


Satria mendongak, "Lah? Lo laper? Kenapa ngga pesan aja?"


"Lo kan ngga ngajak gue, Sat!"


"Lah? Kurang jelas ya? Kan tadi gue bilangnya 'temenin gue makan' itu artinya lo cuma nemenin gue, bukan makan bareng. Dan satu lagi, jangan panggil gue Sat karena gue bukan BANGSAT, panggil gue Satria kan bisa. Heran gue, Nathan sama Kenzo juga hobi banget manggil gue Sat." jelas Satria panjang lebar. Sepertinya Satria memang suka menjelaskan dengan detail dengan kalimat yang panjang, ya, seperti saat ia menjelaskan pada Melodya dulu.


Sasya kesal mendengar perkataan Satria. Ia beranjak pergi dari kantin tanpa mengucapakan sepatah katapun pada Satria. Ia berjalan cepat menuju kelasnya. 'Dasar cowok ngga peka!' batinnya.


Satria mengerutkan keningnya setelah melihat kepergian Sasya. 'Lah? Gue salah apa? Emang cewek itu rumit!' batinnya.


......................


"Heh, dicariin dari tadi! Kemana lo hah?!" Kenzo berkacak pinggang melihat salah satu sahabatnya masuk ke ruang ganti khusus anak anak basket. Disana hanya ada Kenzo karena yang lain sudah ganti baju terlebih dahulu, Kenzo sengaja menunggu kedua sahabatnya.


"Biasa aja dong Abang Kenzo yang pinternya ngalahin mimi peri."


Kenzo menjitak kepala Satria cukup keras. Sahabatnya yang satu ini gilanya nauzubillah. Tapi Kenzo bersyukur karena persahabatannya lengkap. Nathan yang dingin, cuek, dan irit bicara, Satria yang gila, konyol, dan hobi ngelawak. Semuanya saling melengkapi. Kenzo selalu mencoba mengimbangi sifat keduanya, terkadang ia cuek seperti Nathan, dan terkadang konyol seperti Satria.


"Sakit kepala adek, Bang!" Satria mengusap keningnya yang baru saja dijitak Kenzo.


"Dedek habis dar---"


"Najis banget lo, Sat!" Tiba tiba Nathan datang dengan botol botol minuman bermacam jenis di kedua tangannya.


"Widihh, habis ngapain lo, Nat? Banyak banget njir, bagi satu." Nathan meletakan botol botol yang ia bawa di meja. Lalu ia melempar salah satu minuman berasa apel ke arah Kenzo yang ditangkap dengan baik.


Cowok itu mendudukan badannya di lantai dengan posisi kedua kaki lurus dan kedua tangannya direntangkan. Sesekali ia menyeka keringat yang menetes dari pelipisnya. "Biasa, fans gue banyak. Mereka keroyokan ngasih ini ke gue. Panas banget gila!" ucapnya sambil mengipasi tubuhnya dengan tangannya.


"Gaya lo! Siapa sih fans lo? Paling paling juga cewek yang bedaknya kek dempul tembok itu kan? Sapa namanya? Penah, ye?"


"Fennah." jawaban Kenzo sukses membuat Satria tertawa terpingkal-pingkal. Nathan mengangkat sebelah alisnya.


"Ya ampun, Abang Kenzo! Lo inget nama tuh cewek? Cewek yang ngebet banget pengen fotbar sama kita waktu turnamen tiga bulan lalu itu kan? Amit amit gue."


"Untung waktu itu pak Andre manggil kita. Kalo engga?" Kenzo ikut tertawa mengingat tingkah Fennah saat itu.

__ADS_1


"Lo habis darimana, Sat?" tanya Nathan.


"Udah berapa kali gue bilang kalo---"


"Iya gue inget, lo ngga suka dipanggil Sat karena lo bukan BANGSAT yakan? Tapi kalo menurut gue sama Nathan nih ya, lo itu sifat BANGSATnya udah tingkah akut, Sat." potong Kenzo yang menekankan kata bangsat dan langsung di angguki oleh Nathan.


"Terserah lo lah!" Satria berdiri, berniat keluar. Namun kaki kirinya ditahan oleh Nathan yang memang sedang duduk di lantai. "Duduk lo. Ngambekan banget."


Satria menuruti perintah Nathan. Ia kembali duduk ke kursi yang tadi ia duduki. "Tadi gue habis dari kantin---"


"Ngapain?!" Heboh Kenzo.


"Heran gue, dari tadi lo selalu motong perkataan gue. Maksud lo apa sih?!"


"Santai bro." Nathan mencoba menenangkan Satria.


"Hehee, sori sori. Lanjut."


"Gue pengen ketemu sama Sasya. Gue ketemu dia disana dan ngajak dia buat nemenin gue makan. Pas gue lagi asyik makan, dia ngeliatin gue tuh. Nah terus---"


"Jangan ke-GR-an lo!" sekarang Nathan yang memotong ucapan Satria.


"Sekali lagi ada yang motong ucapan gue, gue pergi nih." Ancam Satria. Nathan hanya menunjukan jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V sambil tersenyum tipis.


"Dia malah bilang kalo dia kagak gue tawarin. Yaudah gue suruh dia pesen kan ye. Dia bilang, gue ngga ngajak dia. Lah, gue jelasin kalo gue itu nyuruh dia buat nemenin gue makan, bukan ngajak dia makan bareng. Nah dia malah pergi gitu aja. Mana dia manggil gue nya Sat, kagak enak banget kan ya. Masa iya gebetan gue sendiri manggil gue kek gitu, yaudah gue jelasin ke dia sekalian kalo gue ngga suka dipanggil gitu. Eh, dia pergi ngga tau kemana, terus ya gue lanjutin makan deh."


"Bego!" Ucap Nathan dan Kenzo bersamaan. Satria menatap kedua sahabatnya bingung.


"Udah tau dia cewek. Harusnya lo peka dong! Gimana sih lo?!" Kenzo membuka botol minum yang sedari tadi memang sengaja belum dibuka dengan kasar lalu meneguknya.


"Ya terus gue harus ngapain? Bener kan perkataan gue?" Tanya Satria polos. Kenzo memutar bola matanya kesal.


Nathan sedikit tidak mengerti pembicaraan Satria, "Sasya? Sasya sahabatnya Melodya?" Tanyanya spontan. Kenzo dan Satria menoleh kompak ke arahnya membuat dirinya tambah bingung.


"Nah, iya bener!"


"Melodya siapa?"

__ADS_1


"Hah? Emm...ngga penting, Ken. Gue mau ganti baju, gerah." Nathan mengambil seragam identitas sekolahnya dari tasnya. Ia menuju ke salah satu bilik di ruang ganti itu. Kenzo bingung dengan maksud Nathan, mengangkat alisnya, meminta penjelasan pada Satria yang hanya dibalas dengan endikkan bahu.


...****************...


__ADS_2