MELODYA

MELODYA
Episode 6


__ADS_3

Pagi ini, Ayna menguap dengan lebar saat Bu Misna keluar kelas. Guru yang mengajar pelajaran biologi itu hari ini menjelaskan tentang perkembangbiakan jamur. Oh, sebagian besar siswa kelasnya mengantuk karena pelajaran biologi kali ini.


"Woy, Ay! Tarikin uang kas gih." Dika, partner Ayna dalam kegiatan menarik uang kas menepuk pundak Ayna. Tak lupa ia membawa sebuah buku dan dompet di tangannya. Buku berisi data pembayaran uang kas kelas, dan dompet berisi sebagian uang kas, karena yang sebagian lagi dimasukan ke bank oleh Ayna.


"Gue ngantuk, Dik." Ayna melipat kedua tangannya di meja dan menelungkupkan kepalanya.


"Bendaraha macam apa lo? Buruan elah. Kalo ngga mau gue laporin Bu Aisyah ni."


"Bodoamat. Gue ngatuk. Jangan ganggu!"


Dika mencibir. Ia berkeliling kelas sambil menarik uang kas.


"Woy, bayar kas!" Ucap Dika saat sampai giliran meja Melodya dan Sasya.


Sasya melirik Dika. "Sans dong. Berapa punya gue?"


"Gue juga. berapa?" Melodya ikut bertanya.


"Emm...bentar. Sasya Farasya...kas lo minggu lalu juga belum di bayar kan, jadi nya sekarang lo harus bayar 20 ribu. Dan lo, Melodya Anatasya...kas lo cuma buat minggu ini, jadi 10 ribu".


Sasya mengerutkan keningnya. Dia lupa kalau ternyata minggu lalu belum membayar uang kas. Ia mengecek saku seragamnya. Memastikan berapa jumlah uang yang ia bawa hari ini. "Bendahara laknat lo. Uang saku gue habis dong cuma buat bayar kas."


"Gue gak peduli. pokoknya lo harus bayar hari ini juga." Sasya memberikan semua uangnya. Ia malas jika harus berurusan dengan bendahara satu ini. Ayna saja santai, lah ini? Biar saja ia tidak jajan hari ini, asalkan urusannya dengan Dika selesai.

__ADS_1


Melodya memberikan satu lembar uang berwarna ungu pada Dika yang diterima dengan senang hati. Memang dasar bendahara lucknut!


...****************...


Pikiran Melodya tidak fokus sejak tadi. Ia terus kepikiran tentang perkataan Nathan kemarin.


'gue tau semua tentang lo, Melodya'


Apa saja yang ia tahu tentangnya? Bagaiman bisa ia tahu? Untuk apa ia mengetahui itu? Melodya berusaha menyingkirkan semua pertanyaan yang ada di benaknya.


"Sya, lo ngga ke kantin?"


"Uang gue udah habis buat bayar kas, Mel." Sasya mengambil buku dari tasnya. Membuka halaman paling belakang. Ia mengambil pulpen dan mulai menyoretkan apa saja yang ada di pikirannya, menghasilkan gambar abstrak, salah satu kebiasaan Sasya saat gabut.


Melodya berdiri di depan kelasnya. Ia memandang ke bawah, tepatnya ke lapangan basket. Terlihat anak-anak basket sedang latihan. Kabarnya, bulan depan akan diadakan pertandingan basket di sekolahnya. Ayna bilang, sekolahnya akan bertanding melawan SMA Garuda. Melodya sedikit tidak peduli dengan pertandingan itu. Toh sekolahnya tahun lalu meraih juara 1 lima kali berturut-turut.


Gadis itu mengedarkan pandangannya. Tak sengaja, pandangannya berhenti di seorang cowok yang baru saja memasukan bola ke dalam ring. Dia lagi. Melodya heran, ia memang tidak asing dengan cowok itu, karena dulu saat masuk kelas X, cowok itu sering digosipkan oleh kebanyakan cewek. Apalagi yang digosipkan cewek selain ketampanannya?


Cowok itu, Nathan, dan kedua temannya, mungkin sahabatnya, siapa yang tidak kenal mereka bertiga? Nathan, Satria, dan cowok korea yang belum Melodya ketahui namanya. Sasya bilang, mereka bertiga berada di kelas sebelah, kelas XI IPA 1. Melodya heran, mengapa setelah tiga bulan ini ia jarang melihat ke tiga cowok itu? padahal jelas jelas kelas mereka sebelahan. Maklumlah Melodya selalu menjauh jika Ayna atau Sasya membicarakan cowok. Setelah satu tahun bersekolah di sekolahnya pun Melodya belum menghafal semua nama siswa seangkatannya. Mungkin ia sedikit hafal wajahnya, tapi namanya? Ah, masa bodo dengan itu. Melodya toh selalu berusaha tersenyum jika mereka tersenyum padanya saat bertemu atau berpapasan.


Saat asyik melamun, Melodya merasa ada seseorang yang menepuk pundaknya. Ia berbalik, sedikit terkejut melihat seseorang di hadapannya sekarang. Nathan. Sebelum Melodya melamun, cowok itu masih di lapangan, lalu sekarang ada disini? Astaga, Melodya pusing membayangkannya.


Nathan memasang muka datarnya. Hanya saja napasnya sedikit tidak teratur dan keringatnya menetes di pelipis dan lehernya. Melodya yang sedang menatapnya sebenarnya 'sedikit' terpesona. Sedikit ya! Hanya sedikit ! Bayangkan saja, cewek mana yang tidak akan terpesona? Rambutnya basah, keringatnya bercucuran, menggunakan seragam basket kebanggaan sekolah, ditambah lagi kain bertulisakan KAPTEN yang melingkar di lengan kanannya. Sungguh, nikmat mana yang engkau dustakan.

__ADS_1


"Gue mau lo ikut kompetisi itu." Ucap Nathan dengan suara yang kelewat datar. Melodya sangat terkejut mendengar pernyataan itu, mungkin bukan pernyataan, tapi perintah. Nathan ini siapa? Ada hak apa ia menyuruh Melodya untuk mengikuti kompetisi itu?


Melodya memang sudah terbiasa dengan kompetisi seperti itu, hanya saja kali ini ia tidak ingin ikut, karena bulan lalu ia sudah mengikuti kompetisi biola yang diadakan di gedung seni yang ada di kotanya. Ia ingin istirahat sejenak dari kompetisi apapun.


Melodya tersenyum miring untuk menutupi keterkejutan nya saat mendengar pernyataan, oh, perintah Nathan. "Buat apa gue ikut?"


"Gue mau liat penampilan lo." Napasnya sekarang sudah teratur kembali. tapi Ia masih saja stay cool.


"Sesederhana itu alasan lo?"


"Ya." Satu kata yang entah mengapa terdengar menantang di telinga Melodya.


Melodya menyilangkan kedua tanganya di depan dada. "Apa yang lo mau, Nathan Ardiansyah?"


Nathan geram mendengar pernyataan gadis yang ada di hadapannya sekarang. Ia mencoba sabar, menarik napas sebentar.


"Gue cuma mau lo ikut kompetisi itu. Sampe ketemu di gedung kota besok lusa." Nathan meninggalkan Melodya yang cukup kesal mendengar perkataan Nathan.


'Mau apa dia? Apa untungnya gue kalau gue ikut kompetisi itu? oke, untuk kali ini gue dengerin perkataan lo, Nathan Ardiansyah. Gue bakalan ikut kompetisi itu.' batin Melodya.


...✰✰✰✰✰...


LIKE,KOMENT,AND RATE⭐

__ADS_1


__ADS_2