
Lagu itu berakhir dengan baik. Nathan dan Melodya menyanyikan lagu dengan apik. Tanpa koordinasi terlebih dahulu pun, mereka bisa membagi lirik lagunya.
"Panas gila! ACnya dinginin lagi dong." pelipis Satria sudah dipenuhi keringatnya. Harus diakui, permainan drum Satria patut diacungi jempol.
Sasya yang berada di dekat meja tempat remote AC berada, mengambilnya dan mendinginkan suhunya. "Sampe segitunya, Sat?"
"Udah biasa. Itung-itung olahraga. Tangan sama kaki gue kan jadi gerak semua. Music is everything." Satria berkata sambil tersenyum. Ia melonggarkan dasinya dan melepas dua kancing seragamnya yang paling atas.
"Heh! Lo mau ngapain Sat?! Gue cewek dodol!" heboh Sasya.
"Apaan sih? Gue pake baju dua kok. Nih." Satria menunjukan kaos putih di balik seragam sekolahnya. Sasya bernapas lega.
"Pikiran lo kemana mana ya? Ngaku lo." serbu Ayna.
"Paan si ah."
"Udah ini kita latian yang bener kapan?!"
Mereka semua menengok ke arah Nathan yang tiba-tiba berteriak. Sepertinya ia bosan.
"Heh dodol! Yang latian kan cuma lo. Gue sama yang lain kan cuma bantu. Ralat, yang latian lo sama Melodya."
"Mending kita ke rumahnya Melodya, yuk! Kita latihan disana. Melodya punya ruang musik loo." ajak Ayna.
__ADS_1
Melodya membulatkan matanya. "Kok gue sih? Kenapa juga lo yang ngajak, kan itu rumah gue."
"Yaudah santai aja sih. Ngga papa lah, Mel. Udah lama juga gue ngga main ke rumah lo. Kuy!" Sasya mencabut kabel keyboard lalu menggendong tasnya.
"Kuy lah!" Ayna, Kenzo, dan Satria juga melakukan hal yang sama. Membereskan alat musik masing-masing lalu menggendong tasnya.
"Woy, tungguin gue!!!" Melodya buru buru mengembalikan mikrofon ke tempatnya semula. Ia mengambil tasnya. Ketika melihat Nathan yang masih diam di tempat, ia merebut mikrofon yang masih dipegang Nathan lalu dikembalikan ke lemari. Melodya mengambil tas Nathan dan menarik paksa tangan pemilik tas itu.
Mereka berenam sampai di parkiran sekolah. Nathan dan Melodya yang tadi tertinggal juga sudah ada.
"Ay, pesen taksi buruan." suruh Sasya. Dalam hal pesan online entah itu barang, makanan, ojol, semua menjadi urusan Ayna.
"Eh...udah ngga usah, Ay. Gue nyuruh kak Musical njemput kita aja irit duit."
"Ngga usah. Lo sama gue." ucap Nathan.
Nathan membawa Melodya ke sebelah motor sport miliknya. Ia naik terlebih dahulu, memakai jaket dan helm full face nya, lalu menyuruh Melodya untuk naik. "Naik buruan" Melodya masih saja diam. Tatapan matanya seakan ingin menerkam mangsa didepannya.
"Ngeliatin guenya b aja. Gue tau gue ganteng."
"Ish. Geli banget gue tau ngga."
"Buruan naik."
__ADS_1
Melihat Melodya yang masih diam, membuat Nathan kebingungan. "Ngga bisa naik? Ketinggian? Makanya tinggiin badan!" Nathan tertawa kecil di dalam helm full face nya.
"Lo aja yang mirip tiang listrik. Dasar kulkas nyebelin!"
"Ayo naik." Nathan mengulurkan tangan kirinya untuk tumpuan Melodya. Melodya memang tergolong pendek. Tingginya saja hanya sepundak Nathan. Oke, mungkin karena Nathan yang mirip tiang listrik.
Setelah memposisikan duduknya, motor Nathan melaju terlebih dahulu keluar gerbang sekolah. Meninggalkan Kenzo, Satria, Ayna, dan Sasya yang sedang berteriak heboh karena melihat mereka berdua.
"Sya." panggil Satria. Sasya mengangkat sebelah alisnya.
"Lo sama gue ya?" Sasya hanya mengangguk sambil tersenyum. Ia langsung naik ke motor Satria. Biarpun sedikit grogi, Sasya tidak kesulitan naik ke motor sport milik Satria karena Sasya memang sedikit tomboi. Jika saja ia tidak bersahabat dengan Melodya dan Ayna yang feminim, pasti ia sudah menjadi gadis yang bener-bener tomboi.
Motor Satria sudah berjalan menyusul Nathan. Kini tersisa Ayna dan Kenzo. "Ayo Ay!" Ayna mengangguk lalu mendekati Kenzo yang sudah siap di atas motor sport nya.
Trio most wanted ini sama sama menggunakan motor sport, hanya warna saja yang membedakan. Nathan warna hitam, Kenzo warna merah, dan Satria warna putih. Mereka bertiga juga sama sama selalu memakai jaket saat naik motor, tak lupa dengan helm full face nya. Ketampanan mereka akan bertambah berkali lipat saat masing-masing menaiki motor.
"Kalo susah naiknya, pegang pundak gue aja, Ay."
Ayna melakukan apa yang dimaksud Kenzo. Baru saja ia memikirkan cara supaya bisa naik. 'Ken, kok lo peka banget si? Gemes gue jadinya.' batinnya.
"Udah?"
"Iya."
__ADS_1
Kenzo tersenyum di balik helm full face nya. 'Akhirnya lo naik motor ini sama gue Ay." motor Kenzo keluar gerbang sekolah, menyusul kedua sahabatnya yang sudah berada di depan.
...****************...