MELODYA

MELODYA
Episode 19


__ADS_3

"Melodya Anatasya!"


Melodya yang sedang mencatat pelajaran yang ada di papan tulis mendongak ketika Bu Misna memanggilnya. "Iya Bu?"


"Kamu ke ruang kesenian sekarang juga. Pak Andre memanggil kamu." Melodya bingung dengan perkataan Bu Misna. Untuk apa Pak Andre memanggilnya, apalagi di ruang kesenian. Ia meletakan pulpennya lalu beranjak keluar kelas setelah mengucapkan terimakasih kepada Bu Misna.


Gadis itu berjalan santai di koridor. Koridor sepi kali ini karena sedang jam pelajaran, kecuali yang sedang jam olahraga di lapangan tentunya. Setelah sampai di depan ruang kesenian yang ada di lantai tiga itu, ia mengetuk pintu. Terdengar suara Pak Andre menyuruhnya untuk langsung masuk. Melodya melangkahkan kakinya menuju ruang khusus di dalam ruang kesenian yang memang tersedia untuk Pak Andre, guru kesenian.


"Bapak manggil saya?" Tanyanya sopan.


"Iya. Silahkan duduk, Melodya." Melodya duduk di hadapan Pak Andre. Selama beberapa detik terjadi keheningan hingga Pak Andre mulai bersuara.


"Apa bakat kamu dalam alat musik?" Melodya mengerutkan keningnya, bingung akan maksud pertanyaan Pak Andre yang menurutnya to the point.


"Saya dengar, kamu hobi bahkan mahir bermain biola?"


Deg.


Gadis itu sukses membulatkan matanya. Muncul banyak pertanyaan di benaknya. Bagaimana bisa Pak Andre tau? Di sekolah ini, yang tau akan hal itu hanya Sasya dan Ayna. Sangat tidak mungkin jika mereka yang memberitahu Pak Andre.


"Emm...saya tidak memiliki hobi bahkan tidak mahir dalam bermain biola, Pak." Ucapnya sambil meremas roknya.


Pak Andre menatap intens siswi di depannya. Pak Andre itu dapat membaca ekspresi seseorang, jadi banyak sekali siswa yang lebih memilih menunduk saat bicara dengan beliau. Tetapi siswi di depannya justru dengan sangat beraninya menatapnya sejak awal menginjakan kaki di ruang kesenian.


"Saya sudah tau semuanya, Melodya. Kamu tidak perlu menyembunyikan hal itu. Justru kalau kamu mau memberitahukan kepada saya sejak dulu, saya pasti akan mengirim kamu untuk mengikuti kompetisi biola untuk mewakili sekolah ini."


"Tapi Pak, saya---"


"Saya tidak suka murid yang membohongi saya." Ucap Pak Andre dengan sedikit penekanan.


"Baik, saya akui kalau saya memang hobi bermain biola. Tapi kalau mahir, saya tidak ingin menyombongkan diri, Pak." Pak Andre tersenyum simpul mendengar penuturan siswinya.


"Kalau boleh saya tau, siapa yang memberitahu Bapak tentang ini?" Melodya memberanikan dirinya menanyakan hal ini karena sejak tadi tanda tanya besar muncul di kepalanya.


"Siswa kelas XI IPA 1, Nathan Ardiansyah."


Deg.

__ADS_1


Melodya menghela nafas kasar. Ia melupakan satu nama. Nathan, cowok itu juga tau kalau Melodya mahir bermain biola. Gadis itu meremas roknya lebih keras untuk meredam kekesalannya pada Nathan.


"Kamu seharusnya berterimakasih kepada Nathan. Sebentar lagi, akan ada pentas seni untuk kegiatan akhir semester. Saya yakin kalau Nathan tidak memberitahu saya, maka kamu pasti tidak akan menunjukan bakat kamu. Dan saya harap, saat pentas seni besok, kamu mau menunjukan bakat kamu itu. Anggap saja itu suatu tantangan dari saya, Melodya Anatasnya."


Melodya berusaha bersikap sopan di depan Pak Andre setelah mendengar semua perkataan Pak Andre. Bagaimana bisa ia harus berterimakasih? Ia justru ingin mencakar wajah Nathan yang sudah berani beraninya membongkar rahasia yang ia sembunyikan selama bersekolah di SMA Starlight.


"Maaf pak, tapi saya menolak tantangan bapak."


Pak Andre mengangkat sebelah alisnya. "Kenapa?"


"Saya hanya ingin menjaga privasi saya." Wajah Melodya yang tadinya terlihat 'sedikit' ramah, kembali menjadi ke awalnya, cuek.


"Saya tidak peduli. Itu urusan kamu. Saya bukannya mengganggu privasi kamu, saya hanya ingin kamu lebih terbuka. Semua guru tau kalau kamu termasuk siswa yang cerdas dan juga rajin. Tapi sifat kamu yang cuek itu bisa saja menutup pandangan orang lain tentang sifat baik kamu yang sebenarnya. Saya hanya ingin kamu lebih mengekspresikan diri kamu. Saya juga sudah melihat video rekaman kamu saat kamu mengikuti kompetisi biola, bahkan saya punya videonya. Saya tetap ingin menantang kamu dan saya harap kamu memikirkan ini baik baik."


Pak Andre memberi jeda untuk mengambil nafas, "Sekarang kamu boleh kembali ke kelas dan tentunya, memikirkan jawaban atas tantangan saya. Sekali lagi, saya harap kamu menerima tantangan saya."


Melodya bangkit dari kursinya, ia tersenyum singkat pada Pak Andre, "Saya permisi."


Melodya keluar dari ruang kesenian dengan perasaan yang campur aduk. Pikirannya melayang kemana mana. Pak Andre, biola, pentas seni, dan Nathan. Ia berniat akan menemui Nathan pulang sekolah nanti menanyakan maksudnya.


Saat pergantian pelajaran, Melodya mengeluarkan ponselnya. Ia mencari salah satu nama di kontaknya. Nathan. Beberapa waktu lalu, Satria sempat memberikan nomor WhatsApp Nathan. Ia bilang jika suatu saat ia butuh sesuatu, ia bisa menghubungi Nathan. Awalnya Melodya menolak, tetapi ia rasa mungkin suatu saat ia memang membutuhkan nya sehingga ia menerimanya.


Melodya mengetik sesuatu untuk Nathan.


^^^Melodya.Anatasya^^^


^^^Gue pengen ketemu lo pulsek nanti.^^^


^^^Gue tunggu di parkiran^^^


Setelah selesai, ia membuka room chat nya dengan Musical dan mengetik pesan.


^^^Melodya,Anatasya^^^


^^^Kak, nanti pulang ngga usah jemput Ody ya. Ody pulang sendiri aja.^^^


Tidak sampai 10 detik, notifikasi masuk ke ponsel Melodya

__ADS_1


Kak Musicalā¤


Mau ngapain?


Melodya mendengus kesal. Ia yakin, disana, kakaknya sedang ngedumel tidak jelas. Ia pasti sedang mengkhawatirkan nya.


^^^Melodya,Anatasya^^^


^^^Nanti Ody ceritain di rumah. Boleh ya? Kali ini aja kak😚^^^


Kak Musicalā¤


Oke untuk kali ini aja. Tapi inget jangan pulang kesorean. Sampe jam 6 kamu belum pulang, kakak ambil semua stok coklat sama eskrim kamušŸ˜


Melodya membulatkan matanya. Coklat dan eskrim kesayangannya akan diambil oleh kakaknya?


^^^Melodya.Anatasya^^^


^^^Iya kakak sayang. Ody ngga bakalan pulang telat kok. Udah ya kak, Bye. Love you😘^^^


Kak Musicalā¤


Love you too, Princess😘


Melodya menekan opsi keluar dari aplikasi berwarna hijau. Saat ia akan menekan tombol off pada ponselnya, muncul notifikasi. Ia segera membuka aplikasi berwarna hijau itu.


Nathan


Y.


Melodya ingin sekali membanting ponselnya untuk melampiaskan kekesalannya pada Nathan. Tapi ia masih sayang dengan ponselnya yang merupakan hadiah dari papanya saat ia lulus SMP.


"Dy, Pak Adi masuk noh. Matiin handphone lo."


Melodya mematikan ponselnya saat mendengar perkataan Sasya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2