
Guru di kelas Melodya mengakhiri pelajaran dengan mengucapkan salam lalu keluar kelas, hingga membuat siswa siswi segera bersiap-siap untuk pulang. Ayna yang terlebih dulu selesai membereskan alat tulisnya, menuju ke meja Melodya dan Sasya.
"Yuk pulang!" Ajaknya dengan wajah yang ceria meskipun sudah sedikit kucel karena beraktivitas seharian.
"Kalian duluan aja, gue ada urusan." Melodya yang terlihat masih santai alias belum beres beres.
Ayna dan Sasya saling bertatapan sesaat sebelum Sasya menjawab, "Yaudah, gue sama Ayna duluan ya, Mel. Lo jangan pulang telat, nanti kakak lo nyariin."
"Iya. Gue udah kasih tau kak Musical kok."
"Kita duluan, Mel." Sasya dan Ayna berjalan beriringan keluar kelas. Kini hanya tersisa Melodya di kelasnya, dan beberapa teman sekelasnya yang sepertinya sedang kerja kelompok.
Melodya langsung membereskan alat tulisnya saat menerima WhatsApp dari Nathan.
Nathan
Gue udah di parkiran.
Melodya sedikit berlari menuju ke parkiran. Saat tiba disana, ia melihat Nathan sedang asyik bercengkrama dengan kedua sahabatnya, Kenzo dan Satria. Melodya menghentikan langkahnya. Hingga Kenzo yang pertama kali menyadari keberadaannya.
"Hai! Sini, Mel!" Melodya mendekat ke ketiga cowok itu dengan wajah khasnya, datar.
"Hai Melodya!" Sapa Satria. Melodya membalas dengan say hai juga karena memang Melodya bisa dibilang cukup akrab dengan Satria. Ya, dia sering bertemu Satria setelah kejadian saat Satria memberikan brosur saat itu. Satria juga sempat meminta Melodya sebagai mak comblang antara ia dan Sasya. Melodya tau kalau Satria menyukai Sasya, Satria sendiri yang bercerita, tapi Melodya sampe sekarang masih tutup mulut. Melodya juga terkadang chat dengan Satria dan sebagian besar hanya membicarakan tentang Sasya.
"Hai Melodya! Gue Kenzo. Ini pertama kali kita ngobrol ya." Ucap Kenzo disertai tawa kecil yang menyebabkan matanya menyipit.
Melodya tersenyum tipis, "Hai juga. Gue udah tau lo kok."
Nathan melirik kedua sahabatnya yang sedang asyik berbicara dengan Melodya. Padahal Melodya ingin bertemu dengannya, tetapi malah asyik mengobrol dengan kedua sahabatnya.
Nathan berdehem cukup keras membuat ketiga orang di depannya menoleh bersamaan.
"Lo kenapa Nat? Keselek biji salak?" Tanya Satria.
Kenzo menoyor kepala Satria, "Daritadi Nathan kan ngga makan apa apa. Dodol!"
__ADS_1
"Yaudah si, ngga usah noyor pala gue, abang Kenzo yang menang lomba cerdas cermat mewakili indonesia dan melawan Mimi peri yang mewakili kayangan." Melodya menahan tawa yang akan keluar dari mulutnya. Satria suka sekali berbicara asal, persis seperti Sasya.
"Kampret lo! Udah, ayo balik!" Ajak Kenzo yang disetujui oleh Satria.
"Bebebku tersayang, gue sama Abang Kenzo pulang duluan ya. Lo jagain Melodya okay? Mel, gue duluan, kalo si bebeb jahat, lo telpon gue aja okay?" Tanpa menunggu jawaban dari Melodya ataupun Nathan, Satria dan Kenzo mengendarai motornya keluar gerbang sekolah.
Tersisa dua orang itu. Suasana sempat awkard sebelum Nathan bersuara. "Lo mau ngomong apa?"
"Lo kenapa ngasih tau Pak Andre kalo gue bisa main biola?" Tanya Melodya to the poin.
Nathan memasukan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya. "Karena gue pengin."
"Lo tau ngga sih Nat kalo apa yang lo lakuin itu bakal berdampak besar buat gue?" Nathan hanya diam menunggu kelanjutan dari Melodya.
"Lo tau Nat? Selama ini gue mati matian nyimpen rahasia ini. Ngga ada seorang pun di sekolah yang tau kecuali Sasya sama Ayna, dan lo." Lanjut Melodya.
"Lo itu cuma orang baru yang hadir di hidup gue, Nat. Lo ngga tau apa apa tentang gue!"
Deg.
"Kenapa lo diem?" Gadis dihadapannya menaikkan dagunya.
"Emang dampak apa yang bakal lo dapet kalo rahasia itu kebongkar?"
"Penting buat lo tau?"
"Ya."
"Tapi menurut gue lo ngga perlu tau," Melodya menatap sekelilingnya, parkiran sudah sepi sekarang. Lalu ia mulai melanjutkan kata katanya.
"Gue minta lo bilang ke Pak Andre kalo semua yang udah lo kasih tau itu bohong."
Nathan menajamkan matanya pada Melodya. "Kenapa?"
"Ck, lo ngga akan ngerti, Nat! Pokoknya lo cukup ngelakuin itu. Gue ngga mau hal buruk terulang lagi setelah ini." Melodya berbalik badan, hendak pergi meninggalkan Nathan. Tetapi, sebuah tangan mencekal pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Lepasin!"
"Gue ngga akan lepasin sebelum lo bilang ke gue maksud lo itu."
Melodya menghempaskan tangan Nathan dengan kasar. Emosinya sudah memuncak. "Gue hampir kehilangan orang yang gue sayang karena seseorang memanfaatkan kemahiran gue main biola! Puas lo?!"
Jantung Nathan berdetak lebih kencang saat Melodya selesai berbicara. Ini pertama kalinya ia melihat Melodya yang ganas. Melodya yang benar benar emosi. Dan, hal yang dikatakan Melodya? Nathan terkejut mendengarnya. Apa maksudnya?
Melodya ingin melampiaskan semua kekesalannya pada Nathan, tetapi ponselnya berdering nyaring. Melodya merogoh kantong jaketnya, mengambil ponselnya. Di layar ponsel terpapar nama kakaknya. Melodya menggeser tombol hijau lalu menempelkan ponselnya di telinganya.
"Halo."
"...."
"Iya, bentar lagi Ody pulang."
"...."
"Iya, kak, iya."
"...."
"Astaga, iya, ini Ody pulang sekarang."
"...."
"Bye, sayang kakak."
Nathan fokus mengamati gadis disampingnya. Ada yang berbeda dengan gadis ini. Nathan kini melihat sisi sebenarnya dari Melodya. Melodya yang ceria. Hanya karena telpon dari kakaknya, gadis itu bisa mengubah ekspresinya. Padahal tadinya ia sangat emosi.
Melodya pergi begitu saja meninggalkan Nathan setelah ia mengakhiri teleponnya. Nathan menatap punggung gadis itu dengan tatapan sendu.
'Sampe sekarang lo bahkan belum ngeliat gue yang sebenarnya.' batinnya.
...****************...
__ADS_1