
"Mau mampir makan dulu?" Tanya Musical di tengah perjalanan pulang.
Melodya menatap ke arah jendela mobil, pikirannya kemana-mana. Ia bertanya-tanya, kenapa ia tidak melihat Nathan? Kemana Nathan? Apa Nathan main main dengan ucapannya? Musical yang sedang mengemudi menatap sebentar ke arah Melodya. Adiknya tengah melamun. Musical mengulang pertanyaannya kembali.
Melodya menoleh, "Boleh."
Musical melajukan mobilnya ke cafe yang tidak terlalu jauh dari gedung kota. Mereka turun dari mobil dan masuk ke dalam cafe. Musical dan Melodya memilih duduk di ujung, dekat jendela. Waiters datang untuk menanyakan pesanan mereka.
"Mau makan apa?"
"Samain aja, kak."
Sang waiters mencatat pesanan Musical kemudian ia pergi. Musical heran melihat Melodya yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Ada apa?" Musical mengelus pelan punggung tangan Melodya yang ada di atas meja.
Melodya berdehem pelan sebelum membuka suara, "Nathan."
Satu kata, satu nama, satu arti. Musical mengangkat alisnya. Nathan? Ow, ia baru ingat kalau waktu itu Melodya pernah menyebut nama Nathan saat quality time dengannya. Musical menunggu kelanjutan cerita Melodya. Ia tidak ingin memaksa adiknya untuk menceritakannya.
"Nathan yang nyuruh Ody buat ikut kompetisi ini," Melodya akhirnya menceritakan semua kejadian yang ia alami tentang Nathan kepada Musical. Ia yakin, Musical akan mengerti dirinya. Di saat seperti ini, Musical bukan hanya berperan sebagai kakak, tapi juga sebagai sahabat yang selalu mendukungnya, layaknya Sasya dan Ayna.
__ADS_1
Kompetisi biola kali ini, Melodya tidak memberitahu apapun kepada Sasya atau Ayna. Walaupun kedua sahabatnya sudah tau tentang Nathan yang menyuruhnya untuk mengikuti kompetisi ini, tapi mereka belum tau jawaban Melodya. Melodya tak ingin kedua sahabatnya repot repot menontonnya. Seperti bulan lalu, kedua sahabatnya ngotot untuk ikut menyaksikan aksi Melodya diatas panggung di gedung seni. Mereka berdua heboh saat melihat Melodya bermain diatas panggung. Alhasil, seluruh penonton menatap kearah mereka dan itu benar-benar membuat Melodya tertawa geli. Bagaimana bisa mereka dengan tampang watadosnya berteriak teriak mendukung Melodya dari kursi penonton? Penonton mana yang akan melakukan kegiatan itu saat kompetisi biola? Mereka pikir ini pertandingan sepakbola?
Musical mengangguk setelah mendengar cerita Melodya. Ia paham, Melodya pasti binggung tentang siapa Nathan itu. Musical juga begitu. Musical hanya mengacak rambut Melodya sambil berkata kalau semua akan baik-baik saja.
Tak lama setelah itu, makanan mereka datang. Mereka menyantap makanan masing masing. Suasana hening. Musical ataupun Melodya selalu dibiasakan makan tanpa berbicara oleh kedua orangtuanya. Melodya tidak selera makan kali ini. Ia meletakan kembali sendok dan garpunya.
Musical menatap adiknya, ia menghembuskan napasnya pelan. Ia benci Melodya yang seperti ini. Adiknya seringkali merasa kalau dirinya lemah, ia sering merasa lelah karna suatu masalah, sekecil apapun masalah itu. Ya, bisa dibilang Melodya itu manja.
"Habiskan makanan kamu atau kakak suapin."
Kalimat Musical sukses membuat kesadaran Melodya kembali. Ia kembali mengambil sendok dan garpunya dan melanjutkan acara makannya.
"Apaan sih, kak. Ody kan cuma ngga mau kalau sampe kakak suapin Ody disini. Kakak ngga inget waktu itu kita pernah divideo dan hampir diupload sosmed cuma gara gara kakak nyuapain Ody di tempat umum?"
"Ngga papa lah kamu kan adik kecil kakak. Ngga ada salahnya kan seorang kakak nyuapin adiknya?" Musical menampilkan sederet giginya yang rapih, tidak seperti Melodya yang mempunyai gigi gingsul.
Musical mengingat kejadian beberapa waktu lalu, saat ia sedang barada di stasiun. Saat itu Musical dan Melodya sedang mengantarkan tantenya. Martin dan Eliyana juga ikut mengantar. Tantenya, Martin, dan Eliyana, duduk di tempat yang berbeda saat menunggu kereta datang. Musical dan Melodya duduk bersebelahan. Melodya yang bosan, memainkan ponselnya sambil meletakan kepalanya di bahu Musical. Sedangkan Musical asyik memainkan game di ponselnya sambil memakan keripik kentang dipangkuannya yang sengaja ia bawa dari rumah, ia sesekali menyuapkan keripik itu ke mulut Melodya. Melodya tentu saja menerima suapan kakanya dengan senang hati. Tanpa mereka sadari, sudah banyak orang yang mengelilinginya. Masing-masing dari mereka mengarahkan kamera ponselnya ke arah kakak beradik itu. Hingga setelah itu Eliyana berteriak heboh melihat kedua anaknya yang sedang divideo banyak orang. Musical dan Melodya kompak mendongak dan terkejut melihat banyak orang mengelilinginya.
"Ya ampun, Musical, Melodya! Kalian ngapain?!" Eliyana berteriak heboh sambil berusaha membubarkan lingkaran yang mengelilingi kedua anaknya.
"Yah, ibu ngapain sih? Lagi asyik nge-video ini Bu, so sweet banget."
__ADS_1
"Anak jaman sekarang kalo pacaran ngga ingat tempat ya. Eh tapi cocok banget, cowoknya ganteng, ceweknya cantik."
"Duh, saya jadi inget jaman saya pacaran dulu sama suami saya."
"Aaaaa, aku juga mau digituin. So sweet."
"Bakal jadi gosip hot nih kalo diupload di sosmed. Ntar captionnya suapan manis di stasiun."
Kurang lebih begitu ucapan orang-orang yang mengelilingi mereka. Ucapan orang terakhir itu membuat Musical dan Melodya membulatkan matanya. Bagaimana tidak? Mereka berdua itu kakak beradik. Bagaimana bisa orang-orang menganggap mereka pacaran? Waktu itu, tiba-tiba Martin datang, membubarkan semua orang dan menjelaskan bahwa Musical dan Melodya adalah anaknya. Wah, bener-bener seperti pahlawan bagi Musical dan Melodya.
"Ya tapikan itu di tempat umum, kak. Lagian kakak sih, udah tau rame, ngapain coba nyuap nyuapin segala." Melodya terkekeh di akhir kalimatnya, mengingat betapa bingungnya mereka saat itu.
"Heh, salah siapa juga kamu nerima suapan dari kakak, hah?"
Melodya tertawa hingga air matanya hampir menetes. Musical yang melihatnya juga ikutan tertawa.
"Udah, kak, udah. Jangan diinget inget lagi ya. Melodya capek harus ketawa lagi. Pulang yuk."
Musical mengangguk. Ia membayar semua makanan mereka dan pulang kerumah.
...****************...
__ADS_1