
Melodya menyesal telah keluar kelas. niatnya untuk mencari udara segar, pupus sudah. Ia justru bertemu Nathan dan membicarakan hal yang membuat moodnya hancur.
Melodya masuk ke dalam kelas, sebelum ia mendudukan dirinya di kursi, bel masuk berbunyi. Siswa siswi segera masuk dan duduk di kursi masing-masing. Kelas sempat hening beberapa saat sebelum Arya masuk kedalam kelas dan memberitahukan kabar gembira.
"Kelas kita jamkos sampe bel pulang!!!!"
Semua siswa berteriak kegirangan. Ada yang menggebrak meja, berteriak dengan gaya alaynya, dan segala macam bentuk kegembiraan ditumpahkan oleh setiap siswa.
Tak lama setelah itu, Dafina masuk ke kelas dan mengabarkan sesuatu yang menambah kegembiraan para siswa.
"Pengumuman! Bulan depan, bakalan ada pertandingan basket di sekolah kita. Sekolah kita melawan SMA Garuda. Dan, pertandingan itu diadakan di sekolah kita. Jadi semua kelas jamkos dan wajib menonton dan mendukung sekolah. Sekian, terimakasih."
Kelas tambah berisik saat Dafina selesai mengumumkan pengumuman. Ayna yang sedari tadi tidur, akhirnya bangun dan ikut berteriak gembira. Sasya pun tak jauh berbeda. Ia menghentikan aktivitas menggambar abstrak lalu ikut berteriak. Melodya yang moodnya sedang buruk hanya tersenyum tipis. Ia bisa saja ikut berteriak seperti siswa lain, tetapi ia masih sayang dengan harga dirinya. imagenya mungkin akan langsung buruk jika ia tiba-tiba berteriak kegirangan seperti itu.
Sasya heran melihat ekspresi Melodya yang biasa saja. Ya, katakanlah itu memang sudah biasa. Hanya saja kali ini Melodya terlihat menyembunyikan sesuatu.
"Mel? lo gak papa?"
Melodya balik menatap Sasya yang tengah menatap keheranan ke arahnya. Melodya menggeleng, "Gue gak papa,".
"Kalau ada apa-apa, lo bisa cerita ke gue atau Ayna." Sasya mengelus punggung tangan Melodya pelan.
Melodya mengangguk meyakinkan Sasya.
...****************...
Jamkos kali ini benar benar membuat Melodya, Sasya, dan Ayna bosan. Teman sekelasnya pun banyak yang keluar kelas entah pergi kemana. Bayangkan saja, dalam satu hari ada 7 jam pelajaran, dan kelas Melodya hanya terisi 3 jam pelajaran. Sisanya masih sangat lama. Sebagian besar kelas sedang jamkos sekarang. Mereka bertanya tanya, mengapa sekolah tidak dibubarkan saja?
Ketiga gadis itu akhirnya memutuskan untuk pergi ke kantin. Tak peduli kalau sekarang sedang jam pelajaran. Toh kelas mereka jamkos, guru juga tidak ada yang memberi tugas.
Dan disinilah mereka sekarang, kantin sekolah. Mereka asyik mengobrol sambil menyantap mie ayam dan lemon tea.
__ADS_1
"Eh, Ay. Gimana lo sama Kenzo?" Tanya Sasya tiba tiba.
Ayna hanya tersenyum malu. Muncul semburat merah di pipinya. Melodya yang tak mengerti maksud pembicaraan Sasya akhirnya bertanya. "siapa Kenzo?"
"oh iya, ya ampun! Gue atau Ayna belum cerita apa-apa ke lo ya, Mel? Heeh sorry ya, Kenzo itu sahabatnya Nathan. lo tau Nathan kan? Kenzo ini yang mirip korea gitu. Nah, Nathan, Kenzo, sama Satria, mereka kan jadi most wanted disekolah. Bayangin aja deh, Nathan kapten basket, Kenzo selalu dapet peringkat 1 seangkatan, terus Satria atlet karate. Uuuhh, suatu keajaiban yang haqiqi." jelas Sasya panjang lebar.
"Oo, cowok korea yang kemarin kejar kejaran sama lo, Ay?" Ayna mengangguk.
"Emangnya ada hubungan apa lo sama dia? sejak kapan kalian kenal?" tanya Melodya.
"ngga ada hubungan apa apa kok." lagi lagi muncul semburat merah di pipi tirus Ayna.
Sasya menyikut Ayna. "Udah ceritain aja. Sahabat kita tuh."
Ayna bercerita panjang lebar tentang perkenalannya dengan Kenzo. Melodya mendengarkannya dengan baik. Sasya yang mendengar cerita ulang juga ikut memperhatikan.
"Ya gitu deh. Akhirnya gue kenal sama dia. Emang sih, perkenalan kita agak aneh gitu." ucap Ayna di akhir ceritanya.
Sasya mengerutkan keningnya. "Bagus apanya, Mel?"
"Ya bagus. Siapa tau besok mereka bisa jadian kan? Biar Ayna ngga kebanyakan ngayal tentang cowok juga." Melodya berbicara santai seakan-akan semua akan terjadi sesuai perkiraannya. Ayna mencibir. Baginya, Melodya adalah satu-satunya orang yang berani menyindir seseorang secara langsung. Terkadang memang menyebalkan, Tetapi Ayna setuju dengan tindakan seperti itu, itu artinya Melodya tidak akan membicarakan keburukan seseorang di belakang.
"Gue sih amin-in aja lah. Gue setia menanti PJ dari lo, Ay. Gini aja, sebagai DPnya, mending lo bayarin ni mie ayam sama lemon tea gue. Duit gue habis tadi gara-gara bendahara laknat itu. Apalagi kemarin gue ketemu cowok gila tapi ganteng di parkiran." Sasya berdecak mengingat kejadian kemarin siang. Ia berniat terlihat baik di mata Satria, tapi yang terjadi ia malah bicara ketus.
"Siapa?" Tanya Melodya dan Ayna kompak.
Sasya mulai menceritakan kejadian kemarin dengan cowok itu secara rinci kepada kedua sahabatnya.
"Gitu aja lo udah baper, gimana besok kalau lo ditembak sama dia? Mau pingsan lo?" lagi lagi Melodya dengan santainya menyindir Sasya yang jelas jelas ada di hadapannya. Sasya dan Ayna kompak melirik kesal ke arah Melodya.
"Eh eh, itu ada Nathan dkk. Ah, gue ketemu Kenzo lagi." Ayna berbinar melihat tiga orang cowok masuk ke kantin. Mereka bertiga duduk di pojok kantin. Sepertinya itu memang markas mereka.
__ADS_1
Sasya menengok kearah yang di tunjuk Ayna. "Dan gue ketemu Satria lagi."
Melodya menatap ke arah ketiga cowok itu. Disana hanya ada Nathan, Kenzo, dan Satria. Barusan Sasya bilang kalau ia bertemu Satria. Lagi? Apa Satria yang dimaksud Sasya adalah Satria yang disuruh Nathan untuk memberikan brosur kepada Melodya?
"Satria? itu Satria yang lo maksud, Sya?" Sasya dan Ayna memandang Melodya intens.
"Iya. kenapa?"
"Lo kenal, Mel?"
"Ngga" jawaban Melodya membuat kedua sahabatnya lebih menatapnya dengan tajam. Melodya menyerah. Ia akhirnya menceritakan semua yang terjadi dengannya. Tentang Satria yang memberikan brosur yang sebenarnya disuruh Nathan, sampai pertemuan saat istirahat tadi dengan venus.
Ayna dan Sasya terkejut mendengar cerita Melodya. cewek cuek seperti Melodya bertemu dengan cowok cuek seperti Nathan? Dan, bagaimana bisa Melodya yang biasanya anti cowok bisa berurusan dengan Nathan yang notabene nya sebagai salah satu most wanted di sekolahnya?
"Sedekat itukah lo sama Nathan?" Tanya Ayna.
Melodya memutar bola matanya. Malas sekali jika harus berurusan dengan cowok. "Ngga. Dia aja yang aneh. Tiba-tiba nongol dan cuma ngomong seperlunya yang buat gue makin ngga ngerti."
"Hello! Lo juga kalo ngomong seperlunya doang. mirror, Mel." Melodya melirik kesal ke arah Sasya yang berbicara dengan sangat jujur.
"Gue kenyang." Melodya meninggalkan selembar uang di meja dan pergi meninggalkan kedua sahabatnya.
"Gue heran, setiap Melodya pergi dari kantin dan ninggalin kita, dia selalu bilang '*g*ue kenyang' ." Ucap Sasya sambil menirukan gaya bicara Melodya.
"Biarin lah. Yang penting sekarang gue mau memandang Kenzo."
Sasya berdecak kesal melihat Ayna. Ayna menumpukan dagunya pada tangannya. Matanya berbinar seolah melihat jutaan berlian. Sasya sudah tahu, sekarang pasti Ayna sedang menghayal. Sasya akhirnya juga ikut memperhatikan Satria.
......................................
LIKE,KOMENT,AND RATE⭐
__ADS_1