
Perjalanan ini, terasa sangat menyedihkan.
Sayang kau tak duduk di sampingku kawan.
Banyak cerita yang mestinya kau saksiskan di atas tanah kering bebatuan....
Lagu Ebid G. Ade yang terkenal seantero jagad raya, salah satu lagu jadul yang tidak lapuk di siram hujan dan di jemur sang surya dari masa ke masa. Penggalan lirik lagunya itu sangat pas untuk menggambarkan keadaanku saat ini. Hari\-hariku terasa menyedihkan, tidak ada Yaya yang bisa menemani situasi kaku yang kujalani semenjak 3 bulan yang lalu, tepatnya ketika Ivan Hadiawan mengetuk pintu kelas saat jam pelajaran Mr. Cloud. Banyak sekali cerita yang aku harap bisa Yaya saksikan secara live di hidupku yang menjadi lebih menyebalkan dari sebelumnya, dibandingkan sewaktu kami menjadi dua siswi SMP yang sangat nyaman hidup berdua.
Aku selalu menghindari segala sesuatu yang berbau Ivan sebisa mungkin. Tapi bagaimana caranya? Ivan sudah seperti hantu bayangan yang mungkin sengaja mengikutiku? Aku tidak yakin sebenarnya. Namun apa semuanya hanya berupa kebetulan? Ivan entah karena alasan apa baru masuk sekolah di minggu ke\-3 setelah sekolah aktif, lalu ia masuk di kelas yang sama pula denganku. Selanjutnya nasib melemparkan Ivan duduk tepat di sampingku selama ini. Aku sudah merasa mirip angin dan daun sekarang, kemiripan itu berada pada bagian Ivan yang menjadi angin yang akan membuat aku sebagai daun tersungkur ke tanah. Hari\-hari aku menghirup udara pengap, aku berharap bisa beralih ke mode bodo amat dari pada merasa risih setiap hari.
Belum lagi Dia yang memutuskan untuk pindah permanen ke belakang. Apa Dia merasa beruntung bisa pergi dari sisiku. Karna Ivan, Dia memiliki alasan untuk berhenti menghadapi hari\-hari garing di sekolah bersamaku. Aku paham keinginanmu akan kemerdekaan dalam hidup Dia! Aku memang bukan teman yang seru sama sekali. Seandainya aku bisa tertawa lepas seperti yang lain. Huuuuuuhh, hidupku yang membosankan tanpa teman.
Setiap jam istirahat akan kuhabiskan duduk di teras Lab bahasa yang letaknya di samping kelas X1. Aku sedang menikmati sebotol minuman dingin sambil menikmati lagu\-lagu Avril Lavigne dari headset, kali ini setelah jam istirahat akan di sambung dengan pelajaran olahraga. Dan anak laki\-laki di kelasku sudah mengganti pakaian mereka dan terlihat bermain bola di lapangan, sedangkan aku akan menikmati pemandangan saja, atau kalau boleh jujur aku sibuk dengan pikiranku kemudian memejamkan mata lalu menyandarkan kepalaku ke tiang besar yang berdiri kokoh di teras lab bahasa. Baru sekitar 5 menit jam istirahat berlalu masih ada 10 menit lagi sebelum lonceng sekolah berenyanyi\-nyanyi.
“Nay!” seseorang menepuk punggungku kuat sehingga aku terlonjak kaget. Aku sedikit ngos\-ngosan mendapat perlakuan demikian. Hampir saja aku terlonjak dari dudukku, aku benar\-benar kaget. Ternyata Ela, teman sekelasku. Ela nyengir lebar mendapati ekspresi kagetku, dan kubalas dengan senyum kecut mengingat rasa syok yang belum sempurna hilang.
__ADS_1
“Duduk sendirian sambil ngelamun itu bisa ngundang setan. Setan di dunia ini sensitif banget, orang ngelamun, eh dikirain temennya. Hahahaha.” Tutur Ela sambil tertawa riang, lalu mengambil posisi duduk di sampingku. Aku semakin nyengir kikuk. Sungguh receh.
“Eh Nay, kamu di sini aja ya nemenin aku. Apapun yang terjadi. Jangan terganggu, ok?” Ucap Ela serius. Ela memang sedikit mengganggu kurasa, namun aku mengangguk ragu. Tiba\-tiba wajah Ela menjadi lebih serius dengan mata permohonan. Mungkin Ela terlalu berpikir buruk tentangku yang jarang bicara serta bergaul dengan teman sekelas. Aku mengangguk lebih serius dengan senyum setulus yang mampu kuberikan di situasi jenis ini. Ela bernapas lega dan tersenyum sangat manis kepadaku, baru kusadari ternyata teman sekelasku ini memiliki wajah yang sangat manis, apalagi jika ia tersenyum, matanya menyipit dan lesung pipi yang terletak di samping kiri kanan bibirnya membentuk lubung yang cukup dalam. Aku serasa tertular energi positif melihat senyumnya itu. Senyumnya punya kekuatan magis. Tuhan memang sempurna.
Tapi tunggu dulu, kenapa Ela tiba\-tiba menjadi sedikit bingung dan...... gerogi? Kuamati Ela yang kini memandang ke depan, seolah\-olah menyibukkan diri dengan pertunjukkan geratis anak lelaki X2 yang sedang asik bermain bola di lapangan sana. Mungkin Ela orang yang sangat moodian kurasa. Terserahlah. Aku menyimpan headset yang sudah kulepas sejak mendapati Ela dengan senyum nyengirnya tadi. Aku tidak akan mendengarkan lagu untuk saat ini, takut nanti jika Ela bicara aku tidak mendengarnya dan ia berpikir bahwa aku tidak mengindahkan keberadaannya.
“Nay udah deket! Kamu harus pegang janjimu lo!” ujar Ela dengan suara pelan dan tegas sambil menatapku sekilas. Aku jadi bingung, kapan aku berjanji padanya? Dan aku janji apa? Sebelum aku mendapatkan jawaban atas pertanyaanku, 2 orang anak lelaki yang sepertinya abang kelas menghampiri kami atau lebih tepatnya menghampiri Ela kurasa. Dilihat dari perawakannya yang rada petentengan, anak baru tidak akan memiliki jiwa sok hebat sekentara ini. Iya, mereka pasti abang kelas. Kedua orang itu duduk di samping Ela sambil mengucek singkat puncak kepala Ela. What? Siapa mereka ini? Pacar Ela? Mungkin yang mengucek kepala Ela itu adalah pacarnya. Lalu anak lelaki gembul dan hitam serta pendek ini siapanya? Oo mungkin ini temannya. Perawakan mereka sungguh jauh berbeda. Pacar Ela berkulit kuning langsat, alisnya tebal, hidungnya tak terlalu mancung namun tidak pesek. Rambutnya sangat stylelish seperti anak zaman, begitu mereka menyebut anak\-anak yang mengikuti penampilan ala cowok korea.
“Hi, temennya Ela, ya?” sapa si pria yang kuduga gebetan Ela itu, ia mencondongkan tubuhnya untuk melihat ke arahku. Aku melirik Ela dan si gebEl \(gebetan Ela\) bergantian, dan kuakhiri dengan memberikan anggukan. Si abang gebEl mengulurkan tangan kanannya,
__ADS_1
“Abang baru.” Katanya memperkenalkan diri. Kusambut tangannya dengan kikuk sambil mengerinyitkan dahiku. Apa katanya tadi? Abang baru? Itu namanya?
“Aku baru seminggu pindah ke sekolah ini, terus anak\-anak manggil aku abang baru, so its ok lah. Panggil aja abang baru.” Tuturnya diakhiri tawa. Kutarik tanganku darinya, ternyata ada banyak jenis manusia di dunia ini. Aku baru menjumpai beberapa, dan semuanya sungguh jauh berbeda satu sama lain, contohnya abang gebEl ini. Lalu sedetik kemudian dengan mode cepat tangkas penuh pesona abang gebEl sepersekian detik membawa Ela dalam pembicaraan menariknya, sehingga membuat aku dengan si gembul bagai nyamuk mati terkena cairan semprot pembasmi serangga. Terabaikan dengan mengenaskan. Baiklah, sepertinya akan lebih baik kalau aku kembali mengambil penyelamatku yang kusimpan tadi.
Baru saja aku ingin memasang headset ke telingaku, sesosok orang berdiri di depanku, menghalangi cahaya terang yang sedari tadi mendarat manis ke arahku. Aku yang semula menunduk, tetapi karna perubahan intensitas cahaya refleks mendongak untuk menyaksikan wajah yang telah menghalangi cahaya matahari jam 9.55 pagi ini.
“Boleh minta minumnya gak?” tanyanya dengan suara berat. Apa aku sedang berhalusinasi? Ekspresi bodohku masih setia menengadah ke atas memandang si empunya suara. Suara berat itu milik Ivan, teman sebangkuku, hanya teman sebangku. Aku menaikkan sedikit alisku menanggapi pertanyaannya. Apa kami akrab sampai dia bisa meminta milikku? Tapi Ivan langsung mencondongkan wajahnya ke arah wajahku dan mengunci pandanganku. Si Ivan sudah kena tumor gila. Otaknya tidak waras. Mau apa dia? Jantungku kayang jumpalitan terperangkap dalam situasi ini. Ini situasi yang paling absurd yang pernah kualami selama menjadi siswi sekolah menengah. Dan kemudian ia tegak kembali dan menenggak minuman dari botol minuman yang kurasa itu milikku. Aku masih terperangah memandang tubuh menjulang Ivan yang sedang dalam proses menghabiskan setengah botol minuman yang hak dan kepemilikkannya ada padaku.
“Makasi,” ujar Ivan dengan entengnya sambil menyodorkan botol minuman yang sudah kosong padaku sehingga aku tersadar dari adegan barusan. Tumor gila si Ivan pasti sedang mengamuk. Aku beranjak dari tempat dudukku berjalan meninggalkan mereka semua dan mengabaikan botol kosong yang masih terulur di tangan Ivan. Ivan memang ahli membuat aku bad mood.
“Nay!” seru Ivan lagi. Aku menoleh ke sumber suara.
__ADS_1
“Makasi.” Ujarnya sambil nyengir kuda. Apa\-apaan si Ivan. Terserah Anda Ivan! Aku lelah. Aku membawa langkah jengkel masuk ke dalam kelas. Membiarkan pikiran orang\-orang yang kutinggalkan merancang apapun tentang kelakuan Ivan dan responku barusan.
‘Ivan terkutuuuuuuuuukk!’ Jeritan itu melengking dalam hati dan pikiranku.