
Aku si anti-sosial. Ya, aku merutuki diriku yang selalu menyusahkan dan keras kepala. Bagaimana cara memberi tahu kalian bahwa aku juga merasa buruk karna ini.
Beberapa kali kesempatan di masa SD aku ingin sekali ikut ibu ke pasar untuk belanja. Dan sesungguhya dengan berat hati ibu membawaku, karna beliau sudah tahu bahwa besar kemungkinan aku akan menyusahkannya. 15 menit pertama aku sudah merasa tersiksa di tengah keramaian yang cukup sesak, wajahku sudah kutekuk sejadi-jadinya dan ibuku sudah mulai tidak tenang. 15 menit kedua aku mulai merengek meminta untuk segera pulang. Tapi ibuku bilang sebentar lagi karna masih banyak yang harus ia cari. 15 menit ketiga aku sudah menangis sesenggukan tanpa suara dan ingin pulang. Di saat itu ibuku mulai dongkol dan membujukku, namun aku si keras kepala terus meminta pulang dengan tangisku. Ibuku yang sudah lelahpun memutuskan untuk pulang walaupun daftar belanjaannya belum dibeli semua. Dan tahu apa yang paling penting? Ibuku memutuskan ia tidak akan membawaku lagi ikut belanja bersamanya.
Hari pertama lebaran ‘idul fitri di usiaku yang ketiga belas. Keluarga kami memutuskan untuk mudik ke keluarga ibu. Letak kotanya jauh dari desa kami. Dan hatiku meronta untuk ikut bersama mereka. Sehingga aku memutuskan untuk tinggal di rumah. Keinginanku itu sontak membuat ayah berang karna ibuku sudah lelah membujuk namun nihil, karna aku si keras kepala. Ayah marah dan membentakku, sebab bagaimana mungkin mereka meninggalkan aku sendirian di rumah, sedangkan kami tidak memiliki kerabat di desa ini. Dan percayalah jika adapun kerabat kami di sini, aku tidak akan mau dititipkan di rumah orang lain, aku lebih memilih tinggal di rumah seorang diri. Ayah dan ibuku terlihat menahan emosi, bagaimana tidak, ini momen lebaran, dan tahun lalu ibu tidak pulang saat lebaran dan sekarang keluarga kami ingin pergi malah aku bertingkah di pagi kemenangan ini. Kakak-kakakku juga tak kalah jengkel melihatku dengan tatapan mematikan. Dan tau apa? Hal itu semakin membuatku tidak ingin bergerak dari tempatku.
Finally, mereka memutuskan pergi tanpa aku. Tapi mereka akan pulang sore hari. Aku memang buruk. Aku punya alasan mengapa aku tak ingin pergi. Aku tidak tahan berada di dalam mobil lebih dari 10 menit, karna aku akan memuntahkan seluruh isi perut dan demam seharian, serta tenggorokan yang akan sakit sampai 2 hari, kemudian aku tidak suka berhadapan dengan keluarga besar ibu yang akan bertanya banyak serta basa basi yang tidak penting. Aku benci, apalagi aku akan disuruh bermain dengan oang-orang tidak kukenal, diminta bergaul dan kemudian diceramahi ini dan itu. Tak ada yang mengerti ini sulit untukku. Bagi mereka mungkin tidak apa-apa. Tapi mereka tidak tau aku ketakutan dan aku benci keramaian. Karna tak ada yang mengerti aku menyimpannya sendiri, semakin menjadi diam setiap hari.
__ADS_1
Sampai kini aku sering bertanya, bagaimna orang lain bisa bergaul bersama banyak orang dengan mudahnya?
🍂
__ADS_1
Orang Yang Terlukalah Yang Paling Merasa Bahwa Ia Dilukai Sementara Orang Yang Melukai Tidak Merasa Bahwa Ia Sedang Menyakiti
Si manusia dari planet lain, manusia dari mars dan kalimat\-kalimat lain yang mereka anggap biasa. Dengan mudahnya mereka mengatakan hal itu, cuma bercanda, itu yang mereka ucapkan dengan entengnya. Bagi mereka perkataan itu bukan apa\-apa, namun bagiku yang menerimanya, itu melukai mentalku. Semakin membuatku tak ingin terlibat dengan siapa pun, karna mereka hanya akan menghakimi aku dengan kata\-kata mereka yang sangat sensitif untukku. Padahal bagiku tak ada satu orang dewasa manapun yang berhak menghakimi kepribadian anak yang bahkan tidak tahu mengapa ia tumbuh dengan karakter demikian, dan mengapa ia di\-judge karnanya. Mungkin di mata mereka aku cacat secara sosial dan kepribadian.
__ADS_1
Aku tahu, mereka menganggapku aneh, ah bukan sekedar anggapanku saja, tapi mereka sering mengatakannya secara terang-terangan di hadapanku. Kuakui, aku sering mengurung diri di dalam rumah terutama di kamar, jarang bergaul, dan sering tertunduk ketika berjalan, jarang ingin terlibat dalam percakapan, dan bahkan menghindari keramaian secara terang-terangan. Bicara seadanya namun sangat jujur, terlihat tidak memiliki simpati terhadap orang lain, dan segudang keburukan serta kelemahan lainnya. Penilaian tentang aku itu lahir dari berbagai kalangan, keluarga maupun orang lain. Kesulitanku tentu bukan urusan kalian, jika tidak bisa membantu setidaknya jangan perdulikan aku.
Pernah suatu hari, saat aku masih kelas dua SMP. Pamanku datang ke rumah, ia bertanya tentang beberapa hal dan aku jawab sebagai mana yang aku ketahui. Singkat dan padat, bahkan tanpa ekspresi. Iya aku memang begitu, tidak ingin terlibat apapun, bahkan tak ingin atau memang tak bisa menunjukkan emosi pada orang lain. Mungkin pada hari itu pamanku sedang ada masalah, ia marah karna jawabanku atas pertanyaannya tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Aku bingung, dan dengan tampang tak peduli yang sudah tercetak di wajahku aku pun meninggalkannya masuk ke dalam kamar. Kudengar sayup-sayup ia berkata hidup kok kayak orang mati, kayak gak butuh orang lain. Ditanyain aja seperti gak ada kepeduliannya pada orang lain. Aku hanya diam diiringi air mata bodoh yang selalu menuntut untuk bebas di setiap momen menjengkelkan dalam hidupku. Aku salah, tapi aku tak tahu mengapa aku tak bisa menjadi seperti kakak-kakakku yang ceria dan dengan mudahnya diterima orang lain. Aku menghindar dari banyak orang agar mereka tak perlu menghukumku dengan penilain mereka. Aku hanya ingin sendirian dan hidup dengan bebas dengan caraku, atau aku ingin hidup menjadi orang yang benar-benar tidak perduli dengan orang lain dan apapun yang mereka katakan.