
Tak terasa waktu memenuhi janjinya pada Tuhan, janji bahwa ia akan membawa aku sampai di bagian detak jantungnya yang ini, masa menjijakkan kaki di bangku sekolah menengah pertamaku.
Dalam hidupku yang mungkin minim warna jika dibandingkan dengan hidup orang lain, aku memilih untuk bersyukur sekeras mungkin. Mengapa aku katakan begitu? karna bersyukur itu tidak mudah kawan. Ah apa aku terlalu jujur? Tidak juga kurasa. Aku hanya manusia biasa yang ingin tampil apa adanya, tidak menjadi orang lain, hanya menjadi diri sendiri walaupun bukan orang yang baik di mata sebagian orang.
Begitu pula saat ini, aku si introvert kesulitan untuk sekedar menemukan teman. Bagaimana tidak, untuk mengucapkan satu patah katapun kepada gadis putih pucat berbadan lebih tinggi dariku ini saja tak mampu kulakukan meski aku sangat ingin. Oh iya, aku masuk kelas VII\-D, kenapa VII\-D karna kami masuk bedasarkan urutan nilai dan nilai yang kumiliki hanya mampu mengantarkanku di kelas ini. Namun jangan sedih, karna masih ada 3 kelas lagi, yaitu VII\-E, VII\-F dan VII\-G di belakangku yang artinya aku terkategori pemilik nilai tengah\-tengah, tidak sangat pintar namun tidak bodoh dalam urusan nilai akademik. Perlu di garis bawahi, khusus untuk nilai akademik, artinya orang yang kelasnya di bawahku itu bukan berarti mereka bodoh segalanya, hanya saja mungkin mereka tertarik, pintar atau mungkin berbakat dalam hal lain. Percayalah, aku memiliki keyakinan yang kuat tentang hal itu.
Lama kelamaan si pucat tinggi ini mungkin bosan dengan teman sebangkunya yang banyak diam dan hanya memperhatikan kegiatan orang lain, sehingga ia kurasa yang mungkin saja dengan berat hati akhirnya memberanikan diri untuk mengajakku berkenalan. Aku merasa dia sebenarnya enggan, bagaimana tidak, beberapa kali orang terdekatku mengatakan kalau aku jutek dan cuek bukan setelah mengenalku tapi dari wajahku saja pun sudah terlihat jelas. Aku sungguh mengapresiasi keberanian dan niat baiknya mengajakku bicara. Aku bersyukur akhirnya aku memiliki orang yang mungkin bisa kuanngap teman kedepannya. Namanya Yaya, dia cantik dan anggun. Baru beberapa hari masuk sekolah sudah banyak yang mencoba mengganggunya dengan berbagai alibi bodoh anak baru lulus sekolah dasar. Teman sekelas berjenis kelamin laki\-laki di kelas ini sering cari kesempatan malu\-malu untuk menjaili Yaya untuk sekedar mencari perhatian Yaya yang justru dihadian wajah cemberut gadis itu.
Tabungan waktu bertambah di SMP, sekarang kami sudah 1 bulan menjadi murid baru di sekolah ini. Angin cepat berhembus menyampaikan berita kebanyak telinga seputar kecantikkan anak baru kelas VII\-D nan anggun kepada para bandot kelas tinggi, maksudku para abang kelas. Mereka mulai sering datang silih berganti ke kelas saat jam istirahat. Mulai dari yang bergaya cuek ala cowok korea, ada yang bergaya diam malu\-malu, ada yang sungguh caper pada semua orang, tapi lebih tepatnya caper pada target yang sedang banyak ditaksir anak lelaki di sekolah ini, siapa lagi kalau bukan Sabila Fatayya alias Yaya. Sungguh sebagai teman yang berjalan kemana\-mana bersama Yaya aku menjadi risih dan terganggu dengan keadaan ini. Tapi aku tak mungkin membiarkan Yaya menjalani ini sendirian, maksudku mungkin ini juga berat baginya karna Yaya tipikal anak yang agak pendiam.
Suatu hari setelah semester 1 di kelas VII berlalu, Yaya memberanikan diri curhat padaku saat ia main ke rumahku. Jujur saja sebelumnya aku dan Yaya tak pernah melakukan sesi curhat masalah pribadi, kami sering membicarakan hal\-hal anmutu \(tidak penting\) untuk sekedar menikmati dunia imajinasi kami yang mungkin sulit untuk dimengerti orang lain. Tapi aku sungguh beruntung bertemu dengan Yaya, karna ia memiliki selera humor dan imajinasi sama dan payah sepertiku, membuat pertemanan kami unik dengan caranya sendiri.
Ok balik ke sesi curhat. Meski Yaya sudah 1 semester digangguin para bandot kelas tinggi itu tapi kami tak pernah membahasnya dengan serius, karna Yaya tak pernah ambil pusing setelah terbiasa diganggu. Dan aku pun menyamankan diri dengan hal itu, aku selalu menyiapkan tatapan datar yang mendarah daging pada semua fans Yaya jika usil mananyai Yaya padaku. So, lama kelamaan mereka menyerah untuk mendekati Yaya lewat aku, atau sekedar mendapatkan informasi seputar si pucat tinggi dariku, karna itu hanya akan sia-sia dan buang-buang waktu saja, mulutku terborgol untuk itu.
__ADS_1
"Nay, abang bandot kelas IX\-A udah nembak aku 5 kali, yang ke lima kemarin dari masangger." Tutur Yaya mengawali curhatannya, dan kujawab dengan anggukan kecil.
Tapi Yaya mendengus kesal melihat responku. Aku menaikkan dua alisku mempertanyakan dengusannya. Yaya kan sudah biasa dengan responku ini, ada apa ini mengapa tiba-tiba dia terganggu? Apa dia mengharapkan respon lebih? Tapi maaf Yaya jika kau mengaharpkan demikian maka aku harus mempelajarinya terlebih dahulu.
"Menurut kamu abang itu orangnya gimana, Nay?" Tanyanya mencoba untuk mengabaikan rasa kesalnya tadi.
"Kamu suka dia?" Tanyaku atas pertanyaannya, Yaya terlihat kaget, namun ia sudah hapal bahwa aku orang yang pandai membaca perasaan orang terdekatku yang aku peduli padanya. Dan Yaya hapal betul jika aku anaknya *to the point*, gak suka bertele\-tele. Yaya tidak bisa bersembunyi dari perasaannya yang terbaca jelas di mataku saat ini. Dia hanya tersenyum malu\-malu dan kini aku yang mendengus kesal padanya.
"Kenapa, Nay? Salah emang kalau aku suka sama dia? Kan gak ada salahnya mencoba?" Jawabnya terus terang karna ia tahu betul maksud dengusanku itu. Aku bukan tidak senang tapi aku hanya perlu menegaskan pada Yaya bahwa kami adalah anak kecil yang baru lulus sekolah dasar 6 bulan yang lalu.
Sampailah di kelas IX, dan aku masih bersama Yaya, bukan berarti kami tak memiliki teman yang lain, tidak, itu tidak benar. Kami berteman dengan semua orang, berteman dalam artian tegur sapa saja.lebih tapatnya Yaya yang sering disapa dengan riang dan aku disapa dengan senyum agak kikuk, ah biarkan saja. Selebihnya hanya ada aku,Yaya dengan hal\-hal remeh yang kami anggap penting. Apa sih hal remeh yang sering kami anggap penting? Pemikiran kenapa orang lain menuntut kita mengekspresikan sesuatu seperti cara mereka berekspresi? Mengapa orang lain memiliki ekspektasi tertentu kepada kita dan ingin kita memenuhi ekspektasi itu? Mengapa mereka tidak menerima kami apa adanya seperti kami yang menerima mereka apa adanya dengan segala kelebayan itu? Tapi kami tidak ambil pusing dengan sikap siapa pun terhadap apapun selagi itu tidak menyangkut urusan kami. Kenapa manusia sangat suka memperibet dirinya sendiri? Mengapa orang menyibukkan diri dengan mengurus hidup orang lain sementara hidupnya berantakan? Hahahah kami terlalu suka hal\-hal anfaedah ini untuk kami tertawakan. Ups, jangan anggap kami menertawakan bagian kekepoan orang, kami akan menertawakan pertanyaan itu yang berakhir dengan perumpamaan imajinasi yang melayang\-layang, menyelami awan\-awan kemudian berputar\-putar di angkasa, lalu pergi ke tempat penimbangan tiap tetes hujan apakah setiap tetesnya memiliki berat yang sama dan berakhir di sudut bibir yang nyengir bodoh karna kami tak medapatkan apa\-apa dari pembicaraan konyol itu. Terbayang kan betapa absurdnya 2 orang yang mungkin akan dianggap aneh oleh orang lain.
__ADS_1
Pernah suatu kali, aku dihadapkan pada sebuah peristiwa hidup yang membuat aku mengkaji ulang diriku. Aku sedang duduk di perpustakaan bersama Yaya, kami menikmati buku bacaan. Aku sudah selesai dengan buku yang kubaca tadi, aku meninggalkan Yaya duduk di kursi perpus dan mencari novel Harry Potter sequel Piala Api. Setelah mencari ke rak bagian karya sastra akhirnya aku menemukan si Haryy, Ron, Haimonie di cover buku. Karna sudah menemukan yang kucari aku pun ingin kembali ke bangkuku bersama Yaya tadi. Satu kebiasaanku yang mungkin bawaan lahir, aku melangkah tanpa menimbulkan suara kaki sama sekali. Itu kusadari karna sering kali anggota keluargaku di rumah terkejut melihat aku yang mereka anggap tiba\-tiba, sebab tak ada suara langkah ketika aku berjalan. Dari sela\-sela buku di rak aku melihat Yaya sedang berbicara dengan seorang anak laki\-laki yang juga teman sekelas kami. Namanya Azwa. Mereka sepertinya sedang membicarakan hal yang serius, soalnya alis Yaya sering menyatu dan pandangan tak suka sering Yaya tujukan pada Azwa di sela\-sela perbincangan mereka. Aku tak suka ikut campur dengan urusan orang lain, walaupun urusan itu menyangkut Yaya yang notabenenya adalah sahabatku. Tapi aku mendengar nama ku mereka sebu\-sebut, apa lagi Yaya terlihat semakin geram melihat Azwa. Aku jadi penasaran. Aku mencari posisi yang lebih dekat dengan mereka. Rak buku di depanku tepat di belakang bangku Yaya, dan aku semakin hati\-hati melangkah dan menghampiri tempat strategis itu untuk mendengarkan pembicaraan mereka. Maafkan aku menguping Ya, ucapku dalam hati.
"Kamu aja yang gak nyadar, Ya. Kamu itu terlalu polos, Nayya gak sesuci itu. Kamu pake kacamata kuda sih, jadi Cuma bisa liat satu arah aja. Ya yang keliatan si Nayya doang, orang kamu kemana\-mana sama dia aja." Ketus Azwa. Aku mencoba mencerna perkataan Azwa, namun ini belum merujuk kemana pun.
"Eh Wa, yang tau Nayya itu aku, kamu dan yang lain gak kenal aja dia kayakmana. Lagian dia gak pernah ngurusin orang lain, kok kamu heboh banget sih ngurusin dia." Jawab Yaya tak kalah ketus.
"Eh Ya, aku tu gak urusin si Nayya, tapi aku urusin kamu, aku peduli sama kamu, Nayya itu bawa pengaruh buruk sama kamu. Heran orang kutub gitu kok bisa nyasar ke sekolah ini! Kamu itu baik Ya, selalu nganggep Nayya sahabat, tapi apa kamu yakin Nayya juga nganggep kamu?!" Wajah Yaya terlihat murka namun sepertinya pikiran Yaya menerawangi perkataan Azwa. Aku yang mendengarkan pun hanya tertunnduk diam, aku marah, aku sangat marah mendengar penuturan Azwa tapi aku tak tahu harus bagaimana. Aku masih ingin mendengar semua muntahan kata\-kata dari mulut bengis Azwa, aku ingin tahu bagaimana teman sekelasku menilaiku selama ini. Mungkin ini akan semakin menyakiti perasaanku tapi aku tatap ingin tahu. Azwa kembali bersuara.
"Inget gak kejadian di depan UKS waktu itu, kamu mati\-matian belaian si Nayya yang dibully sama anak laki\-laki kelas IX\-G. Tapi apa respon dia? Nayya cuman diem aja, dan gak openin siapapun termasuk kamu. Dan aku juga pernah liat kamu nangis di kelas, ntah karna apa waktu itu tapi si Nayya cuman asik dengerin musik dari headsetnya. Asal kamu tay ya, Ya, kalau orang lain gosipin kamu dan Nayya dengar itu semua dengan jelas, dia gak peduli, dia gak ada respon apa\-apa. Bayangin! Sahabat sejati bangetkan si Nayya itu. Ih kamu emang terlalu baik untuk jadi temen beruang kutub kayak si Nayya." Tutur Azwa panjang lebar dengan ekspresi berapi\-api dan nada bicara yang sungguh seru dan nyinyir ala banci kelas cebong namun tetap menjaga volume suaranya karna ini perpustakaan tempat membaca bukan wadah bergosip ria. Azwa memang pria tak jadi namun belum siap bermetamorfosis ke wujud perempuan. Aku tercenung menghayati semua ucapan Azwa, semua kejadian yang dia beberkan itu memnag benar terjadi. Itu tidak bohong. Namun sayup\-sayup kudengar Yaya mendengus remeh.
__ADS_1
"Udah, Wa? Semakin panjang kamu menilai Nayya semakin keliatan kamu gak kenal dia, Wa. Udah ya, aku mau cari Nayya dulu, nyari novel doang lama banget." Jawab Yaya sambil berdiri dari kursinya dan beranjak menuju ujung ruangan menghapiri monitor pencarian buku, menyisakan Azwa yang melongo dengan mulut yang sedikit menganga, ia kecewa dengan usahanya yang tak membuahkan hasil, jangankan hasil malah zonk busuk yang ia peroleh. Sementara aku tertegun mendapati sikap Yaya yang diluar dugaanku. Seperti apa aku di mata Yaya? Pertanyaan itu terbit di pikiranku setelah sikap superior seorang sahabat yang ditunjukkan Yaya barusan.