
“Duhai senja,
Sajakmu tak bersuara
Indah saja dipandang mata
Mengikuti perasaan jiwa siapa
Duhai senja,
Aku ingin mengadu
Tentang hatiku yang hampir patah karna menunggu
Bagai beradu menuju sendu
Sendu yang kudapatkan dalam setiap napas penantian
Duhai senja,
Selaksamu bertambah sayu
Membuat aku ingin menjadi egois memilikimu
Seorang diri dengan kuasaku atasmu
Tapi kau tak semudah itu
Bahkan dengan mudah kau keluar dari lingkaran kasih sayang yang kuciptakan
Kau matahari itu,
Aku takut kau tenggelam
Kan kujalin apapun yang bisa membuatku terus melihatmu,
Menikmati pemandangan senja dengan kamu sebagai mataharinya
Jangan pergi, setidaknya sampai hatiku menjadi sangat lelah dan benar-benar menyerah”
“Kok selalu sedih gini sih, Van?” Ela gemas dengang tulisan Ivan yang selalu sedih dalam bentuk apapun, baik puisi atau sekedar penggalan kalimat.
“Itu datang gitu aja.” jawab Ivan santai.
“Berarti kamu sering galau ya?” tanyaku. Memang terkadang Ivan terlihat sedih, tapi paling sebentar. Kalau dihadapan orang lain ia terlihat cool dan sok keren menurutku dan Ela. Jika di depanku dan Ela ia sangat manusiawi dan tidak seperti oppa korea sebagaimana anggapan kebanyakan orang di sekolah ini. Kenapa aku bilang lebih manusiawi, karna beberapa drama korea yang aku dan Ela tonton itu punya dua jenis manusia yang sangat mencolok sebagai pemeran utama pria, yaitu devil dan atau angel. Satu tubuh bisa dihuni oleh dua sifat itu sekaligus. Ya, bagaimanapun Tuhan memang memberikan kedua potensi itu di dalam diri setiap hambanya. Sehingga dalam mode devil dan atau angel yang kental itu aku merasa mereka kurang manusiawi, meskipun itu sangat mungkin terjadi dalam kehidupan nyata.
“Galau sih iya, cuman bukan tentang cinta sama cewek gitu. Yah macem\-macem lah, namanya juga idup.” Tukas Ivan. Benar juga sih, setiap orang mesti memiliki hal\-hal semacam itu dalam kehidupan ini.
__ADS_1
“Tapi soal cewek pernah juga kan?” Ela memulai kekepoannya, menggoda Ivan dengan pertanyaan yang dapat memancing Ivan untuk menceritakan kisah asmara monyet kingkong versi Ivan.
“Kalau aku bilang ‘aku sering galau karna kamu’ gimana, La?” tanya Ivan ingin membalikkan umpan yang Ela lemparkan tadi. Aku sendiri berusaha agar memepertahankan ekspresi datar khasku, padahal aku sudah mulai merasa geli dengan kemungkinan perkembangan perbincangan yang bisa melebar sampai ke benua Afrika ini.
“Paling aku bakalan jadian sama kamu, terus menuhi fantasi kamu sama cinta gaje kamu itu.” Ujar Ela yang kini melakukan perlawanan pada Ivan. Oke, ini mulai seru. Ivan mengangguk\-angguk dan mengeluarkan aura smirk ala devil, lalu mencondongkan wajahnya ke arah Ela yang berada di depannya.
“Gimana kalau foto berdua aja dulu, terus aku unggah foto itu dan tag sosmedmu?” Ivan sudah tau betul kelemahan Ela. Abang baru bak barang antik yang tidak bisa diusik sedikitpun dalam bentuk apapun. Ela terlalu takut jika si beliau itu salah paham. Ia menoyor kepala Ivan dan beranjak dari tempat duduknya.
“Sesak boker ngomong sama kamu!” Ujar Ela sinis kemudian memutar balik tubuhnya dan berjalan masuk ke dalam rumah bibiku, menghentak\-hentakkan kakinya sambil melangkah dengan mulut yang terus bersungut\-sungut kesal karna Ivan. Ivan nyengir puas akibat kekalahan Ela dalam perdebatan mereka. Aku tersenyum geli dan sesekali menggeleng\-geleng karna tingkah mereka berdua.
Kami berada di taman belakang rumah bibi sore ini, ini hari minggu, hari libur sekolah. Setelah Ivan tidak sekelas denganku dan Ela kami jadi sering melakukan kegiatan sore di hari libur seperti ini di rumah bibiku. Menurut mereka berdua, rumah bibiku adalah tempat yang paling strategis dan minim gangguan untuk acara tak jelas rutinitas unmutu dan unfaedah kami. Aku senang\-senang saja menampung mereka disini, toh bibi tidak keberatan, ditambah lagi dengan fakta bahwa aku tidak perlu membuang\-buang uang jajanku untuk sekedar duduk minum latte di cafe. Meskipun terkadang kami melakukannya saat membutuhkan suasana baru.
“Ela ngambek.” Aku tersenyum miring sambil menaikkan kedua alisku sekilas. Ivan tersenyum membalas ucapanku.
“Jail banget kamu gangguin dia” Ujarku lagi.
“Aku maunya sih gangguin kamu, tapi gak mempan.” Ivan menatapku santai. Aku mengangguk\-angguk kecil mengamini fakta itu.
“Kamu pernah suka sama cowok, Nay?” tanya Ivan tiba\-tiba. Aku melihat ke arahnya, berpikir dan menimbang jawaban yang akan kuberikan.
“Emang harus?” tanyaku tanpa merasa memiliki kewajiban untuk ikut mengalami fenomena remaja jenis itu.
“Mmmm, gak ada keharusan sih.” Ujar Ivan, wajahnya terlihat sedikit berubah, tapi hanya sedikit, sudah menjadi kebiasaan bagiku mengamati perubahan ekspresi orang yang terlibat pembicaraan denganku. Ivan melempar pandangan yang mengisyaratkan ‘kenapa ngeliat aku begitu’, aku mendengus ringan karna tatapan Ivan, kualihkan pandanganku ke pohon bunga mawar yang sedang tidak berbunga di sudut taman.
Taman belakang yang selalu paman dan bibiku rawat ini berbentuk segi empat, ada sebuah meja kecil bundar dengan 4 kursi kecil yang mengelilingi meja, letak meja itu di sisi pagar yang berdekatan dengan tembok rumah ini. Pohon\-pohon rindang yang sengaja paman tanam mengelilingi taman, tepatnya di luar pagar pekarangan belakang ini. Keberadaan pohon itu memberikan udara yang lebih segar bagi siapapun yang berada di sini.
“Mungkin suatu saat, Van. Aku yakin setiap orang akan terlibat dengan urusan cinta tanpa sadar, setengah sadar atau sepenuhnya sadar. Mungkin suatu saat aku juga bakalan jatuh cinta kayak kamu dan Ela.” Ujarku pada Ivan. Jujur aku bingung dengan kata\-kataku sendiri, tapi kurasa perkataanku itu benar. Ivan tersenyum optimis dan sabar padaku. Mungkin Ivan tidak ingin melihat aku berakhir malang dengan kehidupan sendiri sampai mati. Ela dan Ivan tahu persis, aku hanya punya mereka yang bisa kuajak bicara sedikit maupun banyak sejauh ini.
__ADS_1
Ela kembali ke taman dengan wajah yang sudah berkurang kadar kecemberutannya. Entah mengapa aku merasa lucu dengan ekspresi cemberut Ela. Pemandangan itu selalu berhasil membuatku geli sendiri.
“Jadi kali ini mau dibuat nama atau kayak kemarin\-kemarin ‘NN’ alias No Name. Sok misterius hidup lo cicak pucet.” Ujar Ela ketus, rupanya ia masih kesal pada Ivan.
“Biarin, kodok kepo.” Balas Ivan sambil menjulurkan lidahnya mengejek Ela. Ela mencebikkan bibirnya dan melepas mata jengah untuk Ivan. Sebaiknya mereka tidak mulai lagi, hari sudah akan gelap, mereka harus segera kuusir dari sini sebelum mengganggu ketertiban kehidupan tumbuh\-tumbuhan di sekitar kami.
“Oke, Van. Besok kita muat tulisanmu di mading sama karya anak yang lain juga.” Aku dan Ela dipercayakan oleh guru penanggungjawab mading untuk mengelola mading sekolah. Sebagai anak bahasa tentu ini adalah pekerjaan yang menyenangkan. Aku dan Ela berbagi pekerjaan yang sesuai dalam kapasitas kami, yaitu Ela bagian berinteraksi dengan pengirim mading dan aku menyeleksi kelayakan karya\-karya tersebut. Menurut Bu Renny yang merupakan guru Bahasa Indonesia kami di kelas XI, beliau menganggap kalau aku memiliki kemampuan analisis dan pertimbangan yang baik dalam menilai karya teman\-teman. Yah, baguslah, akhirnya aku mendapat pengakuan akan hal positif yang aku miliki.
“Dan guys, pintu keluar belum diganti kok posisinya.” Ujarku secara tidak langsung menyuruh mereka pulang. Serentak mereka memandang tak suka padaku. Tetapi akhirnya mereka pulang juga, karna matahari sudah nyaris rebah seutuhnya.
🐤🐦🐤🐦🐤🐦🐤🐦🐤🐦🐤🐦🐤🐦🐤
Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉
Jangan lupa vote yaa...
Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.
Nah, cara dapatin poinnya:
temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda
Ambil poin yg ada di pusat misi.
setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊
CARA VOTE
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊