Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 31 Berita


__ADS_3

Selama ujian berita Ivan dan Yasemin pacaran sudah menyebar kebanyak telinga. Termasuk Ela dan aku. Ela terkejut setengah hidup, tapi aku sudah menduganya walaupun tidak menyangka kalau kabarnya langsung diketahui banyak orang begini.


Aku dan Ela sedang duduk berdua di teras lab bahasa, sejak mendengar tentang Ivan menjalin hubungan spesial bersama Yasemin temanku yang manis dan ceria ini menjadi murung dan banyak berpikir. Apa Ela punya masalah dengan kenyataan ini?


“Jangan diam aja, La. Aku jadi was-was.” Ujarku jujur. Ela melihat ke arahku dengan tatapan aneh, tidak biasanya kening pendeknya yang tertutup poni itu membawa kerutan yang dalam seperti saat ini. Si Ela kenapa ya?


“Nay, kamu hobi banget mikir kan? Apa kamu pernah mikirin Ivan?” tanyanya serius masih dengan tatapan yang sama. Aku mengangguk, aku sering memikirkan Ivan sejak ia masuk ke sekolah ini dengan sejuta kebetulan yang ia bawa. Tapi aku selalu mendapatkan penjelasan logis dari berbagai pertanyaan yang muncul.


“Misalnya?” Ela butuh penjelasan lebih rinci.


“Mmmm, gimana caranya biar aku bisa minta maaf sama Ivan?” pernyataanku lebih mengarah kepada pertanyaan, karna aku ragu apakah Ela mengharapkan jawaban yang seperti itu atau bukan. Ela mulai gereget mendengar jawabanku, artinya ia ingin mendengar yang lebih absurd atau bagaimana? Aku mungkin bisa bercerita tentang sesuatu yang memang masih mengganjal di hatiku meski selalu kutepis.


“La, sebenernya aku sama Ivan satu SMP tapi beda kelas. Aku tahu Ivan dari insiden yang kurang baik. Bahkan aku sempat berpikir Ivan ngikutin aku ke sekolah ini. Seiring berjalannya waktu aku menepis semua dugaan aku, karna semua pertanyaan seputar kebetulan tentang Ivan perlahan kehilangan alasan ‘mengapa’. Aku menganggap semuanya cuman kebetulan semata, dan membiarkan diriku lepas dari pemikiran yang memberatkan. Dan itu berhasil, kita akhirnya berteman, ditambah lagi sekarang Ivan udah punya pacar, jadi gak ada alasan lagi buat aku berpikir yang aneh-aneh tentang Ivan” Tuturku panjang lebar, aku tersenyum tipis pada Ela, namun Ela biasa saja.

__ADS_1


“Kamu gak kaget? Atau Ivan udah pernah cerita sama kamu?” tanyaku. Ela mengangguk menjawab pertanyaanku. Ela menggigit-gigit kuku jarinya, ia berpikir dan menimbang. Ada apa dengan anak ini? Ia sedang berpikir keras. Hanya soal ujian matematika yang mampu membuat si udel ini jadi kusut lecek begini. Apa sebenarnya yang membuat si manis jembatan ancol ini berubah menjadi ‘Archimedes girl’?


“La, kamu lagi mikirin apa?” aku mulai hati-hati dengan pertanyaanku.


“Pulang sekolah aku mampir boleh gak?” tanyanya dengan senyum yang mengembang. Aku membalasnya dengan tatapan geli. Mood Ela sungguh jauh dari kata stabil. Ckckckck. Baru saja ia kusut sekusut kusutnya dan sekarang ia bisa tersenyum seperti itu. Anda luar biasa Ela Kirana! Kuanggukkan kepalaku tanda memberi izin. Kami pun masuk ke dalam kelas dan melanjutkan ujian terakhir untuk hari ini.


Sepulang sekolah aku dan Ela berjalan bersisian, Ela menggandeng lenganku seperti biasa. Awalnya dulu aku risih tapi sekarang aku terbiasa. Kami membahas beberapa soal ujian yang kami kerjakan tadi. Aku tertawa karna Ela menceritakan ulang teks anekdot yang merupakan salah satu teks dalam soal ujian.


Sekolah kami memiliki tiga gerbang yaitu gerbang jurusan bahasa yang letaknya di bagian kiri gedung, gerbang IPA di bagian kanan gedung, dan gerbang IPS di tengah gedung bersisian dengan pintu ukuran sedang untuk para guru. Setiap jurusan keluar dari gerbangnya masing-masing kemudian menuju gerbang utama sekitar 100 meter di depan sana untuk keluar dari sekolah ini.


Di tengah perbincangan tak tentu arahku dan Ela, tiba-tiba ekspresi Ela berubah dan matanya fokus memandang ke sebuah arah. Aku mengikuti arah pandangan Ela, dan menemukan penyebab perubahan ekspresi Ela. Kenapa sepertinya Ela tidak suka terhadap hubungan Ivan dan Yasemin? Apa yang sebenarnya Ela sembunyikan? Aku jadi semakin penasaran. Ada rahasia apa antara Ela dan Ivan?


Aku, Ela, Ivan dan Yasemin mau tidak mau harus bertemu di gerbang utama, karna kami pulang setelah sekolah mulai sepi jadi tidak terlalu banyak siswa yang melewati gerbang ini. Yasemin tersenyum ramah ke arah kami, tapi Ivan? wajahnya sudah seperti jalan tol, lempeng. Hatiku jengah lama-lama melihat raut muka Ivan.

__ADS_1


“hai.” Yasemin menyapa dengan anggun dan bersahabat. Wah, gadis ini pasti memiliki banyak penggemar. Siapa yang tidak suka dengan perempuan cantik, pintar dan bersahaja bengini. Ckckckck, aku sebagai sesama perempuan saja kagum pada komposisi yang dimiliki gadis satu ini. Aku dan Ela membalas senyumnya.


“Rumah kalian satu arah?” tanya Yasemin kepada kami berdua, aku menggeleng dan Ela sedang bersitatap dengan Ivan. Wow, sekarang aku sungguh ingin tahu apa masalah kedua anak manusia ini.


“Aku mau mampir ke rumah Nayya, Yas.” Ujar Ela sedikit tegang, nada suaranya menunjukkan hal itu.


“Kamu gak ikut, Van?” tanya Ela kemudian. Kecanggungan menguar diantara kami berempat akibat pertikaian gaib yang terasa antara Ela dan Ivan. Aku menggigit bibir bawahku menahan ketegangan yang ganjil ini.


“Aku udah janji ngantar Yasemin pulang.” Jawab Ivan kemudian menunduk. Kuperhatikan Ivan dari tempatku berdiri. Sesuatu yang lain dan tak pernah kurasakan menyerbu dadaku, aku merasa terhenyak mendengar kata-kata Ivan. Kenangan ketika di samping perpus SMP, pertama kali Ivan masuk ke dalam kelas X2, kejadian botol minuman di depan lab bahasa, roti isi di dalam kelas, ketika Ivan menyentuh keningku di pinggir jalan, saat Ivan tiba-tiba muncul di kamarku, perbincangan dan tawa yang kami bagi hingga memory di belakang lab bahasa berputar silih berganti di kepalaku bagai sebuah film dokumenter, sesuatu berkumpul di dadaku dan terasa sakit menyaksikan Ivan di samping Yasemin saat ini. Ivan sangat manis dan peduli pada Yasemin. Apa yang salah dengan hatiku? Mengapa tiba-tiba terasa nyeri?


“Aku lapar, La.” Ucapku begitu saja. Ela tersenyum kecut padaku dan berpamitan pada sepasang manusia serasi yang diidolakan banyak orang di sekolah ini. Kami berlalu, melangkah membawa pikiran dan perasaan yang berkecamuk.


⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠⚠

__ADS_1


__ADS_2