Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 25 Jurusan


__ADS_3

Siang dan malam bergantian begitu cepat, seperti saling berlomba untuk menguasai bumi. Seolah bumi adalah pusat keduanya. Bumi adalah magnet yang ingin mereka lingkupi, ingin mereka lindungi, ingin mereka jamah tanpa henti. Tapi tiada yang tak memiliki akhir di alam semesta ini. Suatu saat, bulan dan matahari akan bertemu titik lelah dan kembali kepada pemilik keduanya. Karna perjuangan telah usai, pertualangan telah sampai, entah itu berbuah manis atau pahit.


Selama sebulan terakhir perbicangan pasal pemilihan jurusan sudah menjadi tranding topic bagi anak kelas X di sekolahku, tak terkecuali aku, Ela dan Ivan. Rasanya baru kemarin kami duduk di kantin sambil membicarakan persoalan ini, dan sekarang kami sudah sampai di hari itu. Di dalam kelas X2 semua anak mendengarkan arahan dari Bu Renny, wali kelas kami.



“Anak\-anak, hari ini kalian akan memilih 1 dari 3 jurusan yang disediakan sekolah untuk kalian, Yaitu IPA, IPS, dan Bahasa. Buat Ibu apapun yang kalian pilih itu terserah kalian. Ibu tidak memaksakan harus memilih jurusan IPA, pilihan ada pada kalian. Apapun itu yang penting kalian yakin dan bahagia menjalaninya ke depan. Tapi satu hal yang perlu ibu himbau kepada kalian semua, bahwa pilihan yang kalian buat itu sudah kalian diskusikan dengan orang tua atau wali kalian, dan jangan ikut\-ikutan dengan teman. Pilih sesuai kata hati. Paham?” Tanya Bu Renny setelah panjang lebar menjelaskan.



“Paham, Bu.” Jawab kami serentak.



“Kalau paham, silahkan isi form yang sudah dibagikan, jika ada yang kalian bingungkan langsung tanyakan kepada Ibu, ya.” Tukas wanita cantik yang kami panggil ibu kelinci itu. Ya, karna Bu Renny memiliki gigi kelinci. Terkadang bandot kelas tinggi \(abang kelas XII\) suka mencari\-cari perhatian pada Bu Renny, bagaimana tidak, Bu Renny masih muda, cantik, baik, lucu, dan belum menikah pula. Banyak sekali murid yang terpesona padanya. Kalau dipikir\-pikir mungkin ada anak lelaki yang menyimpan perasaan pada beliau, walaupun beliau notabennya adalah guru. Bocah\-bocah naif di sekolah ini menganggap usia bukanlah masalah. Padahal jelas\-jelas mereka masih pakai seragam dan minta uang jajan pada orang tua. Ckckckck, luar biasa.



Oke, balik ke form yang sudah meronta\-ronta ingin di sentuh pulpen. Aku melenggak\-lenggokkan alat tulisku menabuhkan segala sesuatu yang dipinta tulisan dikertas form jurusan. Ini mudah, ayah dan ibu menyerahkan keputusan jurusan sepenuhnya padaku. Aku sudah selesai dan memberikan tanda tanganku di pojok kanan bawah kertas. Kuharap suatu saat akan ada momen dimana aku akan menjadi penulis sekaligus profesor bahasa, lalu aku akan meladeni para penggemarku yang antri meminta tanda tangan setelah kegiatan bedah buku milikku di suatu tempat. Hahahahaha, aku menggila dalam hati dan pikiranku sendiri. Aku senyum sendiri membayangkan momen seperti itu. Ah, aku dan imajinasiku. Karna sudah selesai, kulihat ke arah Ivan. Dia kenapa?



“Belum selesai?” tanyaku pada Ivan yang masih berkutat dengan dua kolom kosong di kertasnya. Hanya dua kolom yang kosong, bahkan ia sudah membuat tanda tangan padahal kedua kolom itu belum ia isi. Kolom yang kosong itu adalah kolom jurusan dan alasan mengapa ingin memilih jurusan itu. Ivan menggeleng lemas menjawab pertanyaanku. Sepertinya Ivan sedang bingung, mungkin ia butuh bantuan.



“Kamu bingung mau ambil jurusan Bahasa atau IPA?” tanyaku pada Ivan, kami sudah tidak canggung lagi. Kami berteman. Kini Ivan mengangguk tak kalah lemas dari gelengannya tadi. Apa yang membuat Ivan bingung?



“Kamu pilih aja apa yang membuat kamu bahagia, kayak Bu Renny bilang tadi.” Ujarku memberi saran. Ivan menoleh ke arahku sambil mengulum senyum getir.

__ADS_1



“Bahagia gak sesederhana itu, Nay. Aku gak tau apa yang aku pilih akan membuat aku bahagia ke depannya. Di dunia ini gak ada yang pasti. Bahkan 1\+1\=2 aja bukan hal yang pasti dan tetap. Kalau suatu saat muncul teori yang lebih mutakhir tentang perhitungan dan 1\+1 udah bukan sama dengan 2, lalu semua orang di dunia ini beserta sistem berangsur\-angsur berubah, maka kita akan melupakan kalau 1\+1\=2. Segala kemungkinan berputar di sekeliling kita, dan aku takut dengan setiap kemungkinan terhadap pilihanku.” Tutur Ivan panjang dan puitis. Aku paham maksudnya, setiap pilihan yang sedang dihadapkan padanya membawa resikonya masing\-masing, dan Ivan takut akan resiko\-resiko yang sedang ia perhitungkan. Kenapa hidup Ivan kelihatan pelik ya.



“Tapi kamu udah nanya ortu kamu kan?” tanyaku memastikan, karna bagiku kalau sudah meminta saran kepada ayah dan ibu maka semuanya menjadi lebih ringan dan mudah. Ivan mengangguk, artinya ia sudah tanya, lalu?



“Ayah mau aku masuk IPA, katanya kalau mau jadi arsitek harus masuk IPA.” Ivan semakin lemas mendengar ucapannya sendiri. Oo ayah Ivan ingin anaknya jadi arsitek to. Pantas saja si Ivan jadi cemberut bagong begini. Pasti ia sedang galau tralala. Kasian Ivan. Tapi bahasa bukan pelajaran yang sulit, sesuatu terlintas di otakku, semoga bisa membantu Ivan mengambil keputusan.



“Bahasa bukan pelajaran yang sulit, Van. Kamu tetap bisa belajar tentang bahasa, dan bahkan berkarya. Jadi gak harus masuk bahasa.” Saranku pada Ivan, bagaimanapun ridho orang tua adalah ridho Tuhan. Ivan terlihat berpikir.



“Kalau Ibu kamu bilang apa?” tanyaku lagi.


“Nay, aku ambil IPA aja, ya. Kamu sama Ela gak apa-apa kan?” tanya Ivan tiba-tiba. Aku mengangguk pasti, walaupun aku, Ela dan Ivan sudah merasa akrab satu sama lain. Entah mengapa hatiku merasa akan kehilangan.


“Tapi kita harus lebih sering nongkrong, biar aku gak mati kangen sama kamu.” Wajah Ivan berubah memelas. Kamu? Aku melirik jengah ke padanya.


“Jijik, Van.” Jawabku singkat, tapi Ivan malah menahan tawa akibat ekspresiku. Ivan terkadang suka bercanda seperti itu padaku dan Ela. Sekali dua kali aku curiga lalu menoleh ke masa lalu, tapi setelah itu aku biasa saja. Apalagi yang dimanis-manisin si Ivan bukan cuma aku tapi Ela juga, terlebih jika ia menginginkan sesuatu dari kami berdua. Seperti saat ini, ia ingin kami lebih sering menghabiskan uang orangtua di luar fungsinya. Ivan mungkin punya banyak uang, tapi aku? Aku siswi perantauan dengan uang jajan sederhana. Kalau Ela? Sependek yang kutahu ia santai saja kalau soal duit. Mungkin dia juga anak orang kaya. Jadi hanya aku yang berkomplik pasal ini saudara-saudara! Tapi kalau dipikir-pikir Ivan itu terkenal cool, dia menunjukkan sifat aslinya hanya padaku dan Ela itu pun lihat situasi dan kondisi yang memungkinkan. Ivan punya pengendalian yang tinggi terhadap dirinya, dia tahu kapan harus menunjukkan perasaanya dan kapan harus bersembunyi.


“Mmm, tergantung Ela.” Kujawab sambil mengangkat sedikit bahuku. Ivan mengangguk setuju, Ela yang selalu mengambil keputusan tentang beberapa hal yang menurut kami berada dalam kompetensinya.


Akhirnya Ivan mengambil jurusan IPA, sedangkan aku dan Ela bahasa. Entah Ela memang mengikutiku atau karna ia memang ingin masuk bahasa, yang penting aku dan Ela berkemungkinan besar kembali sekelas, berbeda dengan Ivan yang sudah terang tidak akan sekelas lagi dengan kami berdua.


●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●

__ADS_1


Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...


Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.


Nah, cara dapatin poinnya:



temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda


Ambil poin yg ada di pusat misi.


setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊



CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.

__ADS_1



Terima kasih 😊


__ADS_2