
Jika daun yang jatuh tak pernah membenci angin itu mungkin karna ada beberapa kondisi.
One: daun yang masih muda dan kuat tidak akan jatuh kalau hanya di tiup angin sepoi-sepoi atau sebut saja angin yang sedikit kencang seperti ketika hujan akan turun. Tapi daun yang sudah mulai tua atau bahkan memang sudah kuning akan mudah jatuh hanya dengan sedikit hembusan angin. Jadi jangan salahkan angin apalagi membencinya, karna daun tua itu jatuh oleh kerapuhannya di usia yang sudah tidak muda lagi, serta tugas angin untuk berhembus.
Two: daun tajuh, baik yang pucuk, daun muda, dan setengah tua yang bergelimpangan di tanah karna angin kencang, sebut saja badai atau topan mungkin tidak akan terlalu sakit. Karna apa? Karna jatuhnya berjamaah dan angin mungkin tidak bermaksud kasar, hanya saja dia tidak punya pilihan lain.
Yah, begitulah takdir mengemas hubungan daun dan angin. Angin jua yang membelai-belai daun dengan irama hembusannya yang syahdu, sehingga terkadang membisikkan bunyi-bunyi indah disela rusuk-rusuk daun, membuat daun menari riang sepanjang hari. Lalu angin pula yang akan membantu menyempurnakan kejatuhan sang daun ke tanah. Ah, angin dan daun, terlalu puitis bagi hati yang sedang patah. Tapi bagaimana kira-kira rasanya ketika hati kita dipatahkan? Pasti sangat tidak nyaman, atau lebih tepatnya sangat mengerikan? Aku masih ingat bagaimana Yaya uring-uringan dalam mode bad mood lebih dari sebulan karna putus dengan cinta-cintaan kingkongnya yang bernama Jaya waktu itu. Entahlah, Yaya dengan sadar memilih terminal sakit hati itu untuk sejenak tersungkur di sana. Semua orang bebas memilih apa yang hatinya inginkan, bukan? Ya, itu benar.
__ADS_1
Seperti rencanaku waktu itu, sekarang aku sekolah di salah satu SMA negeri di kota tempat keluarga ibu. Sebenarnya ini usul ibu dan kuamini karna aku juga ingin mendapatkan pendidikan dengan kemajuan yang lebih cepat di bandingkan sekolah di kota dekat desaku. Bagaimanapun sekolah adalah hal yang sangat penting untukku, mengingat impianku yang akan terdengar muluk\-muluk di pikiran siapapun yang mendengarnya. Kalian tahu apa impianku? Tentu saja kalian tidak tahu, untuk itu akan kuberi tahu saja. Aku ingin menjadi profesor di bidang yang akan kugeluti nanti sebelum usiaku 35 tahun. Bagaimana? Aku terlalu bertingkah memang dalam bermimpi. Makanya Yaya selalu mengolok\-olokkan istilah 'frog' yang Yaya pelesetkan dari kata 'Prof'. Tapi namanya juga mimpi, sah\-sah saja kurasa. Aku ingin jadi profesor bahasa atau sesuatu yang berhubungan dengan biologi mungkin. Aku harus bersungguh\-sungguh belajar jadi aku tidak akan menyia\-nyiakan waktuku untuk hal\-hal yang tidak penting. Itu tekadku.
Keluarga ibu mengenalku sebagaimana orang\-orang mengetahui seperti apa aku, anak remaja perempuan yang sangat pendiam. Ya, itu tepat. Aku tinggal di rumah sepupu ibu, Bibi Niah namanya. Bibi dan suaminya tidak memiliki anak, mereka adalah pasangan yang kukira usianya sepantaran ayah dan ibuku. Aku tinggal di sini karna alasan itu ditambah rumah bibi yang dekat dari sekolah, aku hanya perlu berjalan kaki sekitar 500 meter untuk sampai ke SMAku.
__ADS_1
Lalu bagaimana dengan masa orientasiku? Tidak ada yang istimewa, aku benci kakak\-kakak kelas yang suka menyulitkanku, mengoperku kesana kemari dan kutanggapi dengan datar namun masih menurut hingga mereka bosan dan mencari angsa lain dengan bulu yang lebih indah. Terserah mereka, aku hanya perlu mengikuti alur cerita yang mereka inginkan, dan semuanya berakhir setelah 3 hari MOS.
Aku masuk kelas X2, tidak buruk karna masih ada kelas X3 sampai X9. 2 minggu pertama sekolah kujalani dengan antusias tanpa satu orang teman yang klik di hati. Aku sungguh merindukan gadis putih pucat, dengan rambut panjang sepinggang berwarna hitam pekat nan lebat. Siapa lagi kalau bukan Yaya. Kalau diingat\-ingat, waktu pertama masuk SMP Yaya sejengkal lebih tinggi dariku, tapi setelah aku mendapat berkah sebagai perempuan aku mengerjar ketertinggalanku, tulang\-tulangku memanjang sehingga tinggi kami sebaya waktu terakhir kali duduk manis di depan teras rumahku, sekitar 1 bulan yang lalu, sebelum aku pergi ke kota ini.
__ADS_1
Yaya selalu bilang dia suka rambutku, katanya seperti rambut nuna\-nuna koreanya, bergelombang besar\-besar dan berwarna coklat tua, ini rambut turunan ibu, kulit kuning langsatku juga dari ibu, gigi kelinci ini juga dari ibu, mata besar dan alis tebal ini juga dari ibu semua karakteristik fisik ini warisan ibu untukku, kecuali lesung pipi nanggung di pipi kanananku ini dari ayah. Namun ayah mewariskan hal lain, yaitu kepribadianku. Setelah kupikir\-pikir, ayahku itu pria dewasa yang kaku dan pendiam. Membayangkan sifat ayah, aku menjadi sedikit frustasi, ayahku orang yang sangat pendiam, persis seperti aku. Haduuuuhh, Tuhan pasti punya rencana yang baik untukku.