Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 17 Mendung Putih


__ADS_3

Mendung putih menyelimuti kota. Nuansa sendunya melanda banyak hati, termasuk hatiku. Jauh dari orang tua, tinggal di rantau orang, demam dan kesepian. Meskipun seperti yang kalian tahu, aku sesungguhnya tak benar-benar jauh dari keluarga, karna aku tinggal bersama sepupu ibu dan suaminya, sepasang manusia paruh baya yang baik dan memperhatikanku dengan amat sangat. Bukan bermaksud ingin membandingkan ibu dan bibi, karna mereka adalah dua orang yang sungguh sangat berbeda. Perbedaan itu jelas untukku dan membuat aku memiliki perasaan nyaman yang juga berbeda terhadapa keduanya, ibu adalah wanita yang paling kucintai di dunia ini, dan bibi adalah sepupu ibu, seorang wanita yang penuh pengertian.


Jika bicara tentang bibi dan paman, aku melihat sebuah harmonisasi dari kata jodoh. Mereka sangat akur, kalem dan banyak tersenyum satu sama lain. Jarang sekali aku melihat mereka terlibat perdebatan, atau salah satu mengomeli yang lain, seperti ibu yang sering mengomel tentang ayah atau pun berbagai hal yang membuatnya kesal. Bibi perempuan yang tenang dan teduh dari perawakannya, dan paman adalah suami yang sikapnya manis namun selalu sopan kepada bibi. Terlihat jelas bahwa paman adalah seorang pria yang sangat mengahargai dan menghormati wanitanya. Kadang aku tersenyum sendiri saat mengamati mereka dari jauh. Mereka pasangan yang saling menerima dan berusaha melengkapi satu sama lain. Kurasa itu adalah salah satu alasan yang kuat sehingga mereka bisa bertahan hingga hari ini, walau tanpa buah hati yang meramaikan kehidupan mereka. Pernah terbersit di benakku, suatu hari nanti aku bisa seberuntung bibi, memiliki suami yang manis, sopan, penyayang, sabar dan penuh pengertian. Dan aku selalu malu dengan pikiranku itu, aku masih anak kecil bau kencur tapi sudah disinggahi pemikiran demikian. Apa itu normal? Entahlah. Diam\-diam aku kadang memperhatikan mereka di teras belakang, duduk sambil membaca buku dan minum teh atau kopi, mereka suka keduanya.



Bibi tidak pernah memaksaku ngobrol dengannya, aku merasa dia dan paman mencoba untuk memahami kepribadian dan cara hidupku. Mereka membuatku nyaman dengan cara yang aku inginkan. Walau cenderung mengikuti pola interaksi yang kuinginkan namun mereka tidak cuek sama sekali, masih penuh perhatian dan tidak mengekang sama sekali. Tadi siang saat pulang sekolah bibi sangat khawatir ketika tau aku demam. Ia dengan sigap mencoba untuk meredakan suhu tubuhku yang membara. Mulai dari kompres panas darurat, memaksa makan walau sedikit saja agar aku bisa minum obat. Bibi setengah memohon agar aku mau diperiksa dokter yang kebetulan tetangga kami. Dokter itu sedang cuti dari rumah sakit tempatnya bekerja, karna buah hatinya tengah demam di rumah. Dokter itu mengatakan kalau akhir\-akhir ini banyak orang yang jatuh sakit akibat cuaca yang tidak menentu, kadang sudah sangat panas, eh tiba\-tiba mendung, hujan sebentar kemudian panas lagi. Itu benar, semalam panas matahari seakan ingin membakar bumi, tapi hari ini justru mendung putih membungkus kota, entah kota kami saja atau ada bagian bumi lain yang mengalami cuaca serupa. Entahlah, yang jelas sekarang aku merasa murung seperti langit hari ini. Baru pukul 9.30 pagi. Aku menyesal ikut jadi korban kelabilan cuaca, aku juga menyalahkan imun tubuhku yang tidak kooperatif. Sebentar lagi ujian semester ganjil kelas X, tapi aku malah libur sekolah. Kalau aku masih bisa berjalan dan mengikuti pelajaran aku akan tetap sekolah, tapi apalah daya, beridiri saja aku tak sanggup, tubuhku sungguh lemas.



Lelah sekali rasanya berbaring sepanjang waktu. Kutarik tubuhku untuk bersandar di kepala ranjang tempat tidur minimalisku. Kuikat rambut sepinggangku ke atas, berantakan dan kusut. Setelah mengikatnya aku merasa lebih baik. Kulirik bungkusan obat yang sudah kuminum tiga kali selama aku demam, kuhela napas malas lalu meraih bungkusan obat yang berada di atas nakas di sambing kasurku. Kutaruh di bawah bantal tidur yang kusandari, menyembunyikannya dari bibi. Aku tidak suka meminum obat, tapi jika dipikir\-pikir apakah ada orang yang suka meminum obat? Saat di kampung pun, kalau aku sakit hanya ayah yang bisa memaksaku minum obat. Tapi disini aku cukup tahu diri, tidak ingin merepotkan paman dan bibi dengan kepala batuku. Kuambil tisu basah di laci nakas, dan ku lapkan di seluruh wajahku, rasanya menjadi jauh lebih segar. Tadi pagi sekali aku sudah bangun dengan susah payah mencuci muka dan gosok gigi. Namun aku belum ada mandi dari kemarin, rasanya badanku lengket, lagi\-lagi apalah dayaku saat ini, masih sedikit pusing dan lemas. Keberadaan tisu basah di dunia sangat kusyukuri saat ini. Kira\-kira siapa yang pertama kali membuat tisu basah dan menjadikannya bisnis ya? Aku akan mencari tahunya.


__ADS_1


Siang nanti aku akan makan dan minum obat tanpa di mandori oleh bibi, aku akan terlihat jauh lebih sehat sehingga bibi tidak perlu memastikan makanan dan obat masuk ke dalam lambungku. Setelah istirahat sehari lagi, aku yakin akan kembali sehat seperti hari\-hari sebelumnya. Setelah selesai memindahkan minyak dan kotoran dari wajah ke dua lembar tisu basah, akhirnya tisu basah nan malang itupun berakhir di tong sampah pink yang berada di sisi lain ranjangku. Kupandangi seisi ruangan kamarku yang bernuansa pink, bibi dan paman mendekorasi ulang kamar ini setelah tahu aku akan tinggal di rumah mereka. Mereka sangat antusias, aku sungguh menghargai usaha mereka meski aku tidak suka warna pink. Namun bukan masalah untukku. Sudah syukur bibi dan paman menerimaku dengan tangan terbuka dan penuh penghargaan. Belum tentu semua orang seberuntung aku.



Sebenarnya aku tidak memiliki warna yang kuklaim sebagai warna favorit, namun setiap membeli sesuatu aku selalu cenderung pada warna gelap, dan jika ada warna baby blue atau grey aku akan lebih tertarik dengan warna itu. Mungkin tanpa sadar warna\-warna tersebut sudah menjadi warna kesukaanku. Aku memang sering tidak menyadari banyak hal dalam hidupku bahkan dalam diriku sendiri. Jika sesuatu itu tidak sangat menggangguku maka aku akan cenderung tak acuh, lalu mengabaikan hal itu begitu saja. Aku memang sangat amat tidak peka, terkadang aku juga ingin tahu bagaimana caranya menjadi peka agar aku tak terkesan dingin. Kusadari dulu saat aku masih kanak\-kanak, aku sangat peduli terhadap banyak hal, penasaran dan ingin tahuku tinggi. Tetapi seiring berjalannya waktu, aku mendapat banyak luka di hati karna sikapku yang mungkin tidak seperti kanak\-kanak pada umumnya, sehingga aku mulai menjadi lebih pendiam dan menutup diri. Sekarang aku baru bisa melihat apa yang terjadi padaku, serta bagaimana aku menyikapi semuanya. Mau bagaimana lagi, aku merasa hal itu sudah mendarah daging. Aku selalu menimbang segala sesuatu yang kuperbuat dan terkadang menyesali sikapku sendiri. Karna berbagai hal akhirnya aku memutuskan minim berinteraksi dengan orang lain, dengan begitu semakin minim dampak sakit hati. Semakin tidak perduli, maka akan semakin sedikit luka yang kuterima. Tanpa sadar aku telah berjalan di atas rel pembatas untuk diriku dan orang lain. Dan sekarang dari pada bosan lebih baik aku mendengarkan musik.


--------------------------------


Jangan lupa vote yaa...


CARA VOTE


__ADS_1


Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.



Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2