Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 18 Telah Lama Aku Bertahan


__ADS_3

Telah lama aku bertahan


Demi cinta wujudkan sebuah harapan


Namun kurasa cukup kumenunggu


Semua rasa tlah hilang


Sekarang aku tersadar


Cinta yang kutunggu tak kunjung datang


Apalah arti aku menunggu bila kamu


Tak cinta lagi


Baru satu menit lebih sedikit suara indah Raisa mengalun ditelingaku, tiba\-tiba pintu kamarku yang tidak kukunci terbuka setengah. Memperlihatkan sosok bibi berdiri sambil memasang senyumnya. Senyumnya? Senyum bibi kenapa? Tidak seperti senyum biasanya. Kenapa senyum bibi terlihat menggodaku saat ini. Ah mungkin perasaanku saja. Aku mematikan musik dari smartphonku itu dan melepas headset dari telingaku.



“Kenapa, Bi?” tanyaku pada bibi yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


“Kamu udah bisa jalan gak?” Tanya wanita paruh baya yang terlihat jauh lebih muda dari usianya itu, dan kurasa bibi sedang mencoba menutupi sesuatu di hatinya. Tapi entah apa.


“Masih lemes.” Jawabku jujur. Untuk menyandar seperti ini saja aku merasa lunglai.


“O yaudah.” Balas bibi kemudian berlalu tanpa menutup pintu. Aku jadi bingung, tumben bibi lupa nutup pintu kamarku. Aku tidak nyaman berada di kamar yang tidak ditutup pintunya, seperti diintai, risih. Sebentar lagi setelah mengumpulkan puing-puing sisa tenaga aku akan menutup pintu itu. Namun kudengar suara langkah menuju kamarku, mungkin bibi sadar kalau dia lupa menutup pintu tadi. Dan benar saja, bibi muncul kembali dan kini masuk ke dalam kamarku. Tapi bibi tidak sendiri, ada seseorang yang aku kenal berdiri di belakangnya. Tubuhnya yang tinggi memampangkan wajahnya yang menyebalkan. Aku kaget bukan main, mataku sudah melotot bersiap untuk keluar dari sarangnya.


“Ini temen sekelas kamu jenguk, Nay. Katanya dia ketua kelas, ya? Disuruh wali kelas. Eh bibi baru tahu, kalau satu hari sakit aja wali kelas udah nyuruh teman sekelas kamu jenguk. Kalau zaman bibi sekolah sih, tiga hari sakit baru dijenguk.” Tutur bibi dengan wajah lagi-lagi seperti menggodaku dengan lirikan mata dan senyum itu. Apa yang sedang bibi pikirkan? Aku ngeri membayangkan sesuatu yang kini memenuhi kepala paruh baya bibiku. Dan di sana, tepat di belakang bibi ada sesosok penampakan yang mukanya sudah merah dan salah tingkah menahan malu. ‘Rasain kamu, Van. Bikin gondok, ngapain buat acara jenguk begini.’ Sakitku bertambah, kepalaku yang tadi pusing sedikit sekarang nyut-nyutan menahan malu bercampur geram. Apalagi kata-kata dan ekspresi serta gerak-gerik bibi yang entah mengisyaratkan apa, membuat aku bertambah pusing.


“Yaudah, Bibi tinggal dulu ya, Nay, Nak Ivan. Tapi pintunya jangan ditutup lho.”ujar bibi kemudian berlalu dengan senyum yang entah apa maksud dan tujuannya. Setalah bibi keluar dari kamar, atmosfir canggung menyeruak di dalam kamarku. Ivan masih berdiri di tempatnya. Tidak ada yang ingin memulai pembicaraan, pun aku bingung harus berkata apa. Aku mengalihkan pandanganku ke sembarang arah, aku mulai terganggu dengan warna pink ini. Untuk situasi macam ini, aku butuh warna teduh yang bisa membuat pemandangan menjadi lebih luas. Warna pink muda semakin membuat kamarku terasa sempit saat ini.


Ivan berjalan ke arah meja belajarku dan menaruh sesuatu yang kuduga adalah buah, tapi entah buah apa. Ia menarik kursi belajarku dan duduk di atas bangku itu, tepat di sampingku. Aku semakin risih dan gelisah. Apa lagi saat ini, aku pasti terlihat lucek dan berbau asam. Aku sebenarnya tidak terlalu perduli dengan penampilanku sehari-hari, tapi saat ini aku benar-benar tidak dalam kondisi yang bisa dilihat orang lain dari jarak yang dekat. Mungkin bau badan yang belum mandi dari semalam ini akan sampai ke penciuman Ivan cepat atau lambat.


“Kamu sakit apa?” tanya Ivan akhirnya.


“Demam biasa.” Jawabku memilih menundukkan kepala.


“Udah minum obat?” tanyanya lagi.


“Udah.” Jawabku, aku jadi geli kalau si Ivan jadi perhatian begini. Apa? Perhatian? Tidak. Mungkin Ivan hanya sedang mengusahakan pembicaraan agar kami tidak semakin canggung.


------------------------------

__ADS_1


Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...


CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.



Terima kasih 😊

__ADS_1


__ADS_2