
Mendapati Ivan dengan sikap manisnya membuat aku menyadari satu hal, yaitu aku tidak pernah kehilangan Ivan. Ia masih seseorang yang sangat peduli padaku, aku dapat merasakannya. Baru kali ini aku merasa bahagia hanya karna Ivan ada di depan mataku.
"Rambut kamu kok digerai?" Tanya Ivan tiba-tiba di tengah sesi makan kami.
"Hm?" Aku mengangkat wajahku yang menunduk karna sibuk menikmati mie ayam jamurku. Ivan merogoh tas belanjanya tadi lalu mengeluarkan ikat rambut berwarna grey, ikat rambut sederhana dengan satu buah ornamen berbentuk kepala kelinci. Ia beranjak dari tempat duduknya lalu memutari meja dan berhenti di belakangku, kepalaku ikut berputar melihat apa yang ingin Ivan lakukan. Ivan mengarahkan kepalaku agar membelakanginya, Ivan mau apa? Jangan sampai ia melakukan hal norak di tempat ramai begini.
"Yang nurut, kalau gak aku gak mau maafin." Ujar Ivan membuatku tak berkutik. Kurang ajar Ivan, sementang ia tahu aku sangat mengharapkan maaf darinya ia langsung memodusiku. Dasar Ivan cicak pucet! Tidak punya pilihan lain, aku seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, peliharaan Ivan yang patuh.
Ivan mengumpulkan rambutku yang tergerai, merapikan genggaman rambutku yang lebat di tangannya, kemudian mengikatnya di belakang leherku. Sesekali jari Ivan tak sengaja menyentuh kulit leherku, aku penggeli, sehingga aku bergidik akibat sentuhan tak disengaja itu. Satu dua orang yang menyadari tingkah Ivan yang sok manis tersenyum ke arahku dan Ivan, dasar Ivan norak. Setelah selesai dengan kegiatannya, Ivan kembali ke tempat duduknya. Wajahku sudah seperti baru di tonjok di pipi kanan dan kiri, memerah karna malu.
"Kamu gak malu?" Tanyaku tak suka pada Ivan.
"Aku nolongin kamu. Aku harus malu?" Tanya Ivan balik, sebenarnya aku yakin bisa meladeni Ivan dalam berdebat, bagaimanapun sependek yang kutahu Ivan memiliki manuver yang berbelit dalam berpikir serta berbicara dan aku juga memiliki hal yang sama. Tapi ini di tempat ramai dan aku masih mengharapkan pembicaraan saling memaafkan dengan damai, bukan malah menambah masalah. Sehingga aku memutuskan hanya memberi Ivan senyum tak habis pikir. Setelah meneguk jus jerukku hingga separuh gelas, aku tarik cup es krimku yang sudah satu pertiga bagiannya mencair. Coklat dan vanila menyatu, aku suka keduanya dengan mencicipinya bergantian bukan malah memakannya sekaligus begini. Tapi mau bagaimana lagi, berhubung aku memang sedang kesal dengan Ivan, es krim adalah penenang yang selalu kuandalkan. Rasa manis pada es krim membuat aku menjadi lebih rileks.
"Jadi apa kamu ada sesuatu yang mau disampein ke aku?" Tanya Ivan setelah ia selesai dengan makanannya. Aku tersadar mendengar pertanyaan Ivan. Kutaruh sendok es krim di piring cupku. Kuperbaiki posisi dudukku lalu menarik napas dalam secara perlahan. Oke, aku siap.
"Aku selalu merasa diriku bukanlah orang yang baik, aku sering mendengar itu dari orang lain mulai dari sekolah dasar sampai sekarang. Tapi Edgar adalah satu-satunya orang yang mengatakannya langsung di depan wajahku dengan cara yang membuat aku merasa kecil dan malang. Kata-kata Edgar mempengaruhiku sampai menutupi ketulusan kamu dan Ela saat itu. Aku tahu kamu dan Ela tulus sama aku, maafin aku ya? Tapi kamu gak perlu jawab, karna tadi kamu bilang kamu akan maafin aku walaupun aku gak minta maaf." Ujarku sambil tersenyum jahil padanya. Ivan tersenyum hingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Ivan mungkin tidak mengira kalau aku akan mengingatkan ia akan kalimatnya tadi. Ia mengangguk-angguk paham.
"Eh, Van aku boleh tanya sesuatu yang agak pribadi gak?" Aku perlu memastikan sesuatu.
__ADS_1
"Kamu boleh tanya apapun, Nay." Ujar Ivan yakin. Aku mengangguk senang.
"Mmm, kamu beneran pacaran sama Yasemin?" Tanyaku hati-hati. Ivan berpikir sejenak.
"Kamu cemburu?" Pertanyaan Ivan tak kuduga sama sekali.
"Huh? Emang aku harus?" Tanyaku balik. Ivan mengerinyitkan keningnya lalu mengangguk.
"Kenapa?" Tanyaku lagi. Ivan tersenyum tipis ke arahku dan melihat mataku dalam-dalam, ia beralih melihat ke telingaku? Ivan mengulurkan tangannya ke arah wajahku, lalu menyelipkan anak rambutku ke balik telinga kiriku dengan tangan kanannya. Perbuatan Ivan membuat jantungku tidak befungsi normal, aku duduk di kursi tapi berasa lari maraton. Apa-apaan ini. Pipiku terasa menghangat, apa aku harus menggerai rambutku lagi?
"Gak apa-apa, Nay." Ujarnya kemudian.
"Apa yang lucu? Gini deh, Van. Coba kamu bayangin gimana perasaan Yasemin kalau liat kamu sok manis ke sana sini sama perempuan lain, dia pasti sakit hati dan gak terima. Meski pun aku dan Ela sahabat kamu tapi tetap aja. Jangan sampe aku dan Ela jadi duri dalam hubungan kalian. Aku gak mau." Ujarku sangat serius. Bagi perempuan hal semacam ini sangat penting, sebuah kejelasan akan posisinya. Ivan mengangguk-angguk, mudah-mudahan anggukannya itu pertanda ia paham dengan maksudku. Ivan memang pintar tapi terkadang ia menyebalkan kalau pembicaraan sudah mulai serius.
"Menurut kamu Yasemin itu kayak apa, Nay?" Tanya Ivan kemudian. Maksud pertanyaan Ivan ini ke arah mana? Pertanyaannya terlalu umum, aku butuh pertanyaan yang lebih spesifik untuk jawaban yang tepat.
"Kayak manusia biasa." Ujarku santai, aku tahu jawaban itu jauh dari harapan Ivan.
"Oya?" Wajah Ivan mengeluarkan aura yang artinya kira-kira begini 'hati-hati Nayya, kalau kamu mulai maka akan aku lanjutin' aku menghindari tatapannya.
__ADS_1
"Makanya nanyaknya spesifik dikit dong." Cetusku sebal.
"Menurut aku ni ya, Yasemin cantik, kata Ela dia pintar dan kalau aku liat dia disukai banyak cowok." Jelasku seadanya, karna aku memang tak mengenal Yasemin, lagian kenapa Ivan nanyak pendapatku tentang Yasemin, padahal ia lebih sering bersama gadis itu. Sampai anter pulang ke rumah segala. Kenapa aku jadi geram sendiri mengingat fakta itu? Lagian itu wajar, mereka kan pacaran.
"Kamu seharusnya lebih tau tentang pacarmu." Sambungku kemudian.
"Aku gak pacaran sama Yasemin." Ujar Ivan santai. Apa aku tak salah dengar?
"Huh? Maksudnya?" Aku tidak mengerti. Tampang bolot terparkir di wajahku saat ini.
"Aku udah bilang sama Ela kalau aku dan Yasemin cuman temen." Jelas Ivan singkat.
Jadi selama ini kenapa orang-orang bilang mereka pacaran?
"Aku udah sering bilang sama orang yang nanyak sama aku soal hubunganku dan Yasemin kalau kami cuma temenan. Tapi orang lebih percaya pikiran mereka sendiri dari pada fakta sebenernya." Ucap Ivan begitu saja. Aku terpelongo bodoh.
Yah, begitulah Ivan, dia tidak mau repot-repot menjelaskan panjang lebar untuk meyakinakan orang lain tentang dirinya atau hubungannya dengan Yasemin. Memang terkadang semakin panjang penjelasan maka akan semakin beragam gosip yang beredar. Pilihan setiap orang tidak pernah tepat dan benar untuk semua orang, tanggapan orang beragam tentang apapun.
🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀🍀
__ADS_1