Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 24 Seluarbiasa Itukah Cinta?


__ADS_3

Manusia bisa menghargai sesuatu ketika ia menyadari bahwa ia tidak bisa memiliki hal atau sesuatu itu sesuka hati. Seperti yang kurasakan ketika berkumpul bersama ayah, ibu dan kakak-kakakku, aku terus berusaha membekukan setiap momen indah yang kami lewati di hati dan pikiranku. Ketika aku sedih, sendiri, dan kesepian aku akan memutar ulang kenangan-kenangan indah itu untuk mengusir rasa pahit menyerbu ke relung jiwa yang terasa kosong.


Libur semester 1 sudah usai, hari demi hari berjalan dengan kesibukan yang berbeda-beda pada setiap orang. Kemampuan belajarku terus kutingkatkan, setidaknya semester depan tidak sampai turun ranking. Hal itu sangat penting bagiku, selain aku sangat suka belajar sekarang aku memiliki motivasi lebih sebagai seorang putri yang berjuang menempuh pendidikan di rantau orang. Tanggungjawabnya terasa.


Sejak akhir semester 1 sampai ke semester 2 aku sering bersama Ela di sekolah. Aku dan Ela adalah dua orang yang bertolak belakang secara kepribadian. Ela gadis yang sangat ceria, ekspresif, manis, dan lucu, serta ada sifat Ela yang kukagumi yaitu kedewasaannya dalam berpikir dan satu lagi, dia tidak pilih-pilih dalam berteman. Aku baru tahu, perbedaan yang paling besar antara aku dan Ela dengan ajaib bisa membuat kami berteman. Tuhan memang memiliki miliaran cara unik untuk miliaran hal.


Aku ingin mengatakan sesuatu, sebenarnya bukan hanya Ela yang mulai akrab denganku tapi Ivan juga. Ivan ternyata memang anak yang baik, dia sering mengajariku pelajaran matematika, fisika, kimia, pelajaran yang sulit untuk otak kiri nyaris beku sepertiku. Dan kalau boleh kutambahkan ternyata Ivan orang yang sangat penyabar, buktinya ia tak pernah marah tapi justru meladeni kelolaanku pada berbagai hal yang tidak kupahami. Walaupun aku mengenalnya karna sebuah insiden tidak mengenakkan, tapi perlahan aku merasa Ivan membuktikan sebuah fakta bahwa ia bukan manusia picik seperti yang kupikirkan selama ini. Iya, Ivan adalah orang yang baik.


Aku dan Ivan lumayan sering terlibat pembicaraan seputar pelajaran, terkadang Ivan juga ikut ngobrol denganku dan Ela. Yah lumayan, setidaknya kami menjadi lebih santai satu sama lain. Seperti saat ini, kami duduk santai di kursi kantin setelah menghabiskan masing-masing semangkuk bakso. Pembicaraan seputar jurusan yang akan kami ambil di kelas XI yang tidak akan lama lagi menjadi penting saat ini.


“Aku ngambil bahasa.” Ujarku.


“Aku ngambil apa ya, Nay? Aku ikut kamu aja deh.” Tutur Ela nyengir. Ela memang tidak terlalu suka belajar, hidupnya seperti air yang mengalir.


“Kamu harus memilih jurusan yang kamu suka, La. Karna kamu bakalan di kelas itu selama 2 tahun ke depan.” Ujarku sungguh-sungguh. Ela memikirkan ucapanku, bagaimanapun jangan sampai menyesal nanti.


“Kalau Ivan udah pasti bakalan masuk IPA 1, kelas langganan juara umum.” Tutur Ela dan kuamini.


“Enggak juga. Aku malah rencana mau ambil bahasa, aku suka nulis” Kata Ivan mementahkan dugaan kami. Tapi kalau Ivan mah bebas, dia pintar nyaris jenius. Aku dan Ela mengangguk-angguk paham, karna masuk jurusan apapun Ivan tetap akan menjadi yang terbaik kecuali jurusan olahraga atau seni. Dua bidang itu Ivan biasa saja, lain dengan Jio yang suka olahraga. Lah mengapa aku membandingkannya dengan Jio? Belakangan ini aku memang suka kepikiran Jio. Kira-kira dia apa kabar ya? Postingan sosial medianya dibanjiri teman-teman perempuan, pasti ia tidak sepi teman sepertiku. Ya, Jio punya aura yang bisa membuat orang lain nyaman dengannya, terutama para gadis. Mulai dari gadis yang memang ganjen sampai yang kalem dan malu-malu. Sebagai orang yang pernah menjadi teman bermainnya aku kadang merasa geram pada gadis-gadis itu. Apa aku cemburu? Mungkin, aku merasa seperti seorang adik tamak yang ingin memiliki abangnya seorang diri. Tapi apakah Jio berpikiran sama? Kurasa tidak, buktinya dia tidak pernah menyapaku dari sosial medianya, padahal terkadang aku memberi like pada postingannya. Yasudahlah, aku saja yang terlalu menganggap dan berharap.


“Aku mau nanya sama kamu, Van.” Tutur Ela memecah keheningan. Aku dan Ivan mulai menaruh perhatian kepada sumber suara yang berada di sampingku dan Ivan di depanku. Ekspresi Ela berangsur-angsur murung, membuat aku dan mungkin juga Ivan menjadi penasaran.


“Kamu pernah gak suka sama cewek?” tanya Ela kemudian, kini pandanganku dan Ela jatuh ke wajah Ivan. Lalu Ivan mengangguk sekali menjawab pertanyaan Ela. Aku tidak terganggu akan hal itu, walaupun benar Ivan pernah mengaku menyukaiku tapi sejak kejadian di pinggir jalan waktu itu, aku yakin Ivan menyumpahi perasaanya yang pernah ada pada gadis menyebalkan dan ge-eran sepertiku. Yasudahlah, toh kami memulai sesuatu yang baru, yaitu pertemanan.


“Jadi, dengan umur yang baru sebulu jagung ini, kamu udah pernah berkorban apa untuk orang yang kamu suka?” tanya Ela lagi. Ivan terlihat menimbang jawaban apa yang akan ia berikan.

__ADS_1


“Mmm, memohon.” Jawab Ivan pelan. Keningku dan kening Ela berkerut, wajah butuh penjelasan lebih jauh terpancar pada wajah kami berdua.


“Memohon sama cewek yang kamu suka itu?” Tanya Ela tak sabaran. Dan Ivan menggelang. Lalu? Aku jadi bertambah bingung. Ivan telihat ragu-ragu untuk menjawab, tapi ia buka suara juga.


“Memohon sama ayahku untuk menuruti keinginanku agar aku bisa ketemu dia. Ayahku setuju asal aku mau kuliah di tempat dan jurusan yang dia mau nanti.” Ujar Ivan pelan dan melihat kami bergantian memastikan perubahan ekspresi wajah kami akibat pernyataannya.


“Wah Ivan, kamu heroik banget. Terus kamu jadian sama dia?” Ela sudah berubah menjadi antusias, suasana hati Ela memang naik turun dengan cepat.


“Udah segitu aja.” Jawab Ivan datar, ia menghempaskan harapan Ela akan ceritanya. Aku nyengir lebar mendapati kekecewaan Ela karna kekepoannya berbuah udara kosong. Ela melotot ke arahku, matanya yang sipit itu ingin keluar dari sarangnya, lucu sekali. Aku terkekeh geli melihatnya. Ela tidak terima dan melempar tisu bekas yang tadinya ada di atas meja ke wajahku, tapi itu membuatku semakin lucu melihatnya. Tubuhku berguncang kecil akibat tawa yang sudah tak bisa kutahan. Aku menyeka air di sudut mataku karna tertawa, dan berdehem kecil untuk menetralkan kegelian yang menggelitik hatiku karna kekepoan Ela.


“Woy, Van. Gak pernah liat orang ketawa ya?” Tanya Ela kesal kepada Ivan. Aku mengulum senyum melihat ke arah Ivan. Ivan jadi salah tingkah, apa ia tercengang melihat aku yang senyum saja jarang dan barusan malah tertawa. Aku maklum, itu memang fakta jadi wajar saja kalau ada orang yang terkejut.


“Abang Baru gak mau kuliah. Katanya dia bakalan nungguin aku tamat terus nanti kita kuliah bareng di kampus dan jurusan yang sama. Aku jadi terbebani tau gak? Satu sisi aku sih seneng, tapi pengorbanan kayak gitu tu bukan jenis pengorbanan yang aku harepin. Eh otak tu anak lebih keras dari batu lagi, gak bisa dibilangin. Ujung-ujungnya berantem, terus bilang kalau aku gak sayang lah, punya selingkuhan lah, aduh aku jadi frustasi.” Ela nyerocos sendiri, mungkin ia sudah tidak tahan memendamnya. Ela ingin berbagi.


“Berarti dia cinta banget sama kamu.” Ujarku mencoba menenangkan Ela.


“Dia lagi memperjuangkan keinginannya, dan ngupayain yang dia mampu untuk hatinya yang penuh karna kamu.” Ujar Ivan tiba-tiba. Aku dan Ela melihat Ivan bersamaan, terkesima dengan kata-kata Ivan bak kata mutiara di sosmed. Ivan memang punya bakat jadi pujangga. Kata-kata Ivan membuat Ela semakin frustasi, ia bersandar pasrah kekursi dan menekuk wajahnya kusut. Wajahnya menjadi sangat murung, seolah-olah tak pernah ada senyum riang gembira yang mampir di sana. Seluar biasa itukah cinta hingga mampu menghapus jejak apapun?


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉


Jangan lupa vote yaa...


Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.

__ADS_1


Nah, cara dapatin poinnya:



temen2 ke beranda aplikasi noveltoon dulu, abis itu ke pusat misi yg ada di beranda


Ambil poin yg ada di pusat misi.


setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊



CARA VOTE



Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote


Klik vote lagi.


Pilih poin/koin.


Pilih 10/100/1000.


Klik beri tip.

__ADS_1



Terima kasih 😊


__ADS_2