Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 34 Disebut Jatuh Cinta


__ADS_3

Langit malam bagai sebuah pertunjukan kemewahan, bintang gemintang bersinar keemasan, awan gelap berkumpul di sana sini bagai sebuah kemah megah, satlit ikut menyamarkan diri layaknya bintang berkelap kelip, dan bulan anggun dengan pesonanya bak putri yang sedang menanti cinta sejati, tenang dan penuh keyakinan. Sementara aku? Duduk di kursi belajar di depan jendela yang terbuka, menopang dagu dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja belajar, menikmati pemandangan yang tak selalu ada di atas sana. Setidaknya aku tahu, walau hatiku sedang dalam kebimbangan yang tak pernah kurasakan, ada sisi lain kehidupan yang sedang memberikan penawar untuk hati yang limbung.


Sesungguhnya aku tidak mengerti bagaimana bisa perasaan mempengaruhi Ivan berbuat sejauh yang Ela ceritakan, mengikutiku sampai ke sekolah ini. Mengetahui kenyataan ini satu sisi aku merasa senang, dicintai dengan amat sangat oleh seseorang sampai segitunya. Di sisi lain, aku tidak mengerti mengapa Ivan justru menjalin hubungan dengan Yasemin. Satu persatu file ingatan tentang tulisan Ivan yang ia kirim ke mading menguar ke permukaan, setiap alasan kegalauan Ivan mendengung di telingaku, kesedihan\-kesedihannnya memvisual di benakku. Memory demi memori kembali berputar bagai sebuah potongan\-potongan video. Mengapa aku tak pernah bisa melihat bahwa Ivan sedang berjuang? Yang aku pikirkan hanya kepentingan, keinginan, dan perasaanku saja. Tapi bukankah itu kesalahannya juga, jika saja Ia tidak mencium Yaya hari itu dan membuat aku merasa jijik karna ia hanya memanfaatkan sahabatku itu. Tapi ia sudah bilang kalau ia melakukannya secara spontan, ia kehabisan akal untuk bisa bicara padaku. Lalu bagaimana perasaan Yaya jika ia tahu hal itu? Aku tidak ingin Yaya membenciku. Lalu bagaimana dengan Ivan? Apa pengorbanannya tak bernilai? Apakah ia salah selamanya karna ketidakmampuannya akan diriku? Bagaimana bisa ia menyandingkan namaku dengan ibunya? Apa aku mirip ibunya? Hatinya pasti patah kala wanita terbaik dalam hidupnya itu pergi, lalu ia menemukanku sebagai obat? Mengapa Ivan memilih penawar yang salah untuk lukanya? Pasti sangat sulit bagi Ivan mencintai orang yang hanya ingin melindungi hatinya sendiri, memikirkan perasaannya sendiri sepertiku. Lalu apakah aku memiliki perasaan yang sama pada Ivan? Aku tidak tahu, memangnya apa yang orang rasakan dan lakukan sehingga ia disebut jatuh cinta?



Terkadang hatiku berdesir karna perlakuan Ivan, kata\-kata manisnya yang puitis, wajahnya yang datar, senyumnya yang menenangkan, tatapannya yang entah bagaimana, aku tidak tahu mengapa Ivan sering kali menatapku dengan cara itu, matanya seolah bicara, namun sayangnya aku tidak menegrti sama sekali, yang kusadari tatapan itu ganjil. Terkadang aku senang karna melihatnya, namun ironisnya logikaku selalu mampu mengatasi semua itu. Sehingga aku menyimpulkan bahwa aku baik\-baik saja. Semua ini karna kami akrab, kami bersahabat.



Aku tidak tahu seperti apa yang disebut jatuh cinta. Ketika aku melihat Ivan dan Yasemin berjalan berdua, duduk berdua, atau mereka berkumpul bersama teman\-teman sekelas mereka, sesuatu mencubit hatiku, sedikit nyeri. Dan lagi\-lagi aku berpikir mungkin ini karna Ivan adalah sahabatku dan Ela, dan ia berhenti bicara padaku akibat kesalahanku. Semakin hari hatiku mengalami kesulitan setiap melihat Ivan, untung saja hari ini hari terakhir sekolah di semester 2 kelas XI.



Setelah bagi rapor, Ela mengajakku merayakan hasil belajar semester kami yang memuaskan. Aku dapat juara umun untuk seluruh anak jurusan bahasa kelas XI, dan Ela mengalami kemajuan dari ranking 9 di kelas sekarang ranking 5. Kami berencana main ke mall paling besar di kota ini. Aku dan Ela sangat antusias, Ela membawa sepeda motor maticnya hari ini, aku dan Ela sudah mengabari orang tuanya kalau ia akan pulang terlambat. Aku juga sudah meminta izin pada bibi, dan wanita cantik pujaanku no.2 itu memberikan waktu dan kebebasan padaku hari ini. Ia wanita yang sangat pengertian.



Kami menunggu parkiran sekolah agak longgar agar tidak berdesakan. Duduk di kursi di bawah pohon dekat lapangan parkir, memperhatikan kesibukan orang dengan kenderaannya di depan sana. Cuaca tidak panas dan tidak mendung juga, kondisi alam yang idela untuk beraktivitas di luar ruangan. Mungkin karna masih pukul 10 pagi, tapi aku dan Ela berharap cuaca akan bertahan seperti ini hingga sore, kami ingin menghabiskan hari ini bersama, quality time lah pokoknya.



“Nay, nanti kita beli barang samaan ya, entah gelang, cincin, kalung, atau apapun lah yang penting samaan. Sssttt aku tahu kamu mikir ini norak, tapi yang norak\-norak itu sweet, Nay.” Ujar Ela dengan mata catty eyesnya karna aku ingin menolak ide accessorisnya itu. Aku tidak punya pilihan lain, akhirnya mengangguk pasrah. Sankin gemesnya Ela melihatku ia mencubit kedua pipiku sambil menariknya sedikit kencang.



“Sakit cipit!” ucapku sambil memukul tangannya agar melepaskan pipiku. Ela melepaskan pipiku yang pasti memerah saat ini. Tanpa merasa bersalah seperti biasa dia hanya nyengir kuda.

__ADS_1



“Makanya jadi orang itu ekspresif sedikit.” Ujarnya sinis dan mencebikkan bibirnya, ia protes dengan kepasifanku. Aku hanya mengulum senyum melihat tingkah Ela. Aku sudah terbiasa dengan Ela.



“Hai, Ela, Nayya!” Sebuah suara memanggil kami. Aku dan Ela menoleh ke samping serentak, menemukan Yasemin sedang berjalan sendirian ke arah kami. Aku dan Ela memaksakan senyum senormal mungkin untuk gadis ini. Entah mengapa kami merasa aneh jika melihat Yasemin.



“Kalian lagi nunggu siapa?” tanya Yasemin ramah. Aku membiarkan Ela menjawab, aku emang jarang terlibat basa\- basi.



“Nunggu agak sepi dikit.” Ujar Ela sambil memberi isyarat ke arah parkiran yang masih padat. Yasemin ber ‘o’ ria sambil mengangguk mengerti.




“Nunggu Ivan.” Ujar sang gadis tersenyum manis, semanis gula di derendam madu. Hatiku gerah mendengar kata\-kata Yasemin, dan Ela mengangguk sambil mengulum senyum kecut. Aku yakin Yasemin tahu kalau kami kurang suka padanya, karna aku dan Ela adalah pembohong yang payah. Semua terpampang nyata di wajah kami. Suasana canggung sebentar sebelum Yasemin menempelkan poselnya ke telinga,



“Di bawah pohon samping lapangan parkir.” Ujarnya pada sesorang yang kuyakini adalah Ivan. Aku dan Ela sebaiknya undur diri sebelum Ivan datang dan kami harus menyaksikan adegan sepasang kekasih yang manja. Aku berdiri dari tempat dudukku di susul Ela.


__ADS_1


“Yasemin, kita duluan ya.” Ujarku berpamitan dan memberi kode pada Ela. Untung saja Ela paham dan mengangguk kepada Yasemin tanda ingin berpamitan. Dan ya! Holy Baby! Ivan nongol sebelum kaki kami melangkah.



“Langsung pulang, La?” tanya Ivan pada Ela. Aku melirik Ivan sekilas dan membuang pandanganku ke arah parkiran, hatiku berdebar tak karuan, ntah karena apa, rasanya sangat tidak nyaman. Mungkin Ivan dan Yasemin akan menghabiskan waktu berdua seharian, menciptakan memory\-memory indah yang akan mereka kenang suatu hari nanti sebagai cinta masa SMA yang sangat manis nan sempurna. Huh, kenapa aku jadi gerah, padahal matahari sangat lembut hari ini.



“Boleh ya, Nay?” tanya Ela menyikut sikuku dengan sikunya.



“Hm?” tanyaku bingung. Boleh apa?



“Ivan bolehkan ikut bareng kita?” tanya Ela. Aku melihat ke arah Ivan dengan wajah datarnya dan berangsur ke wajah Yasemin yang sepertinya tidak suka dengan pertanyaan ini, namun aku hanya mengangguk menjawab pertanyaan yang dilontarkan padaku barusan.



“Sampein maafku sama anak yang lain ya, Yas. Kemarin kita kan baru ngumpul, semetara sama mereka udah lama banget belum ngumpul.” Ujar Ivan pada Yasemin, gadis itu memberikan senyum yang sedikit terpaksa.



“Gak apa\-pa, nanti aku sampein, have fun. Aku duluan.” Pamit Yasemin pada kami, lalu ia berbalik menuju gerbang utama. Sepertinya Ivan menaruh sepeda motor gadis itu di luar gerbang. Lalu kami bertiga? Situasi kikuk mngahampiri tiga sahabat yang sudah tidak pernah berkumpul selama 3 minggu lebih karna sesuatu.


🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2