Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 9 Hari Perpisahan Sekolah


__ADS_3

Seandainya aku memiliki kemampuan menghilang seperti milik satu-satunya member wanita dalam grup super hero Fantastic Four, pasti akan sangat menyenangkan. Aku akan memaksimalkan kemampuan tersebut untuk menghindari setiap keramaian yang menyesakkan. Seperti saat ini, aku berharap aku lenyap di telan bumi dari pada harus berpura-pura gembira diselimuti hiruk pikuk drama hidup yang nyata.


Hari ini hari perpisahan anak kelas IX dengan sekolah. Ya, UN sudah lewat dan kami semua lulus walau memperoleh nilai yang berbeda-beda, ada yang merutuki nilainya, ada yang bodo amat yang penting lulus, ada yang bersyukur luar biasa, dan ada pula yang sangat bangga dengan pencapain nilainya, serta ada yang terkejut setengah mati tak menyangka nilai tinggi yang terdampar indah di kertas pengumuman. Lalu aku? Aku berada dalam daftar penuh syukur karna menurutku nilai yang kuperoleh sesuai dengan usaha dan doaku selama ini. ‘Usaha tak membohongi hasil’ atau ‘hasil tak membohongi usaha’? Ah aku yakin kalain paham maksudku.


Oh iya, aku tadi mengatakan kalau aku pura-pura gembira, iya itu benar, karna lebih tepatnya aku sangat sedih saat ini. Yaya memutuskan akan melanjutkan sekolah di SMA dekat sini saja, sementara aku ingin melanjut ke sebuah sekolah menengah atas di kota tempat keluarga ibu. Aku khawatir tidak akan mendapatkan teman seperti Yaya atau seseorang yang dapat menerimaku sebagai teman dalam artian yang sesungguhnya. Hidup tentu tidak lengkap jika tidak memiliki seseorang yang bisa kita ajak berbagi. Aku sadar betul hal itu, karna bagaimanapun aku suka dan nyaman bersama Yaya, walau kami tidak banyak berbagi apa yang kami rasakan selama ini, emm lebih tepatnya aku hampir tak pernah berbagi apa yang kurasakan pada Yaya, tapi kami selalu berbagi makanan dan lelucon garing serta cerita-cerita yang kami baca dari buku juga beberapa hal lain.


By the way, kenapa Yaya gak nongol-nongol juga, sudah setengah jam ke toilet tapi tak kunjung kembali. Aku mulai celingukan mengedarkan pandanganku ke sana ke mari, tapi penampakan Yaya tak kunjung menunjukkan tanda-tandanya. Aku mencoba terus menyamankan diri diantara ratusan siswa lain yang duduk sambil melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang berbincang dengan teman-temannya, ada yang dengan serius mendengarkan Kepala Sekolah yang sedang berceramah di panggung depan sana, sementara aku agak gelisah di tempat dudukku yang berada di bagian tengah keramaian. Menjadi titik tengah di tenda sewaan yang biasanya digunakan untuk event seperti sekarang ini. Aku sudah tidak sanggup lagi, aku berdiri dan mulai melewati kursi-kursi berpenduduk yang hanya memberikan sedikit spasi padaku untuk lewat. Setelah lepas dari kungkungan tenda penuh sesak dan menjumpai beberapa mata yang kadang melemparkan tatapan aneh padaku, namun siapa peduli, aku memutuskan untuk mengurus hidupku sendiri dan mengabaikan hal-hal bodoh yang dapat merusak moodku. Fokusku sekarang mencari Yaya.


Aku menuju toilet perempuan dan terlihat beberapa siswi perempuan di sana. Sampai sekarang sebagai perempuan aku juga tidak mengerti kenapa perempuan suka sekali pergi ke toilet dengan membawa teman. Sejauh yang kutahu sekolahku ini tidak angker sama sekali, kebersihan lingkungan sekolah sangat terjaga termasuk toilet. Aku salut dengan Kepala Sekolah kami yang sangat mementingkan kebersihan, bahkan menurutku jika sekolah kami berhak mendapatkan penghargaan maka penghargaan itu tentulah untuk predikat “sekolah terbersih”, walaupun sampai sekarang aku belum pernah mendengar sekolah kami memperoleh penghargaan semacam itu.

__ADS_1



Aku memeriksa satu persatu toilet yang berjumlah 4 pintu itu. Jika ada orang di dalamnya maka aku akan menunggu sampai orang yang berada di dalam selesai dengan kegiatannya lalu keluar. Dan aku menuju pintu terakhir yang dari tadi tak kunjung terbuka, karna orang di dalam tak jua keluar. Aku curiga mungkin Yaya yang berada di dalam, aku tahu ini tidak sopan tapi aku harus memastikan siapa yang berada di dalam sana. Aku memberanikan diri dengan segenap kekuatan sopan santun yang kuajak berkompromi.



“Siapa di dalam?” Tanyaku sevolume yang bisa di dengar sayup\-sayup dari dalam. Namun tak ada respon. Aduh, bagaiman ini. Aku sungguh malu jika harus mengulanginya lagi.


__ADS_1



Kreeek.


Pintu toilet yang kuincar terbuka memperlihatkan sosok yang paling kukenal di sekolah ini, Yaya. Kondisi toilet mendadak sepi, dan suasana berubah menjadi canggung antara aku dan Yaya. Penampilan Yaya sedikit kacau, wajahnya berantakan. Semua organ di wajahnya masih di posisi masing-masing tapi warna beberapa perlengkapan wajahnya berubah. Maksudku, wajah Yaya sembab, bekas air mata masih terlihat di area matanya, hidung minimalis mancungnya merah seperti orang terserang flu, dan ia memang terlihat flu saat ini, sesekali ia menyentak cairan yang ingin keluar dari hidungnya. Aku menatapnya khawatir dan bingung namun entah bagaimana ini terasa canggung. Aku diam mematung dengan raut wajah yang sulit didefinisikan, Yaya juga diam sambil mengedarkan pandangannya ke sekitar toilet, mungkin Yaya tidak ingin ada yang melihatnya dalam kondisi yang mengenaskan seperti ini. Iya, ini penampilan Yaya yang paling mengenaskan yang pernah kulihat selama bersahabat dengannya kurang dari 3 tahun ini.


Aku melihat ke arah Yaya yang jelas menghindari kontak mata denganku. Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi seperti yang Yaya lakukan. Sekarang kami di taman sekolah, di tempat biasa kami duduk. Ada beberapa anak yang juga mengisi bangku\-bangku taman, orang yang sedang tidak mood berada diantara kemeriahan persembahan para adik kelas untuk kakak kelas yang akan meninggalkan sekolah ini kurasa.


Sesekali aku melirik ke Yaya, namun ia masih bungkam dan memandang lurus ke arah rumput-rumput di depan sana. Kepalaku mulai sibuk dengan berbagai dugaan tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Yaya, namun aku berusaha menepisnya karna kebanyakan dari pikiranku itu terlalu mengada-ada. Iya pikiranku selalu over thingking kalau sedang mengalami masa seperti ini. Khawatir pada seseorang yang kusayangi.

__ADS_1


Aku mendengar sesuatu yang aneh dari arah samping, tepatnya dari Yaya. Bahunya bergetar pelan, wajahnya tertunduk, rambutnya yang panjang tergerai menutupi wajanya dari samping kiri dan kanan. Aku bingung, ada apa ini? Aku memfokuskan diriku menatap ke arahnya dan perlahan ia menatap ke arahku dengan mata nanar penuh air mata, ia terisak pelan dalam pandangan yang sangat rapuh. Yaya bagaikan sekeping kaca bening nan tipis saat ini. Ini buruk. Perlahan refleks aku menarik Yaya pelan ke dalam pelukanku, membawa wajahnya ke bawah daguku dan menempelkan wajah itu di dadaku. Aku mengelus punggungnya yang kurasakan bergetar lebih keras dari sebelumnya, hatiku bergemuruh dan sakit mendapati Yaya seperti ini. Apa yang sebenarnya terjadi?


__ADS_2