
“Nay,” Panggil Bibi yang tiba-tiba muncul di ambang pintu.
“Iya, Bi?” Jawabku terkejut dan salah tingkah. Apa aku tadi tertangkap basah sedang mengamati Ivan yang munundukkan kepalanya.
“Minum dulu obatnya, bentar lagi bibi antar makan siang kamu, udah jam 11.” Ujar bibi dan kujawab dengan anggukan beserta senyum tipis kikuk, kemudian bibi pergi, mungkin ke dapur. Mudah-mudahan bibi gak liat aku tadi, bisa-bisa beliau salah paham. Lagi pula aku bukan tipe orang bisa menjelaskan banyak hal pada orang lain. Apa lagi persoalan pelik seperti kalau seandainya nanti bibi mengira jika aku ada ‘apa-apa’ sama Ivan. Bakalan ribet, aku malas terlibat hal-hal absurd semacam itu.
Setelah bibi pergi serta lagu yang indah namun sedih itu berakhir aku memilih untuk mematikan musik. Dalam kepala yang lumayan cerdas ini sudah kususun sebuah rencana untuk mengusir Ivan perlahan, jujur aku tidak betah berada dalam situasi campur aduk begini. Aku akan membuat alasan makan siang dan istirahat untuk membuatnya meninggalkan rumah ini, dan aku tersenyum bangga dalam hati. Ivan pasti sungkan dan memutuskan untuk pulang, bagaimanapun ia adalah anak yang sopan dan memiliki tata krama, kecuali saat perpisahan kala itu, insiden itu merupakan pengecualian. Ideku pasti berhasil, aku yakin.
“Aku gadak maksud mau ngusir, tapi aku mau makan abis itu istirahat.” Tuturku hati-hati seolah aku memang tak bermaksud ingin mengusirnya. Tapi senyum tipis samar layaknya devil yang entah apa maksudnya terbit di bibir Ivan, dan ekspresi yang sulit kuartikan menempel di wajahnya. Perasaanku jadi tidak enak, sejenis firasat bahwa hal buruk sedang mengintaiku. Aku bergidik, menelan kasar salivaku yang masih terasa agak pahit akibat demam.
“Makan dulu obatmu, nasimu, terus tidur. Baru aku pulang. Lagian aku baru nyampek kali, Nay. Kamu mau ngusir aku?” Tanyanya, dan sekarang aku merasa disudutkan. Layaknya tuan rumah yang tidak menghargai tamunya yang datang baik-baik. Aku menghela napas pelan, mengatur emosi karna aku sudah mulai kesal dibuatnya. Apa yang harus kulakukan sekarang? Rencana yang kubanggakan tadi sudah gatot alias gagal total dengan mudahnya.
“Obat kamu dimana? Biar aku ambilin.” Tawarnya tiba-tiba. Bingung langsung menabrak otakku. Aku tidak ingin meminum obat itu lagi, baunya tidak enak apalagi rasanya. Lagi pula aku sudah merasa tidak memerlukan obat itu lagi. Yang kubutuhkan untuk sembuh adalah makan dan istirahat. Aku hanya diam, membiarkan pertanyaannya mengantung di udara. Seperti sebelum-sebelumnya Ivan tidak akan menyerah dan mengabaikan kediamanku sebagai jawaban atas pertanyaanya. Ia melirikku curiga, kuputar bola mata jengah karna kata-kata dan sikapnya.
__ADS_1
“Kamu umpetin dimana?” tanyanya lagi. Aku spontan menatapnya yang sedang melihat wajahku menyelidik. Aku mulai salah tingkah dan berpikir keras. Ivan berdiri dari tempat duduknya dan mencondongkan badannya ke arah ku. Mau apa dia? Refleks kumenggeser tubuhku ke arah yang lain menjauhi Ivan dan tangannya yang terulur entah ingin menjangkau apa. Ivan menarik bantal yang tadi kusandari, dan mengambil bungkusan obat yang kusembunyikan. Malu sekali rasanya, bagai anak kecil yang tertangkap basah sedang berbohong pada ibunya. Aku memilih memicingkan mata dan menunduk dalam. Kurasakan Ivan menjauh lalu kembali ke tempat duduknya, karna terdengar suara kursi yang bergeser. Kubuka mataku dan kembali ke posisiku semula, menyandari bantal yang sama. Aku tidak berani melihat ke arah Ivan. Aku sungguh malu. Rasanya terlalu tua bagiku untuk menyembunyikan obat hanya karna aku tidak ingin mengonsumsinya.
“Ini satu-satu?” tanyanya kemudian.
“Hm.” Jawabku tak bersemangat. Setelah beberapa saat Ivan menyodorkan 4 buah pil ke arahku dengan tangan kanannya dan botol air minum di tangan kirinya. Botol air minum itu memang disiapkan bibi untukku. Ku hela napas berat dan kubuang dengan kasar , lalu kuterima pil yang disodorkan oleh Ivan. Minum air terlebih dahulu, kemudian langsung memasukkan keempat pil itu sekaligus dan menelannya. Begitulah caraku mengonsumsi obat dalam bentuk pil. Ivan mengulum senyumnya, entah karna apa. mungkin ia bangga telah berhasil memaksaku.
Ivan membatalkan rencananya yang akan pulang setelah aku istirahat, dan memutuskan pulang lebih cepat. Aku bersyukur dalam hati. Ia pun keluar dari kamarku setelah berpesan ini dan itu basa basi belaka, mungkin ia akan pamit pada bibi. Syukurlah, berakhir juga. Sebenarnya bukan aku tak bisa menolak perlakuan Ivan, selain aku tidak punya energi untuk itu, aku juga sedikit paham dengan kepribadian Ivan yang sering kutentang dan akan berakhir dengan adu urat dengannya. Aku tidak ingin melakukan keribuatan di rumah ini, takut ketahuan bibi dan membuatnya kecewa. Bibi dan paman sudah terlalu baik padaku.
-------------------------------
Jangan lupa vote yaa...
CARA VOTE
__ADS_1
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊