
It turns out freedom ain't nothing but missing you
Wishing i'd realized what i had when you were mine
I go back to December, turn around and make it alright
Yaya terus melantunkan lagu Taylor Swift yang kami dengarkan bersama lewat headset milikku yang terpasang di telinga kiri Yaya dan telinga kananku. Terus saja kuperhatikan Yaya yang kurasa berbeda hari ini. Yaya sedang mengalami sesuatu, tapi apa? Aku mematikan lagu yang sedang berdendang merdu di smartphone\-ku. Yaya langsung menoleh dan melihatku dengan sorot mata perotes.
“Kok dimatiin, sih?” katanya tak terima.
Aku terkekeh geli melihat respon Yaya dan wajahnya yang mendadak cemberut bebek.
“Ada masalah?” tanyaku padanya yang sebenarnya kutujukan untuk moodnya yang terlihat buruk hari ini.
“Kamu matiin lagunya, Nay.” Jawabnya polos.
Aku memandangnya menyelidik dari tempat dudukku yang berada tepat disampingnya. Yaya melihaku jengah, Yaya malas kalau sudah menemukan ekspresi mata tajam penuh pencarian di setiap sudut wajahnya dan air mukanya yang berubah jadi salah tingkah. Aku menangkup dagu dengan tangan kiri sambil menatapnya datar, dan Yaya paham posisi dan tatapan itu, yang artinya aku minta kejelasan atas sesuatu yang sedang ia rasakan dan terlihat sangat mengganggunya.
“Musiknya oon, kok dimatiin sih?” tanyanya, ternyata Yaya ingin mengelak, mungkin dia belum ingin membaginya denganku. Aku menghargai privasinya, kualihkan posisiku menyandar kebangku panjang taman sekolah dan mencari lagu yang kuinginkan untuk kami dengar di playlist. Aku menemukannya dan lagu milik Magic yang berjudul “Rude” langsung mendendang di telinga kami.
__ADS_1
“Kasian banget ya Nay si pasangan di lagu ini, gak direstuin sama ortu si cewek” cetus Yaya, sambil menyandarkan dirinya ke sandaran kursi. Aku menoleh ke arahnya sambil tersenyum getir menyunggingkan bibir sebelah kananku dan kembali ke posisi semula. Mataku terus menyorot ke depan, memandangi pot\-pot yang melingkari pohon saga di depan kami. Pot\-pot itu berisi tumbuhan mini berdaun kuning, bentuk daunnya kecil\-kecil namun panjang dan runcing. Pohon itu sering berada di taman maupun pekarangan rumah.
“Nay” panggil Yaya.
“Hm”
“Aku putus sama Jaya” katanya cepat dan pelan.
“Aku udah sayang, pake banget, Nay” katanya lagi, masih dengan suara pelan ditambah nada frustasi. Aku diam. Yaya mendengus pelan. Kumatikan lagu dari ponselku, sambil kuambil headset yang melekat di telinga kanakku dan telinga kiri Yaya. Yaya tidak merespon, dia diam saja, seperti anak kecil yang penurut. Aku tak tahu harus bilang apa, aku pun memilih mengikutinya diam. Kami sedang menunggu waktu les sore untuk persiapan UN yang sudah di depan mata, 2 minggu lagi, semua anak kelas IX sudah melakoni rutinitas ini sejak semeter 2 ini di mulai. Masih 30 menit lagi sebelum lonceng les mengaung.
“Enak kali Nay jadi kamu.” Kata Yaya lagi, masih dalam posisinya. Hatiku terlonjak mendengar pernyataannya, keningku berkerut, kedua alisku hampir saja menyatu mendengar pernyataan yang baru kali ini kudengar selama 15 tahun lebih kehidupanku di dunia ini. Aku mengalihkan punggungku dari sandaran kursi, aku menoleh wajahnya, mata Yaya mulai merah dan mengembun. Huh, cinta\-cintaan kingkong bisa serumit ini. Aku menatapnya prihatin, mungkin ini sulit baginya sampai ia jadi terlihat begini.
__ADS_1
“Jadi kamu itu enak, Nay. Gak ngerasain ditinggal pas lagi sayang\-sayangnya.” Tutur Yaya, dan kulihat ia menyeka air mata yang ingi jatuh di sudut matanya. Ku alihkan pandangaku pada sekitar, aku tidak ingin ada orang lain yang menyaksikan momen ini, takut gosip tak penting beredar ke permukaan. Memang ada anak\-anak lain yang duduk santai sambil ngobrol di taman ini, tapi jaraknya cukup untuk mengamankan rahasia kerapuhan Yaya saat ini. Aku tercenung menatap wajah Yaya yang lusuh karna air mata. Aku berpikir menimbang apa yang akan kukatakan, aku takut Yaya tersinggung karna ini penilaian dari orang yang tidak tahu apa\-apa tentang cinta.
“Ya,’” panggilku dengan nada datar sambil mengubah posisi dudukku menjadi miring menghadapnya.
“Hm,” jawabnya sambil melirik ke arahku.
“Ini kata\-kata dari aku yang gak ngerti apa\-apa soal cinta, jadi kalau gak bisa ngurangin sesak di hati kamu anggap aja kata\-kata mutiara atau apapun. Yang penting jangan marah sama aku.” Kataku agak ragu. Yaya mengangguk menanggapi omonganku.
“Kalau aku pikir\-pikir hidup itu kayak ada terminal\-terminalnya, Ya’. Kita memilih dengan kesadaran penuh, setengah sadar dan kadang gak sadar terminal\-terminal yang mau kita singgahi. Tapi terminal itu cuman tempat singgah, bukan tempat kita menginap dan menetap. Karna untuk menetap kita harus mati dulu, Ya’. Kayak kamu sekarang, dari awal kamu tau, namanya juga ‘jatuh’ cinta. Jatuh cinta itu adalah kecelakaan paling indah kata orang. Jadi resikonya adalah merasakan keindahan namun rasa sakit mengiringinya kemana\-mana. Kamu secara sadar memilih tempat singgah ini, Ya’. Aku gak nyalahin kamu, tapi ini cuman tempat singgah, sebentar lagi kamu akan melanjutkan perjalanan menuju terminal selanjutnya yang akan kamu pilih dengan kesadaran penuh atau setengah sadar atau bahkan tanpa sadar. Dan rasa sakit yang kamu rasakan itu akan menyakiti sejauh yang kamu izinin. Jadi Cuma kamu yang bisa nentuin. Tapi aku selalu di sini, walaupun gak akan jadi super hero yang bisa ngilangin kegalauan kamu.” Ucapku panjang lebar sambil mengangguk\-angguk kecil meyakinkannya. Yaya menghapus air matanya dan tersenyum lebar mendapati kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan selama hampir 3 tahun menjadi sahabatnya.
“Aku tahu kamu orang baik, Nay. Tapi orang\-orang cuman mau ngeliat kamu sekilas dan nilai kamu seenak jidat mereka. Aku bangga punya temen kayak kamu, makasi untuk kata\-kata mutiaranya Frog.” Balas Yaya sambil tersenyum jahil.
“Prof \(profesor\), Ya’. Bukan Frog \(katak\)” ucapku dengan melempar tatapan tajam pada Yaya. Tapi Yaya malah tertawa terpingkal\-pingkal melihat ekspresi kesalku. Dan Yaya akhirnya tertawa setelah seharian tersenyumpun kesusahan.
__ADS_1