
Sesampainya di mall, kami bertiga mencari tempat accessoris seperti yang Ela rencanakan. Dan sampailah kami di salah satu toko accessoris, toko ini adalah toko yang cukup terkenal di kalangan remaja. Bermerek, namun masih terjangkau. Aku, Ela dan Ivan mencari-cari barang yang ingin kami beli. Aku melihat sebuah kotak kaca kecil berbentuk balok dengan panjang sekitar setengah jengkal. Di dalamnya ada bunga-bunga yang terlihat asli, berdampingan satu bunga dengan yang lain dan terlihat serasi. Aku jatuh hati pada kotak kaca di barisan paling ujung, aku menghampirinya, namun sebuah tangan meraih kotak kaca yang kuincar. Tangan itu milik Ivan. Aku mengurungkan niatku, dengan berat hati melirik bunga dalam kotak kaca lain.
“Nay,” Ela menghampiriku, wajahnya serius.
“Kenapa?” tanyaku.
“Abang Baru ngajak jalan, dia sengaja pulang kampung mau ngasi suprice buat aku. Gimana dong, Nay?” Tanya Ela, ia terlihat bahagia tapi ada perasaan tidak enak padaku. Bagaimana ini? Apa jadinya kalau Ela meninggalkan aku dan Ivan di saat seperti ini? Kami tidak bicara satu sama lain. Masa iya aku harus pulang atau berjalan terpisah dengan Ivan hanya karna Ela harus pergi?
“Kamu sama Ivan bisa ikut bareng aku kalau kamu mau.” Ujarnya sungguh\-sunggu. Tapi aku tidak ingin malah menjadi pengganggu untuk mereka berdua.
“Kenapa, La?” tanya Ivan menghampiri kami.
“Mmm, Van aku minta maaf, calon misua ngajak jalan tiba\-tiba, dia bela\-belain pulang buat ketemu aku. Kalian ikut bareng aku aja ya, mau ya?” Bujuk Ela pada kami berdua. Ivan melirik ke arahku dan pandangan kami bertemu beberapa saat.
“Kita gak mau jadi anti nyamuk, La. Kamu pergi noh pepet calon misua, aku sama Nayya lanjut cari barang yang kita mau di sini.” Ujar Ivan, aku mau tak mau mengangguk menyetujui usul Ivan. Dari pada mengikuti Ela dan membuat orang lain tidak nyaman, lebih baik aku pulang dan menyiapkan barang\-barang untuk pulang kampung. Ela merasa bersalah dan tidak enak hati pada kami berdua, tapi ia tetap harus pergi. Bagaimanapun Ela lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kami dibanding pacarnya yang memilih merantau sambil menunggu Ela tamat SMA dan kuliah bersama nanti. Jadi sangat tidak adil jika aku dan Ivan mengganggu waktu sempit mereka.
__ADS_1
Akhirnya tinggalah aku dan Ivan di tengah keramaian. Situasi ini sudah seperti lirik salah satu lagu, ‘di dalam keramaian aku merasa sepi’ kami sibuk dengan pikiran masing\-masing, dan tidak fokus mencari yang kami inginkan di toko itu. Dari pada tidak membeli apapun, aku mengambil sebuah dompet dan ikat rambut berwarna baby blue, lalu membayar di kasir. Setelah selesai dengan urusan belanja aku menunggu Ivan di tempat duduk depan toko, tak berapa lama Ivan keluar dari toko itu dan menghampiriku. Aku mendongak melihat wajahnya di depanku.
“Makan?” tanyanya datar dan aku mengangguk setuju, sebenarnya aku ingin pulang saja, tapi bagaimana dengan minta maaf pada Ivan? Jadi lebih baik aku menurut saja dan menunggu saat yang tepat untuk minta maaf. Aku dan Ivan berjalan beriringan, seperti seorang anak yang mengekori ayahnya dari belakang. Otakku sibuk berpikir antara bagaimana cara minta maaf pada Ivan dan ingin pulang. Satu sisi aku ingin menghindar dari Ivan tapi di sisi lain aku ingin menyudahi perseteruan gaib ini. Aku lemas sendiri dengan keadaan pikiran yang tak menentu, aku berjalan sedikit menunduk dan mungkin melambat. Tiba\-tiba Ivan berbalik dan berjalan ke arahku yang ternyata sudah agak jauh darinya, aku memandanginya seperti orang bodoh, Ivan semakin mendekat dan ia meraih tanganku dan menariknya sehingga aku terpaksa mengikuti langkahnya yang sedikit buru\-buru.
“Ini jam makan siang di hari weekend, Nay. Kalau kamu lelet gini, nanti kita gak dapat tempat duduk.” Ujar Ivan dan aku mengerti, aku mengikuti langkahnya, sambil memperhatikan tangannya menggenggam tanganku. Aku baru tahu kalau Ivan memiliki jari\-jari yang panjang dan kurus, telapak tangannya besar untuk ukuran tanganku. Hatiku berdebar lebih kencang dari pada biasanya, sesuatu yang hangat menjalar sampai ke wajahku. Apa pipiku mulai merah sekarang? Haruskah aku melepas ikatan rambutku, agar pipiku sedikit tertutupi. Aku tersenyum malu mendapati pikiranku yang konyol dan norak saat ini. Kutarik ikat rambut dengan tangan kananku yang tidak Ivan genggam, rambut coklat tua pekat bergelombang itu jatuh begitu saja, ujung\-ujungnya menyentuh punggung baju seragam sekolahku. Sekarang terasa lebih baik, malu sekali rasanya kalau tertangkap basah pipiku sedang bersemu karna Ivan.
Sesampainya di restoran yang pernah kami kunjungi beberapa kali selama bersahabat bertiga, Ivan membawaku ke tempat duduk yang biasa kami huni, di bagian sudut ruangan. Kami tak kunjung duduk, aku penasaran kenapa kami masih berdiri, sehingga aku menoleh pada Ivan, dan melihat ke arah mata Ivan bertumpu. Ivan sedang memandangi tangannya yeng menggenggam tanganku.
“Yang ini aja mas, tapi es krimnya rasa vanila dan coklat aja ya.” Ujarku.
“Aku ngajak makan, Nay, artinya yang lebih mengenyangkan dari pada es krim. Emang kamu lagi kesel makanya harus makan es krim?” tanya Ivan ketus. Aku melempar pandangan tidak suka pada Ivan, tau dari mana dia kalau aku makan es krim saat aku berada dalam kondisi hati yang tidak stabil. Mungkin kebiasaanku ini sangat kentara.
__ADS_1
“Mie ayam jamur dua, sama jus jeruk 2 mas.” Ujar ivan pada sang waiter. Sejak kapan Ivan jadi tukang makan begini? Ya sudahlah, terserah Ivan saja. setelah menunggu beberapa saat pesanan kami pun datang, es krim dan 2 porsi makan serta minum untuk Ivan. Ivan menarik es krim itu ke arahnya, aku memandangnya heran, dia mau minta punya aku?
“Kalau kamu mau, pesan aja satu lagi.” Ujarku, sambil mengulurkan tanganku meminta cup es krimku.
“Abisin dulu mie ayamnya ntar baru aku kasi es krimnya.” Ucap Ivan datar, lama\-lama si Ivan ngatur\-ngatur gak jelas. Aku membuang napas kesal.
“Aku gak selera, Van.” Kataku lagi.
“Kalau kamu gak mau makan aku gak akan pernah maafin kamu.” Tutur Ivan, dan aku terkesima akan topik yang telah lama mengusik kehidupanku. Baiklah, ternyata sesederhana ini, aku tinggal makan dan Ivan maafin aku? Wah kenapa gak dari dulu? Aku bersorak dalam hati, setidaknya setelah ini aku akan terbebas dari beban rasa bersalah. Aku memakan mie ayam itu dengan lahap, mie ayam jamur kesukaanku ini terasa jauh lebih nikmat dari sebelum\-sebelumnya.
“Pelan\-pelan, Nay. Aku bakalan maafin kamu kok, walaupun kamu gak minta maaf.” Aku melihat tepat di manik mata Ivan untuk memastikan kebenaran kalimatnya itu, aku berusaha mencari\-cari kejahilan sekedar gombalan di mata Ivan. tapi tidak ada, Ivan bersungguh\-sungguh dengan ucapannya barusan. Aku tersenyum haru mendapati ketulusan kalimat Ivan dan mataku terasa hangat karnanya, apa aku mau menangis di sini? Kenapa aku jadi cengeng begini?
“Kamu kenapa? Kamu mau nangis? Jangan di sini, Nay. Nanti orang ngirain aku apa\-apain kamu lagi.” Ucap Ivan panik.
__ADS_1
“Sshhhtt, nanti aja nangisnya ya.” Ucap Ivan sambil mengulurkan tangannya menyentuh kepala sebelah kiriku, menyusapnya pelan, mengirim rasa sayang menghangatkan hatiku yang dingin. Aku menatap wajahnya yang bingung dan khawatir padaku. Aku rindu perlakuan manis Ivan, kenapa aku baru sadar sekarang kalau aku menyukai cara Ivan memperlakukanku.
🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭🍭