Memories Of Introvert Girl

Memories Of Introvert Girl
Memory 32 Seorang Perindu


__ADS_3

Semua terasa berbeda saat ini, segala sesuatu menjadi tak seindah biasanya, rasa lelah tak sekedar lelah hari ini, semua biasanya sudah tak terasa biasa sekarang. Semua berubah karna hatiku sedang tidak dalam kondisi biasanya. Ada apa denganku? Mungkin aku terlalu letih dengan pikiran dan rutinitas belajar yang belakangan bebannya semakin berat. Ya sudahlah, mungkin aku hanya butuh tidur.


Aku dan Ela berbaring di atas karpet berbulu halus di lantai kamarku. Kami ingin merebahkan segala lelah dan terlelap indah di siang terik ini. Setiap aku memejamkan mata tak berapa lama bayangan wajah Ivan dan Yasemin silih berganti muncul begitu saja. Aku pasti penasaran tentang kisah cinta mereka. Mungkin Ela tahu lebih banyak tentang mereka, bagaimanapun Ivan itu terhitung sahabat untuk kami.



“Nay,”



“Hm,”



“Udah tidur?”

__ADS_1



“Belum.”


Ela membuang napas berat, dan bangkit dari posisi tidurnya kemudian duduk bersila. Aku menatapnya, wajahnya memperlihatkan kalau ia lelah berpikir. Aku bangun dari posisi tiduran dan duduk bersila di depannya dan menarik bantal lalu kutaruh di pangkuanku, dan Ela melakukan hal yang sama.


“Nay, aku udah gak sanggup mendam ini sendirian, dan aku pikir kita udah cukup umur untuk memahami persoalan yang muncul di usia kita sekarang.” Ucapan pembuka Ela sangat berbelit\-belit. Apa sebenarnya yang ingin ia utarakan? Aku mengangguk mengamini ketidakpahamanku akan kalimat ala anak bahasa yang sungguh tidak efisien itu.




“Janji kalau kamu akan berpikir bijak dalam menilai kenyataan yang akan aku sampein.” Ujarnya sungguh\-sungguh. Aku mengangguk mencoba memahami apa yang Ela inginkan. Jika Ela menyampaikan sebuah rahasia maka aku akan menutup mulutku rapat\-rapat. Ela mempersipakan dirinya, dan mulai bercerita.


__ADS_1


“Kejadianya sekitar akhir semester 1 kelas X. Waktu itu hampir semua siswa udah pulang, sementara aku nunggu Abang Baru, kita ada janji. Aku di dalam kelas sendirian, karna Abang baru gak belum datang, aku iseng meriksain laci meja satu per satu, aku penasaran siapa yang jorok suka nyimpen bungkus jajan di laci. Sampe aku ngeliat laci Ivan dan nemuin buku kecil gitu, kayak buku note pelajaran. Aku benar\-benar mikir kalau itu buku note pelajaran, jadi aku langsung buka karna penasaran apa yang ditulis orang pintar di dalam buku notenya. Ternyata isinya bukan pelajaran sama sekali, isinya kata\-kata mutiara ala Ivan. Aku tertarik dan terus membaca lembar demi lembar, dan akhirnya aku nemuin satu halaman dari buku itu yang membuat aku membaca kalimatnya berulang kali. Kamu tahu apa isi halaman itu?” Tanya Ela setelah ceritanya. Aku menggeleng, bukan melanjutkan kalimatnya tapi mata Ela justru berkaca\-kaca dan senyum getir terbit di bibirnya. Aku bingung mengapa Ela begini? Ela membuka ransel sekolahnya dan mengeluarkan smart phone dari sana. Ia mengotak atik sesuatu di layar ponsil itu kemudian menatapku lamat\-lamat.



“Aku moto tulisan di catatan Ivan itu, kalau kamu gak percaya itu tulisan Ivan nanti kamu bisa geser gambar ke samping, nanti bakalan ada identitas bukunya, mungkin kamu juga pernah liat Ivan pegang buku itu. Tapi ingat janji kamu, Oke?” tanya Ela, aku mengangguk dan menerima hp yang Ela sodorkan di tangannya. Aku mulai membaca tulisan di dalam foto itu.


‘**Aku seorang perindu, hidupku ditawan rindu, rindu pada ibu, dan rindu pada gadis pemalu. Dadaku terasa sesak karna Ibu, Ibu pergi karna telah lama layu. Lalu gadis mekar ranum itu? Aku menemukan diriku terayu, padahal ia hanya diam dan sangat pemalu. Ibu, maafkan aku, setiap aku merindu padamu, gadis ini mengobati hatiku. Ibu, ia sama diamnya seperti dirimu dulu, hatiku terasa penuh walau hanya memandangnya dari jauh. Mungkin aku maya baginya, namun ia terlalu nyata dijiwa. Namanya Nayya Tritania.


Hatiku sakit jika tak melihatnya, membuatku terkenang akan detik\-detik kepulangnmu menuju tidur panjang, hatiku sesak karna itu. maka jika ia berlari, aku akan mengejarnya, jika ia bersembunyi aku akan menemukannya, bahkan jika aku tak memiliki daya upaya apapun lagi untuk meraihnya, biarkan aku menjadi egois, memohon pada Tuhan di seluruh sisa hidupku agar aku berujung dengannya. Aku menemukan Ibu dan diriku dalam dirinya**.’



Aku tertegun dengan isi tulisan itu, sekali membacanya aku sungguh tidak paham, kubaca berkali\-kali dan aku semakin tidak mengerti. Aku memiliki otak yang tumpul, aku tidak paham makna tulisan ini sama sekali, aku menggeser layar ponsel itu ke samping dan menemukan apa yang Ela katakan tadi, identitas buku dan cover buku itu. Aku pernah melihat Ivan beberapa kali memegang buku bersampul coklat kulit itu. Aku membodoh, lebih bodoh dari apapun saat ini. Mengapa Ivan menulis hal semacam itu?


📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍📍

__ADS_1


__ADS_2