
Aku mensetting ulang hati dan pikiranku, menatanya serapi mungkin dan membuat mode otomatis untuk Ivan. Segala sesuatu yang berhubungan dengan Ivan maka mode bodo amat akan aktif di dalam tubuhku baik hati, pikiran, sikap, aura dan segala sesuatu yang ada pada diriku. Mode otomatis bodo amat untuk Ivan.
Seperti biasa, setelah Ivan melakukan hal yang menurutku konyol dan anfaedah, ia dengan mudahnya memasang tampang biasa saja. Ya, aku saja yang terlalu berlebihan. Ya sudalah.
Hari\-hari berjalan bagai siput manis kekenyangan di tengah ladang padi yang baru berusia 2 bulan. Siput yang paling berotot sekalipun berjalan sangat lamban, apalagi sekarang, waktu bergerak layaknya siput buncit obesitas. Super duper selowlololow. Terlebih untuk saat ini. Aku sedang tidak enak badan, semalam waktu pelajaran olahraga, Pak Aryo guru olahraga menyuruh anak perempuan lari keliling lapangan sebanyak 2 putaran dan anak lelaki 4 putaran. Jujur saja selama masa kehidupanku aku tidak pernah mengalami pase olahraga sebagai keinginan pribadi. Jadi, kalaupun terjadi momen olahraga itu karna aku sekolah, dan di sekolah ada pelajaran olahraga yang menuntut tubuh kita melakukan gerakan tertentu agar mendapatkan nilai. Kalau dipikir\-pikir selama aku hidup di dunia ini, jatah tidurku 50 % dari skala 100 %, membaca buku 20 %, mendengarkan musik 15 %, dan hal lainnya di 15 % terakhir. Tapi jangan kira aku kebo tukang tidur. Manusia memang menghabiskan sebagian besar waktunya dalam hidup untuk tidur, itu menurut penelitian. Mengetahui hal itu membuat aku jadi merasa kurang berguna, kalau dipikir\-pikir lagi setengah dari keberadaanku sebagai manusia kuhabiskan untuk molor ngorok sampe ngences. Miris sekali Nayya. Tapi aku tidak sendirian, orang\-orang di luar sana juga begitu. Hanya saja mereka ogah mengakuinya, kenyataan yang buruk untuk diamini.
Karna bawaan badan tidak fit seperti ini aku jadi ingin menambah 0,00001 persen lagi untuk jatah tidurku. Aku sedang sakit kurasa. Sekarang jam istirahat kedua dan aku lebih memilih duduk di bangkuku dalam kelas X2. Karna ini jam istirahat, aku memasang headset dan mendengarkan berbagai lagu jadul yang yang tersimpan di play list i\-pod. I\-pod ini pemberian Bibi Niah, dia mungkin memperhatikan aku yang sering mendengarkan lagu dari headset, jadi ia berinisiatif untuk membelikan aku benda ini. Jujur saja dengan suka cita dan senyum sumringah kuterima. Bibi Niah dan paman adalah orang yang sangat baik, aku merasa mereka menganggapku seperti anak mereka sendiri. Setiap hari bibi memberiku uang jajan tambahan serta beliau selalu menyiapkan bekal berupa roti isi untuk kubawa ke sekolah. Aku selalu memakan roti buatan bibi di jam istirahat kedua, karna biasanya jam segitu aku baru lapar dan roti itu cukup untuk mengganjal perut sebelum aku pulang sekolah.
Aku menyandarkan kepala ke tembok kelas yang berada di sampingku, sambil mendengarkan musik aku menikmati hembusan napasku di bawah hidup yang terasa hangat. Ok fix, aku demam, dan aku yakin itu akibat lari 2 putaran semalam, karna selain itu akan tidak melakukan kegiatan ekstrim apapun. Aku melirik ke samping tempat dudukku yang dihuni makhluk astral yang bernama Ivan, terlintas kelakuannya semalam, aku jadi gerah. Aku meliriknya hati\-hati. Apa yang sedang ia lakukan? Ivan berkutat dengan buku paket matematika, buku tulis dan pulpen. Keningnya berkerut menatap buku paket itu. Mungkin dia penasaran tentang sesuatu di sana. O iya, setelah hampir 4 bulan hidup sekelas dengannya, aku tahu satu fakta bahwa Ivan anak yang sangat pintar. Ia pintar di hampir semua mata pelajaran kecuali pelajaran yang menyangkut seni.
Habis satu lagu berganti dengan lagu yang lain, mengalun syahdu memenuhi rongga pendengaranku.
Alun sebuah simponi, kata hati disadari...
Aku masih mengamati Ivan dari ekor mataku diam-diam diiringi lagu dewa 19 dan hanya aku yang bisa mendengarnya. Aku baru sadar kalau Ivan memiliki tahi lalat kecil di dagu sebelah kanannya. Aku jadi ingat celotehan Ela beberapa waktu lalu, beberapa hari setelah insiden di depan lab bahasa ‘Ivan itu idola anak kelas X lo, Nay. Tinggi putih gitu, rapi dan pinter lagi. Aku gemes kalau liat dia senyum. Hahahaa apa lagi dia itu anaknya cuek gitu, Nay. Kenapa ya perempuan suka baper sama cowok cuek-cuek kayak si Ivan. Hahahhah’ ingatan itu berputar di kepalaku, aku bergidik dan tersenyum kecut mengingat celotehan Ela. Ivan memang tidak terlalu buruk, buktinya beberapa kali aku pernah melihat anak-anak perempuan yang berteriak histeris dan mengelu-elukan nama Ivan saat ia bermain basket dengan anak lelaki lain. Perempuan memang makhluk yang luar biasa baper.
__ADS_1
Apa yang sedang Ivan lakukan? Mengapa ia memegang wajahnya tiba\-tiba, men\-cek pakainnya dan melambai\-lambaikan tangannya di depan wajahku.
“Nay!” seru Ivan seketika menyentakkan aku. Astaga dragon, aku tertangkap basah sedang mengamatinya. Mati lah sudah! Aku membuang muka seolah tidak melakukan sesuatu yang salah.
“Kamu kenapa? Sakit?” tanya Ivan dan tak mendapatkan jawaban apapun dariku. Play list lagu jadul sudah berakhir sehingga aku bisa mendengar apa yang Ivan katakan. Aku masih diam, sebenarnya aku sedang sangat malu. Tapi aku memasang wajah datar di posisiku dengan arah pandangan kutujukan ke depan. Menghindari Ivan yang mulai menyelidik air mukaku. Ivan tidak bisa melihat wajahku dengan sempurna karna posisiku yang menyampinginya serta rambut penyelamat yang kugerai hari ini menutup sebagian wajahku dari samping. Kurasa si bocah tengil abal\-abal Ivan belum menyerah, dia meneol\-noel lengan bagian atasku. Tumor setres si Ivan yang menyebalkan naik kepermukaan. Beraninya si Ivan absurd ini, aku sudah menggeram kesal dalam hati. Namun ia melakukannya berkali\-kali, lagi dan lagi.
“Kamu kenapa liat aku kayak gitu tadi?” tanyanya tak menyerah mendapati keacuhanku. Aku memutar otak untuk mengakhiri kelakuan Ivan. Dan, TING! Yup aku tahu.
“Mana? Aku lagi laper juga sih, gara\-gara soal matematika yang rada susah ini.” katanya antusias. Aku pun memalingkan wajahku sempurna melihat ke arahnya. Ivan sedang tersenyum ramah, seperti kami berteman saja. Rupanya setting otomatisku tidak bekerja dengan baik. Mungkin karna baru luncur satu malam setengah hari, sehingga belum bekerja optimal. Seperti minum obat, ada obat yang reaksinya sangat lama baru kelihatan namun luar biasa manjur. Mungkin mode otomatis bodo amatku untuk Ivan ini memiliki cara kerja yang sama dengan obat jenis itu.
__ADS_1
Aku menghela napas lalu perlahan mengeluarkan tempat bontot yang dihuni dua potong roti isi buatan bibi. Kutaruh di atas meja dan langsung disambut riang gembira oleh Ivan. Ia giring satu potong roti isi malang itu ke dalam mulutnya, sesekali ia mengangguk kecil, entah pikiran apa yang sedang bersemayam di otaknya hingga melahirkan anggukan\-anggukan itu. Terserahlah. Ku hela napas berat dan kembali ke posisiku semula, menyandar ke tembok dan memandang ke arah daun pintu yang berada beberapa meter di depanku.
----------------------
Jika berkenan silahkan like dan comment 😉
Dan jangan lupa vote yaa...
CARA VOTE
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊