
Suling pabrik kelapa sawit yang berada di perkebunan kampung sebelah bergema terdengar jelas sampai ke kampungku. Suling itu mengatakan secara tersirat ‘sekarang pukul enam pagi, saatnya memulai pekerjaan masing-masing’. Kalau begitu mari menyingkir dari kasur kenikmatan hidup tiada tara dan melakukan sesuatu yang bisa dikategorikan sebagai pekerjaan. Bagaimana kalau membantu ibu memasak? Tidak, aku tidak suka memasak, pun aku tidak tergila-gila pada makanan apapun, kecuali es krim rasa coklat dan vanila. Olahraga pagi? Aku benci olahraga. Haaah, aku sudah terdengar seperti pemalas busuk yang menyebalkan.
Bagaimana kalau membersihkan rumah? Tapi rumah kami selalu bersih. Pia, kakak tertuaku itu juga pulang kampung, dia baru wisuda beberapa waktu yang lalu dan menjadi pengangguran bahagia. Kak Pia gila bersih, ditambah status pengangguran yang sedang ia nikmati saat ini membuat ia jadi tukang bersih yang sangat kompeten. Sebaiknya ia melamar pekerjaan yang sesuai dengan kemahiran bersih-bersihnya itu. Pekerjaan apa yang cocok untuk orang maniak bersih? Ya benar! Semua orang tahu jawabannya. Seandainya si Pia cerewet akut itu tahu pikiranku saat ini, mungkin ia akan membuat aku terkena jamur akibat air liurnya yang berhamburan kepadaku karna omelannya.
Pia itu punya sejenis program 100.000 kata per hari. Ia sanggup mengomel dalam mode suara kuat, pelan, gumaman, sungutan, dan lain-lain jika ada hal yang mengusiknya. Suatu saat aku akan memberinya adi pura untuk ‘orang paling suka bersih’ dan piala penghargaan ‘orang paling suka ngomel’ se-planet ini. Bahkan saat tidur pun ia sering mengigau bicara tentang hal-hal yang ia lakukan. Dan malangnya lagi, kalau Ia punya masalah dan sudah lelah bersungut ria namun masalah itu belum berkurang dipikirannya, Anda tau apa yang akan terjadi? Dia akan menangis. Kalau sudah begitu aku seperti melihat drama live paling anmutu sejagad raya. Drama itu nyata.
Lalu apa yang harus kulakukan sekarang? Aha! Aku bisa menyiram bunga. Ayah punya kebun bunga mawar dan kebun bunga matahari di samping rumah. Oke, kalau begitu mari bekerja seperti orang lain. Aku meninggalkan kamar tidur menuju halaman samping rumah, tapi sebelum itu aku harus membuka kran air untuk menyiram bunga. Bunga mataharinya ayah banyak, ada 4 jalur dengan panjang setiap jalur kira-kira 5 meter. Bunga mawarnya juga banyak, semua berwarna merah. Bunga-bunga itu ditanam langsung ke tanah tampa menggunakan pot. Kata ayah kalau ditanam langsung ke tanah, maka pohonnya serta bunganya akan tumbuh lebih subur. Aku rasa ayah benar. Pohon bunga matahari dan bunga mawar yang kusiram saat ini, memang terlihat sehat.
Tit tit tiiiitt!!!
Aku menoleh ke arah sumber suara, kakek Jiondra membunyikan klakson sepeda motornya untuk menyapaku. Ah pria tua itu, dia selalu terlihat bersemangat dengan senyum yang bisa membuat aku merasa seperti cucunya sendiri. Kakek Jio hanya melewat sekilas di depan rumah. Beliau memang ramah. Tapi dengan siapa kakek tadi, anak laki-laki menggunakan topi dan menyandang ransel di punggungnya. Apa yang tadi itu Jio? Jika Jio menjenguk kakek dan neneknya ke kampung ini, apakah ia juga akan menemuiku? Kurasa tidak, lagian selama ini Jio juga tidak pernah pulang kampung.
Kadang aku memikirkan Jio. Dulu sebelum aku mendiamkannya, ia adalah teman terbaikku. Lia memang orang yang kuanggap sahabat dulu, tapi aku sering merasa tidak nyaman, ada sesuatu yang membuat aku dan Lia tidak merasa saling memiliki sebagai sepasang sahabat, walau begitu Lia adalah satu-satunya teman perempuan yang membuatku merasa lebih baik. Berbeda dengan Jio, ia menjagaku, melindungi aku dari anak lelaki maupun perempuan yang berusaha menggangguku, sering mengikuti keinginanku, memainkan mainan yang kami suka, bahkan ia tidak malu bermain masak-masakan denganku. Jio itu anaknya suka olahraga, sepak bola dan bola kasti adalah permainan favoritnya, tapi ia rela bermain permainan perempuan denganku. Jio itu pengertian dan lembut padaku, ia menerima aku apa adanya, tidak pernah terlihat risih dengan sifatku yang pasif dalam berteman.
Aku memikirkan Jio dan Yaya dalam hari-hari sepiku. Mengingat pertemanan yang menyenangkan tanpa takut menjadi diri sendiri. Aku merasa memiliki tempat di hati mereka. Itulah salah satu makna kata sahabat bagiku yaitu ketika aku tahu bahwa ada satu ruang di hati mereka yang kuhuni. Ah Jiondra, aku merindukan hari-hari dimana kau memperlakukan aku seperti adik kecilmu yang sangat kau sayangi.
__ADS_1
《》《》《》《》《》《》《》
Like dan comment jika kalian suka cerita ini 😉
Jangan lupa vote yaa...
Kalau mau vote harus punya poin ya temen2.
Nah, cara dapatin poinnya:
Ambil poin yg ada di pusat misi.
setelah itu baru bisa vote ceritanyaaa 😊
__ADS_1
CARA VOTE
Pada bagian bawah deskripsi sinopsis novel klik vote
Klik vote lagi.
Pilih poin/koin.
Pilih 10/100/1000.
Klik beri tip.
__ADS_1
Terima kasih 😊